NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaset Kusut

Ada yang salah.

Lian masih duduk mematung di pinggir tempat tidur. Keringat dingin mengalir di punggungnya, membuat kaos singlet putihnya menempel tak nyaman di kulit. Napasnya masih memburu, seolah-olah dia baru saja lari maraton, atau... baru saja jatuh dari ketinggian tiga lantai.

Tangannya meraba dada.

Tidak ada lubang. Tidak ada darah. Tulang rusuknya terasa solid di bawah kulit.

Mimpi?

Lian bertanya pada keheningan kamarnya.

Apa itu cuma mimpi buruk karena gue terlalu stres?

Dia ingat betul sensasi angin di rooftop itu. Dia ingat rasa sakit yang tajam di hati sesaat sebelum melompat. Dia ingat ketakutan itu. Semuanya terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur.

Tapi sinar matahari pagi yang cerah ini menyangkal semuanya. Burung gereja berkicau riang di luar jendela, seolah mengejek memori kematian Lian barusan.

"Mas Lian! Ayo turun sarapan, nanti telat upacaranya!"

Suara Ibu.

Teriakan itu terdengar dari lantai bawah, disertai bunyi denting sendok beradu dengan piring keramik. Rutinitas pagi. Normal.

Lian menarik napas panjang, berusaha menelan gumpalan panik di tenggorokannya. Dia menggosok wajahnya kasar.

"Oke. Oke. Gue cuma halusinasi. Gue belum mati."

Lian berdiri. Kakinya sedikit goyah.

Dia melirik Walkman perak misterius di atas bantalnya. Benda itu terlihat... dingin. Benda asing yang tak seharusnya ada di sana. Dengan gerakan ragu, dia meraihnya dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya, tertimbun di bawah buku-buku pelajaran Fisika yang tebal.

Dia harus pergi sekolah. Dia harus bersikap normal.

...----------------...

Meja makan kayu jati itu penuh dengan piring.

Ayah sedang membaca koran sambil menyeruput kopi hitam panas. Asapnya mengepul tipis.

Ibu sedang menuangkan nasi goreng ke piring Lian.

"Makan yang banyak, Mas. Nanti pingsan pas upacara," ujar Ibu tanpa menoleh.

Lian terdiam. Sendok di tangannya berhenti di udara.

Kalimat itu... familiar.

Bukan sekadar familiar selayaknya ucapan rutin seorang ibu, tapi nadanya, jedanya, intonasinya—persis sama dengan memori yang berputar di kepala Lian "kemarin".

"Pasti pingsan lah, Bu. Orang begadang semaleman," sahut adik perempuannya, Dinda, sambil mengunyah kerupuk udang. "Ngapain sih, Mas? Mikirin cewek?"

Déjà vu.

Lian meletakkan sendoknya. Dentingnya terdengar keras.

"Din," panggil Lian pelan. "Lo bakal minta uang saku tambahan kan buat beli majalah Kawanku?"

Dinda melotot kaget. Mulutnya yang penuh nasi terbuka sedikit. "Kok Mas Lian tau? Ibu belum kasih tau, kan?"

Jantung Lian berhenti berdetak sesaat.

Gue tau. Gue tau karena lo udah ngomong itu kemarin.

Atau pagi ini?

"Mas, dasinya miring tuh," tegur Ayah tanpa menurunkan korannya.

Darah Lian berdesir hebat. Dia langsung berdiri, mendorong kursinya hingga berdecit menyakitkan di lantai ubin.

"Aku... aku berangkat dulu, Yah, Bu."

"Loh, nasi gorengnya belum disentuh?"

Lian tidak menjawab. Dia menyambar tas sekolahnya dan setengah berlari keluar rumah, menyalakan motor Astrea Grand butut miliknya dengan tangan gemetar.

Ada yang tidak beres.

Ada yang sangat, sangat salah dengan dunia ini.

...----------------...

Jalanan Bandung pagi itu macet oleh angkot dan siswa-siswi yang berangkat sekolah.

Asap knalpot mengepul hitam, suara klakson bersahutan. Tapi di telinga Lian, semuanya terdengar jauh. Seperti dia sedang berada di dalam akuarium raksasa.

Saat dia memarkir motor di halaman sekolah, dia melihat Riko berlari ke arahnya.

Lian menahan napas.

Jangan bilang lo bakal nepuk bahu gue.

Jangan bilang lo bakal bilang gue ngelamun.

PLAK!

Tepukan keras mendarat di bahu Lian.

"Lian! Woy, ngelamun aja!" seru Riko dengan cengiran lebar, kamera analog menggantung di lehernya. "Siap-siap, woy! Giliran lo pidato penutupan abis lomba tarik tambang."

Klik.

Lian mendengar suara itu lagi di kepalanya. Seperti kaset yang diputar ulang.

Riko mengatakan kalimat yang sama persis. Gerakan tubuh yang sama persis.

"Rik..." Suara Lian terdengar serak. Wajahnya memucat, lebih putih dari kemeja OSIS-nya. "Sekarang tanggal berapa?"

Riko mengerutkan kening, bingung melihat reaksi sahabatnya. "Lo kenapa sih? Sakit? Ya tanggal 17 Agustus lah. Merdeka!"

17 Agustus. Lagi.

Lian mundur selangkah. Kakinya lemas.

Dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Wajah-wajah siswa yang tertawa, teriakan semangat, suara drumband latihan... semuanya adalah rekaman ulang.

Dia terjebak.

Dia tidak berhasil mati. Dia justru dihukum untuk mengulangi hari di mana dia ingin mati.

...----------------...

Lapangan upacara SMA Merah Putih terasa seperti oven raksasa.

Ratusan siswa berbaris rapi. Panas matahari menyengat kulit.

Lian berdiri di barisan paling depan, posisi strategis Ketua OSIS. Tapi pikirannya kosong.

Matanya menatap kosong ke arah podium, tempat Kepala Sekolah sedang berpidato tentang semangat juang 45. Kata-kata itu cuma lewat.

Dunia Lian kehilangan warnanya.

Benar-benar kehilangan warna.

Lian berkedip, mengira matanya yang bermasalah.

Langit biru cerah perlahan memudar menjadi abu-abu. Rumput hijau di lapangan menjadi warna semen kusam. Seragam putih siswa lain menjadi gradasi putih buram.

Ini efek depresinya, pikir Lian. Dokternya pernah bilang kalau depresi berat bisa memengaruhi persepsi visual. Semuanya tampak kelabu. Hambar.

Lian mengedarkan pandangan ke seluruh lapangan dengan putus asa. Mencari satu titik saja yang masih memiliki warna. Satu hal saja yang bisa membuktikan dia masih manusia, bukan hantu.

Saat itulah dia melihatnya.

Di sudut barisan kelas 2, di dekat pohon beringin tua, ada seorang gadis yang berdiri tidak tegap.

Seorang gadis yang tampak kecil, tenggelam dalam seragam OSIS yang sedikit kebesaran.

Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan dengan karet gelang merah.

MERAH.

Lian terpaku.

Karet gelang itu berwarna merah menyala. Satu-satunya warna di tengah lautan hitam-putih.

Gadis itu tidak memperhatikan upacara. Dia menunduk, menyembunyikan sesuatu di balik lengan panjang seragamnya. Sebuah voice recorder kecil. Dia menekan tombol record, mengarahkannya diam-diam ke arah pohon beringin—merekam suara gesekan daun tertiup angin.

Dia tersenyum tipis. Sangat tipis. Tapi di mata Lian yang kelabu, senyum itu seperti ledakan kembang api.

Lian tidak mengenalnya.

Gadis itu bukan siswi populer. Bukan anak cheerleaders. Dia cuma... ada.

Siapa dia?

Kenapa cuma dia yang berwarna?

Kenapa cuma dia yang terlihat hidup sementara Lian dan ribuan siswa lainnya terasa mati?

Gadis itu mendongak, seolah sadar sedang diperhatikan. Mata cokelat terangnya bertemu dengan mata hitam legam Lian.

Dia kaget. Dia buru-buru menyembunyikan alat perekamnya dan kembali berdiri tegak, pura-pura serius mengikuti upacara.

Tapi bagi Lian, tatapan singkat itu adalah satu-satunya oksigen yang dia hirup sejak bangun pagi tadi.

Di dalam tas Lian, tanpa disadari siapa pun, Walkman perak itu berdengung pelan, pitanya berputar satu milimeter.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Lian tidak berpikir tentang bagaimana cara melompat dari rooftop nanti sore. Dia berpikir...

Siapa nama gadis itu?

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!