NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penutupan dan permulaan baru

Mayra berdiri di samping tempat tidur Arman, menatap pria yang dulu pernah dia cintai, atau pikir dia cintai, dengan perasaan yang sangat kompleks.

Ada simpati. Ada kesedihan. Tapi mengejutkan, tidak ada cinta. Tidak ada kerinduan. Hanya... kekosongan yang aneh, dan sedikit kasihan.

"Mayra, tolong duduk," kata Arman dengan suara serak sambil mencoba duduk, tapi tubuhnya terlalu lemah.

"Aku akan berdiri saja. Aku tidak bisa lama," kata Mayra dengan lembut tapi tegas. "Lima belas menit, Arman. Itu saja yang bisa kuberikan."

Arman mengangguk, air mata masih mengalir. "Lima belas menit sudah lebih dari yang kupantas dapatkan. Terima kasih... terima kasih sudah datang."

Keheningan yang canggung menyelamuti.

Nyonya Puspita yang berdiri di pojok ruangan berbisik, "Aku akan tunggu di luar. Kalian perlu privasi." Lalu dia keluar, menutup pintu dengan suara pelan.

Sekarang hanya Mayra dan Arman.

"Kamu... kamu terlihat baik. Bahagia," kata Arman sambil menatap Mayra dengan tatapan yang penuh... penyesalan? Kesedihan?

"Aku memang bahagia, Arman," jawab Mayra dengan jujur.

"Dengan... dengan Paman Dev."

"Dengan Dev." koreksi Mayra. Dia tidak mau Arman menyebut Dev sebagai "Paman" lagi. Itu aneh dan tidak pantas.

Arman tersenyum, senyum sedih yang membuat wajahnya terlihat semakin pucat. "Aku dengar kalian... benar-benar bersama sekarang. Bukan lagi hanya untuk pamer atau balas dendam. Kalian benar-benar saling mencintai."

Mayra terkejut. "Kamu dengar dari mana?"

"Instagram. Media sosial. Orang-orang bicara. Dan... dan Mama yang cerita. Dia bilang dia melihat kalian berdua bersama dan... jelas sekali. Cara dia menatapmu. Cara kamu menatapnya balik," suara Arman pecah. "Kamu tidak pernah menatapku seperti itu. Bahkan saat kita bersama."

Mayra tidak tahu harus bilang apa. Karena... Arman benar.

"Arman, aku datang ke sini bukan untuk membicarakan hubunganku dengan Dev," kata Mayra dengan lembut. "Aku datang karena Mama-mu bilang kamu... kamu mencoba--"

"Bunuh diri. Ya," potong Arman dengan blak-blakan. "Aku mencoba. Jelas dari semua selang ini."

"Kenapa?" tanya Mayra meskipun sebagian dirinya tidak ingin tahu.

"Karena aku kehilangan segalanya, Mayra," kata Arman dengan suara yang bergetar. "Aku kehilangan kamu. Aku kehilangan rasa hormat dari keluarga. Aku dipecat dari perusahaan--Papa bilang aku membawa malu ke keluarga. Zakia memutuskan semua komunikasi denganku--ternyata dia tidak pernah mencintaiku, dia hanya mau apa yang kamu punya. Dan yang terburuk... aku kehilangan diriku sendiri. Aku melihat di cermin dan aku tidak mengenali pria yang menatap balik. Pria yang mengkhianati wanita yang mencintainya. Pria yang menghancurkan segalanya untuk... untuk apa? Perselingkuhan yang tidak berarti."

Mayra merasakan dadanya sesak. Ini... ini adalah Arman yang benar-benar hancur. Bukan manipulatif, bukan berpura-pura. Ini tulus.

"Jadi aku memutuskan... kalau aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah ini, lebih baik tidak hidup sama sekali," lanjut Arman sambil menatap tangannya yang penuh dengan selang infus.

"Arman, bunuh diri tidak pernah menjadi jawaban," kata Mayra dengan tegas.

"Tapi hidup dengan mengetahui bahwa aku menghancurkan hal terbaik yang pernah kumiliki juga bukan jawaban," balas Arman sambil menatap Mayra dengan mata yang penuh air mata. "Mayra, aku... aku minta maaf. Aku tahu aku sudah bilang ini berkali-kali. Tapi aku benar-benar, sangat menyesal. Untuk semuanya. Karena mengkhianatimu. Karena menyakitimu. Karena menjadi pengecut yang tidak bisa menghargai apa yang kumiliki sampai hilang."

Mayra menarik napas panjang. "Aku mendengar permintaan maafmu, Arman. Dan... aku memaafkanmu."

Mata Arman melebar. "Apa?"

"Aku memaafkanmu," ulang Mayra. "Bukan untukmu. Tapi untuk diriku sendiri. Karena aku tidak mau membawa kemarahan dan rasa sakit itu lagi. Aku mau melanjutkan hidupku dengan Dev tanpa beban dari masa lalu."

Air mata Arman mengalir lebih deras. "Terima kasih. Terima kasih, Mayra."

"Tapi pengampunan tidak berarti aku menginginkanmu kembali dalam hidupku, Arman. Aku melanjutkan hidup. Dan aku perlu kamu melakukan hal yang sama," kata Mayra dengan lembut tapi tegas.

"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup saat kamu adalah satu-satunya wanita yang benar-benar kucintai?" bisik Arman.

"Kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku, Arman," kata Mayra dengan senyum sedih. "Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan mengkhianatiku dengan kakak tiriku sendiri. Cinta sejati adalah rasa hormat, kepercayaan, kesetiaan. Kamu tidak pernah memberiku itu."

Arman terdiam, tidak bisa membantah karena dia tahu itu benar.

"Tapi kamu akan menemukan orang lain suatu hari nanti. Seseorang yang lebih cocok untukmu. Dan saat itu terjadi, aku harap kamu akan memperlakukannya lebih baik dari cara kamu memperlakukanku," lanjut Mayra.

"Aku... aku akan mencoba," kata Arman dengan suara pelan.

Mayra menatap jam. Sudah sepuluh menit. Lima menit lagi.

"Arman, aku perlu kamu berjanji sesuatu padaku," kata Mayra.

"Apapun."

"Berjanji lah padaku kamu tidak akan mencoba ini lagi. Bunuh diri. Tidak peduli seberapa sulit keadaannya.Berjanji lah padaku kamu akan mencari bantuan--terapi, kelompok dukungan, apapun yang kamu butuhkan dan berjanjilah padaku kamu akan memilih untuk hidup," kata Mayra dengan serius.

Arman menatap Mayra dengan tatapan yang penuh dengan emosi yang bertentangan.

"Kenapa kamu peduli? Setelah semua yang kulakukan padamu, kenapa kamu masih peduli apakah aku hidup atau mati?" tanya Arman.

"Karena aku bukan monster, Arman. Aku mungkin tidak mencintaimu lagi. Aku mungkin tidak mau ada hubungan denganmu. Tapi aku juga bukannya tidak berperasaan sampai menginginkanmu mati," jawab Mayra dengan jujur. "Semua orang pantas mendapat kesempatan kedua dalam hidup. Bahkan kamu."

Arman menangis, tangisan dalam yang membuat tubuhnya yang sudah lemah bergetar.

"Aku janji. Aku janji aku akan mencoba. Untukmu. Untuk Mama. Untuk diriku sendiri," kata Arman di antara tangisannya.

"Bagus," Mayra tersenyum, senyum sedih tapi tulus.

Dia melangkah lebih dekat dan untuk pertama kalinya, menyentuh tangan Arman, sentuhan singkat, hanya beberapa detik.

"Selamat tinggal, Arman. Aku harap kamu menemukan kedamaianmu," kata Mayra dengan lembut.

"Selamat tinggal, Mayra. Dan... dan terima kasih. Untuk semuanya. Karena memaafkanku. Karena... terlalu baik untukku," kata Arman dengan suara bergetar.

Mayra mengangguk, lalu berbalik dan berjalan ke pintu.

"Mayra!" panggil Arman saat tangannya sudah di gagang pintu.

Mayra berhenti tapi tidak berbalik.

"Berbahagialah. Dengan Dev. Benar-benar bahagia. Kamu pantas mendapatkan itu," kata Arman.

Mayra tersenyum meskipun Arman tidak bisa melihat. "Tentu. Terima kasih."

Lalu dia keluar dari kamar, menutup pintu, dan menutup bab itu dari hidupnya.

Selamanya.

***

Di ruang tunggu, Dev langsung berdiri saat melihat Mayra keluar. Matanya segera memindai Mayra dari atas sampai bawah, memeriksa apakah dia baik-baik saja.

"Hei," sapa Dev sambil menghampiri. "Kamu oke?"

Mayra mengangguk. "Aku oke. Lebih dari oke sebenarnya."

Dev menatapnya dengan khawatir. "Benarkah?"

"Benar," Mayra tersenyum, senyum yang tulus. "Aku mendapat penutupan yang kubutuhkan. Aku memaafkannya. Dan aku benar-benar, sepenuhnya siap untuk melanjutkan hidup sekarang."

Dev menatapnya dengan tatapan yang penuh... lega? Bangga?

"Aku bangga padamu," kata Dev sambil menarik Mayra ke dalam pelukannya, tidak peduli bahwa mereka di tengah koridor rumah sakit dengan beberapa orang menonton.

"Terima kasih. Karena membiarkanku melakukan ini. Karena mendukungku meskipun kamu tidak nyaman dengan ini," bisik Mayra sambil bersandar di dada Dev.

"Itulah yang dilakukan pasangan. Kita saling mendukung, bahkan ketika sulit," jawab Dev sambil mencium puncak kepala Mayra.

Nyonya Puspita keluar dari kamar Arman, melihat Mayra dan Dev berpelukan. Dia berjalan menghampiri dengan hati-hati.

"Mayra," panggilnya dengan lembut.

Mayra melepaskan diri dari pelukan Dev dan berbalik menghadap perempuan paruh baya itu.

"Terima kasih. Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah... berbicara dengannya. Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, tapi dia terlihat... berbeda setelah kamu pergi. Lebih... penuh harapan, entah bagaimana," kata Nyonya Puspita dengan rasa terima kasih.

"Aku harap dia akan semakin baik, Nyonya. Sungguh," kata Mayra dengan tulus.

Nyonya Puspita mengangguk, lalu menatap Dev dengan tatapan yang rumit.

"Dev, aku... aku minta maaf. Untuk semuanya. Untuk cara kami memperlakukanmu. Untuk tindakan Arman. Untuk... untuk semua drama yang keluarga kami sebabkan," kata Nyonya Puspita, dan ini adalah pertama kalinya Mayra mendengar wanita yang biasanya sangat congkak ini benar-benar meminta maaf.

Dev menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca. "Permintaan maaf mu diterima, Puspita. Tapi aku harap kamu mengerti bahwa hubungan antara keluarga kita tidak bisa kembali seperti dulu."

"Aku mengerti," kata Nyonya Puspita dengan anggukan sedih. "Aku hanya berharap... suatu hari, mungkin bisa ada perbaikan di antara kita."

"Suatu hari. Mungkin," kata Dev, bukan janji, tapi juga bukan penolakan langsung.

Nyonya Puspita tersenyum, senyum sedih, lalu berbalik kembali ke kamar Arman.

Dev dan Mayra berjalan keluar dari rumah sakit dalam keheningan, tangan bergandengan.

Saat sudah di mobil, Dev tidak langsung menyalakan mesin. Dia berbalik menatap Mayra.

"Ceritakan padaku. Apa yang terjadi di sana? Aku perlu tahu kamu benar-benar baik-baik saja," kata Dev dengan serius.

Mayra menceritakan semuanya: percakapan dengan Arman, permintaan maaf, pengampunan, janji untuk tidak mencoba bunuh diri lagi, perpisahan yang final.

Dev mendengar dengan seksama, sesekali rahangnya mengeras saat Mayra bercerita tentang bagian-bagian yang jelas sulit.

"Dan kamu benar-benar baik-baik saja? Tidak ada perasaan yang tersisa?" tanya Dev dengan hati-hati saat Mayra selesai.

"Sungguh tidak apa- apa Dev," jawab Mayra dengan tegas. "Aku merasa... lega sebenarnya. Lega bahwa bab itu ditutup. Lega bahwa aku bisa memaafkannya dan melepaskan. Dan yang paling penting, lega bahwa aku punya kamu yang menungguku di luar. Kamu adalah masa depanku, Dev. Arman adalah masa lalu. Dan aku sangat jelas tentang itu."

Dev menatapnya dengan tatapan yang intens, lalu tiba-tiba menarik Mayra ke dalam ciuman, ciuman dalam dan penuh gairah yang membuat Mayra terengah-engah saat mereka akhirnya terpisah.

"Aku sangat mencintaimu," bisik Dev dengan suara serak. "Dan aku sangat lega bahwa kamu benar-benar milikku sekarang. Sepenuhnya, sepenuhnya milikku."

"Sepenuhnya, sepenuhnya milikmu," setuju Mayra sambil tersenyum. "Sekarang bawa aku pulang. Aku lelah dan aku tidak ingin apa-apa selain berpelukan dengan suamiku di sofa sambil menonton sesuatu yang tidak penting di Netflix."

Dev tertawa, tawa tulus yang membuat mata Mayra berbinar karena sangat jarang dia mendengar Dev tertawa seperti itu.

"Keinginanmu adalah perintahku, Nyonya Armando," kata Dev sambil menyalakan mesin.

...----------------...

Malam itu, mereka memang menghabiskan waktu persis seperti yang Mayra katakan, berpelukan di sofa, menonton acara realitas yang tidak penting, dengan makanan China pesanan dan wine.

Tapi sekitar jam 10 malam, Dev tiba-tiba mematikan suara TV dan berbalik menatap Mayra dengan tatapan yang serius.

"Mayra, ada sesuatu yang ingin kubicarakan," kata Dev.

Mayra langsung waspada. "Oke... apa?"

Dev meraih tangan Mayra dan menggenggamnya. "Kontrak kita. Yang asli. Aku ingin kita resmi membatalkannya dan membuat... yang baru."

Mayra bingung. "Kontrak baru? Maksudnya?"

"Bukan kontrak seperti yang lama. Maksudku... akta pernikahan yang sesungguhnya. Janji yang sesungguhnya. Segala yang seharusnya ada dalam pernikahan yang sesungguhnya," jelas Dev.

"Tapi kita sudah menikah secara sah, Dev. Akta kita sudah sungguhan," kata Mayra.

"Aku tahu. Tapi pernikahan itu dimulai sebagai transaksi. Aku ingin kita punya upacara yang benar-benar merayakan cinta kita. Aku ingin menikahimu lagi, tapi kali ini, bukan di tengah kekacauan dan drama. Kali ini, karena aku mencintaimu dan aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu," kata Dev dengan suara yang penuh emosi.

Mayra merasakan matanya berkaca-kaca. "Dev... apakah kamu melamarku? Lagi?"

Dev tersenyum, senyum yang hangat dan tulus yang membuat jantung Mayra meleleh.

"Ya. Aku melamarmu lagi. Dengan benar kali ini," kata Dev.

Lalu dia berdiri dan, ya ampun, dia benar-benar berlutut di depan sofa, mengeluarkan kotak beludru kecil dari sakunya.

Tangan Mayra langsung menutup mulutnya, air mata sudah mengalir.

Dev membuka kotak itu, menampilkan cincin yang benar-benar memukau, sederhana tapi elegan, dengan berlian princess cut yang berkilau di tengah, dikelilingi berlian-berlian kecil di pita platinum.

"Mayra Andini Kusumo Armando," kata Dev dengan suara dalamnya yang sedikit bergetar karena emosi. "Kamu masuk ke dalam hidupku di saat yang paling tidak terduga. Dalam kekacauan, drama, dan rencana balas dendam yang gila. Tapi entah bagaimana, di tengah semua itu, aku menemukan sesuatu yang kukira tidak akan pernah kutemukan lagi, cinta. Cinta yang nyata, tulus, tanpa syarat."

Mayra menangis lebih keras, tidak bisa berbicara.

"Kamu membuatku merasa hidup lagi. Kamu membuatku ingin membuka hatiku lagi meskipun aku ketakutan. Kamu menunjukkan padaku bahwa tidak semua orang akan menyakitiku, bahwa cinta bisa menjadi nyata dan indah kalau dengan orang yang tepat. Dan kamu adalah orang yang tepat untukku, Mayra. Satu-satunya orang," lanjut Dev, matanya juga mulai berkaca-kaca.

"Jadi aku melamarmu sekarang, dengan segenap hati dan jiwaku, maukah kamu menikah denganku? Lagi? Sungguhan kali ini? Maukah kamu menjadi istriku, pasanganku, sahabat terbaikku, segalanya, untuk sisa hidup kita?"

"YA!" Mayra hampir berteriak di tengah tangisannya. "YA, YA, SERIBU KALI YA!"

Dev tertawa sambil berdiri dan memasangkan cincin itu ke jari manis Mayra, tepat di sebelah cincin yang dia berikan di gereja bulan lalu.

Tapi cincin yang ini... ini berbeda. Ini simbol dari cinta sejati, komitmen sejati, masa depan sejati.

Mayra menatap cincinnya dengan kagum, lalu menatap Dev dengan tatapan yang penuh cinta.

"Aku mencintaimu, Dev Armando. Sangat sampai sakit," bisik Mayra.

"Aku juga mencintaimu, Mayra. Lebih dari yang bisa diungkapkan kata-kata," bisik Dev balik.

Lalu mereka berciuman, dalam, penuh gairah, penuh dengan janji untuk masa depan yang akan mereka bangun bersama.

Saat paguttan terlepas, Mayra bertanya dengan penasaran, "Kapan kamu beli cincin ini? Kamu merencanakan ini?"

Dev tersenyum dengan sedikit rasa bersalah. "Aku membelinya beberapa hari lalu. Aku awalnya berencana untuk melamar minggu depan, di tempat yang romantis seperti makan malam di atap atau matahari terbenam di pantai atau sesuatu. Tapi hari ini... setelah kamu menghadapi Arman, setelah kamu benar-benar menutup bab itu... rasanya waktu yang sempurna."

"Ini MEMANG waktu yang sempurna," setuju Mayra. "Aku siap untuk memulai bab baru denganmu, Dev. Sepenuhnya siap."

"Jadi... haruskah kita mengadakan pesta kecil? Dengan teman dekat dan keluarga saja? Sesuatu yang intim dan bermakna?" tanya Dev.

"Ya. Aku mau sesuatu yang benar-benar milik kita. Bukan yang besar seperti dulu. Hanya kita dan orang-orang yang kita cintai," kata Mayra.

"Sempurna. Aku akan mulai merencanakan besok," kata Dev.

"Tunggu, kamu yang akan merencanakan? CEO yang super sibuk akan merencanakan pernikahan kita sendiri?" goda Mayra.

"Untukmu? Aku akan menyediakan waktu. Ini penting. KITA penting," kata Dev dengan ketulusan yang membuat Mayra jatuh cinta padanya lagi.

Mereka menghabiskan sisa malam membicarakan rencana pernikahan: upacara kecil, mungkin di pantai atau taman, hanya dengan teman dekat dan keluarga terdekat, sederhana tapi indah.

Dan untuk pertama kalinya sejak drama dimulai bulan lalu, Mayra merasa benar-benar, sepenuhnya damai.

Dia menemukan Laki-lakinya. Pasangan yang sesungguhnya.

Dan mereka akan membangun kehidupan yang indah bersama.

Bab dengan Arman resmi ditutup.

Dan bab dengan Dev resmi dimulai.

Dan Mayra tidak sabar untuk setiap halaman yang akan datang selanjutnya.

****

BERSAMBUNG

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!