NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: BENGKEL DI BALIK BUKIT

Suara palu yang beradu dengan besi tua bergema di lembah Oetimu, memantul di antara tebing-tebing kapur yang putih menyilaukan. Di sebuah bangunan semi-permanen dengan atap seng yang sudah mulai berkarat—bekas gudang jagung milik warga yang sudah lama terbengkalai—Jonatan membangun markas pertamanya. Di atas pintu masuk yang reyot, ia memaku sebuah papan kayu bertuliskan "Oetimu Mandiri" dengan cat merah yang masih basah.

Ini bukan laboratorium universitas yang sejuk dengan lantai porselen bersih. Di sini, lantainya adalah tanah yang dipadatkan, dan pendingin ruangannya hanyalah angin sabana yang membawa debu halus masuk melalui celah-celah dinding bambu. Namun bagi Jonatan, tempat ini jauh lebih sakral. Di sinilah teori-teori rumit yang ia pertahankan di depan dewan etik akan diubah menjadi alat-alat penyelamat nyawa.

"Jon, besi penyangganya sudah saya potong. Tapi ukurannya sedikit beda karena ini bekas rangka motor," teriak Matheus, seorang pemuda desa yang dulu paling depan melawan orang suruhan Tuan Markus.

Jonatan keluar dari balik tumpukan skema kabel, wajahnya coret-moret oleh oli dan abu rokok. Ia mengambil potongan besi itu, mengukurnya dengan penggaris siku yang sudah pudar angkanya. "Tidak apa-apa, Theus. Di bengkel ini, kita tidak butuh barang baru dari toko. Kita butuh barang yang bisa bertahan menghadapi panasnya Oetimu. Las kembali di bagian sudutnya, pastikan tidak ada celah untuk karat."

Jonatan kembali duduk di meja kerjanya—sebuah daun pintu bekas yang diletakkan di atas dua drum minyak. Di depannya ada lima buah modul kontroler yang sedang ia rakit secara manual. Dana hibah dari organisasi internasional yang diberikan Pak Johan sudah cair, namun Jonatan tidak menggunakannya untuk membeli peralatan mewah. Ia menggunakan uang itu untuk membeli sel baterai berkualitas tinggi dan panel surya grade-A. Sisanya? Ia biarkan kreativitas dan limbah besi desa yang bekerja.

Pekerjaan ini jauh lebih sulit daripada skripsinya. Di kota, jika ia butuh resistor, ia tinggal jalan kaki ke toko elektronik. Di sini, jika satu kabel putus, ia harus memutar otak bagaimana menyambungnya tanpa mengurangi daya hantar.

"Bapa, Mama sudah masak ubi," Pak Berto muncul di ambang pintu, membawa bakul berisi ubi ungu yang mengepul hangat. Pak Berto sering datang ke bengkel, bukan untuk bekerja mesin—karena tangannya lebih paham cangkul—tapi untuk sekadar memastikan anaknya tidak lupa makan.

"Sebentar lagi, Bapa. Saya harus selesaikan satu modul ini. Besok orang dari desa seberang, Desa Nekmese, mau datang lihat," jawab Jonatan tanpa mengalihkan pandangan dari sirkuit di depannya.

Pak Berto duduk di kursi kayu panjang, menatap deretan mesin yang sedang dirakit. "Kau tahu, Jon? Tuan Markus sekarang jarang lewat sini. Tapi orang bilang, dia sedang kumpul dengan orang-orang besar di kota. Dia tidak senang kau bikin bengkel begini. Dia bilang kau mau bikin pabrik ilegal."

Jonatan menghentikan gerakan tangannya. Ia mengembuskan napas panjang. "Biarkan saja, Bapa. Selama warga mendukung, dia tidak punya alasan untuk masuk. Kita punya surat izin riset dan yayasan yang sah."

Namun, tantangan sesungguhnya datang bukan dari Tuan Markus sore itu. Sebuah mobil jip putih dengan logo instansi daerah berhenti di depan bengkel. Dari dalamnya keluar dua pria berpakaian rapi dan seorang wanita muda yang tampak tidak nyaman dengan debu Oetimu.

"Saudara Jonatan Oetimu?" tanya pria yang paling tua. "Kami dari badan sertifikasi alat pertanian daerah. Kami mendapat laporan tentang adanya perakitan mesin tanpa izin standar industri di lokasi ini."

Jonatan meletakkan soldernya. Ia berdiri, mengusap tangannya ke kain lap kumal. "Mesin ini bukan untuk dijual secara komersial, Bapak. Ini proyek sosial. Kami hanya merakit alat untuk irigasi warga."

Wanita muda itu mendekat, melihat prototipe kontroler Jonatan dengan kening berkerut. "Tapi setiap alat yang menggunakan daya listrik dan berhubungan dengan distribusi air publik harus memiliki sertifikasi keamanan. Jika pompa ini korsleting dan membakar kebun warga, siapa yang tanggung jawab? Anda punya sertifikat ahli profesi?"

"Saya punya ijazah teknik elektro, dan ini adalah pengembangan dari riset universitas saya yang sudah lolos sidang etik," jawab Jonatan tegas.

"Sidang etik universitas tidak berlaku di lapangan birokrasi, Dek," pria itu menyela. "Kami harus menyita satu sampel untuk diuji di laboratorium provinsi. Selama pengujian, aktivitas perakitan di sini harus dihentikan sementara."

Darah Jonatan mendidih. "Dihentikan? Desa Nekmese sedang menunggu. Sumur mereka sudah hampir kering total. Jika saya berhenti hari ini, mereka akan kehilangan musim tanam."

"Aturan adalah aturan. Jangan sampai niat baik Anda justru membahayakan keselamatan warga karena prosedur yang dilompati," wanita itu menutup catatannya dengan bunyi plak yang menyakitkan telinga.

Setelah mereka pergi membawa salah satu modul paling sempurna yang baru saja Jonatan selesaikan, suasana bengkel menjadi muram. Matheus dan beberapa pemuda lain yang tadinya semangat bekerja kini terdiam, menatap tumpukan besi yang mendadak terasa seperti sampah kembali.

"Apa kita harus berhenti, Jon?" tanya Matheus pelan.

Jonatan menatap papan "Oetimu Mandiri" yang tadi ia paku. Ia teringat Sarah di Surabaya. Ia teringat botol air yang ia simpan. Ia tidak boleh kalah oleh kertas-kertas laporan lagi.

"Kita tidak berhenti," suara Jonatan terdengar rendah namun tajam. "Kita pindah jam kerja. Mulai besok, kita bekerja malam hari. Dan siang hari, kita akan lakukan hal lain."

"Apa itu?"

"Kita akan bawa warga ke kantor mereka. Jika mereka bilang alat ini tidak aman, biarkan warga yang bicara soal keamanan perut mereka yang lapar. Mereka butuh sertifikat? Aku akan berikan sertifikat yang paling jujur: kesaksian orang-orang yang hidup karena alat ini."

Malam itu, bengkel kecil itu diterangi oleh lampu neon bertenaga baterai. Jonatan bekerja dengan lebih gila lagi. Ia tidak hanya merakit, ia mencatat setiap detail keamanan, membuat manual penggunaan dalam bahasa daerah agar warga paham risikonya. Di balik bukit yang sunyi, suara gerinda kembali terdengar, memecah kesunyian malam.

Jonatan menyadari, membangun yayasan bukan hanya soal teknis mesin. Ini adalah perang urat saraf. Setiap baut yang ia kencangkan sekarang terasa seperti sebuah peluru untuk melawan birokrasi yang mencoba mencekik harapan mereka.

Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Sarah: "Sarah, mereka mulai bergerak lewat jalur perizinan. Aku butuh dokumen legalitas yayasan kita segera. Kirim lewat kurir tercepat. Kita tidak akan biarkan mereka memadamkan api di bengkel ini."

Sebelum tidur di atas meja kerjanya yang keras, Jonatan menatap ke luar jendela. Di kejauhan, ia melihat kerlap-kerlip lampu desa Nekmese yang sedang menunggu air. Ia tahu, di balik bukit itu, ada harapan yang tidak boleh ia kecewakan. Debu Oetimu mungkin masuk ke paru-parunya, tapi api di hatinya jauh lebih panas daripada matahari sabana.

Bengkel ini mungkin kecil, mungkin berdebu, dan mungkin belum tersertifikasi menurut buku-buku tebal orang kota. Tapi di sini, di bawah atap seng yang berkarat ini, kedaulatan sebuah bangsa sedang dirakit pelan-pelan.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!