Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fragmen yang Retak
Mimpi itu datang lagi.
Kali ini lebih jelas.
Aurora berdiri di sebuah halaman rumah besar yang terasa… hangat.
Rumputnya hijau. Langitnya cerah. Tawa anak-anak memenuhi udara.
Seorang anak laki-laki berlari ke arahnya.
“Ayo kejar aku, Cali!”
Cali !!!
Nama itu terdengar begitu akrab.
Ia tertawa. Tangan kecilnya menggenggam tangan bocah laki-laki itu. Wajahnya samar, tapi mata itu—
Tajam. Dingin. Bahkan saat kecil.
Arka !!!
Aurora terbangun dengan napas terengah.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Kamar gelap. Sunyi.
“Arka…” bisiknya pelan, tanpa sadar.
Kenapa wajah pria itu muncul dalam mimpi masa kecilnya?
Hari itu, saat rapat proyek berlangsung, Aurora kehilangan fokus.
Arka menyadarinya.
“Anda tidak biasanya melamun,” ucapnya datar.
Aurora tersentak. “Maaf. Kurang tidur.”
Arka menatapnya lebih lama dari biasanya.
“Ada yang mengganggu anda?”
Tatapan itu membuat kepalanya kembali berdenyut.
Dan tiba-tiba...
Suara rem mobil berdecit keras.
Jeritan.
Hujan deras.
Seorang pria mengangkatnya dalam pelukan.
“Jangan lihat ke belakang, Cali…”
Darah.
Bau besi.
Tubuh pria itu bergetar.
Aurora memegang kepalanya.
“Cukup…” gumamnya pelan.
Arka langsung berdiri. “Ara?”
Panggilan itu terasa aneh di telinganya.
Ara.
Bukan Cali.
Kenapa nama lain itu terasa lebih benar?
Ingatan itu muncul seperti pecahan kaca.Seorang pria tinggi menggendongnya di tengah hujan. Wajahnya terluka. Darah mengalir di pelipisnya.
“Papa…?” bisik kecil dalam memorinya.
Ya.
Papa.
Ia mengingat rasa hangat pelukan itu.
Lalu lampu sorot mobil.
Dan suara benturan keras.
Tubuh mereka terpental.
Aurora kecil menangis.
Pria itu terjatuh, tapi tetap memeluknya agar ia tidak terbentur keras.
Di balik kaca depan mobil—
Seseorang duduk di kursi pengemudi.
Wajahnya samar.
Namun mata itu…
Dingin.
Tenang.
Tidak panik.
Seolah kecelakaan itu bukan kecelakaan.
Aurora tersentak kembali ke dunia nyata.
Napasnya tidak stabil.
Arka memegang lengannya refleks. “Anda pucat sekali.”
Sentuhan itu membuat kepalanya semakin sakit.
Dalam sekejap, dua wajah bertabrakan dalam pikirannya.
Pria yang menggendongnya.
Dan Surya Pradana.
Tidak.
Tidak mungkin.
Ayahnya tidak mungkin...
“Aku ingin pulang,” ucap Aurora pelan.
Arka menatapnya tajam. “Anda yakin hanya kurang tidur?”
Aurora tak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia mulai meragukan siapa dirinya.
Di rumah Surya malam itu, Aurora berdiri lama di depan pria yang selama ini ia panggil ayah.
“Ayah,” ucapnya pelan. “Aku… diadopsi dari panti asuhan mana?”
“apa yang terjadi kepada orang tuaku sampai aku berada di Panti Asuhan?”
“Kenapa aku tidak bisa mengingat masa kecilku sebelum bersama ayah?’
Pertanyaan itu membuat udara terasa berubah.
Surya menatapnya tanpa berkedip. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Aku hanya penasaran.”
“Kau tidak pernah penasaran sebelumnya.”
Aurora menggigit bibirnya.
“Aku bermimpi.”
Surya berjalan mendekat.
“Mimpi hanyalah sisa-sisa imajinasi.”
“Dalam mimpiku…” suara Aurora bergetar sangat halus, “…ada pria lain. Dia menggendongku. Dan ada kecelakaan.”
Untuk sepersekian detik
Ekspresi Surya berubah.
Sangat cepat.
Sangat tipis.
Namun cukup untuk membuat Aurora merasa jantungnya jatuh.
“Kamu terlalu banyak bekerja,” jawab Surya akhirnya
suaranya kembali stabil. “Otakmu menciptakan cerita.”
Ia mengangkat tangan, menyentuh kepala Aurora lembut.
“Kamu putriku. Itu satu-satunya kebenaran yang perlu kau ingat.”
Putriku !!!
Aurora mengangguk.
Namun malam itu, saat ia kembali ke kamarnya, satu kesadaran perlahan tumbuh seperti bayangan gelap.
Jika itu hanya mimpi…
Kenapa rasanya seperti kenangan?
Sementara itu, di tempat lain...
Arka membuka kembali arsip lama keluarga Adiyaksa.
Ia menemukan satu foto lama dari artikel lama.
Seorang pria menggendong gadis kecil.
Wajah pria itu jelas.
Adiyaksa.
Namun wajah gadis kecil itu tertutup sebagian oleh bahunya.
Arka memperbesar gambar itu.
Dan untuk pertama kalinya, instingnya tidak lagi hanya kecurigaan.
Melainkan ketakutan.
Karena semakin ia melihat Aurora,
Semakin ia merasa… ia pernah mengenalnya.
Bukan sebagai rekan bisnis.
Melainkan sebagai bagian dari masa kecil yang hilang.
Dan jika firasatnya benar,
Maka Surya Pradana bukan hanya rival bisnis.
Ia adalah seseorang yang menyimpan kebenaran paling berbahaya.
Dan kecelakaan dua puluh tahun lalu…
Mungkin bukan kecelakaan.
😭😭😭