"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima
"Lo beneran enggak mau pertimbangin Ayara sekali lagi, Bil?" tanya Haris sambil berkutat dengan ponselnya.
"Pertimbangin apa?"
"Ayara itu cantik, asyik, dan juga kayaknya dia gak banyak neko-neko."
Abil yang duduk dibelakang Haris langsung menyahut. "Gue gak mau pacaran." tegasnya.
"Deket sama cewek nggak harus selalu pacaran kali." Ilham yang duduk disamping Haris ikut bersuara.
"Ya tetep, gue gak mau." Abil berdecak.
"Bener tuh, apa yang dibilang sama temenmu. Kamu gak harus pacaran sama aku kok, minimal HTS aja aku udah seneng."
Abil terkejut mendengar suara melengking khas seorang cewek, begitupun Haris dan Ilham. Cowok itu sedikit kesal ketika tanpa permisi Ayara duduk tepat di sebelahnya, di kursi milik Ilham yang memang sedang duduk di bangku kosong sebelah Haris.
"Lo ngapain duduk disini?" Abil bertanya ketus.
"Aku boleh pinjam catatan Kimia punya kamu gak? Mau nyalin." Ayara menopang dagunya menatap Abil intens.
"Kenapa gak pinjam punya teman sebangku lo?"
"Maunya punya kamu." ucapnya terang-terangan, ia langsung mengambil buku yang ada di atas meja Abil tanpa bisa cowok itu cegah.
Haris dan Ilham yang memperhatikan interaksi antara Abil dan Ayara mulai bertukar kode sambil menaik turunkan alis satu sama lain. Sampai akhirnya Ilham berdehem kemudian beralasan akan pergi ke toilet, begitu pula Haris yang menyusul berikutnya.
Sementara itu, di meja lain, Meira geleng-geleng kepala melihat tingkah Ayara yang tidak pernah menyerah untuk mendekati Abil. "Ada-ada aja kelakuannya." kekehnya.
"Udah, biarin, dia lagi usaha." sahut Ilham di ambang pintu. Meira mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu gak nyambut aku sama sekali?" tanya Ayara sambil melirik Abil.
"Buat apa?"
"Karena aku berhasil tepatin janji aku buat nemuin kamu lagi."
"Gue gak peduli." Abil bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja.
"Abil, mau kemana?"
"Keluar, gerah." katanya ketus, membuat Ayara mengerucutkan bibirnya.
Meira yang melihat hal itu terkekeh geli. Dia ikut bangkit dari kursinya. "Ra, ikut aku ke perpus, yuk." ajaknya pada Ayara.
"Ogah, ah. Gue mau setia nungguin Abil." tolaknya.
...\~\~\~...
Perjalanan menuju perpustakaan sama sekali tidak sulit bagi Meira karena sebelumnya ia sempat melihat denah sekolah yang terpajang di mading depan kelasnya. Jarak antara kelas dan perpustakaan juga memang tidak terlalu jauh. Hanya perlu melewati beberapa ruang kelas.
Meira membuka pelan pintu perpustakaan dan berjalan pelan menuju meja petugas perpustakaan untuk mendaftarkan diri. Tak memakan waktu yang lama, ia langsung diberi kartu anggota oleh petugas itu. Meira melangkahkan kakinya menuju rak buku paket pelajaran.
Setelah memisahkan buku paket fisika, kimia, biologi, dan matematika, Meira lanjut melangkah ke rak jajaran buku tentang Arsitektur. Ia melihat-lihat judul bukunya. Satu buku berhasil menarik perhatian Meira. Ia berjinjit berusaha mendapatkan buku itu, tapi usahanya sia-sia. Buku yang berada di rak paling atas itu tidak mudah untuk digapainya.
"Gue gak nyangka lo bisa nyaingin nilai gue."
Suara itu datang dari belakang. Meira menoleh dan langsung mendapati Rey. Cowok itu terlihat bersandar pada rak dengan tangan yang terlipat di dada, menatapnya tanpa ekspresi.
Dia ngomong ke aku? tanyanya dalam hati. Kepala Meira celingukan melihat sekeliling yang memang tidak ada siapa-siapa lagi selain dirinya dan cowok itu.
"Rey, ya?"
Rey tidak menyahut. Ia hanya menatap Meira dengan sorot mata tajam yang seolah sedang membedah isi pikiran gadis itu. Keheningan di antara rak buku Arsitektur itu terasa begitu menyesakkan, kontras dengan ketenangan perpustakaan yang biasanya.
"Lo suka Arsitektur?" tanya Rey tiba-tiba, matanya melirik ke arah buku yang dari tadi berusaha digapai Meira.
Meira sedikit gugup, namun ia berusaha menormalkan raut wajahnya. "Cuma penasaran sedikit. Suka aja lihat detail bangunan." jawabnya pelan. Ia tidak berbohong, ketertarikannya pada Arsitektur belakangan ini dipicu oleh miniatur misterius berinisial 'Tya' yang ia temukan di rumah Ayara.
Rey melangkah mendekat. "Gue nggak suka kalah." bisiknya tepat saat ia berdiri sejajar dengan Meira. Cowok itu mengambil salah satu buku tebal berjudul The History of Modern Architecture tepat di atas kepala Meira.
Meira terkejut dengan perlakuan Rey. Ia refleks memundurkan tubuhnya sampai tak sengaja menabrak rak buku yang berada di belakangnya. Buku yang sempat akan ia ambil tadi terjatuh tepat mengenai kepalanya.
"Aww." ringisnya seraya memegang kepalanya. Rey hanya berdiri mematung tanpa ada niatan untuk membantu sedikitpun.
"Lo gapapa, Mei?" seseorang datang, memungut buku itu lalu menyimpannya kembali ke rak.
Rey masih terdiam, kembali memberikan tatapan dingin ketika Meira menjawab pelan. "Gak apa-apa." Ia melirik Rey sekilas lalu pergi bersama Abil.
Meira mempercepat langkahnya, mengikuti Abil yang berjalan di depannya tanpa banyak bicara. Ia merasa kepalanya sedikit berdenyut, bukan hanya karena hantaman buku tadi, tapi juga karena tatapan Rey yang terasa begitu mengintimidasi.
"Lain kali hati-hati." ucap Abil tanpa menoleh. "Rey emang nggak punya etika kalau lagi merasa tersaingi."
Meira sedikit tertegun. "Dia emang seserius itu soal nilai?"
Abil menghentikan langkahnya tepat di koridor yang sepi, lalu berbalik menatap Meira. Sorot matanya kini tidak sesantai biasanya, melainkan penuh dengan kewaspadaan. "Bukan cuma soal nilai, Mei. Rey itu nggak suka ada variabel baru yang nggak bisa dia kontrol. Dan di sekolah ini, lo itu variabel baru yang paling mencolok."
Meira terdiam, meresapi kata-kata Abil. Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar persaingan akademik. "Maksudnya?"
Abil tidak menjawab, cowok itu kembali melanjutkan langkahnya. "Nanti, ada waktunya lo tau." katanya pelan. Nyaris tidak terdengar kalau saja Meira tidak menajamkan pendengarannya.
Sebenarnya Meira sedikit penasaran dengan ucapan Abil, tetapi berusaha acuh. Ia tidak ingin terlibat masalah apapun di sekolah ini. Tujuannya kesini adalah untuk mencari tahu tentang penyebab kematian Papanya dan juga Mamanya yang menghilang. Ia tidak ingin fokusnya terbagi hanya untuk menanggapi Rey atau siapapun itu, apalagi ketika tahu bahwa cowok itu hanya merasa kalah saing dengannya.
...\~\~\~...
Ayara mengendap-endap mendekati Meira yang sedang serius mengerjakan soal Kimia di meja belajar. Dalam hati, Ayara masih menyimpan rasa penasaran tentang cerita Haris dan Ilham soal Meira dan Abil yang berjalan beriringan keluar dari arah perpustakaan.
"Meira..." Ayara mencolek lengan Meira pelan.
"Hm." sahut Meira.
Pandangan Meira masih tertuju pada deretan soal-soal Kimia di depannya. Ayara mengerucutkan bibirnya sebal.
"Mei!!" Ayara menyenggol lengannya sedikit keras, sampai membuat goresan pada pekerjaan Meira.
"Apa, Ra?" jawab Meira, ia menghapus coretan yang diciptakan senggolan Ayara lalu kembali sibuk menulis hasil dari jawaban soal Kimia-nya. Ayara mulai kesal. Ia merebut pensil Meira, membuat Meira tersentak.
"Apaan sih, Ra. Aku kan lagi ngerjain tugas."
"Gimana, ya, tadi Haris cerita kalau lo dan Abil—"
"Soal pas jam istirahat tadi? Kebetulan aja aku ketemu dia di perpustakaan, jangan salah paham."
"Salah paham?"
"Iya, tadi pas di perpus aku gak sengaja ketemu dia yang juga mau pinjam buku paket. Kita satu kelas, Ra, wajar dong kalo jalannya bareng." ujar Meira mencoba menjelaskan. "Tenang, Ra. Kamu gak perlu jealous."
Ayara membulatkan matanya. "Jealous?!"
"Iya, aku nggak ada minat sedikit pun buat rebut gebetan sahabat sendiri."
"Widih, gebetan.." Ayara malah tertawa mendengar ucapan Meira. Ia menatap wajah Meira yang terlihat kesal.
"Sini balikin pensilnya." Meira kembali mengambil pensil miliknya dari tangan Ayara.
"Bagus, deh. Gue seneng ternyata lo emang sahabat yang paling bisa dipercaya." Cewek itu mengacungkan jempolnya.
"Hmm." Meira kembali fokus mencatat jawaban dari soal terakhir.
"Oh, iya, Mei. Ada yang mau gue tanyain lagi sama lo."
"Tanya aja."
Ayara membaringkan dirinya di kasur dalam posisi tengkurap sambil memeluk boneka teddy bear besarnya. "Tapi lo berhenti dulu nulisnya."
Meira menghentikan gerakan menulisnya, kemudian menatap Ayara curiga. "Kenapa?" ia menutup bukunya dan menyimpan kembali pensil pada tempatnya.
"Lo kan belum pernah pacaran nih." kata Ayara yang langsung ditanggapi Meira dengan tatapan bingung.
"Terus?"
"Hmm, gue mau tanya selera lo. Lo suka cowok yang kayak gimana?" Ayara melanjutkan pertanyaannya.
"Kamu kenapa tiba-tiba tanya beginian?"
"Jawab aja, Mei. Gue cuma pengen tahu." Ayara mendesak.
"Kamu yakin pengen tahu?" pancing Meira, yang langsung dijawab anggukan oleh Ayara.
Meira meregangkan otot tangannya, menghampiri Ayara dan duduk di sebelahnya.
"Aku suka sama cowok yang baik, pendiam, gapapa gak ganteng asal manis, tingginya sekitar 170cm."
Ayara mengerutkan keningnya. "Wihh, bagus juga tipe lo. Emang lo udah punya target?" tanyanya heran.
"Udah dong." Meira menganggukan kepalanya cepat. "Dikelas, yang duduk disamping Ilham." tambah Meira, ia tersenyum lebar.
Ayara semakin mengerutkan keningnya, berpikir sejenak. "Woy! Lo mau nikung gue?" nada Ayara meninggi. Ia baru sadar kalau cowok yang dimaksud Meira adalah Abil.
Meira tertawa melihat reaksi serius yang ditunjukkan Ayara. "Lagian pertanyaan kamu aneh banget. Cewek kayak aku mana ada yang mau, Ra."
Ayara spontan menyentil kening Meira cukup keras. Kata-kata Meira barusan dirasanya sangat bertolak belakang. Ditambah ekspresi Meira yang sengaja dibuat murung.
"Merendah untuk meroket ya, Mbaknya!" ucap Ayara sebal.
Meira kembali tertawa begitu pula dengan Ayara. Mereka berdua sibuk tertawa bersama, membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Meira bersyukur memiliki sahabat seperti Ayara yang selalu bersamanya, menyayanginya dengan tulus. Bagi Meira, Ayara sudah dianggap saudaranya sendiri. Mengingat bahwa ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi dalam hidupnya, hanya Ayara lah yang menemaninya.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰