Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolong Ying Zu Membunuh Bandit
Aneh nya, kuda yg tadi nya hanya mendengus dan acuh kini tampak tenang dan tunduk padahal Ceni tadi nya khawatir sang kuda akan menggila ketika ia dekati.
"Baiklah karena kamu sudah menjadi kuda ku, dan warna mu hitam, aku akan memberi mu nama Blacky." Ucap Ceni sumringah.
NGIK
Kuda itu pun meringkik seakan senang dengan nama baru nya.
"Kuda yg aneh, tadi nya acuh sekarang malah senang." Gumam Ceni menggelengkan kepala nya.
Setelah di rasa ia agak jauh dari pemukiman warga dan mulai memasuki area hutan dengan jalan setapak dengan lebar sekitar 5 meter itu.
Ceni pun menunggangi kuda nya secara perlahan, beruntung saat ini kuda liar yg baru ia beli tak menunjukkan sifat agresif nya justru terkesan patuh dan tunduk pada nya suatu keberuntungan bagi Ceni, dulu saat di dunia modern Ceni bahkan dengan susah payah menundukkan kuda jantan gagah milik kakek nya, walaupun pada akhirnya ia berhasil tapi itu tak selalu membuat kuda kakek nya patuh.
Tapi saat ini, dengan begitu mudah nya ia menaklukkan hati kuda jantan hitam yg tampak gagah itu.
Hanfu Berwarna Navy yg Ceni kenakan pun berkibar tertiup angin kala menunggangi kuda gagah milik nya, setiap orang yg berselisih di jalan dengan nya pun berdecak kagum akan kecantikan nya dan juga keanggunan nya, bahkan sebagian orang bertanya-tanya, gadis bangsawan darimana kah itu,? Begitulah lah gumaman setiap orang kala melihat Ceni, sedangkan Ceni hanya acuh tanpa memperdulikan pandangan orang-orang, sedari tadi ia tau bahwa ia sedang di perhatikan tapi Ceni tak mengindahkan hal tersebut.
Tak jarang pula Ceni berpapasan dengan para pendekar atau pengembara di perjalanan.
"Bermacam-macam orang ya disini." Gumam Ceni.
Ceni saat ini sedang melewati jalan hutan yg mana sepanjang mata memandang hanya terdapat jalan memanjang yg di sisi kanan kiri nya hutan belantara.
Dari kejauhan Mata Ceni tak sengaja melihat pertarungan yg berjarak 200 meter dari hadapan nya.
"Orang berkelahi atau berlatih di sana.?" Gumam nya.
Lalu Ceni pun mendekat ke arah pertarungan di depan sana.
Dan benar saja, pertarungan itu tampak tidak seimbang sama sekali, Satu orang gadis yg sudah penuh luka berusaha melindungi diri nya dari serangan para bandit yg seperti nya di bayar untuk membunuh gadis tersebut.
Terbukti karena gadis tersebut tidak membawa apapun.
"HENTIKAN." Teriak Ceni.
Jiwa pemimpin mafia nya seakan keluar dengan menatap tajam seluruh pasukan pembunuh yg berjumlah belasan orang.
Mereka semua pun menoleh ke arah Ceni termasuk seorang gadis tersebut.
"Siapa kau nona cantik, jangan mencampuri urusan kami." Ucap ketua bandit.
"Cih, lihatlah diri kalian itu, begitu memalukan, melawan seorang gadis dengan jumlah sebanyak itu,? dimana harga diri kalian hah." Ucap Ceni dengan tatapan mengejek.
Ketua bandit itu menggeram marah.
"Apa, mau menyerangku, silahkan, maju selangkah kau akan pindah ke alam baka, tak percaya, silahkan buktikan." Ucap Ceni bersedekap dada.
"Aku bahkan tidak merasakan ranah kultivasi gadis itu, mungkin dia hanya gadis sampah hal mudah bagi ku untuk mengalahkan nya." Gumam ketua bandit.
Ketua bandit itu pun langsung menuju ke arah Ceni tanpa babibu ingin menyerang Ceni, tapi belum sempat menjangkau Ceni, ketua bandit tersebut sudah tewas dengan kepala berlubang.
DOR
BRUK
"KETUA." teriak para anak buah bandit tersebut kala melihat ketua mereka Langsung tewas begitu saja tanpa ada nya perlawanan.
FYUH
"Tepat sasaran." Ucap Ceni sambil meniup ujung pistol nya.
"Bagaimana mungkin,? Ketua sudah berada di ranah jenderal tapi mati begitu saja.?" Ucap salah satu anak buah bandit dengan wajah pucat nya.
"Kau benar, gadis itu mengerikan ." Ucap yg lain nya.
"Senjata apa yg dia gunakan tadi.?" Ucap yg lain nya lagi.
Semua anak buah bandit itu pun menoleh pada Ceni, sedangkan seorang gadis yg tadi nya di serang kini duduk bersandar di sebuah pohon dengan luka parah.
"Kau sudah membunuh ketua kami nona." Ucap anak buah bandit dengan berani, walaupun di dalam hati nya ada sedikit ketakutan.
"Lalu aku harus apa,? di antara petarung itu hanya ada satu, menang atau mati, kalau aku menang dia harus mati, kalau dia menang aku tidak mau mati, tapi sayang dia mati duluan, berarti aku yg menang kan.?" Ucap Ceni tersenyum miring.
"SERANG." teriak salah satu bandit.
Semua nya pun menyerang Ceni dengan bersamaan.
"Cih bodoh." Gumam Ceni.
Lalu Ceni pun menembak mereka satu-persatu karena ia malas mengotori tangan nya hanya untuk sampah masyarakat.
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
Tembakan beruntun pun Ceni layang kan ke arah para bandit yg tersisa, tanpa menunggu lama-lama para anak buah bandit tersebut pun Langsung tewas bergelimpangan di area tersebut tanpa sisa sebelum dapat menyentuh Ceni.
"Cih, apa kata nya tadi,? Ahli kultivasi.?, masa dengan sebuah peluru saja bisa mati Ck Ck Ck ." Ucap Ceni mendecakkan lidah nya.
Ceni pun menoleh pada seorang gadis yg tampak mengenaskan dengan pakaian yg sudah di penuhi bercak merah, dan tampak pakaian nya robek sana sini.
"Apa kau baik-baik saja.?" Tanya Ceni melihat gadis muda tersebut yg Ceni yakini umur nya baru 17 tahun.
"Aku ba_baik baik saja, te_ terima kasih nona." Ucap nya dengan nafas tersengal berusaha menstabilkan deru nafas nya karena tenaga nya sudah terkuras habis.
Ceni pun mengeluarkan sebuah pil berwarna merah dari ruang penyimpanan lalu memasukkan nya ke dalam mulut gadis tersebut.
"Telan lah, ini akan menyembuhkan luka-luka mu." Ucap Ceni.
Gadis tersebut hanya mengangguk lalu menelan pil tersebut.
Ceni pun memberikan sebotol air kepada gadis itu karena takut gadis itu keselek tanpa minum.
Setelah beberapa saat, luka-luka yg tadi nya memanjang perlahan menutup dengan sempurna tanpa jejak, wajah gadis itu yg tadi nya pucat kini sudah normal kembali, deru nafas nya pun teratur.
"Ini ajaib, terimakasih nona, kau sudah menyelamatkan ku." Ucap gadis itu dengan tulus.
"Sama-sama, aku hanya membantu orang yg pantas di bantu." Ucap Ceni.
"Nama ku Ying Zu nama nona siapa.?" tanya Ying Zu.
"Nama ku Ceni." Ucap Ceni tersenyum.
"oh iya kenapa kau bisa berurusan dengan para bandit itu Ying Zu.?" Ucap Ceni yg saat ini duduk di dekat Ying Zu.
"Mereka adalah bandit bayaran yg di bayar oleh saudara tiri ku untuk membunuh ku di perjalanan pulang." Ucap Ying Zu dengan tatapan sendu.
"Lalu , kenapa kau pulang sendirian Ying Zu, itu sangat berbahaya." Ucap Ceni.
"Tidak nona, aku tidak sendirian, kusir dan pelayan ku serta beberapa pengawal sudah tewas mereka bunuh, hanya aku yg tersisa." Ucap Ying Zu dengan mata yg berkaca-kaca.
"Ying Zu, nanti kita bercerita lagi, sebaik nya kita pergi, seperti nya akan ada orang yg lewat." Ucap Ceni karena tingkat kewaspadaan nya sangat tinggi maka dari itulah ia mengetahui bahwa sekitar jarak 500 meter dari mereka berada saat ini ada sebuah rombongan yg mulai mendekat.
Lalu Ceni pun menaiki kuda nya begitu pula Ying Zu yg berada di belakang Ceni yg saat ini sedang menunggangi kuda milik ketua bandit.
Kedua nya pun pergi dari area dimana banyak nya mayat-mayat bergelimpangan.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪