NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:201.6k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. MENGGEMASKAN

Suasana ruang guru di Akademi Sihir Oberyn biasanya tenang. Rak buku penuh laporan akademik, aroma teh hangat yang selalu tersedia di meja kecil, serta suara pena yang sesekali menggores kertas menjadi pemandangan yang biasa.

Namun hari ini berbeda.

Di tengah ruangan, duduk seorang gadis kecil dengan rambut hitam panjang duduk diam. Seragam akademi yang ia kenakan tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Lengan bajunya menggantung hingga hampir menutupi tangannya, sementara kerahnya terlalu lebar sehingga bahunya terlihat tenggelam di dalam kain.

Gadis kecil itu duduk dengan kaki menggantung di kursi besar, matanya yang bulat berkedip-kedip memandang para profesor di sekitarnya.

Sesekali ia memainkan ujung lengan seragamnya yang kebesaran.

Beberapa profesor mencoba terlihat profesional.

Namun kenyataannya mereka semua menahan diri untuk tidak gemas.

Pintu ruang guru terbuka.

Seorang pemuda tinggi berambut pirang masuk dengan langkah tenang.

Seragam Student Council berwarna biru emas yang dikenakannya membuat auranya terlihat berwibawa dan elegan.

Di tangannya terdapat beberapa berkas laporan.

"Aku membawa laporan sihir praktik yang Anda minta, Profesor-" Kalimat Aaron terhenti.

Mata pria itu jatuh pada sosok kecil di tengah ruangan.

Aaron membeku.

Beberapa detik berlalu.

"Lala?" ucap Aaron.

Gadis kecil itu menoleh. Matanya yang besar memandang Aaron tanpa rasa takut, hanya kebingungan polos seperti anak kecil yang belum memahami dunia.

Aaron berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu ia menatap Profesor Calestine dengan wajah tidak percaya.

"Kenapa Elara menjadi kecil, Profesor?" tanya Aaron antara bingung dan penasaran.

Profesor Calestine menghela napas panjang seperti seseorang yang sudah terlalu lelah menjelaskan kejadian ini berulang kali.

"Pasangan praktiknya salah merapalkan mantra di kelas tadi," jawab Profesor Calestine.

Aaron memijat pelipisnya pelan.

Tentu saja.

Hal seperti ini memang bisa terjadi di akademi sihir.

Profesor Calestine melanjutkan, "Kebetulan kau ada di sini. Bisakah aku menyerahkan Elara kepadamu, Aaron? Kau boleh membawanya pulang untuk hari ini."

Aaron menatap Elara kecil lagi.

Gadis kecil itu sedang memainkan kancing bajunya sendiri. Ia terlihat sangat serius melakukan hal sederhana itu.

Aaron tidak bisa menahan senyum tipis dan menjawab, "Baik, Profesor."

Pria itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan kursi tempat Elara duduk.

Kemudian Aaron berlutut agar sejajar dengan tinggi mata gadis kecil itu.

Aaron tersenyum ramah dan menyapa, "Halo, Lala."

Nama panggilan masa kecil itu keluar begitu saja dari bibirnya. Walau sampai sekarang Aaron memanggil Elara dengan nama itu, tapi memanggil Elara dalam bentuk kecilnya ini tentu ada perasaan nostalgia dalam diri Aaron.

Elara kecil menatap Aaron cukup lama. Mata berkedip beberapa kali.

Lalu gadis itu menjawab dengan suara cadel yang sangat kecil. "Alo."

Beberapa profesor di belakang Aaron langsung menutup mulut mereka.

Aaron menahan senyum. Ia bertanya lembut, "Kau ingat denganku?"

Elara memiringkan kepalanya. Alis kecilnya mengerut.

Kemudian ia bertanya polos, "Kakak ciapa?"

Aaron menoleh pada Profesor Calestine.

Profesor itu menjelaskan dengan santai, "Elara tidak mengingat apa pun tentang dirinya yang dewasa. Sepertinya yang tersisa hanya ingatan masa kecilnya sesuai dengan usia tubuh itu."

Aaron mengangguk mengerti..Ia kembali menatap Elara. Aaron tersenyum lagi.

"Kalau begitu apa kau kenal Rowan dan Evan?" tanya Aaron.

Wajah Elara langsung berubah cerah. Ia mengangguk cepat. "Lowan dan Epan! Lala kenal, tentu caja!"

Aaron tertawa kecil. Tepat seperti yang diduga. Elara hanya memiliki ingatan masa kecilnya.

Aaron melanjutkan pertanyaan berikutnya. "Kalau Aaron?"

Elara mengangguk sangat semangat. "Alon teman Lala!"

Aaron tersenyum semakin lebar. "Kalau aku bilang aku Aaron apa kau percaya?"

Elara mengerutkan dahinya. Ia menatap Aaron dari ujung kepala sampai kaki. Kemudian ia menggeleng keras.

"Kakak bohong," kata Elara sambil melipat tangan mungilnya di dada.

Aaron terdiam.

"Tidak boleh bohong." Elara menunjuk Aaron dengan jari kecilnya. "Alon itu macih kecil kayak Lala. Dan kakak cudah becal."

Beberapa profesor langsung menunduk menahan tawa.

Aaron sendiri akhirnya tertawa pelan.

Lalu Ia berdeham. "Baiklah. Aku kakaknya Aaron," dustanya.

Elara menatapnya lagi.

"Kau lihat ... aku mirip dengan Aaron, bukan?" ujar Aaron.

Elara memerhatikan wajah Aaron lama sekali. Mata kecilnya menyipit seperti sedang berpikir keras. Kemudian ia mengangguk.

"Milip Alon," kata Elara. "Tapi Alon tidak bilang kalau Lala punya kakak."

Aaron menjawab santai, "Itu karena aku sekolah."

Elara langsung mengangguk seolah itu penjelasan yang sangat masuk akal. "Oh, begitu, ya."

Aaron kemudian mengangkat tangannya. Ia merapalkan mantra kecil.

Cahaya lembut muncul di sekitar seragam Elara yang kebesaran.

Dalam beberapa detik, kain itu mengecil dan menyesuaikan ukuran tubuh mungilnya.

Sekarang seragam itu pas di tubuh mungil sang gadis.

Elara langsung berbinar. Matanya seperti bintang.

"Apa itu!" Ia bertepuk tangan kecil. "Tantik cekali!"

Aaron tertawa lembut. "Itu namanya sihir."

Elara berkedip. "Cihil?"

Aaron hanya tersenyum. Ia lalu mengangkat Elara dengan mudah.

Gadis kecil itu langsung duduk nyaman di kedua lengan Aaron seolah sudah terbiasa.

Aaron berjalan kembali ke arah Profesor Calestine. "Profesor, aku akan membawa Elara."

Profesor Calestine mengangguk. "Baiklah. Tolong jaga dia. Sihirnya akan hilang dalam dua puluh empat jam." Ia menambahkan dengan nada sedikit bersalah, "Dan sampaikan permintaan maafku pada orang tuamu karena membuat Elara seperti ini."

Aaron mengangguk. "Tentu."

Beberapa profesor lain melambaikan tangan mereka pada Elara.

"Dadah, Elara."

Elara langsung melambaikan tangan kecilnya dengan ceria.

"Dadah!"

Aaron keluar dari ruang guru sambil menggendong Elara.

Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Aaron semakin lebar.

Elara menatapnya tanpa berkedip.

Aaron menyadarinya.

"Ada apa, Lala?" Ia bertanya sambil berjalan di koridor akademi. "Kenapa melihatku terus?"

Elara menjawab polos, "Kakak tantik cekali."

Aaron terdiam sesaat.

"Lala cuka," tambah sang gadis mungil itu.

Aaron akhirnya tertawa.

"Bukan cantik, Lala," kata Aaron. Ia menepuk hidung kecil Elara dengan telunjuknya "Tapi tampan kalau untuk pria."

Elara langsung mengangguk serius. "Tampan!"

Aaron tidak bisa menahan diri. Ia mencium pipi gembul Elara.

"Kalau kau ingat ini nanti saat tubuhmu kembali normal ..." Ia berbisik sambil tertawa kecil. "... aku yakin kau akan memukulku."

Elara justru tertawa geli ketika pipinya dicium.

Aaron tertawa.

Namun langkahnya berhenti.

Di halaman akademi dua orang berdiri menghadang.

Seorang pemuda bertubuh besar berambut merah dengan aura kesatria yang kuat.

Dan seorang gadis berambut cokelat dengan ekspresi sangat penasaran.

Leonhart dan Evangeline.

Kedua murid itu menatap Aaron.

Lalu pandangan mereka jatuh pada Elara kecil di gendongannya.

Mata Evangeline langsung berbinar.

"Elara?!" Evangeline menunjuk dengan tangan gemetar. "Itu sungguh Elara?!"

Leonhart juga terlihat tidak percaya.

"Ketua, Itu benar-benar Elara?!" tanya Leonhart.

Aaron tersenyum santai. "Benar. Karena kesalahan rapalan sihir saat praktik di kelas Profesor Calestine, Elara jadi bocah empat tahun."

Detik berikutnya ....

"AAAAAA!" Evangeline hampir menjerit. Ia berlari mendekat.

Leonhart juga ikut mendekat dengan wajah tidak percaya.

Elara kecil menatap keduanya lalu melihat Aaron untuk bertanya, "Kakak meleka ciapa? Meleka tahu nama Lala."

Evangeline memegang dadanya. "Aku tidak kuat ..."

Ia hampir pingsan.

Leonhart buru-buru menahannya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Leonhart.

Evangeline berkata dengan suara gemetar, "Aku tidak sanggup. Elara terlalu menggemaskan, Senior."

Leonhart mengangguk keras. "Aku tahu!" Ia menatap Elara kecil dengan mata berbinar. "Dia benar-benar seperti boneka!"

Aaron hanya tertawa melihat reaksi mereka.

Karena memang sejak kecil Elara Ravens terkenal karena dua hal.

Keimutannya yang luar biasa.

Dan ... ketidakmampuannya untuk diam.

1
Ir
jujur deh paling benci sama musuh kalo udah terdesak terus main nya curang 😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐋𝐚𝐥𝐚 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐠𝐫𝐢𝐧 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 🥺🥺😭😭
Made Putu Sridana
💪💪💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐤𝐩𝐧 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐢𝐧𝐨𝐬𝐚𝐮𝐫𝐮𝐬 𝐠𝐤 𝐦𝐚𝐭𝐢𝟐 🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚 𝐔𝐝𝐢𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐢𝐧𝐨𝐬𝐚𝐮𝐫𝐮𝐬😭😭
total 2 replies
Mulyani Asti
kan pasti sihir ilusi deh soal nya ada Liora sama Evan kan mereka belum Dateng ke oberyn ya
Archiemorarty: Betul 🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kerennn banget thorr😍
Archiemorarty: Terima kasih kembali karena kakaknya udah baca ceritanya 🥰
total 1 replies
mimief
hissss...udah nahan nafas
kirain beneran 😭😭😭
Archiemorarty: Hahahaha....
total 1 replies
mimief
Waduuh... waduuuh
mau ngumpet dimana ini
langit udah gelap semua😭

jangan yaaa..,jangan ngimpinya elera jadi kenyataan 🥹🥹
Archiemorarty: Ehhh... gimna ya 🤭
total 1 replies
mimief
expalirimusss
tambahin Thor
apa

Avra kadabra🤣🤣
Archiemorarty: Seketika mantra kutukan keluar 🙄
total 3 replies
j4v4n3s w0m3n
lanjut kaka lagi seru serunya jgn di potong🤭
mimief
CK...lama lama othorr kita sekep aja yuuk di ujung🫣🫣🤣
Archiemorarty: Kok gitu weehhh...
total 1 replies
mimief
heiii... permisi
kalau mau belagu juga mesti punya modal pak🫣🤣🤣
Archiemorarty: Bener, Edgar mah bisa belagu karena emang dah pengalamannya banyak abah satu itu 🤣
total 1 replies
j4v4n3s w0m3n
waduhhh siapa atu yg bisa mengalahkan musuh yg kuat itu apakah elara ??????
ade anggraini
menikmati tiap alur nya
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
ade anggraini
Titania yg selalu membimbing elara tiap kali terjebak ilusi
Archiemorarty: Hebat kali kakaknya sadar ....
total 1 replies
Miss Typo
penasaran sama lanjutannya,,, Elara selalu terjebak dgn sihir ilusi.
tetap kuat Elara kamu pasti bisa 💪
Miss Typo: harus lebih hati-hati dan waspada, eh kayak perang aja hehe
Elara harus lebih banyak belajar dan berlatih 💪
total 2 replies
Vina Fy
ihhh hebatnya diriku,,di tengah cerita aku udah nebak kalo ini ilusi loh thor 🤭🤭
Archiemorarty: Goog job kakak
total 1 replies
Miss Typo
Elara kah yg bisa mengalahkan Astrelia nantinya????
mimief: othor peliit🫣
total 3 replies
Miss Typo
akhirnya ayang Edgar muncul juga 😍

dah selesaikah makan seblaknya dgn othor???😁
Miss Typo: kagak ngajak² mkn seblak berdua aja 🥺
akhirnya tadi aku beli seblak sendiri 🥹
total 2 replies
Vina Fy
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!