Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 16
Fajar merasa aneh dengan kelakuan dari ayahnya itu, karena bukannya mengusir Mutiara, Arkan malah merangkul pundak wanita itu dengan mesra. Nenek Mia juga hanya dia menonton.
Wanita itu seakan begitu enggan untuk berkomentar apa pun, tentu saja hal itu membuat Fajar kesal luar biasa.
"Ayah, Kenapa Ayah malah merangkul pundak wanita itu? Seharusnya Ayah mengusirnya, karena wanita itu merupakan wanita miskin dan tidak sederajat dengan kita."
Hening, untuk beberapa saat sangat hening. Tidak ada yang berbicara sama sekali, hingga beberapa saat kemudian tiba-tiba saja Mutiara memeluk lengan Arkan, dia bahkan menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.
Bibirnya mengerucut dengan matanya yang berkedip-kedip, lucu sekali tingkah wanita itu seperti anak kecil yang sedang merayu ayahnya untuk dibelikan mainan.
"Sayang, dia menghina aku sejak tadi. Aku dibully, kamu tidak mau membela aku yang cantik dan imut ini?"
Mutiara berbicara dengan begitu manja, setelah berkata seperti itu Mutiara bahkan memeluk Arkan dan menyadarkan kepalanya di dada pria itu.
Sontak saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana begitu kaget, Fajar bahkan begitu kaget karena bisa-bisanya Mutiara bertingkah begitu manja terhadap ayahnya.
"Sayang? Apa maksudnya!?" tanya Fajar bingung.
Mutiara menggoyang-goyangkan tubuhnya, kedua dada wanita itu bergesekan dengan dadanya Arkan. Arkan sampai memejamkan matanya karena ada reaksi yang besar, miliknya mulai menggeliat.
"Ayah! Tolong jelaskan!" ujar Fajar kesal.
"Sepertinya acara makan malamnya harus ditunda dulu, kita ngobrol saja di ruang keluarga."
Arkan meminta bi Lastri untuk menemani nenek Mia makan terlebih dahulu, sedangkan dirinya cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
Anehnya, pria itu berjalan sambil memeluk Mutiara. Mutiara sempat ingin mengurai pelukannya, tetapi Arkan tak membiarkan wanita itu untuk lepas dari dirinya.
Bahkan ketika mereka tiba di ruang keluarga, Arkan langsung mendudukkan Mutiara di atas pangkuannya. Fajar dan Rena saling pandang, mereka seolah bertanya lewat tatapan mata.
"Om, turunin. Gak betah," bisik Mutiara saat merasakan milik pria itu yang mengganjal.
"Diem, kalau gak diem nanti Om ajak kamu main kuda-kudaan semalaman."
Mata Mutiara langsung melotot mendengar apa yang dikatakan oleh Arkan, sedangkan Arkan malah mengecup bibir Mutiara.
"Ayah!" teriak Fajar.
Arkan memeluk pinggang Mutiara dengan erat, lalu menolehkan wajahnya ke arah Fajar dan juga Rena.
"Duduklah! Ayah mau bicara."
Fajar menurut, dia duduk berhadapan dengan Arkan yang memangku Mutiara. Rena dan juga Fajar menatap wanita itu seperti orang yang sedang menebar permusuhan.
Mutiara membalas pelukan Arkan, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu. Arkan seperti seorang ayah yang sedang menyayangi putrinya, dia terus saja mengeluh si punggung wanita itu dengan begitu lembut.
"Katanya kamu ingin memperkenalkan calon istri kamu, mana?"
Arkan memulai pembicaraan, walaupun tidak senang dengan keadaan seperti ini Fajar cepat-cepat menggenggam tangan Rena dan menatap arakan sambil berusaha untuk tersenyum hangat.
"Ini calon istriku, Rena."
"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?"
"Satu tahun, Yah. Rena ini anaknya pak Kuncoro loh, yang perusahaannya kerja sama dengan perusahaan Ayah."
"Oh, lalu... kapan rencana kalian akan menikah?"
"Maunya bulan depan, aku sudah menyiapkan pesta pernikahan yang megah."
"Oh gitu," jawab Arka biasa saja.
Fajar merasa kurang suka dengan respon ayahnya itu terlebih lagi kini ayahnya itu terus saja memeluk Mutiara, ada juga rasa cemburu yang menyambar hatinya.
Karena semakin lama dia merasa semakin kesal, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya tentang apa hubungan keduanya. Kenapa mereka terlihat begitu dekat sekali?
"Ehm! Ayah, aku sudah memperkenalkan Rena. Ayah bisa jelaskan apa hubungan kalian?"
Arkan menghela napas, dia merasa sudah lebih tenang. Miliknya yang tadi bangun sudah tertidur lagi, pria itu mengangkat tubuh mungil Mutiara dan mendudukkannya tepat di sampingnya.
"Karena kamu sudah memperkenalkan calon istri kamu kepada Ayah, sekarang tinggal Ayah yang memperkenalkan wanita cantik di samping Ayah ini."
"Mutiara ini adalah ---"
Arkan tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba saja Mutiara duduk kembali di atas pangkuannya. Bahkan wanita itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arkan.
Hal itu membuat Arkan menahan napas cukup lama, karena perbuatan wanita itu membuat tubuhnya merinding semua. Ingatannya akan mereka sedang berpeluh langsung bermunculan di benaknya.
"Kamu itu ngapain sih?" tanya Arkan sambil berusaha untuk menurunkan Mutiara dari atas pangkuannya itu.
"Sayang! Anak kamu sama calon menantu kamu itu matanya melotot terus saat liat aku, aku jadi takut."
Arkan langsung menatap Fajar dan juga Rena dengan tajam, keduanya langsung menundukkan pandangan. Mereka tak berani untuk berbicara, bahkan untuk menata pun tidak.
"Mutiara adalah istriku, tolong kalian bersikap sopan kepada istriku ini."
"Apa?! Istri?!" teriak Fajar dan juga Rena secara bersamaan.
"Ya, Mutiara adalah istriku. Itu artinya Mutiara adalah ibu sambung kamu, mulai sekarang tolong berbicara dengan sopan terhadap Mutiara. Karena jika kamu tidak berbicara dengan sopan, aku tidak akan menganggap kamu sebagai anak lagi."
"Ayah! Demi dia Ayah tak mau aku?"
Ada kekecewaan yang begitu besar dari sorot mata Fajar, Mutiara bisa melihat hal itu. Kini dia tahu kelemahan dari Fajar adalah Arkan, karena walau bagaimanapun juga Fajar baru merintis usahanya, sedangkan Arkan adalah pengusaha kaya yang memiliki uang banyak.
Apalagi andai Fajar tahu kalau dia bukan anak kandung dari Arkan, pasti pria itu akan sangat sedih dan lebih terluka lagi.
Jika saja Mutiara merupakan manusia yang kejam, mungkin saat ini dia akan langsung memutuskan hubungan keduanya, karena di antara keduanya tidak ada hubungan darah, tapi dia masih punya hati.
"Kalau kamu bisa bersikap sopan terhadap ibu sambung kamu ini, Ayah akan tetap mengakui kamu sebagai anak," ujar Arkan.
"Tapi, Ayah. Mutiara itu adalah wanita yang baru di dalam hidup kamu, kenapa kamu bisa langsung membela dia?"
Fajar memperhatikan Mutiara yang begitu menempel kepada Arkan, dia yakin kalau misalkan Mutiara belum lama bertemu dengan ayahnya itu. Karena ayahnya memang sudah beberapa tahun ini tidak pulang ke tanah air.
Namun, dia merasa heran karena wanita itu begitu menempel kepada ayahnya. Fajar tiba-tiba saja merasa kalau wanita itu hanya sedang berakting di hadapannya, wanita itu ingin membuatnya cemburu.
Ingin membuatnya hancur dengan berdekatan-nya Mutiara bersama dengan ayahnya tersebut, Fajar yakin jika keduanya sedang bersandiwara.
"Dia adalah istriku, aku tentu akan membela dia. Sama seperti kamu, pasti akan membela Rena kalau Ayah sakiti dia. Baik dengan ucapan atau perbuatan," ujar Arkan.
"Ayah," panggil Fajar dengan nada kecewa.