NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: tamat
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: AWAL BARU

Seminggu setelah pertempuran di Lembah Iblis.

Istana Dinasti Iblis—yang selama ini diduduki Lilian—kembali ke tangan yang berhak. Bangunan megah dari batu hitam itu berdiri kokoh di puncak bukit, dikelilingi awan tipis yang memberinya kesan misterius. Yehwa duduk di singgasana, tapi tidak seperti dulu. Wajahnya lelah, tapi juga tenang. Di sampingnya, Yun-seo berdiri, bukan sebagai tamu, tapi sebagai pendamping.

Ruang tahta dipenuhi para tetua, panglima perang, dan perwakilan rakyat iblis. Mereka datang dari berbagai penjuru—ada yang dari pegunungan utara, padang pasir timur, bahkan dari pulau-pulau terpencil. Hwang Cheol-soo duduk di kursi terhormat di samping singgasana, jubah tetuanya berkibar anggun. Seo Jung-won berdiri di belakang, sebagai penasihat militer. Wajah dinginnya tidak berubah, tapi matanya menunjukkan rasa hormat pada prosesi ini. Bahkan Cheol-soo—anak manusia—diizinkan hadir, meski hanya di pojok. Ia duduk dengan mata berbinar, takjub melihat kemegahan istana iblis.

Yehwa angkat bicara. Suaranya lantang, penuh wibawa, menggema di seluruh ruangan.

"Rakyatku. Hari ini, perang saudara berakhir. Lilian, pengkhianat yang telah merebut tahta dan menghancurkan banyak nyawa, telah ditangkap. Ia akan diadili secara adil."

Para tetua mengangguk setuju. Beberapa dari mereka—yang sebelumnya memihak Lilian—menunduk malu. Seorang tetua tua dengan jubah hijau maju selangkah.

"Yang Mulia, aku mengaku telah memihak Lilian. Aku tertipu oleh janji-janjinya. Aku siap menerima hukuman."

Yehwa menatapnya lama. Lalu berkata, "Pengakuan jujur lebih berharga daripada kesetiaan palsu. Kau akan diampuni—dengan syarat kau membantu membangun kembali Dinasti ini."

Tetua itu terkejut, lalu membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih, Yang Mulia. Aku tidak akan mengecewakan."

"Tapi hari ini bukan hanya tentang pengadilan. Hari ini tentang masa depan." Yehwa menatap satu per satu hadirin. "Selama ini, kita hidup dalam perang. Melawan manusia, melawan sesama iblis. Cukup. Mulai hari ini, kita akan membangun kembali Dinasti Iblis—bukan sebagai bangsa yang haus perang, tapi sebagai bangsa yang damai."

Seorang panglima tua dengan bekas luka di wajah angkat bicara. Suaranya berat, penuh keraguan. "Yang Mulia, apakah maksudmu kita akan berdamai dengan manusia? Mereka telah membunuh ribuan saudara kita!"

Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada Yehwa.

Yehwa tidak goyah. "Aku tahu rasa sakit itu. Aku juga kehilangan banyak saudara. Tapi pikirkan—apakah perang terus-menerus akan mengembalikan mereka? Tidak. Perang hanya akan menambah jumlah kuburan."

Ia bangkit dari singgasana, melangkah turun. Setiap langkahnya mantap, penuh keyakinan.

"Aku sendiri contohnya." Ia menunjuk Yun-seo. "Suamiku adalah manusia. Atau lebih tepatnya, keturunan Kaisar Jin. Jika Kaisar terbesar kita bisa mencintai manusia, kenapa kita tidak?"

Ruangan bergemuruh. Banyak yang terkejut, tapi juga berpikir. Beberapa mulai berbisik-bisik, mendiskusikan kemungkinan ini.

Hwang Cheol-soo bangkit. Wibawanya sebagai tetua tertua membuat semua diam.

"Aku mendukung Yang Mulia. Selama 500 tahun aku hidup di antara manusia, dan aku tahu—mereka tidak semuanya jahat. Sama seperti kita, ada yang baik, ada yang jahat. Tugas kita bukan memusnahkan mereka, tapi memilih untuk hidup berdampingan dengan yang baik."

Panglima tua itu diam. Lalu perlahan, ia mengangguk.

"Jika Tetua Hwang berkata begitu... mungkin ada benarnya."

Perlahan, para tetua mulai mengangguk. Perubahan tidak akan terjadi dalam semalam, tapi setidaknya, benih perdamaian telah ditanam.

---

Sidang usai. Yehwa berjalan keluar ruang tahta, diikuti Yun-seo.

Mereka berjalan di koridor istana—koridor yang sama yang dulu Yehwa lalui sebagai ratu muda. Dindingnya diukir dengan relief sejarah Dinasti Iblis. Lampu-lampu bercahaya biru menerangi jalan. Dulu, tempat ini penuh intrik dan ketakutan. Kini, ia berharap bisa berbeda.

"Kau lelah," kata Yun-seo, memperhatikan lingkaran hitam di bawah mata Yehwa.

Yehwa menghela napas panjang. "Memerintah tidak pernah mudah. Apalagi setelah perang saudara."

"Aku bisa bantu lebih banyak. Mungkin jadi menteri atau sesuatu."

Yehwa tersenyum. "Kau sudah bantu. Dengan ada di sini. Dengan menjadi dirimu sendiri."

Mereka tiba di taman istana—taman yang dulu terbengkalai, kini mulai dipulihkan. Para tukang kebun iblis sibuk menanam bunga-bunga baru. Bunga-bunga mulai bermekaran—warna-warni, indah. Udara segar beraroma tanah basah dan kembang.

Yun-seo menghirup dalam-dalam. "Di duniaku, taman seperti ini hanya ada di drama. Aku tidak pernah menyangka akan punya taman sendiri."

"Dunia ini sekarang duniamu juga." Yehwa menatapnya. "Yun-seo."

"Hm?"

"Apa kau mau tinggal di sini? Di istana ini? Menjadi... permaisuriku?"

Yun-seo tersenyum. "Kau tanya lagi? Padahal aku sudah bilang mau."

"Ini serius. Ini resmi. Bukan main-main." Yehwa menggenggam tangannya erat. "Aku tidak main-main dengan perasaan ini, Yun-seo. Aku sudah 327 tahun hidup, dan baru sekarang aku merasakan ini. Aku tidak mau kehilangan."

Yun-seo merasakan kehangatan di dadanya. Ia membalikkan genggaman, mengangkat tangan Yehwa, menciumnya pelan.

"Yehwa, aku sudah bilang—aku tidak akan ke mana-mana. Darah Kaisar Jin atau bukan, manusia atau iblis, aku tetap di sini. Di sampingmu. Sampai kapan pun."

Yehwa menatapnya lama. Matanya berkaca—bahagia. Lalu tersenyum—senyum terindah yang pernah Yun-seo lihat.

"Terima kasih."

Mereka berpelukan di tengah taman, di antara bunga-bunga yang mulai mekar. Para tukang kebun tersenyum melihat mereka, lalu berpaling sopan.

---

Sore harinya, mereka mengunjungi sel tahanan Lilian.

Sel itu terletak di menara timur istana—tempat yang dulu digunakan untuk menyimpan pusaka. Kini, diubah menjadi penjara khusus. Dua penjaga iblis bersenjata lengkap berjaga di pintu.

Lilian duduk di sudut ruangan, rantai di tangan dan kaki. Wajahnya kusam, matanya kosong. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya lusuh. Melihat Yehwa masuk, ia tertawa getir.

"Datang untuk mengejekku? Menikmati hasil kerjamu?"

Yehwa duduk di kursi yang disediakan penjaga. Ia tidak terpancing emosi. "Aku datang untuk bicara."

"Bicara? Tentang apa? Tentang bagaimana aku mengkhianatimu? Tentang bagaimana aku hampir membunuhmu?" Lilian menatapnya tajam, matanya penuh kebencian. "Aku tidak menyesal, Yehwa. Aku hanya menyesal gagal. Seharusnya aku bunuh kau saat pertama kali kau pingsan."

Yehwa diam. Lalu berkata pelan, "Aku tahu kau tidak menyesal. Tapi aku ingin kau tahu—aku memaafkanmu."

Lilian terkejut. Matanya melebar. "Apa?"

"Aku memaafkanmu. Bukan karena kau layak, tapi karena aku tidak ingin terus membenci." Yehwa bangkit, mendekati jeruji. "Membenci hanya akan menghancurkanku dari dalam. Aku tidak mau jadi seperti itu."

Lilian terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar.

"Kau akan diadili. Hukumanmu akan ditentukan secara adil. Tapi aku tidak akan membencimu." Yehwa berbalik, berjalan keluar. Di ambang pintu, ia berhenti.

"Lilian... dulu kau sahabatku. Kita bermain bersama di taman ini. Kau yang pertama mengajariku cara memegang pedang. Aku harap, suatu hari, kau bisa mengingat itu. Dan menjadi baik lagi."

Ia pergi. Lilian menunduk. Air mata jatuh di lantai batu—pertama kalinya dalam ratusan tahun.

Yun-seo, yang diam sejak tiba, berkata pelan, "Kau baik hati."

Yehwa menggeleng. "Aku tidak baik. Aku hanya lelah."

---

Malam harinya, perayaan kecil di istana.

Hanya orang-orang terdekat—Yun-seo, Yehwa, Seo Jung-won, Cheol-soo, dan Hwang Cheol-soo. Mereka duduk di taman yang sama, di bawah pohon besar yang dihias lampu-lampu kecil. Makanan sederhana—roti, buah, daging panggang—dihidangkan di atas meja rendah.

Cheol-soo bercerita tentang pengalamannya di medan perang—dibumbui dengan sedikit (atau banyak) kebohongan. "Aku sendirian lawan dua puluh iblis! Dengan bom api, satu per satu aku ledakkan! Duar! Duar! Mereka terbang semua!"

Seo Jung-won melirik dengan tatapan datar. "Kulihat kau lari terbirit-birit sambil teriak minta tolong."

"Itu strategi! Menarik mereka ke jebakan!" Cheol-soo membela diri, tapi wajahnya merah.

Semua tertawa. Bahkan Seo Jung-won—yang biasanya dingin—tersenyum kecil. Tawa itu hangat, melepas penat setelah berminggu-minggu tegang.

Hwang Cheol-soo mengangkat cangkir tehnya. "Untuk awal baru. Untuk perdamaian. Dan untuk kita semua."

Mereka bersulang. Teh hangat terasa nikmat di tengah malam yang sejuk.

Yun-seo menatap Yehwa. Di bawah cahaya lampu, ia terlihat cantik. Bukan sebagai ratu iblis yang ditakuti, tapi sebagai wanita yang ia cintai—dengan rambut tergerai, senyum tipis, dan mata yang berbinar bahagia.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Yehwa, menyadari tatapannya.

"Aku pikir... ini baru awal. Tapi aku senang bisa di sini, bersamamu. Dengan mereka." Ia menunjuk ke arah Cheol-soo yang sedang bercanda dengan Seo Jung-won. "Keluarga baru."

Yehwa tersenyum, meraih tangannya. "Keluarga."

---

Dua minggu kemudian, sidang pengadilan Lilian digelar.

Ruang sidang penuh sesak. Semua ingin melihat nasib pengkhianat itu. Para tetua duduk di kursi tinggi. Panglima perang berdiri di belakang. Rakyat biasa berdesakan di pintu masuk. Lilian dibawa masuk dengan rantai, wajahnya datar—topeng ketidakpedulian yang sudah ia kenakan selama ratusan tahun.

Yehwa duduk di kursi tertinggi. Bukan sebagai hakim, tapi sebagai saksi utama. Yun-seo di sampingnya, memberikan dukungan diam-diam.

Ketua dewan—tetua tertua setelah Hwang Cheol-soo—memulai sidang. Satu per satu saksi dipanggil. Para tetua yang selamat dari pembersihan Lilian. Prajurit yang kehilangan keluarga karena perang saudara. Bahkan beberapa rakyat biasa yang desanya hancur.

Lilian mendengar semuanya tanpa ekspresi. Tapi saat seorang anak kecil—yatim piatu karena orang tuanya dibunuh pasukan Lilian—memberi kesaksian dengan suara gemetar, matanya berkedip.

Setelah semua saksi, giliran Lilian bicara.

"Aku tidak punya pembelaan," katanya datar. "Semua yang mereka katakan benar. Aku memang pengkhianat. Aku memang pembunuh." Ia menatap Yehwa. "Tapi aku tidak menyesal. Aku melakukan semua itu karena aku percaya—aku bisa memimpin lebih baik darinya."

Yehwa diam.

Ketua dewan mengumumkan vonis setelah diskusi singkat.

"Lilian, mantan panglima tertinggi Dinasti Iblis, terbukti bersalah atas pengkhianatan tingkat tinggi, pembunuhan, dan kejahatan perang." Suaranya lantang, menggema. "Hukumannya: penjara seumur hidup di menara pengasingan."

Ruangan bergumam. Banyak yang mengira Lilian akan dihukum mati. Tapi ini lebih ringan—atau lebih berat? Penjara seumur hidup, sendirian, tanpa harapan.

Lilian sendiri terkejut. "Kenapa... tidak dibunuh saja?"

Yehwa menjawab, suaranya tenang tapi tegas. "Karena kematian terlalu mudah. Kau harus hidup dengan rasa bersalahmu. Setiap hari. Setiap malam. Selama-lamanya. Kau harus merenungkan semua yang telah kau lakukan, semua nyawa yang kau ambil."

Lilian tertawa getir—tawa yang pahit, tawa kalah. "Kau memang kejam, Yehwa. Lebih kejam dari yang kukira."

"Aku belajar darimu."

Lilian digiring keluar. Sidang usai. Yehwa menghela napas panjang—beban terakhir terangkat dari pundaknya.

---

Sebulan kemudian, pernikahan digelar di istana.

Bukan upacara besar—hanya keluarga dan teman terdekat. Tapi istana dihias indah, dengan bunga-bunga dari seluruh penjuru—mawar merah dari taman selatan, lili putih dari pegunungan utara, anggrek ungu dari hutan timur. Para tetua datang dengan pakaian terbaik mereka. Para panglima hadir dengan seragam upacara. Bahkan utusan dari Aliansi Murim datang—sebagai tanda perdamaian.

Yun-seo berdiri di altar, jantungnya berdebar kencang. Ia mengenakan pakaian kebesaran iblis—hitam dengan bordir emas, jubah panjang berkibar. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampak berbeda—lebih dewasa, lebih berwibawa.

Cheol-soo, sebagai pengiring pria, berdiri di sampingnya. "Hyung, gugup?"

"Banget."

"Tenang, hyung. Nyonya Hwang sudah milik hyung kok."

Yun-seo tertawa kecil. "Iya sih."

Musik dimulai. Semua menoleh ke pintu masuk.

Yehwa melangkah masuk—dan Yun-seo lupa bernapas.

Ia mengenakan gaun pengantin putih—perpaduan tradisi manusia dan iblis. Gaun panjang dengan renda halus, dihiasi permata kecil berkilauan. Kerudung tipis menutupi wajahnya, tapi matanya—matanya yang indah—menatap Yun-seo dengan penuh cinta. Di belakangnya, Hwang Cheol-soo berjalan, siap menyerahkan "mempelai wanita" (meski secara teknis, Yehwa menyerahkan dirinya sendiri).

Yun-seo merasakan dadanya hangat. Ia tersenyum—lebar, tulus.

Yehwa tiba di altar. Hwang Cheol-soo mundur, memberi tempat.

Hwang Cheol-soo—kakek tua itu—bertindak sebagai pemimpin upacara. Ia membuka gulungan kuno, membaca doa dalam bahasa iblis kuno. Suaranya berat, khidmat.

Setelah doa, ia menatap Yun-seo.

"Kang Yun-seo, manusia dari dunia lain, keturunan Kaisar Jin, pewaris darah Kaisar Iblis. Apakah kau bersedia menerima Hwang Yehwa sebagai istrimu, dalam suka dan duka, kaya dan miskin, sehat dan sakit, sampai akhir hayat?"

Yun-seo menatap Yehwa. Di balik kerudung tipis, matanya berkaca—bahagia.

"Aku bersedia."

Hwang Cheol-soo beralih ke Yehwa.

"Hwang Yehwa, ratu Dinasti Iblis, penguasa sah bangsa iblis. Apakah kau bersedia menerima Kang Yun-seo sebagai suamimu, dalam suka dan duka, kaya dan miskin, sehat dan sakit, sampai akhir hayat?"

Yehwa tersenyum—senyum tulus yang jarang muncul, senyum yang hanya untuk Yun-seo.

"Aku bersedia."

Cincin dipasang. Bukan cincin pemanggil—tapi cincin baru, dibuat oleh Cheol-soo sendiri, dari logam langka campuran emas dan besi meteor. Cincin itu diukir dengan nama mereka berdua, dan simbol naga iblis.

"Sekarang, sebagai suami istri, kalian boleh berciuman."

Yun-seo membuka kerudung Yehwa perlahan. Wajah cantik itu terlihat jelas—pipi merona, mata berbinar, bibir tersenyum.

Mereka berciuman—lama, hangat, di hadapan semua orang. Tepuk tangan bergemuruh. Cheol-soo bersorak paling keras, melompat-lompat seperti anak kecil.

Seo Jung-won tersenyum—untuk pertama kalinya, senyum lebar yang tidak ia tahan. Ia bertepuk tangan pelan, mengangguk hormat pada pasangan baru itu.

Hwang Cheol-soo menangis—tangis bahagia. "Akhirnya... setelah ribuan tahun, Kaisar Jin punya pewaris yang menikah bahagia."

---

Malam harinya, di kamar pengantin.

Kamar itu besar, mewah, dengan ranjang berukir naga, tirai sutra merah, dan lilin-lilin wangi di setiap sudut. Di luar, bulan purnama bersinar terang.

Yun-seo dan Yehwa duduk di tepi ranjang, lelah tapi bahagia. Gaun pengantin sudah diganti dengan pakaian santai.

"Akhirnya," bisik Yehwa. "Kau benar-benar suamiku sekarang."

"Bukan suami palsu?"

Yehwa memukul lengannya pelan. "Bukan. Sudah resmi. Sah. Selamanya."

Mereka tertawa kecil. Lalu diam, saling pandang. Di bawah cahaya lilin, wajah mereka terlihat hangat.

"Aku cinta kamu," kata Yun-seo. Kata-kata sederhana, tapi penuh makna.

"Aku juga cinta kamu." Yehwa menjawab dengan bahasa Korea yang ia pelajari—canggung, tapi manis.

Yun-seo terkejut. "Kau belajar bahasa Koreaku?"

"Untukmu."

Yun-seo tersenyum. Ia mendekat, mencium kening Yehwa, lalu bibirnya.

Mereka berciuman—pertama sebagai suami istri resmi. Di luar, bulan purnama bersinar terang, seolah memberkati.

---

Keesokan harinya, mereka memulai hidup baru.

Yehwa sibuk dengan urusan pemerintahan—menerima laporan, menandatangani keputusan, mendengarkan keluhan rakyat. Tapi setiap malam, ia pulang pada Yun-seo.

Yun-seo membantunya—belajar tentang politik, diplomasi, dan cara memerintah yang bijak. Ia juga mulai mengajarkan teknologi sederhana dari dunianya—irigasi, penjernihan air, bahkan konsep sekolah umum. Para tetua awalnya skeptis, tapi setelah melihat hasilnya, mereka mulai percaya.

Cheol-soo magang di pandai besi istana, belajar menempa pusaka dari pandai besi terbaik. Ia berkembang pesat—bakatnya yang terpendam mulai muncul. Suatu hari, ia berhasil menempa pedang pertama yang layak disebut pusaka. Yehwa memberinya gelar "Pandai Besi Muda Dinasti Iblis."

Seo Jung-won diangkat sebagai duta untuk Aliansi Murim. Ia bolak-balik antara istana iblis dan Ibu Kota Murim, membangun jembatan perdamaian. Awalnya sulit—banyak manusia yang masih benci iblis. Tapi dengan kesabaran dan diplomasi, perlahan hubungan membaik.

Hwang Cheol-soo—kakek tua itu—akhirnya pensiun. Ia duduk di taman, melukis pemandangan, dan sesekali memberi nasihat pada ratu muda dan suaminya. Ia bilang, "Aku sudah cukup lama bertarung. Sekarang waktunya menikmati hidup."

---

Epilog: Satu tahun kemudian.

Yun-seo berdiri di balkon istana, menatap lembah di bawah. Kini lembah itu hijau, penuh kehidupan—sawah, ladang, desa-desa baru. Anak-anak iblis berlarian di jalan, tertawa. Para petani bekerja di sawah. Suasana damai.

Ia mendengar langkah kaki di belakang.

"Kau melamun lagi," suara Yehwa.

Yun-seo berbalik, tersenyum. Yehwa berdiri di sampingnya, perutnya sedikit membuncit—hamil lima bulan. Wajahnya bersinar, berbeda dari ratu iblis yang dulu dingin dan angker.

"Bagaimana kabar calon putra/putri kita?" tanyanya, mengelus perut Yehwa pelan.

Yehwa mengelus perutnya juga. "Sehat. Tendangannya kuat. Aku yakin ini laki-laki."

"Masa depan penerus Dinasti Iblis." Yun-seo tertawa. "Semoga tidak nakal seperti ibunya."

Yehwa memukul lengannya—pukulan yang sudah biasa. "Aku tidak nakal."

"Nakal banget. Tapi itu yang membuatku cinta."

Mereka berpelukan di balkon, menatap lembah di bawah. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit jingga kemerahan.

"Yun-seo," panggil Yehwa pelan.

"Hm?"

"Terima kasih sudah datang ke duniaku. Terima kasih sudah menjadi suamiku."

Yun-seo mencium rambutnya. "Terima kasih sudah memanggilku dengan cincin itu."

Mereka tersenyum bersama. Di dalam perut Yehwa, bayi itu bergerak—seperti ikut bahagia.

Perjalanan panjang telah mereka lalui—dari pertemuan tak sengaja, perjuangan berat, hingga akhirnya bersatu. Tapi ini bukan akhir. Ini awal baru.

Dan mereka akan menjalaninya bersama.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!