NovelToon NovelToon
Perfect Lies

Perfect Lies

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."

Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."

Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi

Atlas berdiri di ruang tengah kastil yang megah namun terasa mencekik. Di depannya, Bianca duduk dengan kaki menyilang, menatap sebuah kotak kayu yang sudah terbuka di atas meja marmer.

Di sampingnya, Ayah Bianca, sang gembong mafia, berdiri dengan cerutu di tangan, matanya yang dingin menatap Atlas seolah ingin menembus isi kepalanya.

Di dalam kotak itu, tergeletak sepasang sepatu bayi laki-laki berwarna biru tua. Sepatu itu kecil, lucu, namun bagi Atlas, itu adalah benda paling berbahaya di dunia saat ini.

"Sepatu bayi, Atlas?" suara Bianca terdengar tenang namun mengandung ancaman yang nyata. "Orang tuamu mengirimkan ini dari Helsinki. Mereka bilang ini hadiah untuk kenangan. Kenangan apa yang kau miliki di Helsinki sampai mereka mengirimkan barang seperti ini ke alamat pribadiku?"

Atlas merasakan keringat dingin di punggungnya, namun otaknya bekerja secepat kilat. Ia tahu jika ia menunjukkan ketakutan, nyawa Kaylee dan Niel akan berakhir saat itu juga.

Atlas berjalan mendekat, mengambil sepatu kecil itu dengan gerakan yang terlihat santai, meski hatinya terasa diremas. Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat sinis.

"Hanya taktik murahan orang tuaku, Bianca," ucap Atlas sambil melemparkan kembali sepatu itu ke dalam kotak dengan kasar, sebuah akting yang sangat menyakitkan bagi jiwanya. "Mereka masih belum bisa menerima kalau aku sudah memilihmu. Mereka mengirimkan ini untuk mengejekku, mengingatkanku pada masa lalu yang seharusnya membuahkan hasil tapi tidak pernah terjadi. Mereka ingin kita merasa bersalah karena kita belum memberikan mereka cucu."

Ayah Bianca menyipitkan mata. "Kau yakin itu bukan kode, Theodore?"

"Kode untuk apa?" balas Atlas berani, menatap langsung ke mata sang mafia. "Untuk mengingatkan aku bahwa aku punya mantan kekasih? Aku sudah di sini selama tiga tahun, mengerjakan semua proyek kotor kalian. Jika aku masih peduli pada masa lalu, aku tidak akan membangun pelabuhan itu untukmu."

Bianca terdiam sejenak, lalu ia berdiri dan mendekati Atlas. Ia mengambil salah satu sepatu kecil itu dan mengelusnya. "Lucu sekali. Jika kau memang sudah melupakannya, maka kita tidak butuh kenangan ini."

Dengan gerakan cepat, Bianca melemparkan sepatu itu ke dalam perapian yang menyala. Atlas hanya bisa mematung, melihat sepatu yang seharusnya dipakai oleh Niel itu hangus terbakar. Di dalam hatinya, ia menjerit, namun wajahnya tetap sedingin es.

"Bagus," ucap Bianca puas. "Besok adalah peluncuran proyek pelabuhan. Jika semua berjalan lancar, aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu melakukan perjalanan bisnis singkat... mungkin ke London, atau Paris. Tapi tidak ke Helsinki."

Malam itu, di dalam kesunyian kamarnya, Atlas berlutut di lantai. Ia tidak memiliki apa pun lagi dari Niel, selain pesan suara yang berhasil ia selundupkan sebelumnya.

"Maafkan Papa, Niel... Papa harus membakar sepatumu," bisik Atlas dengan suara yang pecah. "Tapi Papa berjanji, sepatu berikutnya yang akan kau pakai adalah sepatu yang Papa pasangkan sendiri saat kita bertemu nanti."

Atlas kemudian meraih laptop rahasianya. Ia tidak akan menunggu satu minggu lagi. Tindakan Bianca membakar sepatu itu adalah tanda bahwa ia tidak akan pernah benar-benar aman.

"Permainan selesai, Bianca," desis Atlas. Jari-jarinya menari di atas keyboard, mengirimkan seluruh data kejahatan keluarga Valerius ke Interpol dan kepolisian Italia secara anonim dengan timer yang akan meledak dalam 24 jam.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear😍

1
falea sezi
uda end kahh
falea sezi
bagus np sepi like
falea sezi
baguss
falea sezi
berarti uda nganu belom kok Bianca gini
falea sezi
mending pergi jauh lah ngapain masih di situ
falea sezi
dih kucing di kasih ikan jelas di embat laki. kayak gini g ccok di jadiin suami
Desti31
Izin mampir Thor😍🙏
Ridwani
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!