Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. MENGGEMASKAN
Suasana ruang guru di Akademi Sihir Oberyn biasanya tenang. Rak buku penuh laporan akademik, aroma teh hangat yang selalu tersedia di meja kecil, serta suara pena yang sesekali menggores kertas menjadi pemandangan yang biasa.
Namun hari ini berbeda.
Di tengah ruangan, duduk seorang gadis kecil dengan rambut hitam panjang duduk diam. Seragam akademi yang ia kenakan tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Lengan bajunya menggantung hingga hampir menutupi tangannya, sementara kerahnya terlalu lebar sehingga bahunya terlihat tenggelam di dalam kain.
Gadis kecil itu duduk dengan kaki menggantung di kursi besar, matanya yang bulat berkedip-kedip memandang para profesor di sekitarnya.
Sesekali ia memainkan ujung lengan seragamnya yang kebesaran.
Beberapa profesor mencoba terlihat profesional.
Namun kenyataannya mereka semua menahan diri untuk tidak gemas.
Pintu ruang guru terbuka.
Seorang pemuda tinggi berambut pirang masuk dengan langkah tenang.
Seragam Student Council berwarna biru emas yang dikenakannya membuat auranya terlihat berwibawa dan elegan.
Di tangannya terdapat beberapa berkas laporan.
"Aku membawa laporan sihir praktik yang Anda minta, Profesor-" Kalimat Aaron terhenti.
Mata pria itu jatuh pada sosok kecil di tengah ruangan.
Aaron membeku.
Beberapa detik berlalu.
"Lala?" ucap Aaron.
Gadis kecil itu menoleh. Matanya yang besar memandang Aaron tanpa rasa takut, hanya kebingungan polos seperti anak kecil yang belum memahami dunia.
Aaron berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu ia menatap Profesor Calestine dengan wajah tidak percaya.
"Kenapa Elara menjadi kecil, Profesor?" tanya Aaron antara bingung dan penasaran.
Profesor Calestine menghela napas panjang seperti seseorang yang sudah terlalu lelah menjelaskan kejadian ini berulang kali.
"Pasangan praktiknya salah merapalkan mantra di kelas tadi," jawab Profesor Calestine.
Aaron memijat pelipisnya pelan.
Tentu saja.
Hal seperti ini memang bisa terjadi di akademi sihir.
Profesor Calestine melanjutkan, "Kebetulan kau ada di sini. Bisakah aku menyerahkan Elara kepadamu, Aaron? Kau boleh membawanya pulang untuk hari ini."
Aaron menatap Elara kecil lagi.
Gadis kecil itu sedang memainkan kancing bajunya sendiri. Ia terlihat sangat serius melakukan hal sederhana itu.
Aaron tidak bisa menahan senyum tipis dan menjawab, "Baik, Profesor."
Pria itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan kursi tempat Elara duduk.
Kemudian Aaron berlutut agar sejajar dengan tinggi mata gadis kecil itu.
Aaron tersenyum ramah dan menyapa, "Halo, Lala."
Nama panggilan masa kecil itu keluar begitu saja dari bibirnya. Walau sampai sekarang Aaron memanggil Elara dengan nama itu, tapi memanggil Elara dalam bentuk kecilnya ini tentu ada perasaan nostalgia dalam diri Aaron.
Elara kecil menatap Aaron cukup lama. Mata berkedip beberapa kali.
Lalu gadis itu menjawab dengan suara cadel yang sangat kecil. "Alo."
Beberapa profesor di belakang Aaron langsung menutup mulut mereka.
Aaron menahan senyum. Ia bertanya lembut, "Kau ingat denganku?"
Elara memiringkan kepalanya. Alis kecilnya mengerut.
Kemudian ia bertanya polos, "Kakak ciapa?"
Aaron menoleh pada Profesor Calestine.
Profesor itu menjelaskan dengan santai, "Elara tidak mengingat apa pun tentang dirinya yang dewasa. Sepertinya yang tersisa hanya ingatan masa kecilnya sesuai dengan usia tubuh itu."
Aaron mengangguk mengerti..Ia kembali menatap Elara. Aaron tersenyum lagi.
"Kalau begitu apa kau kenal Rowan dan Evan?" tanya Aaron.
Wajah Elara langsung berubah cerah. Ia mengangguk cepat. "Lowan dan Epan! Lala kenal, tentu caja!"
Aaron tertawa kecil. Tepat seperti yang diduga. Elara hanya memiliki ingatan masa kecilnya.
Aaron melanjutkan pertanyaan berikutnya. "Kalau Aaron?"
Elara mengangguk sangat semangat. "Alon teman Lala!"
Aaron tersenyum semakin lebar. "Kalau aku bilang aku Aaron apa kau percaya?"
Elara mengerutkan dahinya. Ia menatap Aaron dari ujung kepala sampai kaki. Kemudian ia menggeleng keras.
"Kakak bohong," kata Elara sambil melipat tangan mungilnya di dada.
Aaron terdiam.
"Tidak boleh bohong." Elara menunjuk Aaron dengan jari kecilnya. "Alon itu macih kecil kayak Lala. Dan kakak cudah becal."
Beberapa profesor langsung menunduk menahan tawa.
Aaron sendiri akhirnya tertawa pelan.
Lalu Ia berdeham. "Baiklah. Aku kakaknya Aaron," dustanya.
Elara menatapnya lagi.
"Kau lihat ... aku mirip dengan Aaron, bukan?" ujar Aaron.
Elara memerhatikan wajah Aaron lama sekali. Mata kecilnya menyipit seperti sedang berpikir keras. Kemudian ia mengangguk.
"Milip Alon," kata Elara. "Tapi Alon tidak bilang kalau Lala punya kakak."
Aaron menjawab santai, "Itu karena aku sekolah."
Elara langsung mengangguk seolah itu penjelasan yang sangat masuk akal. "Oh, begitu, ya."
Aaron kemudian mengangkat tangannya. Ia merapalkan mantra kecil.
Cahaya lembut muncul di sekitar seragam Elara yang kebesaran.
Dalam beberapa detik, kain itu mengecil dan menyesuaikan ukuran tubuh mungilnya.
Sekarang seragam itu pas di tubuh mungil sang gadis.
Elara langsung berbinar. Matanya seperti bintang.
"Apa itu!" Ia bertepuk tangan kecil. "Tantik cekali!"
Aaron tertawa lembut. "Itu namanya sihir."
Elara berkedip. "Cihil?"
Aaron hanya tersenyum. Ia lalu mengangkat Elara dengan mudah.
Gadis kecil itu langsung duduk nyaman di kedua lengan Aaron seolah sudah terbiasa.
Aaron berjalan kembali ke arah Profesor Calestine. "Profesor, aku akan membawa Elara."
Profesor Calestine mengangguk. "Baiklah. Tolong jaga dia. Sihirnya akan hilang dalam dua puluh empat jam." Ia menambahkan dengan nada sedikit bersalah, "Dan sampaikan permintaan maafku pada orang tuamu karena membuat Elara seperti ini."
Aaron mengangguk. "Tentu."
Beberapa profesor lain melambaikan tangan mereka pada Elara.
"Dadah, Elara."
Elara langsung melambaikan tangan kecilnya dengan ceria.
"Dadah!"
Aaron keluar dari ruang guru sambil menggendong Elara.
Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Aaron semakin lebar.
Elara menatapnya tanpa berkedip.
Aaron menyadarinya.
"Ada apa, Lala?" Ia bertanya sambil berjalan di koridor akademi. "Kenapa melihatku terus?"
Elara menjawab polos, "Kakak tantik cekali."
Aaron terdiam sesaat.
"Lala cuka," tambah sang gadis mungil itu.
Aaron akhirnya tertawa.
"Bukan cantik, Lala," kata Aaron. Ia menepuk hidung kecil Elara dengan telunjuknya "Tapi tampan kalau untuk pria."
Elara langsung mengangguk serius. "Tampan!"
Aaron tidak bisa menahan diri. Ia mencium pipi gembul Elara.
"Kalau kau ingat ini nanti saat tubuhmu kembali normal ..." Ia berbisik sambil tertawa kecil. "... aku yakin kau akan memukulku."
Elara justru tertawa geli ketika pipinya dicium.
Aaron tertawa.
Namun langkahnya berhenti.
Di halaman akademi dua orang berdiri menghadang.
Seorang pemuda bertubuh besar berambut merah dengan aura kesatria yang kuat.
Dan seorang gadis berambut cokelat dengan ekspresi sangat penasaran.
Leonhart dan Evangeline.
Kedua murid itu menatap Aaron.
Lalu pandangan mereka jatuh pada Elara kecil di gendongannya.
Mata Evangeline langsung berbinar.
"Elara?!" Evangeline menunjuk dengan tangan gemetar. "Itu sungguh Elara?!"
Leonhart juga terlihat tidak percaya.
"Ketua, Itu benar-benar Elara?!" tanya Leonhart.
Aaron tersenyum santai. "Benar. Karena kesalahan rapalan sihir saat praktik di kelas Profesor Calestine, Elara jadi bocah empat tahun."
Detik berikutnya ....
"AAAAAA!" Evangeline hampir menjerit. Ia berlari mendekat.
Leonhart juga ikut mendekat dengan wajah tidak percaya.
Elara kecil menatap keduanya lalu melihat Aaron untuk bertanya, "Kakak meleka ciapa? Meleka tahu nama Lala."
Evangeline memegang dadanya. "Aku tidak kuat ..."
Ia hampir pingsan.
Leonhart buru-buru menahannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Leonhart.
Evangeline berkata dengan suara gemetar, "Aku tidak sanggup. Elara terlalu menggemaskan, Senior."
Leonhart mengangguk keras. "Aku tahu!" Ia menatap Elara kecil dengan mata berbinar. "Dia benar-benar seperti boneka!"
Aaron hanya tertawa melihat reaksi mereka.
Karena memang sejak kecil Elara Ravens terkenal karena dua hal.
Keimutannya yang luar biasa.
Dan ... ketidakmampuannya untuk diam.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜