Charlotte, gadis yatim piatu ini tiba-tiba ditemukan oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerajaan Matahari, tempat kelahirannya. Alih-alih bahagia setelah ditemukan oleh keluarganya, gadis empat belas tahun justru mengalami kehidupan yang menyedihkan dibandingkan kehidupannya sebelumnya, sebagai tuna wisma di kerajaan cosmos dimana dia tinggal sebelumnya karena tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga dianggap sampah dan aib bagi keluarganya.
Untungnya, ketika tengah berada diambang maut, ia tak sengaja bertemu dengan penyihir Beatrix yang juga mengalami nasib sama sepertinya.
Penyihir Beatrix yang tak ingin meninggal sia-sia dan ingin ada yang membalaskan dendamnya, memilih Charlotte sebagai orang yang dia warisi semua kekuatan hebat didalam tubuhnya.
Setelah diwarisi kekuatan dari penyihir Beatrix, bagaimana kehidupan Charlotte selanjutnya?
Apakah ia mampu mengubah garis takdirnya?
Ikuti semua kisahnya dalam cerita ini
Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN IMPLUSIF YOHANES
Kabar mengenai kematian Samantha dan Bilna sudah terdengar di telinga semua orang yang tinggal di Kediaman de Fleur karena banyak yang menyaksikan semua kejadian itu secara langsung.
Saat ini Yohanes de Fleur yang menyaksikan langsung peristiwa kematian Bilna merasa sedikit aneh, terutama mengenai sikap sang adik yang banyak sekali berubah, menurutnya saat ini Charlotte de Fleur seperti orang lain dimana Yohanes de Fleur, bukan gadis yang tiga bulan lalu ibunya bawa pulang.
"Perubahan yang terjadi padanya sangat mencurigakan", guman Yohanes de Fleur penuh kecurigaan.
"Mungkinkah ada jiwa lain yang masuk ke dalam tubuh Charlotte? atau dia sengaja memanggil iblis agar bisa menjadi kuat", ucap Yohanes lagi dengan kerutan di dahinya.
Di dunia ini, perihal memanggil iblis untuk menyatu dengan jiwa manusia agar menjadi kuat bukanlah hal mengejutkan lagi.
Tapi sihir semacam ini dilarang keras karena rata-rata para pemanggil iblis ini tak mampu mengendalikannya sehingga jiwa aslinya akan tergerus oleh jiwa miliksang iblis yang mereka panggil yang bisa berakibat fatal bagi wilayah dimana iblis tersebut dibangkitkan karena sejatinya, para iblis selalu menginginkan jiwa manusia sebagai makanan mereka agar bisa tetap kuat.
Karena merasa sangat curiga, Yohanes de Fleur pun bertindak implusif demi bisa memastikan apakah jiwa yang tinggal di dalam tubuh adiknya itu asli atau memang ditempati oleh jiwa lain.
Pemuda itu sangat tak suka melihat perubahan yang ada dalam diri adik yang baru saja ditemukannya itu. Perubahan yang sangat tidak wajar membuatnya yang memang sejak awal tak terlalu menyukai Charlotte dan tak bisa menerima kehadirannya membulatkan tekad untuk menyelidiki hal ini.
Yohanes de Fleur ingat bahwa para penyihir dari Menara Suci memiliki kemampuan untuk melihat kemurnian dari jiwa seseorang sehingga iapun berniat untuk meminta bantuan mereka guna membuktikan kecurigaannya tersebut.
"Sebaiknya aku mengundang para penyihir dari menara suci untuk memastikan hal itu", ucap Yohanes de Fleur.
Pemuda itu menyimpan pemikirannya dan memutuskan secara sepihak mengenai hal tersebut tanpa berunding dulu dengan kedua orang tuanya.
Yohanes de Fleur keluar dari ruangannya dan bergegas pergi menuju Menara Suci yang berada tak jauh dari wilayah Kerajaan Matahari.
Saat Yohanes de Fleur sedang kebingungan dengan perubahan sifat dari adik perempuannya, Charlotte de Fleur saat ini sedang sibuk membuang barang-barang tak layak pakai yang ada di dalam kamarnya setelah semua barang yang seharusnya menjadi miliknya telah dipindahkan dari kamar Bilna dan Samantha kedalam kamarnya.
Tok tok tok...
Suara pintu kamar Charlotte de Fleur yang diketuk oleh dari luar. Gadis itu bisa merasakan aura kakak keduanya dibalik pintu kamar.
Andreas de Fleur sendiri tak tahu apa yang ingin dilakukannya sehingga datang menemui adiknya. Yang jelas, rasa bersalah dalam dirinya semakin besar setelah ia mendapatkan omelan dari sang ibu yang memarahinya karena terang-terangan membela orang luar yang ingin menghancurkan keluarganya.
Karena pintuterus diketuk, Charlotte de Fleur yang semula abai pada akhirnya tak tahan dan dengan malas iapun berjalan dan membuka pintu kamarnya, dan menatap datar ke arah Andreas de Fleur yang berdiri didepan pintu.
"Ada keperluan apa sehingga Tuan Muda Andreas de Fleur datang menemui saya?", tanya Charlotte de Fleur dengan suara dibuat selembut mungkin dan senyum yang ia paksakan.
"Apa kau sedang tidak sibuk, adik?" tanya Andreas de Fleur dengan senyuman manis yang ia tunjukkan pada adik perempuannya.
"Saat ini saya sedang sangat sibuk dan tak bisa di ganggu", jawab Charlotte de Fleur dengan tegas dan tak ingin mendengar kalimat apapun lagi dari kakak laki-laki keduanya itu, Charlotte de Fleur dengan segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam, meninggalkan Andreas de Fleur terdiam membisu dibalik pintu.
Andreas de Fleur masih belum menyerah dan mencoba untuk membujuk sang adik, dengan berkata-kata manis dan lembut. Tapi semua usaha kerasnya itu gagal hingga membuat Andreas yang berada didepan pintu cukup lama, menyerah dan kembali keruangan nya dengan raut wajah sedih.
Sebenarnya, Andreas de Fleur ingin mengajak sang adik untuk makan siang di luar bersama demi bisa menjalin keakraban dengan gadis itu. Namun sepertinya Charlotte masih sangat marah atas semua kejadian yang pernah terjadi hingga belum bisa memaafkannya.
"Akan lebih baik jika aku tak terlalu dekat dengan mereka. Aku tak ingin nantinya menelan kekecewaan jika memiliki harapan terlalu banyak" ucap Charlotte de Fleur mengingatkan diri sendiri untuk memprioritaskan kebahagiaan dirinya sendiri diatas yang lainnya.
Jika anggota keluarganya bisa bersikap baik dan menghormatinya maka ia akan membalas hal yang sama. Namun jika tidak, maka jangan salahkan dirinya jika bersikap kejam.
Setelah selesai menata semua barang didalam kamarnya, Charlotte de Fleur langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Siang ini, Charlotte de Fleur menggunakan sebuah gaun panjang berwarna biru navy dengan jepit rambut bermotif bunga mawar putih yang ia selipkan dirambutnya agar terkesan rapi, semakin menambah pesona kecantikannya.
Sosoknya yang lembut begitu nyata terpancar. Hal ini tentu saja membuat Charlotte de Fleur merasa puas akan penampilan dirinya didepan cermin besar dihadapannya.
“Sosok rapuh yang memerlukan pelindungan”, guman Charlotte pelan.
Penampilan seperti inilah yang memang ia inginkan agar musuh tak waspada terhadapnya. Ini juga untuk menyamarkan kekuatan besar yang sebenarnya ada dalam tubuhnya sehingga tak terlihat terllau mencolok.
Tapi penampilan ini bisa berubah seratus depalan puluh derajat jika ada orang yang benar-benar menyingungnya dan membuatnya marah, sehingga kejutan besar itu pasti akan membuat kewaspadaan musuh yang dihadapinya menghilang sesaat dan hal ini sangat penting dalam pertarungan yang Charlotte de Fleur rasa sebentar lagi akan terjadi mengingat jika para penyihir dari Menara Suci masih mencari jejak keberadaan penyihir Beatrix.
Meksi ia bisa menghilangkan aura penyihir Beatrix agar tak terlacak, tapi jurus dan kekuatan yang mungkin akan ia pergunakan, lambat lau pasti akan menimbulkan kecurigaan musuh-musuhnya sehingga iapun sudah harus mulai bersiap dari sekarang.
Setelah selesai berdandan, Charlotte de Fleur yang ingin menghirup udara segara segera keluar dari kamar.
Kali ini ia akan kembali menyusuri pasar dan menikmati beberapa jajanan yang belum sempat ia beli dalam perjalanan sebelumnya.
Tak seperti sebelumnya, kali ini Charlotte de Fleur akan meminta ijin dulu kepada kedua orang tuanya sebelum keluar demi menghargai keduanya dan tak menimbulkan kepanikan jika tiba-tiba ia tak ada di kediaman ketika kedua orang tuanya datang mencarinya.
Beberapa kejadian besar di Kediaman de Fleur membuat Duke Aslan dan Dunchess Arina semakin waspada.
Meski begitu, mereka juga tak ingin terus mengekang Charlotte agar terus berada dikediaman sehingga dengan berat hati merekapun mengijinkannya keluar.
“Bawa beberapa pengawal pergi bersamamu”, ucap Duke Aslan tak terbantahkan.
Tak ingin menambah beban pikiran kedua orang tuanya, Charlotte de Fleur pun menyetujuinya.
“Baik ayah, aku akan pergi bersama beberapa pengawal”, jawab Charlotte de Fleur patuh.
Beberapa prajurit penjaga gerbang pintu Kediaman Duke Aslan menatap ke arah Charlotte de Fleur dengan tatapan kagum.
Nona muda mereka terlihat sangat cantik dan anggun menggunakan baju berwarna biru navi dengan aksen rendah dibagian tepinya itu.