Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Perangkap yang berbalik arah
Suasana ruang tamu rumah Dimas yang biasanya tenang, sore itu berubah riuh dengan kedatangan keluarga besar dari pihak mendiang ayahnya. Tawa mereka terdengar nyaring, namun seketika senyap saat sosok Zora muncul dengan kursi rodanya, dibantu oleh Dimas sendiri.
Mira, sepupu Dimas yang selalu merasa dirinya paling terhormat, meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang sengaja dikeraskan. Matanya menyisir penampilan Zora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.
"Dimas,tidak salah?Siapa gadis ini? Kenapa ada orang asing yang tinggal di rumah ini, apalagi kondisinya... seperti itu?" tanya Tante Sofia, ibu Mira, dengan nada bicara yang seolah Zora adalah debu yang mengotori karpet mewahnya.
"Dia temanku, Tante. Dia sedang dalam masa pemulihan setelah menyelamatkan nyawa Ibu," jawab Dimas datar. Ia berdiri di samping Zora, tangannya secara posesif bertumpu pada sandaran kursi roda gadis itu.
Mira tertawa sinis, "Menyelamatkan nyawa atau sengaja mencari kesempatan, Dimas? Zaman sekarang banyak yang menggunakan wajah polosnya untuk memancing belas kasihan keluarga kaya. Benar kan, Zora?"
Zora meremas pinggiran bajunya. Kata-kata yang diucapkan dengan nada merendah itu terasa seperti sembilu. Namun, sebelum Zora sempat menjawab, Bu Lastri meletakkan gelasnya dengan suara yang lebih keras.
"Jaga bicaramu, Mira!" suara Bu Lastri menggelegar tenang, namun penuh otoritas. "Zora bukan gadis sembarangan yang butuh belas kasihan kalian. Dia adalah gadis terhormat."
Bu Lastri berjalan mendekat, lalu mengelus bahu Zora dengan bangga. "Asal kalian tahu, di usianya yang semuda ini, Zora sudah mengelola kerajaan bisnis kainnya sendiri di Bandung. Dia punya beberapa cabang toko besar yang sukses. Jadi, jangan berani-berani mengukur martabatnya hanya karena kalian melihat penampilannya."
Keluarga besar itu tertegun. Wajah Mira memucat, rasa malunya berubah menjadi api cemburu yang membakar hati.
"Bisnis kain? Paling hanya toko keci," gumam Mira tak mau kalah.
Dimas melangkah maju, sorot matanya yang tajam mengunci pandangan Mira. "Toko kecil yang kamu maksud itu adalah penyuplai utama bahan tekstil untuk beberapa desainer ternama yang pakaiannya sering kamu pamerkan di media sosial, Mira. Jika Zora mau, dia bisa memutus kontrak dengan merek favoritmu besok pagi."
Skakmat. Mira bungkam seribu bahasa. Kecemburuan di matanya semakin pekat saat melihat Dimas kemudian berjongkok di depan Zora, mengabaikan semua orang di ruangan itu.
"Apa kakimu sakit karena terlalu lama duduk? Kita kembali ke kamar saja," bisik Dimas lembut,suara yang belum pernah didengar oleh saudaranya yang lain.
Melihat perhatian Dimas yang begitu dalam, Mira mengepalkan tangannya di bawah meja. 'Gadis sialan. Hanya karena punya toko kain dan wajah polos, dia pikir bisa mendapatkan Dimas? Kita lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan di rumah ini,' batin Mira penuh siasat busuk.
**
Beberapa hari kemudian, suasana rumah terasa lebih hidup. Zora mulai belajar berjalan dengan bantuan tongkat, langkahnya masih tertatih namun penuh tekad. Di sudut koridor, Mira memperhatikan dengan senyum miring yang menyimpan racun. Rencananya sudah matang.
"Tolong! Perhiasanku! Kalung berlian peninggalan Nenek hilang!" teriak Mira tiba-tiba, suaranya memenuhi seisi rumah hingga memancing Bu Lastri dan Dimas keluar dari ruangan masing-masing.
Mira berlari ke arah ruang tengah dengan wajah yang dibuat sembab. "Dimas, Tante... kalungku hilang dari meja rias! Tadi aku lihat Zora sempat melintas di depan kamarku!"
Dimas muncul dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, ekspresinya sedatar es. "Apa maksudmu, Mira?"
"Zora, Dimas! Siapa lagi orang asing di rumah ini?" tuduh Mira sambil menunjuk Zora yang baru saja sampai di ruang tengah dengan napas terengah karena kelelahan berjalan. "Periksa kamar gadis itu sekarang! Aku yakin dia tergiur melihat berlian karena bisnis kainnya mungkin tidak seberapa!"
Zora tertegun, wajahnya pucat pasi. "Aku tidak melakukannya... aku bahkan tidak tahu di mana kamarmu, Kak Mira."
"Cukup!" bentak Mira. "Tante, biarkan aku menggeledah kamarnya!"
Mira langsung menerobos masuk ke kamar Zora, diikuti oleh Bu Lastri yang terlihat cemas dan Dimas yang tetap tenang secara misterius. Benar saja, di bawah bantal Zora, Mira menarik keluar sebuah kotak beludru merah berisi kalung berlian yang berkilau.
"Lihat! Apa kubilang?dia mencurinya kan" teriak Mira puas.
Bu Lastri menutup mulutnya, tak percaya. Namun, di tengah drama itu, terdengar suara tawa rendah yang dingin dari arah pintu. Dimas bersandar di kusen pintu sambil memainkan ponselnya.
"Akting yang luar biasa, Mira. Kau seharusnya masuk jurusan seni peran, bukan bisnis," ucap Dimas dengan nada meremehkan yang sangat tajam.
"Apa maksudmu, Dimas? Buktinya ada di sini!"
Dimas melangkah maju, merebut ponselnya sendiri dan memutar sebuah video. "Tiga hari lalu, aku memasang CCTV tersembunyi dengan sensor gerak di seluruh koridor rumah ini. Bukan karena aku tidak percaya pada penghuni rumah, tapi karena aku tahu ada 'tikus' yang ingin bermain api."
Layar ponsel itu menunjukkan rekaman Mira yang mengendap-endap masuk ke kamar Zora setengah jam yang lalu, lalu menyelipkan kotak merah itu ke bawah bantal saat Zora sedang di taman belakang.
Mira membeku. Wajahnya seketika kehilangan warna, ia benar-benar mati kutu.
"Dimas... aku... aku hanya bercanda," gagap Mira.
"Kau sama saja seperti Nesa,suka memanipulasi.Keluar dari rumahku, Mira. Sekarang. Sebelum aku melaporkan pencemaran nama baik ini ke polisi," titah Dimas dengan suara rendah yang mengancam. "
Bu Lastri yang berang langsung mengusir Mira dan keluarganya hari itu juga. Setelah kekacauan mereda, keheningan menyelimuti kamar Zora. Gadis itu masih gemetar, air mata mulai jatuh di pipinya karena syok.
Dimas mendekat, ia mengambil tongkat Zora dan meletakkannya di samping. Secara mengejutkan, Dimas menarik Zora ke dalam pelukannya. Sangat erat.
"Maafkan aku," bisik Dimas tepat di telinga Zora. "Aku membiarkanmu menghadapi penghinaan itu sebentar hanya untuk memastikan dia tidak bisa mengelak lagi."
Zora terisak di dada bidang Dimas, tangannya perlahan mencengkeram kemeja pria itu. "Aku takut, Pak... aku takut Bapak percaya padanya."
Dimas menjauhkan sedikit tubuhnya, namun tangannya tetap melingkar di pinggang Zora. Ia menghapus air mata di pipi Zora dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut hingga membuat napas Zora tertahan.
"Zora, dengar. Di duniaku, variabel yang paling pasti adalah logikaku. Dan logikaku mengatakan bahwa kamu adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah mengecewakanku," ucap Dimas dengan tatapan yang dalam dan intens.
Zora mendongak, matanya bertemu dengan netra Dimas yang kini menunjukkan kasih sayang yang tak lagi disembunyikan. Dalam jarak yang sangat dekat itu, Dimas mengecup kening Zora lama, seolah memberikan tanda bahwa mulai detik ini, ia adalah pelindung abadi bagi gadis itu.
Nah lo di sini Dimas udah grecep aja ni.Apa yang akan terjadi setelah ini?
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭