NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 10

Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin koridor menenangkan detak jantungku yang sempat berpacu karena ledekan Yogi.

Dengan satu gerakan tangan, aku menepis helai rambut yang menutupi wajahku, sekaligus seolah menyapu bersih bunga bunga yang baru saja ingin bermekaran.

​Enggak, Hana. Jangan sekarang,

bisikku pada diri sendiri.

​"Udah, udah! Jangan mulai deh,"

ucapku pada Diva dan Yogi sambil mencoba memasang wajah sedatar mungkin.

"Kita ke sini mau kuliah, bukan mau bahas hati."

​Aku segera melangkah mendahului mereka masuk ke dalam kelas. Di dalam hati, ada benteng yang kembali aku tegakkan. Meskipun kehadiran Tomi memberikan kehangatan, rasa sakit dari masa lalu itu masih terlalu nyata.

Luka tentang Dia dan segala pengkhianatan yang terjadi saat SMA membuatku takut untuk kembali memberi label pada sebuah hubungan. Bagiku, cinta masih terasa seperti jebakan yang bisa menghancurkanku kapan saja.

​Aku tidak ingin terjebak lagi. Aku hanya ingin fokus pada masa depan, pada kelulusan, dan pada caraku menyembuhkan diri sendiri tanpa harus bergantung pada laki-laki mana pun.

​Selama jam kuliah berlangsung, aku benar-benar membenamkan diriku dalam penjelasan dosen. Aku mencatat setiap poin dengan teliti, sengaja menutup diri dari bisikan-bisikan jahil Diva di sebelahku atau lirikan-lirikan kecil dari kursi Tomi di barisan belakang. Aku butuh kewarasan ini.

Aku butuh fokus ini untuk tetap berdiri tegak.

​Sampai akhirnya, jam kuliah selesai. Suara riuh teman-teman yang membereskan buku menandakan perjuangan hari ini telah usai.

​"Hana, mau bareng ke parkiran?"

tawar Tomi saat aku baru saja menyampirkan tas di bahu.

​Aku menoleh, memberikan senyum tipis yang sopan namun penuh jarak.

"Duluan aja, Tom. Aku masih ada urusan sebentar sama dosen."

​Tomi tampak sedikit kecewa, tapi dia mengangguk pengertian.

"Oke, hati-hati ya, Han."

​Aku memperhatikannya berjalan keluar kelas bersama Yogi. Ada rasa sesak yang aneh saat melihat punggungnya menjauh, tapi aku meyakinkan diriku bahwa ini yang terbaik. Aku belum siap. Aku belum sembuh sepenuhnya.

​Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih stabil. Setidaknya, kampus menjadi tempat pelarianku dari kepusingan di rumah. Begitu sampai di depan gerbang rumah yang besar itu, aku menarik napas panjang.

----------------

Aku menutup pintu kamar dengan rapat, segera memutar kunci hingga terdengar suara ceklek yang melegakan. Tas kukelempar sembarang ke atas tempat tidur. Aku tidak peduli tadi Mama memanggilku dengan suara lembut atau cemas aku sedang tidak memiliki energi untuk menanggapi sandiwara atau perhatian apa pun.

​Aku merebahkan tubuh, menatap langit-langit kamar yang putih polos. Sunyi. Hanya ada suara detak jantungku sendiri. Aku benar-benar butuh keheningan ini untuk menata kembali kepingan hatiku yang berantakan.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

​Drrrtt... drrrtt... drrrtt... (sumpah disini sebenarnya aku pengen banget buat suara hp nya jadi suara musik dangdut, enak kali ya😁😁🤣🤣)

​Ponsel di dalam tas bergetar hebat. Aku menghela napas panjang, merogoh tas dengan malas, dan melihat layarnya. Sebuah nomor asing tertera di sana. Tanpa nama.

​"Siapa sih?" gumamku ketus.

​Aku mengabaikannya. Paling hanya tawaran asuransi atau salah sambung, pikirku. Aku meletakkan ponsel itu di atas nakas dengan posisi layar menghadap ke bawah. Tapi baru saja aku ingin memejamkan mata, getaran itu kembali muncul.

​Drrrtt... drrrtt... drrrtt...

​Nomor yang sama. Menelepon untuk kedua kalinya. Aku tetap diam, membiarkannya hingga panggilannya mati sendiri. Tapi sedetik kemudian, ponsel itu kembali berteriak.

Kali ini seperti tidak ada habisnya. Seolah-olah orang di seberang sana sangat mendesak, tahu bahwa aku sedang memegang ponsel itu, dan tidak akan berhenti sampai aku mengangkatnya.

​Perasaan tidak enak mulai merayap di tengkukku.

Apakah ini Tomi? Tapi Tomi punya nomor yang tersimpan di kontakku. Apakah Papa? Tidak mungkin, Papa pasti menggunakan nomor rumah atau nomor pribadinya.

​Dengan tangan sedikit gemetar karena rasa penasaran yang bercampur cemas, aku akhirnya menyambar ponsel itu dan menggeser ikon hijau. Aku menempelkan ponsel ke telinga, namun aku tetap diam. Aku menunggu orang di sana berbicara lebih dulu.

​Hening sejenak. Hanya ada suara napas yang terdengar berat dan ragu dari seberang telepon.

​"Halo?"

ucapku akhirnya, suaraku hampir tidak keluar.

​"Hana..."

​Duniaku seolah berhenti berputar saat mendengar suara berat itu. Suara yang sangat kukenal. Suara yang dulu selalu membisikkan janji manis, namun juga suara yang terakhir kali kudengar saat ia memohon di balik jeruji besi.

​"Ini aku... Aku sudah keluar, Han."

Ponsel di tanganku terasa seperti bongkahan es yang membekukan seluruh sarafku. Suara itu... meskipun sudah bertahun-tahun tenggelam dalam riuh rendah rasa benci dan rindu, aku masih bisa mengenali setiap nadanya.

"Ini siapa?" tanyaku

suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Tipis dan bergetar.

"Ini aku, Wira, Han. Kamu beneran nggak ingat lagi sama aku?"

Deg.

Jantungku serasa mencelos ke perut. Nama itu. Nama yang selama ini kukubur dalam-dalam di bawah tumpukan trauma, kini melompat keluar begitu saja.

"Wir... Wira?"

aku terbata, lidahku terasa kelu.

"Kamu... ini beneran kamu?"

"Iya, ini aku. Aku rindu banget sama kamu, Hana. Kamu nggak tahu gimana rasanya setiap hari di dalam sana cuma bisa bayangin wajah kamu,"

suaranya terdengar parau, sarat akan beban yang dipendam lama.

Aku segera bangkit dari tempat tidur, memeriksa pintu kamar sekali lagi untuk memastikan kuncinya benar-benar rapat. Aku takut. Aku ngeri jika tiba-tiba Papa atau Mama lewat dan mendengar nama itu disebut. Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Ini terasa seperti mimpi buruk, tapi juga seperti jawaban dari doa-doa rahasia yang tak pernah berani kuucapkan.

"Kamu... gimana bisa?"

bisikku sangat pelan, nyaris tak terdengar.

"Aku sudah keluar, Han. Aku baru menghirup udara bebas. Hal pertama yang aku cari adalah kamu. Kamu nggak rindu aku?"

tanya Wira lirih. Kemudian, suaranya berubah menjadi lebih dalam dan penuh keraguan. "Gimana keadaan kamu, Hana? Dan... gimana keadaan anak kita?"

Aku memejamkan mata erat-erat. Pertanyaan itu seperti bogem mentah yang menghantam ulu hatiku. Anak kita. Sebuah kenyataan yang membuat pertahananku runtuh seketika.

"Ini beneran kamu, Wir? Aku nggak lagi mimpi, kan?" isakku mulai pecah, meski kututup dengan telapak tangan agar suaranya tidak keluar kamar.

"Ini beneran aku. Aku janji aku nggak akan hilang lagi," jawabnya mantap.

"Tapi... kenapa? Maksudku, dari mana kamu dapat nomorku? Aku bahkan nggak pernah kasih tahu siapa-siapa," tanyaku heran.

Wira terkekeh pelan di seberang sana, sebuah kekehan yang dulu sangat aku cintai.

"Aku selalu hafal nomormu, Hana. Angkanya sudah terpahat di kepalaku sejak kita masih sekolah. Aku nggak pernah lupa."

Aku terdiam. Ya, nomor ini memang satu-satunya hal yang tidak pernah kuubah sejak SMA.

Nomor yang sama yang pernah kugunakan untuk berkomunikasi dengannya sekali saja, saat dia baru empat bulan mendekam di balik jeruji besi, sebelum akhirnya orang tuaku menyita ponselku dan memutus semua akses komunikasi.

"Hana? Kamu masih di sana?"

suara Wira membuyarkan lamunanku.

Aku menatap cermin di hadapanku. Wajahku pucat. Di luar, aku mendengar suara langkah kaki Mama di lorong.

Aku buru-buru mematikan ponselku hingga layarnya benar-benar gelap. Jantungku masih berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dada. Tepat saat ponsel itu kuselipkan di bawah bantal, suara ketukan di pintu mengejutkanku.

Tok... tok... tok...

"Hana? Ini Mama, Sayang. Mama boleh masuk sebentar? Mama ingin bicara," suara Mama terdengar lirih dari balik pintu.

Aku menarik napas panjang, mencoba menormalkan ekspresi wajahku agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu.

"Iya, Ma. Masuk aja, nggak dikunci kok."

Pintu terbuka pelan. Mama masuk dengan langkah ragu, wajahnya tampak lelah dan matanya tidak berani menatapku langsung. Ia duduk di pinggir tempat tidurku, sementara aku tetap duduk bersandar pada kepala ranjang, menjaga jarak.

"Hana..." Mama memulai, suaranya bergetar. "Mama tahu, permintaan maaf mungkin nggak akan pernah cukup buat menyembuhkan luka yang kami kasih ke kamu selama bertahun-tahun ini."

Aku hanya diam, menatap jemariku sendiri yang gemetar.

"Maafin Mama dan Papa yang selama ini egois," lanjut Mama, kini ia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kami terlalu sibuk dengan kemarahan kami sendiri, terlalu sibuk mempertahankan harga diri, sampai kami buta kalau ada hati putri kami yang hancur di tengah-tengahnya. Mama sadar, Mama bukan ibu yang baik buat kamu. Mama nggak pernah nanya perasaan kamu, Mama justru nambah beban kamu dengan pertengkaran-pertengkaran itu."

Mama menarik napas panjang, mencoba menahan isaknya.

"Papa juga... dia keras karena dia nggak tahu cara mengakui kesalahannya. Tapi jujur, melihat kamu berteriak semalam, hati Mama seperti disayat. Kami sayang sama kamu, Hana. Kami hanya... tersesat dalam ego kami sendiri. Bisakah kamu kasih Mama dan Papa satu kesempatan lagi untuk memperbaiki rumah ini?"

Aku tetap bungkam. Kata-kata Mama terdengar tulus, sebuah pengakuan yang sudah bertahun-tahun kunantikan.

Namun, di saat yang sama, rahasia besar di bawah bantal ini Suara Wira yang baru saja kudengar membuat permintaan maaf Mama terasa sangat rumit.

Pikiran bawah sadarku bergejolak. Di satu sisi, ada orang tuaku yang baru saja mencoba meruntuhkan tembok ego mereka. Di sisi lain, ada masa lalu yang baru saja bangkit dari kuburnya dan menanyakan tentang "anak" yang menjadi rahasia terpahit dalam hidupku.

"Hana? Kamu denger Mama, kan?" Mama menyentuh tanganku dengan lembut.

Aku hanya mengangguk pelan, masih tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahku terasa kelu. Bagaimana aku bisa memaafkan mereka, jika kehadiran Wira hari ini mengingatkanku bahwa merekalah alasan kenapa hidupku menjadi sehancur ini?

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!