"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENERIMA TAKDIR
"Kau akan mengerti, Leo, karena saat ini, Aurora sedang dikejar oleh mereka yang ingin meminum darahnya, dan hanya kamu yang bisa mencium keberadaannya," bisik Arion, seperti angin malam.
Tiba-tiba, sebuah gambaran melintas di kepala Leo.
Seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang sedang berlari di tengah hutan, wajahnya penuh ketakutan, dan dia memegang liontin yang persis sama dengan milik Leo.
"A-aurora..." gumam Leo tanpa sadar.
"Aurora Zuhaimi, dia putri ku yang terikat janji darah dengan mu Leo Alistair," ucap Raja Arion, menghilang dari sana.
Setelah Arion menghilang seperti asap yang ditelan kegelapan, ruangan itu mendadak sunyi.
Hawa dingin yang ditinggalkan sang Raja Vampir masih membekas di kulit, membuat bulu kuduk berdiri, bahkan Ethan sampai muntah darah, karena tidak kuat dengan tekanan aura dari Arion.
Leo masih berdiri mematung, matanya yang tadi sempat berkilat perak perlahan kembali ke warna aslinya, namun pandangannya kosong, tangan kanannya mencengkeram erat liontin di lehernya, sementara tangan kirinya gemetar hebat.
"Leo..." panggilan Jasmine, lembut.
Jasmine segera menghambur, memeluk Leo dari samping seolah takut putranya itu akan ikut menghilang bersama bayangan tadi.
"Ibu... apa yang dia katakan tadi itu benar?" tanya Leo, suaranya parau.
"Aku hidup karena darahnya? Tubuhku ini, bukan sepenuhnya milikku?" tanya Leo, masih tidak percaya.
Lucas melangkah maju, wajahnya tampak hancur melihat ekspresi kecewa di mata putranya.
"Leo, dengarkan Ayah-"
"KENAPA AYAH TIDAK PERNAH BICARA?!"
Leo berteriak, air mata mulai menggenang di matanya.
"Selama dua puluh tahun aku merasa seperti orang aneh! Aku benci matahari, aku merasa haus yang tidak wajar, dan aku pikir aku sakit! Ternyata Ayah menjual ku pada makhluk itu?" teriak Leo, emosi nya meledak.
"Leo! Jaga bicaramu pada Ayah!" bentak Lucian, namun suaranya tidak mengandung kemarahan, melainkan kepedihan.
Lucian ikut terpukul mendengar kenyataan tentang adik kembarnya ini, tapi dia tahu, Ayah nya melakukan itu semua karena tidak ingin kehilangan Leo.
"Tidak apa-apa, Lucian, Leo berhak marah," ucap Lucas dengan suara rendah nya.
"Saat itu, jantungmu berhenti, Leo, kamu memberikan energimu untuk adik-adikmu sampai jiwa mu hampir pecah, Ayah tidak sanggup melihat peti jenazahmu," ucap Lucas, dengan mata berkaca-kaca.
Memori menyakitkan dua puluh tahun yang lalu kembali berputar di kepala Lucas, dimana dia hampir kehilangan Putra nya.
Melihat suaminya yang tampak hancur, Jasmine menarik wajah Leo agar menatapnya, dia menangkup pipi pucat putra keduanya itu dengan kedua tangan yang basah oleh air mata.
"Sayang, lihat Ibu," bisik Jasmine, suaranya gemetar namun lembut.
"Ayahmu tidak menjual mu, dia memohon pada dunia untuk mengembalikan mu, malam itu, kami semua kehilangan harapan, Ayahmu melolong begitu keras sampai seluruh hutan bergetar hanya supaya ada yang menolong mu," bisik Jasmine, menjelaskan.
"Jangan salahkan dia, Nak, Ayah mu adalah orang yang paling mengusahakan untuk membawa mu ke pelukan nya," lanjut Jasmine, air mata nya jatuh membasahi pipi nya.
"Tapi Ibu, sekarang aku harus pergi? Menjadi pelindung untuk orang yang bahkan tidak aku kenal?" ucap Leo menggeleng, air matanya jatuh.
"Aku baru saja mulai merasa memiliki hidup sendiri," lanjut Leo, membuat Lucas, semakin merasa bersalah.
"Ibu tahu ini tidak adil, tapi darah yang mengalir di nadi mu adalah bukti betapa besar Ayah menginginkanmu tetap bernapas. Kami hanya ingin kau hidup, Leo. Apa pun statusmu, kau tetap putra Ibu yang sangat berharga," ucap Jasmine memeluk kepala Leo ke dadanya, persis seperti saat Leo masih bayi.
"Gadis itu bukan orang asing Nak, dia takdir mu, darah mu dan darah nya terikat kuat," bisik Jasmine, lembut.
Lucian mendekat, dia meletakkan tangan besarnya di bahu Leo, lalu meremasnya pelan.
"Leo, dengar aku," ucap Lucian tenang.
"Kau tahu aku adalah calon Duke, tugasku adalah melindungi klan dan keluarga kita. Tapi Ayah, dia melakukan tugas yang jauh lebih berat dariku," ucap Lucian menatap kembarannya itu dengan tatapan kakak yang sangat protektif.
Leo mendongak, menatap Lucian yang tampak begitu bijaksana.
"Ayah tahu risikonya," lanjut Lucian.
"Ayah tahu dia mungkin akan dibenci olehmu, atau dia mungkin harus berhadapan dengan Raja Vampir suatu hari nanti. Tapi dia tetap melakukan itu. Kenapa? Karena baginya, dibenci olehmu jauh lebih baik daripada harus hidup di dunia tanpa adanya Leo Alistair," lanjut Lucian, bijaksana.
"Kalau aku di posisi Ayah saat itu, aku juga akan melakukan hal yang sama, aku akan menukar apa pun, bahkan jiwaku sendiri, asal kembaranku ini bangun lagi," ucap Lucian tersenyum tipis, dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar kata-kata Lucian, pertahanan Leo runtuh, dia melepaskan cengkeraman pada liontinnya dan memeluk Lucian erat-erat.
Kedua saudara kembar itu saling mendekap di tengah ruangan yang suram.
Lucas hanya bisa berdiri diam di sudut, air matanya jatuh tanpa suara.
Dia merasa gagal sebagai ayah karena harus membebani anaknya dengan kontrak gelap, namun dia juga merasa lega karena rahasia itu akhirnya terucap.
"Maafkan Ayah, Leo..." bisik Lucas pelan.
Leo melepaskan pelukan Lucian, lalu menatap ayahnya, di matanya masih ada gurat luka di hatinya, namun kemarahan yang meluap-luap tadi mulai mereda karena rasa sayang keluarganya.
"Siapa gadis itu, Ayah?" tanya Leo, merujuk pada bayangan gadis yang muncul di kepalanya tadi.
"Aurora? Kenapa aku bisa melihatnya?" tanya Leo, mulai penasaran.
"Seperti yang Arion katakan tadi, gadis itu Putri Arion, dan karena darah Arion di tubuhmu, kamu mengenalinya, Leo," jawab Lucas, menatap Leo.
"Dia adalah belahan jiwamu dalam bentuk kontrak darah, kamu adalah satu-satunya pelindung yang bisa menahan kekuatan murninya!" lanjut Lucas, suaranya kembali tegas.
Leo terdiam, dia melihat ke arah jendela yang terbuka, hatinya merasa ditarik oleh sesuatu yang jauh di utara, sebuah panggilan yang terasa sangat mendesak.
"Dia dalam bahaya, kan?" tanya Leo pelan.
"Arion tidak akan datang sejauh ini jika keadaannya tidak darurat, Nak," jawab Lucas mengangguk.
Leo menarik napas panjang, dia menghapus air matanya dengan kasar, lalu membetulkan letak liontin 'A' di dadanya.
Ada aura baru yang muncul dari dalam diri Leo, bukan lagi sekadar serigala yang lemah, tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan berwibawa.
"Kalau begitu, aku harus pergi," ucap Leo tegas.
"Bukan karena aku budak Arion! Tapi karena aku tidak ingin pengorbanan Ayah dan Ibu sia-sia hanya untuk membiarkanku bersembunyi di sini!" lanjut Leo, dengan aura dua darah gabungan yang menguar.
"Hati-hati, Nak, berjanjilah pada Ibu, kamu akan kembali," ucap Jasmine terisak lagi, tapi kali ini karena bangga.
"Aku janji, Bu," jawab Leo.
Brak
Lucas, dengan insting tajamnya, langsung menoleh.
"Siapa di sana?"
Pintu itu perlahan terbuka lebar, menampakkan empat sosok remaja yang berdiri dengan wajah pucat pasi.