Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Dewa di Antara Manusia
Langit telah kembali biru tanpa cela, seolah awan hitam pekat dan badai mengerikan sepuluh menit yang lalu hanyalah ilusi optik massal. Di bawah sana, sirene polisi dan ambulans meraung-raung membelah kemacetan Kota Emerald yang masih dilanda kepanikan dan kebingungan.
Di ruang kerja lantai 88 Menara Emerald, angin sepoi-sepoi masuk melalui bingkai jendela raksasa yang kacanya telah hancur tak bersisa.
Han Shixiong masih berlutut di atas karpet, tubuhnya gemetar. Ia tidak berani mengangkat wajahnya. Ketika ia mendengar suara langkah kaki yang ringan mendarat di lantai, dahi pria tua itu langsung menyentuh karpet.
"S-selamat datang kembali, Guru Besar Vajra," suara Han bergetar, dipenuhi oleh rasa puja yang melampaui batas akal sehat. Ia baru saja menyaksikan pria di depannya ini menampar jatuh dewa-dewa dari langit.
Arya menepuk debu imajiner dari bahu jaketnya. "Berdirilah, Han. Lantaimu kotor karena pecahan kaca."
Han perlahan bangkit, matanya tak berani menatap langsung ke mata Arya. Baginya, pemuda berjaket katun ini sekarang memancarkan cahaya suci yang bisa membutakan mata fana.
"Orang-orang dari Sekte Pedang Awan sudah menjadi debu," ucap Arya tenang, berjalan menuju meja dan menuangkan teh baru untuk dirinya sendiri, seolah ia baru saja kembali dari membuang sampah. "Tapi keributan yang mereka buat di bawah sana cukup merepotkan."
"H-hamba akan segera mengurusnya, Guru Besar!" Han cepat-cepat menjawab. "Hamba akan menghubungi Gubernur dan Panglima Militer Wilayah Selatan. Kami akan merilis pernyataan resmi bahwa kejadian tadi adalah anomali cuaca ekstrem yang dipadukan dengan uji coba proyeksi hologram militer rahasia. Semua video di internet akan disensor dan dihapus dalam waktu satu jam."
Arya mengangguk pelan. Ia tahu pemerintah fana juga tidak bodoh. Para petinggi negara pasti melihat kejadian sebenarnya melalui satelit. Namun, menghadapi entitas yang bisa menghancurkan kota dengan satu tamparan, pemerintah mana pun akan memilih untuk bungkam dan menjadikan entitas tersebut sebagai 'Pelindung Tak Kasat Mata' alih-alih menjadikannya musuh negara.
"Bagus. Pastikan tidak ada wartawan atau agen rahasia yang berani mengendus rumah Keluarga Kusuma," titah Arya. "Aku harus menemui istriku."
Di saat yang sama, di ruang rapat kaca Grup Kusuma.
Kepanikan perlahan mereda setelah langit kembali cerah. Para investor asing dievakuasi oleh tim keamanan. Nadia duduk sendirian di kursinya, napasnya masih memburu. Tangannya tak henti-hentinya menggenggam liontin giok hijau di dadanya, yang kini perlahan meredup setelah sebelumnya memancarkan kehangatan pelindung.
Melalui jendela kaca gedung perusahaannya, Nadia telah melihat semuanya.
Meskipun jaraknya cukup jauh, siluet pemuda berjaket yang berjalan menaiki udara dan menghancurkan badai itu... posturnya, ketenangannya, segalanya terlalu familier bagi Nadia.
Cklek.
Pintu ruang rapat terbuka. Nadia tersentak dan langsung berdiri.
Arya masuk dengan langkah santai. Ia tersenyum tipis melihat istrinya yang tampak tegang namun tidak terluka sedikit pun.
"Rapatnya sepertinya bubar lebih cepat dari jadwal," sapa Arya lembut.
Nadia tidak menjawab. Ia berlari kecil melintasi ruangan dan langsung menabrakkan tubuhnya ke pelukan Arya. Tangannya melingkar erat di pinggang suaminya, wajahnya dibenamkan di dada Arya. Ia bisa mendengar detak jantung Arya yang tenang dan stabil, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar.
Arya sedikit terkejut, namun tangannya perlahan membalas pelukan itu, mengusap punggung Nadia dengan penuh kasih sayang.
"Kau aman," bisik Arya. "Semuanya sudah berakhir."
Nadia mendongak, matanya yang indah sedikit berkaca-kaca menatap wajah Arya. "Orang di langit tadi... telapak tangan emas yang menghancurkan awan itu... itu kau, kan?"
Itu bukanlah pertanyaan yang menuntut kebohongan untuk menenangkan diri. Nadia sudah terlalu cerdas untuk dibohongi lagi.
Arya terdiam sejenak. Ia membalas tatapan Nadia, lalu mengangguk pelan. "Ya. Itu aku."
Nadia menarik napas panjang. Kakinya sedikit lemas, namun pelukan Arya menahannya agar tidak jatuh. Ia ditampar oleh kenyataan bahwa suaminya, pria yang selama tiga tahun mencuci piring di dapurnya, adalah eksistensi yang melampaui hukum alam semesta.
Arya membimbing Nadia untuk duduk di sofa ruang rapat, lalu ia berjongkok di hadapannya, menggenggam kedua tangan istrinya yang dingin.
"Nadia, ada hal-hal tentang diriku yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan dunia ini," Arya memulai dengan suara yang berat dan tenang. "Sebelum aku terbangun di rumah sakit tiga tahun lalu setelah Kakek menyelamatkanku, jiwaku telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Sangat jauh."
Arya menatap liontin giok di leher Nadia. "Dunia ini tidak hanya berisi manusia biasa. Ada mereka yang berlatih menyerap energi alam untuk menembus batas kefanaan. Orang-orang di langit tadi adalah sebagian kecil dari mereka. Mereka menyebut diri mereka kultivator."
"Lalu... kau?" tanya Nadia dengan suara bergetar. "Apakah kau juga seorang... kultivator?"
Arya tersenyum tipis. "Di masa lalu, mereka memanggilku Kaisar Abadi. Tapi entah aku ini dewa, kaisar, atau kultivator, satu hal yang tidak akan pernah berubah..."
Arya mengangkat tangan Nadia dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"...Di kehidupan ini, aku adalah Arya. Suamimu. Pria yang akan memastikan kau bisa tersenyum dan tidur nyenyak setiap malam tanpa ada satu pun bayangan yang berani mengganggumu."
Air mata akhirnya menetes dari sudut mata Nadia. Bukan karena takut, melainkan karena kelegaan yang luar biasa. Ia menarik tangan Arya dan menempelkannya di pipinya.
"Dewa atau manusia, aku tidak peduli," isak Nadia pelan, disusul tawa kecil yang membebaskan. "Selama kau masih memasakkan mi instan untukku di tengah malam, kau tidak boleh pergi ke mana-mana."
Arya tertawa pelan, menghapus air mata istrinya. "Aku janji. Bahkan Kaisar Langit pun tidak bisa memaksaku pergi dari dapurmu."
Sementara itu, di ibu kota negara, ribuan kilometer dari Kota Emerald.
Di dalam sebuah ruang bunker bawah tanah yang sangat rahasia, layar-layar monitor raksasa menampilkan rekaman satelit dari pertarungan di langit Kota Emerald yang telah diisolasi dari publik.
Seorang pria paruh baya dengan seragam militer berpangkat jenderal bintang empat menatap layar itu dengan keringat dingin. Di sampingnya, beberapa penasihat negara tampak pucat.
"Panglima," lapor seorang perwira intelijen. "Analisis energi menunjukkan bahwa serangan telapak tangan emas itu memiliki daya hancur yang melampaui ledakan nuklir taktis, namun energinya sepenuhnya terkendali tanpa radiasi."
Sang Jenderal menarik napas panjang. "Sekte Pedang Awan yang arogan itu akhirnya menendang pelat besi. Kita sudah muak dengan sekte-sekte yang bertingkah seperti penguasa bayangan di negara ini."
"Apa instruksi Anda mengenai entitas bernama Arya ini, Jenderal? Apakah kita akan mengklasifikasikannya sebagai Ancaman Level Merah?"
Jenderal itu menoleh dengan tatapan tajam. "Bodoh! Apa kau ingin membuat negara ini lenyap dari peta? Kirimkan utusan ke Emerald Group. Jangan bawa senjata, bawa hadiah. Klasifikasikan pemuda itu sebagai Pelindung Negara Tingkat Dewa. Mulai detik ini, apa pun yang Keluarga Kusuma inginkan di ranah hukum dan bisnis, berikan lampu hijau penuh!"