Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14: Menembus Kegelapan Abyss
Malam telah mencapai puncaknya di Pelabuhan Utara, namun kegelapan yang menyelimuti tempat itu terasa tidak alami. Lautan di sekitar menara Pharos of the Abyss tidak lagi berwarna biru atau hitam; ia berpendar dengan cahaya biru kehijauan yang sakit, seolah-olah air itu sendiri telah terinfeksi oleh kehadiran sihir kuno. Udara terasa berat oleh uap garam dan aroma kematian yang purba. Di sepanjang dermaga yang hancur, barisan Drowned Knights—Ksatria Perunggu—berdiri mematung, zirah mereka yang berkarat kini berkilau dingin di bawah cahaya bulan yang tertutup kabut.
Elara Lane berdiri di garis depan dermaga. Ia mengenakan pakaian tempur yang lebih ringan, namun di balik jubahnya, ia telah melilitkan rantai perak yang telah diberkati oleh tetua kuil yang setia pada keluarganya. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit menggenggam erat relik jangkar kecil yang kini berdenyut dengan ritme yang sama dengan jantungnya.
Alaric berdiri di sampingnya, mengenakan zirah hitam legam tanpa hiasan. Pedang Duskbringer di tangannya seolah-olah sedang haus, bilahnya mengeluarkan dengungan rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki insting pembunuh.
"Kau siap, Elara?" suara Alaric rendah, hampir tenggelam oleh suara deburan ombak yang kini mulai melambat, sesuai dengan perhitungan gravitasi bulan yang mereka tunggu.
"Jika aku bilang aku tidak takut, aku akan berbohong," jawab Elara, menatap ke arah menara yang berdiri angkuh di tengah pusaran air. "Tapi rasa takutku tidak lagi melumpuhkanku. Ia menjadi bahan bakar."
Alaric mengangguk kecil. Ia memberi isyarat kepada Kael dan kelompok elit Ksatria Bayangan yang telah lolos dari pemeriksaan loyalitas yang ketat. Hanya ada lima orang ksatria manusia yang ikut, sisanya adalah pasukan perunggu yang tidak memiliki nyawa untuk dikhianati.
"Bentuk formasi!" perintah Alaric.
Elara mengangkat relik jangkar itu tinggi-tinggi ke arah laut. "Para Penjaga dari Darah Lane! Aku menuntut janji kalian! Bukakan jalan melalui kedalaman, lindungi kami dari tekanan air, dan antarkan kami pada pengkhianat yang menodai rumah kalian!"
Cahaya putih meledak dari relik itu, merambat ke arah para Ksatria Perunggu. Secara serentak, ksatria-ksatria itu melangkah masuk ke dalam laut. Namun, bukannya tenggelam, mereka menciptakan gelembung udara raksasa yang terikat pada zirah mereka. Air laut seolah-olah membelah diri, memberikan ruang hampa di sekitar barisan ksatria tersebut.
"Sekarang!" Alaric meraih tangan Elara, dan bersama-sama mereka melompat ke dalam air yang terbelah.
Perjalanan di Dasar Laut
Sensasi jatuh ke dalam laut tanpa basah adalah pengalaman yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Elara merasakan tekanan udara yang aneh di sekelilingnya, namun gelembung sihir dari para ksatria perunggu menjaganya tetap kering. Di sekeliling mereka, ikan-ikan laut dalam dan makhluk-makhluk aneh berenang menjauh, ketakutan oleh aura kematian dari ksatria perunggu.
Mereka berjalan di atas pasir dasar laut yang dipenuhi oleh bangkai kapal dagang yang telah karam selama berabad-abad. Pemandangan ini adalah pengingat bagi Elara tentang betapa banyaknya nyawa yang telah dikorbankan demi kemakmuran keluarga Lane. Di kejauhan, kaki-kaki menara Pharos of the Abyss terlihat seperti akar pohon raksasa yang terbuat dari batu dan tulang.
"Lihat itu," Kael menunjuk ke arah dinding menara.
Ada jejak sihir emas yang membekas di batu-batu menara, seperti luka bakar yang menjalar. Itu adalah sisa-sisa jejak pelarian Julian.
"Dia tidak hanya masuk ke dalam menara," ucap Elara, suaranya terdengar bergema di dalam gelembung sihir. "Dia sedang mencoba menyatukan jiwanya dengan menara ini. Jika dia berhasil, Julian tidak akan lagi menjadi manusia. Dia akan menjadi menara itu sendiri—sebuah mercusuar sihir hitam yang bisa mengendalikan seluruh samudera."
Tiba-tiba, pasir di bawah kaki mereka bergetar. Dari balik bangkai kapal karam, muncul makhluk-makhluk laut yang telah bermutasi karena sihir hitam Julian. Mereka adalah manusia setengah ikan dengan kulit yang melepuh dan senjata yang terbuat dari tulang hiu.
"Lindungi Nona Elara!" Alaric menerjang maju.
Pertempuran di bawah laut itu terjadi dalam kesunyian yang mencekam. Suara dentingan senjata tidak terdengar nyaring, melainkan teredam oleh kepadatan air di luar gelembung. Alaric bergerak seperti bayangan yang mematikan, menebas setiap makhluk yang berani mendekat. Ksatria Perunggu bertindak sebagai dinding pertahanan yang tidak tergoyahkan, pukulan mereka menghancurkan tulang-tulang makhluk mutasi tersebut.
Elara tidak tinggal diam. Ia menggunakan bubuk alkimia yang ia bawa, melemparkannya ke arah musuh yang mencoba menerobos gelembung. Saat bubuk itu menyentuh air, ia meledak menjadi bola api biru yang membakar oksigen di dalam air, menciptakan kehancuran instan bagi makhluk-makhluk laut tersebut.
"Kita hampir sampai ke pintu masuk!" teriak Alaric, menunjuk ke sebuah gerbang besi besar di dasar menara.
Gerbang Kehampaan
Gerbang itu dihiasi dengan ukiran seorang wanita yang memegang sebuah cawan—lambang dari leluhur keluarga Lane. Namun, mata dari ukiran wanita itu kini mengeluarkan cairan emas yang bercahaya.
"Segel darah," Elara melangkah maju. "Pintu ini hanya akan terbuka jika ia merasakan darah Lane yang murni."
Alaric menatapnya dengan cemas. "Berapa banyak yang ia butuhkan?"
"Hanya sedikit," Elara mencabut belati obsidian-nya dan menyayat telapak tangannya sendiri yang sudah terluka sebelumnya. Ia menempelkan telapak tangannya pada ukiran cawan tersebut.
Gerbang itu bergetar hebat. Suara mekanisme kuno yang berkarat mulai bergerak, dan perlahan-lahan gerbang itu terbuka ke dalam, mengeluarkan tekanan udara yang sangat kuat hingga sempat membuat mereka terhuyung. Di dalam menara, tidak ada air. Udara di sana kering dan berbau seperti debu yang sudah tersimpan selama ribuan tahun.
Saat mereka melangkah masuk, pintu besi itu tertutup kembali dengan suara dentuman yang final.
"Kita terjebak," gumam Kael, memeriksa pintu yang kini tidak memiliki pegangan dari dalam.
"Kita tidak terjebak," sahut Elara sambil membalut tangannya dengan kain perca. "Kita hanya sedang memastikan tidak ada jalan keluar bagi Julian."
Menara ini terdiri dari tangga melingkar yang seolah tidak berujung, dengan dinding yang dipenuhi oleh rak-rak berisi botol-botol kaca. Di dalam botol-botol itu, Elara melihat sesuatu yang membuatnya mual: gumpalan cahaya kecil yang berkedip lemah.
"Itu adalah jiwa," Alaric berbisik, kemarahan berkilat di matanya. "Jiwa para pelaut dan penjaga yang hilang di pelabuhan ini selama bertahun-tahun. Julian menggunakannya sebagai bahan bakar untuk api perak di puncak menara."
"Maka kita harus membebaskan mereka," ucap Elara tegas.
Pertemuan di Puncak
Mereka menaiki tangga dengan cepat, melewati beberapa jebakan sihir yang berhasil dinetralkan oleh pengetahuan Elara tentang alkimia Lane. Semakin tinggi mereka naik, suhu udara semakin panas, dan suara detak jantung yang aneh mulai terdengar—suara detak jantung yang berasal dari dinding menara itu sendiri.
Saat mereka mencapai lantai teratas, mereka tiba di sebuah ruangan terbuka tanpa atap, menghadap langsung ke langit malam yang badai. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah tungku raksasa berisi api perak yang berkobar setinggi lima meter.
Di depan tungku itu, berdiri Julian von Ravenstein. Namun, ia hampir tidak bisa dikenali lagi. Separuh wajahnya telah menyatu dengan batu menara, dan lengannya kini terbungkus oleh kristal emas yang terus tumbuh.
"Kau datang tepat waktu untuk melihat matahari baru terbit dari dasar laut, Elara," suara Julian kini terdengar seperti suara ribuan orang yang berbicara bersamaan. "Keluarga Lane selalu sombong dengan kekuatan mereka untuk menjaga. Tapi hari ini, aku akan menggunakan kekuatanmu untuk menghancurkan apa yang paling kau cintai."
Julian mengangkat tangannya, dan api perak itu tiba-tiba berubah warna menjadi emas yang menyilaukan. Gelombang panas yang luar biasa menyapu ruangan, memaksa Alaric dan ksatria lainnya mundur.
"Elara, jangan mendekat!" Alaric mencoba maju, namun kristal emas mulai tumbuh dari lantai, mencoba mengunci kakinya.
Elara berdiri diam, menatap Julian dengan kebencian yang mendalam. Ia menyadari sesuatu yang Julian tidak tahu. Api perak itu tidak bisa dikendalikan oleh sihir hitam; ia hanya bisa dikendalikan oleh pengorbanan yang tulus.
"Julian!" Elara berteriak. "Kau bilang aku adalah kuncinya? Kau benar. Tapi kau lupa satu hal tentang kunci. Kunci tidak hanya bisa membuka, tapi juga bisa mengunci selamanya!"
Elara berlari menuju tungku api, mengabaikan seruan panik dari Alaric. Ia tidak menyerang Julian, melainkan ia melemparkan relik jangkar Lane tepat ke tengah api perak tersebut.
"Dengan darahku, aku membatalkan sumpah para penjaga! Dengan jiwaku, aku memerintahkan api ini untuk memakan kegelapan yang mencoba menguasainya!"
Api perak itu meledak dalam pilar cahaya yang menembus awan badai di atas. Julian berteriak saat kristal emas di tubuhnya mulai retak dan hancur di bawah kekuatan cahaya murni tersebut. Seluruh menara bergetar hebat, seolah-olah ia sedang mencoba melepaskan diri dari dasar laut.
"TIDAK! INI MILIKKU!" Julian mencoba meraih api tersebut, namun cahaya itu justru membakarnya hingga menjadi debu emas yang tertiup angin laut.
Reruntuhan yang Menyelamatkan
Cahaya itu perlahan meredup, menyisakan ruangan yang kini hancur berantakan. Julian telah musnah, namun menara itu mulai runtuh karena fondasinya telah hancur oleh ledakan energi tadi.
Alaric segera berlari menghampiri Elara yang terkulai lemas di dekat tungku. Wajah Elara sangat pucat, dan matanya terpejam.
"Elara! Elara, bangun!" Alaric mendekapnya, tangannya gemetar.
Elara perlahan membuka matanya, tersenyum lemah. "Dia sudah pergi, Alaric... apinya... sudah bebas..."
Jiwa-jiwa di dalam botol yang tadi mereka lihat di tangga kini terbang keluar dari sela-sela dinding menara, membentuk ribuan kunang-kunang cahaya yang naik ke langit, memberikan penghormatan terakhir sebelum menghilang ke alam baka.
"Kita harus keluar dari sini! Menara ini akan tenggelam!" Kael berteriak sambil menunjuk ke arah air laut yang mulai naik dari tangga.
Alaric menggendong Elara dalam pelukannya. "Kita tidak akan tenggelam. Ksatria Perunggu! Bawa kami pulang!"
Para Ksatria Perunggu yang tersisa berkumpul di sekeliling mereka, membentuk perisai baja terakhir. Saat menara itu benar-benar runtuh ke dalam laut, mereka tidak tergulung oleh reruntuhan. Sebaliknya, ksatria-ksatria itu mengangkat mereka semua, berjalan di atas air laut yang kini telah tenang, membawa mereka kembali menuju dermaga Pelabuhan Utara.
Fajar mulai menyingsing, kali ini dengan warna biru yang jernih dan hangat. Badai telah berlalu. Meskipun Pelabuhan Utara kini hancur setengahnya, Elara tahu bahwa ancaman Solis Invicta telah menerima pukulan telak. Namun, ia juga tahu bahwa ini hanyalah satu dari banyak kepala naga yang harus ia tebas.
Di pelukan Alaric, Elara menatap matahari terbit yang sebenarnya. Ia telah memenangkan pertempuran di laut, namun perang politik di ibu kota baru saja akan dimulai kembali dengan intensitas yang lebih tinggi. Dan kali ini, ia akan memastikannya tidak berakhir dengan air mata.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔