Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil keputusan
Helena berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan kaki yang sedikit pincang, ia tidak terjatuh sama sekali selama ia berusaha melarikan diri dari keluarganya yang sangat terkutuk itu. Mungkin efek kelelahan karena perjalanan yang sedikit sulit, belum lagi Helena yang harus tetap waspada karena mereka bisa kapan saja menyergapnya kembali sebelum ia benar-benar berada di dalam rumah suaminya.
Mendengar dari apa yang Farrel katakan saat menculiknya, Helena dapat menyimpulkan jika rumah Farhan adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa keluarganya tembus, entah karena pengaruh Farhan atau memang sistem keamanan di rumahnya yang sulit untuk di masuki, Helena sendiri bingung karena satpam diluar pun hanya ada dua orang, bukan banyak pengawal yang mengelilingi rumah untuk menjaga orang-orang yang ada di dalamnya. Jadi? Bagian mananya yang sulit di tembus?
Helena langsung masuk ke dalam kamar untuk mandi, tubuhnya sangat lengket karena keringat, bahkan rasanya Helena ingin berendam di dalam air dingin, saking panasnya udara di luar.
"Kurang ajar, mereka masih mengincarku padahal aku sudah pergi dari mereka," Helena mengoceh sembari melepaskan kerudungnya yang sudah tidak berbentuk lagi.
Helena berencana untuk berendam karena ia sedang butuh pendingin di otaknya, rasanya kepalanya sangat panas begitu ia teringat keluarganya yang entah sudah berapa ratus kali melukai dirinya, bukannya Helena durhaka karena tidak mau menemui keluarganya lagi, ia hanya sedang mencoba melindungi dirinya dari sesuatu yang membuat dirinya kembali terluka.
"Habis dari mana kamu? Kenapa penampilanmu seperti itu, Helena?"
Helena di kejutkan dengan kedatangan Farhan yang tiba-tiba, padahal hati masih siang, tapi Farhan sudah pulang dari kantornya, buka kah ia orang sibuk, sampai harus keluar malam untuk mengerjakan pekerjaan kantor sampai jam 3 dini hari. Ah, tentu saja itu bohong, Helena sudah tau untuk apa Farhan keluar di tengah malam, bahkan sampai sekarang.
Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepalanya, sebuah ide licik yang akan Helena manfaatkan untuk membalaskan semua rasa sakit dirinya kepada keluarganya.
Helena menatap mata Farhan dengan tatapan satu, matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan sebuah cairan bening dari matanya.
Farhan semakin mengerutkan keningnya, ada apa dengan Helena? Mengapa tiba-tiba saja kedua matanya berkaca-kaca.
"Mas, apa kamu akan percaya padaku jika aku baru saja diculik oleh keluargaku?" tanya Helena dengan suara gemetar menahan tangis.
Mendengar itu rahang Farhan langsung mengeras, kedua tangannya terkepal kuat, dirinya sendiri menjadi linglung, marah? Tentu saja marah, tapi marahnya kali ini terasa berbeda, entah karena teringat masa kelamnya dahulu ketika Farhan sedang berada di posisi terendah, atau karena ada hal lain yang mulai mengusik hati juga pikirannya.
"Aku takut mas, mereka membicarakan keluarga kita, aku tidak tahu lagi tujuannya apa sampai menculikku, bahkan mengurungku di dalam rumahnya, aku takut mereka sengaja menjadikanku alat untuk mengundangmu keluar dari dalam sarang," lirih Helena, kali ini ia menangis, benar-benar menangis, karena kedua tangannya menutupi wajahnya dan suara isakannya terdengar jelas oleh Farhan.
Farhan semakin mengepalkan tangannya, dada naik turun karena marah, hati juga pikirannya menjadi tidak tenang, rupanya bajingan itu masih belum berhenti mengusik keluarganya, dulu mantan istrinya, dan kini mereka mengincar Helena yang jelas-jelas masih keluarganya. Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Lihat saja, Farhan tidak akan pernah diam saja ketika ada seseorang yang mengusik keluarganya.
"Apa saja yang mereka katakan kepadamu?" tanya Farhan menatap Helena yang masih menangis.
Diam-diam Helena tersenyum kecil, ia akan mengambil simpati dari Farhan, Helena akan menggunakan Farhan sebagai alat balas dendamnya kepada keluarga. Tidak ada yang salah kan? Farhan memanfaatkan dirinya untuk balas dendam, jadi ia juga akan memanfaatkan Farhan untuk balas dendamnya. Dengan kata lain, Helena akan terus terlihat menyedihkan di mata Farhan sampai Farhan jatuh hati sungguhan kepadanya, tidak lagi pura-pura seperti dulu.
"Aku tidak tahu mereka membicarakan apa? Mereka menyekapku di sebuah ruangan kecil, beruntungnya aku berhasil kabur dari sana, walaupun tetap ketahuan dan aku harus pintar-pintar bersembunyi agar tidak tertangkap oleh mereka,"
"Mas, aku takut, aku takut mereka akan menangkapku lagi," tangis Helena semakin histeris dan itu membuat Farhan kelabakan.
Perlahan ia mendekati istrinya dan memeluknya, rasanya masih canggung setelah malam mereka yang mungkin tidak akan pernah bisa Helena lupakan, malam itu, Farhan benar-benar gelap mata, kejadian di mana ketika seluruh nyawanya terasa di cabut kembali berputar-putra di dalam kepalanya, tidak mau hilang, bahkan ketika melihat Helena pun, bukan Helena yang Farhan lihat, tapi sosok mantan istrinya, sosok yang hampir setahun hampir membuatnya seperti orang gila, memang sebesar itu efek dari mantan istrinya, cinta pertamanya sejak ia masuk dunia perkuliahan.
"Tidak apa-apa, kamu akan tetap jika terus bersamaku," ucap Farhan mengusap lembut punggung istrinya yang bergetar.
Senyum Helena semakin lebar, ia seperti akan mudah memanipulasi suaminya, Helena akan berusaha lebih menyedihkan untuk menarik perhatian Farhan dan membuat Farhan bersimpati kepadanya sampai akhirnya jatuh cinta.
"Bagaimana jika dia datang lagi? Aku tidak mau, aku tidak mau mas, mereka jahat, aku benar-benar sangat takut,"
"Mereka tidak akan pernah bisa membawamu kembali, aku pun tidak akan membiarkanmu dibawa oleh mereka terutama bajingan satu itu,"
Farhan merasa ada yang berbeda hari ini, ia tidak lagi, perasaan bersalah yang selama sebulanan ini menghantui dirinya berubah menjadi perasaan khawatir, dan itu semuanya tertuju kepada Helena, Farhan ingin menyangkal semua perasaannya, tapi setiap kali ia teringat malam itu, Farhan akan kembali merasakan perasaan bersalah, hingga sulit untuk dirinya mengajak Helena berbincang dengan cara yang baik, ia terlalu malu juga merasa bersalah.
"Mas kenapa pulang cepat?" tanya Helena mendongakkan kepalanya menatap Farhan.
Farhan menggeleng, "aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja ingin pulang cepat,"
Bohong jika Farhan tiba-tiba ingin pulang cepat, ia pulang di tengah-tengah meetingnya bersama beberapa orang penting di perusahaan, ia baru saja mendapatkan telpon dari satpam di rumahnya jika ia melihat Helena yang baru pulang entah dari mana, hanya saja penampilannya sangat jauh dari kata baik-baik saja, sampai berjalan dengan kaki yang sedikit pincang.
Entah apa yang sebenarnya Farhan rasakan, niatnya menikahi Helena untuk membuatnya ia jatuh cinta kepada dirinya sejatuh-jatuhnya, laku ia akan tiba-tiba membuangnya demi balas dendam hilang begitu saja setelah perasaan bersalah itu selalu menyelimuti dirinya, bahkan saat melihat Helena tertidur sangat lelap pun, rasa bersalah itu tidak berkurang sedikit pun, malah semakin bertambah besar.
Entah mengapa. Farhan malah mengkhawatirkan Helena ketika mendapatkan kabar Helena pulang dengan keadaan yang berantakan.