Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta pandangan pertama
Zea menatap perpustakaan sekolah yang terlihat sunyi, dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi dan meja-meja belajar yang tersusun rapi, serta para murid yang sedang membaca dan mengembalikan buku juga berada di sana. Cahaya matahari masuk melalui jendela memberikan kesan hangat dan nyaman pada ruangan. Zea mulai melangkah masuk dengan perlahan, diikuti oleh angel disamping, keduanya bergerak dengan langkah yang sunyi, tidak ingin mengganggu suasana tenang perpustakaan, mata mereka bergerak perlahan mencari target.
"Ze, itu kak leo." bisik angel ia menunjuk sosok cowok yang tertidur lelap diatas meja, dengan tangan sebagai penyangga kepala.
"Ayo!" ajak zea.
Zea kemudian melangkah lebih dekat ke arah cowok di meja pojok perpustakaan, dengan niat untuk memberikan sarapan yang sudah ia siapkan.
"Kak, kak leo bangun." zea mulai menggoyang-goyangkan badan cowok tersebut, namun bukannya bangun leo malah mengeliat dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ihh, susah banget sih bangunnya." gerutu zea.
"Ze, mending lo tarok aja bekalnya diatas meja." kata angel.
"Nggak! gue maunya langsung kasih ke dia." timbal zea, angel hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala.
"Kak leo ayo bangun!" zea kembali menggoyangkan badan leo.
"Kak bangun! kak leo bangun dong"
"HELLOWW...." ujar zea sedikit berteriak.
"KAK LEO BANGUN! GUE BAWAIN SARAPAN BUAT KAK LEO." zea kembali berteriak.
Mendengar teriakkan zea membuat seisi perpustakaan terganggu, mereka menoleh ke arah zea dan juga angel dengan tatapan tidak bersahabat.
"Kamu, anak yang berteriak tadi! jangan berisik di perpustakaan, apa kamu nggak tau kalau ini tempat belajar HAH?" zea langsung menundukkan kepala.
"Maaf bu-
"Udah, nggak usah banyak omong, tolong jaga suara kamu dan jangan ganggu yang lain." potong guru tersebut dengan galak.
Leo yang merasa tidurnya terganggu, seketika terbangun dan menggosok-gosok matanya, lalu ia menoleh ke arah dua gadis yang berdiri tepat didepan meja tempat ia tertidur lelap. Leo menghela nafas berat, tidak memperdulikan suasana di ruangan tersebut. Ia berdiri dari duduknya berjalan melewati zea dan juga angel.
"EHH KAK LEO MAU KEMANA?" teriak zea kembali, ia berlari kecil mengejar leo.
"KAMU LAGI! APA NGGAK BISA DIAM HAH!! JANGAN BERTER-
"MAAF BUUKK..." zea memotong ucapan guru tersebut dengan berteriak keras.
Sementara angel, ia berpura-pura mencari buku di rak tepat disampingnya, lalu mengambilnya untuk menutupi wajahnya yang terlihat malu melihat tingkah gila zea.
Zea berlari keluar perpustakaan, masih mengejar leo yang sudah berjalan lebih jauh.
"KAK LEO, TUNGGU!" teriak zea lagi, kali ini suaranya lebih keras, dan itu menarik perhatian semua murid disana.
Leo yang sudah berada di koridor sekolah berhenti dan menoleh ke belakang. Ia melihat zea menghampirinya dengan napas yang terengah-engah.
"Jangan pergi dulu kak!" kata zea dengan suara yang masih terengah-engah.
Leo menatap zea tanpa ekspresi namun tatapannya terlihat sangat dingin dan menusuk. "Siapa lo?" tanya leo tanpa menunjukkan minat.
"Kak leo amnesia ya? kemarin kan kita sempat ketemu di kantin." kata zea.
Leo menatap zea dengan wajah datar dan dingin. "Gua nggak ingat pernah ketemu lo sebelumnya." kata leo dengan nada yang datar dan tanpa emosi. Leo tak memperdulikan zea, ia berjalan melewati zea begitu saja.
"KAK LEOOOO."
"TUNGGUIN KAKK!!"
Zea berlari kecil, ia menghadang jalan leo. "Kak leo, jangan pergi dulu!" ujar zea.
Leo berhenti sejenak, ia menatap zea dengan tatapan yang sama dinginnya. Siapa cewek gila yang pagi-pagi begini sudah mengganggu tidurnya? dan dengan beraninya menghentikan langkahnya. Leo menatap mata zea dengan tajam.
"Gua udah bilang, gua nggak kenal lo, jangan ganggu gua!" kata leo dengan nada yang tegas.
"Gue mau ngasih ini." kata zea, ia menyodorkan kotak bekal yang bernuansa biru laut itu kepada leo.
Leo menatap bekal yang disodorkan zea dengan ekspresi yang tidak berubah. "Apa itu?" tanya leo dengan nada datar.
"Sarapan buat kak leo." jawab zea.
"Udah kenyang." ujar leo tanpa ekspresi.
"Terima aja, susah banget sih kak." kata zea sedikit gemes.
"Gua nggak butuh." sarkas leo datar.
Zea merasa kecewa namun ia pantang menyerah, zea melangkah maju dan berdiri tepat di depan leo.
"Apa kak leo percaya sama cinta pandangan pertama?" tanya zea.
Leo menatap zea dengan tatapan datar dan tampak tidak mengerti. Kenapa dia harus dipertemukan dengan gadis aneh didepannya ini? leo melihat kesekitarnya, ternyata banyak siswa-siswi yang sedang memperhatikan mereka berdua sejak tadi, lalu ia kembali menatap zea tanpa minat.
"Apa hubungannya?" tanya leo dengan nada datar.
"Gue percaya sama cinta pandangan pertama." ucap zea.
"Gua nggak peduli tentang cinta pandangan pertama atau apa pun itu." kata leo, ia berlalu pergi meninggalkan zea di tempatnya, zea menatap punggung leo dengan kesal.
"KAK LEO!" teriak zea tapi leo tidak menoleh ke belakang dan terus berjalan menjauh.
"KAK LEO!!"
"LIAT AJA KAK, GUE BAKAL BUAT LO SUKA SAMA GUE!"
"GUE NGGAK AKAN NYERAH."
"GUE BAKAL DAPATIN HATI LO."
Sedangkan angel, ia baru keluar dari dalam perpustakaan pun terkejut melihat tingkah zea dan ia langsung berlari menghampiri zea yang sedang berteriak.
"Ze, lo ngapain teriak-teriak kayak gini?"
Zea masih menatap punggung leo yang semakin menjauh tanpa memperdulikan pertanyaan angel, matanya mengkilat dengan tekad. Angel mengikuti arah pandang zea dan melihat leo yang sudah berjalan menjauh.
"Udah ya, kita balik ke kelas! malu diliatin banyak orang." kata angel.
Zea menoleh ke arah angel dengan wajah memelas penuh kekecewaan. "Nih buat lo aja." kata zea sambil menyodorkan kotak bekal kepada angel.
"Serius ze?" tanya angel.
"Iya."
"Ini apa?" tanya angel dengan penasaran.
"Nasi goreng." jawab zea, setelahnya ia berlalu pergi meninggalkan angel.
****
Leo yang sedang asik memainkan kunci motornya tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan gadis aneh yang tadi pagi sempat membuatnya jengah. Ia memilih untuk tidak memperdulikan gadis tersebut dan terus melanjutkan langkahnya berjalan menuju perkiraan.
"Kak leo!" panggil zea dengan sedikit berteriak.
Zea langsung berlari kecil dengan senyum cerah terekah diwajahnya. Chacha dan angel mengikuti zea dari belakang, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
"Kak leo, gue boleh nebeng nggak?" tanya zea dengan ceria.
Leo tidak menjawab pertanyaan zea, dia terus berjalan menuju motornya dengan langkah yang mantap tanpa menoleh ke belakang, leo menaiki motornya dengan elegan dan duduk di atas jok motornya.
"Kak boleh ya, sopir gue nggak bisa jemput." kata zea.
"Nggak." leo menjawab dengan singkat tanpa menoleh ke arah zea.
"Ze mending pulang bareng gue aja." sahut chacha.
Zea melotot ke arah chacha dan menatap chacha dengan mata yang sedikit kesal, merasa bahwa chacha tidak memahami keinginannya.
"Gua nggak mau direpotin, pulang aja sama teman lo." kata leo dengan singkat dan lugas, lalu ia menyalakan motornya dan pergi meninggalkan mereka.
"Nyebelin banget sih!" gerutu zea dengan nada kesal.
"Hahaha." chacha dan angel tidak bisa menahan tawa mereka.
"Siapa yang nyangka kalo seorang zea ditolak mentah-mentah sama cowok." ujar chacha sambil tertawa.
"Biasanya lo yang nolak orang, sekarang malah lo yang ditolak." lanjut chacha, angel pun ikut tertawa, keduanya terus mengolok-olok zea.
Zea menatap chacha dan angel dengan kesal, ia berlalu pergi tanpa memperdulikan kedua sahabatnya itu. Chacha dan angel yang masih tertawa, memanggil-manggil zea namun zea tidak menoleh dan terus berjalan keluar menuju gerbang sekolah. Setelah zea keluar dari area sekolah, ia mengeluarkan ponselnnya lalu menekan tombol panggilan.
"Pak, tolong jemput zea sekarang ya."
"Loh non, tidak jadi pulang bareng teman-teman non?"
Zea menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Tadi, ia memang sempat memberi kabar kepada pak rio sopirnya, bahwa ia akan pulang bersama teman-temannya. Padahal itu hanya alasan semata, kenyataannya ia ingin menumpang pulang bersama leo, cowok super dingin bahkan lebih dingin dari kutub utara.
"Nggak, zea berubah pikiran, tolong jemput sekarang ya pak."
"Baik non, saya langsung jemput non sekarang."
Bersambung