Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan pacar
“Kamu!” Rendy menunjuk tepat diwajah Raras, “Padahal aku sudah berbaik hati mengajakmu hidup bersama. Aku bisa menafkahimu lebih besar daripada gaji bulananmu disini Ras.”
“Oh ya? Apa bisa setara dengan nafkah dari suamiku yang puluhan bahkan ratusan juta sebulan?” giliran Raras yang tersenyum miring melihat ekspresi masam Rendy. Menurutnya sombong pada orang sombong itu sangat diperbolehkan. Hihi
“Gak mungkin, kamu pasti ngarang.”
“Kenapa gak mungkin?” Raras menatap Rendy dengan tatapan tegas, tak sedikit pun tergoyahkan oleh kata-kata yang merendahkan itu.
“Sudah cukup Rendy. Jangan samakan aku dengan dirimu yang selalu mengukur segala sesuatu dengan uang dan jabatan,” ucap Raras dengan nada yang mulai meninggi. “Aku menikah karena dia adalah orang yang baik, bukan karena kekayaannya. Dan bahkan kalau soal kekayaan, kamu tidak akan pernah mampu menyamai dia, percayalah.”
Rendy masih ngeyel dan tidak mau percaya. “Kamu pasti bohong Ras. Kalau kamu benar-benar menikah dengan orang kaya, kenapa kamu masih kerja disini? Kamu bisa saja tinggal di rumah, menikmati hidup.”
Raras menghela nafas panjang, merasa lelah dengan cara berpikir Rendy yang sempit. “Kerja bukan hanya untuk mencari uang, Ren. Aku bekerja karena aku ingin berkembang dan memberikan kontribusi. Suamiku juga selalu mendukung pilihanku, tidak seperti kamu yang selalu mengekang dan membatasi setiap gerak gerikku.”
“Kalau kamu sudah menikah kenapa gak ada informasi, dan gak ada undangan maupun resepsi apapun? Atau bahkan tidak memamerkan cincin pernikahanmu?” teka Rendy, masih mencoba mencari celah untuk membuktikan bahwa Raras sedang berbohong.
“Karena pernikahan itu adalah urusan pribadi antara aku dan dia,” jawab Raras tenang. “Kita tidak perlu memamerkannya ke orang lain untuk membuktikan sesuatu. Dan tentang cincin, itu bukanlah bukti cinta atau kekayaan. Aku lebih suka menyimpan cincin kawinku dengan aman, bukan memakainya dan membuatnya mudah rusak atau hilang saat bekerja.”
“Jangan pernah datang mencari aku lagi Rendy, karena aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang.”
“Tapi Ras, aku benar-benar menyesal dengan yang aku lakukan dulu!” seru Rendy, “Aku sudah berubah, kamu harus percaya padaku!”
“Sudah terlambat Rendy. Ketika kamu memilih dia dariku, kamu sudah membuat pilihanmu. Dan aku juga sudah membuat pilihan ku sekarang. Jangan pernah ganggu hidupku lagi!”
"Tidak bisa Ras! Aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa kamu!" Rendy cepat-cepat mengulurkan tangan dan menarik lengan Raras dengan cukup kuat, membuatnya hampir terjatuh.
"Aku tahu kamu masih sayang aku Ras, bahkan kamu cinta mati sama aku! Kamu hanya marah dan ingin membalas dendam dengan bilang kamu sudah menikah kan? Tolong Ras, jangan bohong lagi, aku akan maafkan kamu kok."
Raras tertawa keras. “Apa kamu gila Ren? Kamu yang salah, dan aku yang harus minta maaf. Dan ya, jadi orang gak usah terlalu kepedean, aku gak cinta mati sama kamu, bahkan setelah pengkhianatan itu aku sangat membenci kamu!”
"Tapi kamu tidak bisa menikah dengan orang lain! Kamu milikku Ras!" ucap Rendy dengan suara yang semakin tinggi,
"Kamu salah besar Rendy! Aku tidak pernah milik siapapun selain diriku sendiri!" seru Raras, akhirnya berhasil melepaskan cekalan tangannya lalu mundur beberapa langkah.
"Aku tidak bohong tentang suamiku, dan aku sangat bahagia dengannya. Jika kamu benar menyayangiku seperti yang kamu katakan, seharusnya lepaskan aku dengan kebahagiaanku bukan memaksakan keinginanmu padaku!"
Rendy tetap tidak mau menyerah, dia kembali mendekat. "Aku tidak akan pernah percaya kalau kamu tidak menunjukkan bukti! Biarkan aku buktikan kamu masih gadis atau tidak.” Ancam Rendy menyeringai.
“Lancang!” Raras ingin menampar wajah Rendy yang sangat keterlaluan, namun tangannya lebih dulu dicekal.
“Kenapa? Takut?” Ujarnya dengan senyuman miring.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu Rendy!" ucap Raras berapi-api. "Jika kamu tidak mau pergi sendiri, aku akan memanggil keamanan untuk mengusirmu keluar dari gedung ini!"
"Tidak akan ada yang berani menyentuhku! Aku adalah mitra kerja sama perusahaan ini! Hahahah.." kata Rendy sombong, berpikir bahwa statusnya akan membuat Raras menyerah.
“Cih, menjijikan. Pria sombong sepertimu tidak akan pernah berubah!” Raras menatapnya dengan penuh rasa jijik, mengusap lengan kirinya yang masih terasa sakit akibat cekalan Rendy tadi.
“Sombong? Aku hanya lebih sukses dari kebanyakan orang, termasuk suamimu yang kamu buat-buat itu!”
“Terserah kamu Ren, kalau kamu memang gak percaya. Aku lelah.” Raras memilih mengalah dan menghindar dari Rendy yang keras kepala dan sombongnya minta ampun.
“Gak bisa gitu Ras, kamu harus ikut sama…”
“Ekhem.”
Suara deheman menghentikan kalimat Rendy, keduanya menoleh ke arah yang sama. Dimana ada Zayn, CEO perusahaan yang tengah berdiri menatap keduanya datar.
“Mm, pak Zayn.” Sapa Rendy bersikap biasa dan terlihat baik-baik saja. Sementara Raras bernafas lega, setidaknya ada orang yang menghentikan Rendy untuk tidak berbuat lebih jauh.
“Ada apa ini?” Tanya Zayn menatap Rendy tajam.
“Ah, ini pak tadi saya tidak sengaja menabrak karyawan bapak.” Jawab Rendy lebih sopan lagi.
“Oh begitu, apa kamu baik-baik saja?” Tanya Zayn menatap istrinya lekat.
“Saya baik pak.” Jawab Raras tersenyum tipis.
“Baiklah, saya meminta waktumu sebentar. Ada yang perlu dibahas mengenai rapat kemarin.” Ucap Zayn, yang secara tidak langsung mengusir Rendy dari sana.
“Kalau begitu saya permisi pak, semoga kerjasama kita akan terus terjalin dengan baik.” Rendy lebih dulu menjabat tangan Zayn lalu menoleh pada Raras yang diam saja.
“Sekali lagi saya minta maaf mbak.” Ucapnya pada Raras, melihat tatapan datar Zayn membuat Rendy gentar dan tak ingin terkena masalah apapun kedepannya.
“Silahkan.” Lift terbuka, Zayn menyuruh Rendy untuk pergi secepatnya.
Setelah kepergian Rendy suasana nampak hening, Raras terdiam dengan wajah muram.
“Siapa dia?” Tanya Zayn mendekat pada istrinya.
“Rendy pak.” Jawab Raras singkat.
“Ada hubungan apa antara kalian?” tanyanya dingin lebih dari biasanya.
“Gak ada, hanya teman lama.” Jawaban Raras membuat Zayn memicing tak percaya. Jelas-jelas sedari tadi Zayn menguping mereka yang membahas masa lalu, bahkan Rendy terkesan melecehkan istrinya.
“Jawab jujur Raras! Siapa dia, ada hubungan apa antara kalian?” Tanyanya tegas.
Raras terjingkat. “Di-dia, dia Rendy m-mas. Mantan pacarku dulu.”
“Kenapa kalian putus? Apa karena kamu memilih menikah denganku?”
Zayn trauma dengan pengkhianatan, mau itu pasangannya atau dirinya sendiri yang menjadi pengkhianat.
“Bu-bukan mas. Aku memilih meninggalkannya karena dia selingkuh dan selalu merendahkan keluargaku yang berasal dari kalangan sederhana.” Raras menunduk takut, sedingin-dinginnya Zayn, baru kali ini Raras merasa terintimidasi dan merasa takut.
“Benarkah? Apa perlu kita umumkan status pernikahan? Agar tak ada lagi orang yang merendahkan dan menghina mu?”
Raras mendongak tak percaya. “Gak perlu mas.”
“Kenapa? Kamu istriku, dan dia merendahkanmu yang artinya merendahkan saya juga.”
“Nggak perlu mas, a-aku masih bisa mengatasinya kok.” Jawab Raras tersenyum.
“Aku kira kamu ingin melindungiku mas, tapi kamu hanya peduli dengan statusku, istri kamu yang direndahkan.”
“Kenapa memangnya? Apa kamu tak ingin semua orang tau kalau kamu istri dari CEO ZARS group?”
“Tidak mas, aku memilih tetap seperti ini. Aku masuk perusahaan ini murni karena kerja kerasku sendiri, dan saat yang lain tau gak menutup kemungkinan mereka akan berpikiran yang macam-macam tentangku.”
Tanpa Raras sadari, Zayn tersenyum tipis mendengar penjelasan istrinya. “Baiklah. Tapi…”
“Tapi apa mas?”
“Apa kamu benar-benar bahagia menikah denganku?”
Kedua mata Raras membola, kenapa Zayn tau hal itu. Apa mungkin sedari tadi dia menguping.
“Mm, i-itu a-anu mas. Aku permisi dulu, banyak kerjaan.” Raras buru-buru pergi menjauh dengan langkah lebar, rasanya dia ingin menggulung bumi untuk menutupi rasa malunya.
Bersambung…