Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Yang Menjebak
Pagi di kampus hari ini terasa sedikit lebih cerah, tapi tidak bagi Gavin yang sudah berdiri di samping motor besarnya di parkiran sejak sepuluh menit lalu. Matanya terus menyapu gerbang kampus, menunggu sosok yang semalaman membuat tidurnya tidak tenang.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan area parkir. Pintu terbuka, dan pemandangan yang muncul membuat rahang Gavin mengeras seketika. Odelyn turun dari mobil itu, tampak segar dengan blus putih yang rapi dan—tentu saja—poni ratanya yang ikonik. Di belakangnya, Rizky menyusul dengan senyum ramah yang menurut Gavin sangat menyebalkan.
"Makasih ya, Kak Rizky, udah dijemput," suara Odelyn terdengar cukup jelas di telinga Gavin.
Gue berjalan mendekati Gavin yang wajahnya sudah mendung, lebih gelap dari langit Medan kemarin sore. Gue mengeluarkan sebuah paper bag kecil dari tas.
"Vin," panggil gue datar. "Nih, jaket lo. Makasih ya buat kemarin."
Gavin menerima tas itu dengan kasar, tapi begitu tangannya menyentuh kain jeans itu, aroma manis yang segar langsung menyeruak. Itu bukan bau parfum laundry murah. Itu aroma pear and freesia—aroma khas yang mulai gue pakai sejak kembali ke masa ini. Aroma yang gue tahu persis adalah kelemahan Gavin.
Gavin tertegun sejenak, menghirup aroma itu tanpa sadar. Matanya yang tadi menatap tajam ke arah Rizky, kini beralih menatap gue dengan bingung. "Lo... lo cuci sendiri?"
"Iya, sebagai tanda terima kasih," jawab gue sopan namun dengan nada yang sangat formal, seolah-olah dia hanyalah orang asing yang baru saja menolong gue di jalan. "Yuk, Kak Rizky, kita ke gedung dekanat dulu?"
Gue sengaja berbalik, hendak melangkah pergi bareng Rizky. Tapi, baru dua langkah, tangan Gavin menahan pergelangan tangan gue. Cengkeramannya tidak kuat, tapi terasa posesif.
"Gedung dekanat kan searah sama kelas kita, Odelyn," potong Gavin cepat, suaranya sedikit meninggi. Dia melirik Rizky dengan tatapan 'ini wilayah gue'. "Gue juga mau ke sana. Ky, lo bukannya ada rapat senat pagi ini? Biar Odelyn bareng gue aja masuknya. Kelas kita udah mau mulai."
Gue bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Rizky tampak tenang, sementara Gavin seperti bom waktu yang siap meledak karena cemburu.
"Gue nggak keberatan nganter Odelyn sampai depan lift, Vin," jawab Rizky tenang.
"Nggak perlu," balas Gavin, kali ini lebih tegas. Dia langsung berdiri di antara gue dan Rizky, seolah membuat pagar pembatas. "Gue satu kelas sama dia. Gue yang bakal pastiin dia nggak kambuh lagi di jalan. Thanks udah jagain dia kemarin."
Gavin menatap gue, menuntut jawaban. Gue cuma bisa tersenyum miring di dalam hati. Dia benar-benar terjebak. Dia yang dulu selalu membuang gue, sekarang malah memohon-mohon (dengan cara yang kasar) hanya untuk jalan bareng gue menuju kelas.
"Ya udah, Kak Rizky, nggak apa-apa. Odelyn bareng Gavin aja. Sampai ketemu nanti ya," ucap gue lembut ke Rizky, sengaja memberikan kontras cara bicara gue ke mereka berdua.
Begitu Rizky pergi, Gavin langsung menarik napas panjang, aroma dari jaket di tangannya lagi-lagi mengacaukan fokusnya. "Sejak kapan lo deket sama dia?" tanyanya ketus sambil mulai berjalan di samping gue.
"Sejak gue sadar kalau dunia ini luas, Vin. Nggak cuma sebatas satu orang aja," jawab gue tanpa menoleh ke arahnya.
Baru saja kami melewati lorong menuju lift, suara kruyuk pelan tapi jelas terdengar dari perut gue. Gue merutuki diri sendiri. Karena terlalu fokus menyiapkan strategi pagi ini, gue sampai lupa sarapan.
Gavin yang berjalan di samping gue langsung berhenti. Dia menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo belum sarapan?"
"Bukan urusan lo, Vin. Kelas mulai tiga menit lagi," jawab gue cuek, berusaha tetap berjalan.
Tapi Gavin bukan orang yang bisa dibantah kalau dia sudah punya mau. Dia langsung menarik pergelangan tangan gue, memutar haluan menuju kantin yang letaknya tepat di samping gedung kuliah.
"Vin! Mau ke mana? Kita telat!" protes gue.
Gavin nggak menjawab. Dia langsung menuju stan makanan, memesan satu porsi dimsum hangat, satu kotak susu Ultra Milk biru, dan sebotol air mineral. Dalam waktu kurang dari dua menit, dia sudah kembali dengan kantong plastik di tangannya.
"Makan di kelas. Gue nggak mau lo pingsan pas presentasi cuma karena perut kosong," katanya ketus, tapi dia menyerahkan plastik itu dengan hati-hati seolah barang berharga.
Kami berlari kecil menuju lobi lift, tapi nasib lagi nggak berpihak. Antrean mahasiswa di depan lift membludak seperti antrean sembako. Kalau kami nunggu, satu jam pun nggak akan sampai ke lantai empat.
"Tangga. Sekarang," ajak Gavin.
Kami mulai menaiki anak tangga dengan cepat. Tapi baru sampai di lantai dua, napas gue mulai terasa pendek. Dada gue mulai berat. Sial, asma gue emang nggak bisa diajak kompromi kalau harus olahraga mendadak kayak begini.
"Odelyn, lo kenapa? Muka lo pucet lagi," Gavin berhenti, wajahnya panik seketika.
"Gue... nggak apa-apa. Cuma butuh... istirahat bentar," ucap gue terbata sambil memegang pegangan tangga.
Gavin melihat jam tangannya, lalu melihat ke arah gue yang mulai kesulitan mengambil oksigen. Tanpa ba-bi-bu, dia meletakkan tasnya di depan dada dan tiba-tiba berjongkok di depan gue, membelakangi gue.
"Naik," perintahnya singkat.
"Hah? Apaan sih, Vin? Nggak usah!"
"Odelyn, jangan keras kepala! Gue nggak mau lo kambuh parah di tengah tangga. Naik ke punggung gue sekarang atau kita berdua bolos kelas ini dan gue bawa lo ke RS!" bentaknya, tapi suaranya bergetar karena khawatir.
Gue nggak punya pilihan. Dengan ragu, gue melingkarkan lengan di lehernya. Begitu dia mengangkat tubuh gue, aroma parfum citrus-nya bercampur dengan wangi jaket jeans yang baru gue cuci tadi. Hangat. Punggung Gavin terasa kokoh, sangat berbeda dengan bayangan gue di masa depan saat dia memunggungi gue untuk pergi.
Gavin mulai menaiki anak tangga dengan langkah besar namun stabil. Dia nggak mengeluh, meskipun gue bisa dengar deru napasnya yang mulai berat.
"Vin... turunin aja di lantai tiga, gue bisa jalan kok," bisik gue tepat di samping telinganya.
"Diem," gumamnya, suaranya rendah. "Lo itu ringan banget. Lo beneran makan nggak sih selama ini? Jangan bikin gue makin merasa bersalah... karena udah manggil lo Memey."
Gue tertegun. Kalimat terakhirnya itu... apakah itu tanda kalau dia mulai merasa ada yang salah dengan caranya memperlakukan gue selama ini? Gue menyandarkan kepala di bahunya, menyembunyikan senyum dingin gue.
Nikmati rasa bersalah lo, Gavin. Ini baru langkah awal dari perjalanan panjang lo menuju penyesalan.
Langkah kaki Gavin akhirnya sampai di lantai empat. Napasnya terdengar berat dan memburu, tapi dia nggak berhenti sampai tepat di depan pintu kelas 402. Begitu sampai, dia perlahan menurunkan gue.
"Turun," ucapnya singkat, suaranya kembali datar seolah-olah momen di tangga tadi nggak pernah terjadi.
Begitu kaki gue menyentuh lantai, Gavin langsung merapikan jaketnya yang sedikit berantakan. Dia nggak menatap mata gue sama sekali. Dia kembali menjadi Gavin yang dikenal orang banyak: si pangeran kampus yang angkuh dan tak tersentuh.
Gue merapikan baju dan memegang kantong plastik berisi dimsum yang tadi dia beli. "Makasih," ucap gue pelan.
Gavin cuma berdehem kecil sebagai jawaban. Dia membuka pintu kelas lebih dulu, dan seketika puluhan pasang mata menoleh ke arah kami. Suasana yang tadinya bising mendadak hening selama beberapa detik. Mereka pasti bertanya-tanya kenapa si "Odelyn Udik" bisa masuk berbarengan dengan Gavin.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Gavin berjalan melenggang menuju kursi di barisan tengah—tempat favoritnya untuk tetap terlihat menonjol tapi santai. Dia langsung duduk, mengeluarkan ponsel, dan sama sekali nggak menoleh lagi ke belakang. Seolah-olah momen dia menggendong gue tadi hanyalah halusinasi.
Gue menarik napas panjang, menekan rasa perih di dada akibat asma yang mulai mereda, lalu berjalan menuju barisan paling depan. Gue duduk tepat di hadapan meja dosen. Gue nggak butuh perhatian palsu di dalam kelas. Gue butuh nilai sempurna dan kendali penuh.
Dari sudut mata, gue bisa merasakan tatapan beberapa mahasiswa yang mulai berbisik-bisik.
"Mey, lo bareng Gavin tadi?" tanya salah satu teman sekelas dengan nada menyelidik.
Gue hanya membuka laptop dengan tenang. "Cuma barengan di tangga karena lift penuh," jawab gue tanpa beban.
Gue sengaja nggak menoleh ke arah Gavin, tapi gue tahu... jauh di sana, di barisan tengah, Gavin nggak benar-benar fokus pada ponselnya. Berkali-kali dia menggeser posisi duduknya, dan gue tahu pandangannya sesekali jatuh ke punggung gue.
Gue mengeluarkan kotak susu Ultra Milk biru yang dia belikan tadi, meletakkannya dengan sengaja di atas meja agar terlihat oleh semua orang—termasuk dia.
Sandiwara lo bagus, Gavin. Lo mau main tarik-ulur? Sayangnya, lo lagi main sama orang yang sudah tahu di mana ujung talinya akan putus.
Dosen memasuki kelas dan suasana berubah tegang. "Sesuai jadwal, hari ini kita sesi presentasi mandiri. Odelyn, kamu yang pertama."
Gue berdiri dengan tenang, membawa flashdisk dan berjalan menuju depan kelas. Gue bisa merasakan tatapan Gavin dari barisan tengah. Tatapan yang tadinya meremehkan, perlahan berubah menjadi intens saat gue mulai memaparkan materi tentang Manajemen Strategis dengan bahasa yang sangat berkelas, jauh melampaui level mahasiswa semester awal.
Ruangan hening. Bahkan dosen pun berkali-kali mengangguk kagum. Gue bukan lagi Memey yang bicara terbata-bata karena minder. Gue adalah Odelyn, wanita yang sudah pernah merasakan kerasnya dunia bisnis di masa depan.
"Sesi tanya jawab dibuka," ucap dosen.
Gavin tiba-tiba mengangkat tangan. Dia menyeringai tipis, gaya andalannya saat ingin menjatuhkan lawan bicara. "Gue mau tanya," suaranya menggema di kelas. "Analisis lo tadi terlalu idealis. Gimana cara lo memitigasi risiko kegagalan pasar kalau variabel unpredictable-nya lebih dari sepuluh persen? Apa lo punya solusi konkret, atau itu cuma teori di atas kertas?"
Beberapa mahasiswa berbisik, "Wah, parah, Gavin ngasih pertanyaan jebakan."
Gue menatap Gavin tepat di matanya. Gue nggak goyah sedikit pun. Sebaliknya, gue tersenyum miring—senyum yang bikin Gavin nampak sedikit ragu.
"Pertanyaan yang bagus, Gavin," jawab gue tenang. Gue lalu membedah jawabannya poin demi poin, menggunakan data riil yang bahkan belum dipelajari di semester ini. Gue menutup jawaban gue dengan telak: "Jadi, mitigasi bukan soal menghindari risiko, tapi soal adaptasi. Apa jawaban gue cukup jelas, atau lo butuh gue jelasin ulang pake bahasa yang lebih sederhana?"
Satu kelas langsung "Oooooh!" pelan. Gavin terdiam. Dia nggak menyangka pertanyaannya yang 'mematikan' itu dibalikkan menjadi serangan halus yang menunjukkan kalau gue jauh lebih paham dibanding dia. Dia cuma bisa bersandar di kursinya, berusaha tetap terlihat cool padahal gue tahu egonya baru saja dihantam kenyataan.
Begitu kelas berakhir, semua orang berhamburan keluar. Gue tetap di kursi depan, membuka kotak dimsum yang tadi dibelikan Gavin. Dimsumnya masih hangat, aromanya menggugah selera.
Gue memakannya dengan tenang, sepotong demi sepotong. Dari pantulan layar laptop yang sudah mati, gue bisa melihat Gavin masih di posisinya di barisan tengah. Dia pura-pura sibuk merapikan tas, tapi matanya nggak bisa lepas dari gue.
Gavin seolah terhipnotis melihat cara gue makan—tenang, elegan, dan nggak peduli dengan sekitar. Ada kilat kekaguman di matanya yang nggak bisa dia sembunyikan lagi. Dia mungkin merasa aneh; bagaimana mungkin cewek yang dia panggil "Memey" dan dianggap udik ini bisa punya aura sekuat ini?
Dia mulai berjalan melewati meja gue untuk menuju pintu keluar. Langkahnya melambat tepat di samping gue.
"Gimana dimsumnya?" tanyanya, suaranya jauh lebih lembut dibanding saat dia bertanya di sesi presentasi tadi.
Gue menelan sisa dimsum terakhir, lalu mendongak sedikit. "Enak. Thanks ya, Vin."
Gavin nggak langsung pergi. Dia menatap kotak susu Ultra Milk biru yang tinggal separuh di meja gue. "Lain kali, jangan telat sarapan lagi. Jawaban lo tadi... lumayan juga."
"Cuma lumayan?" gue mengangkat alis.
Gavin salah tingkah, dia mengacak rambutnya asal. "Ya... oke, bagus banget. Gue cabut dulu."
Gue melihat punggungnya menjauh dengan terburu-buru. Gue tahu, malam ini Gavin nggak akan bisa tidur nyenyak. Bayangan Odelyn di podium dan aroma parfum di jaketnya bakal menghantui pikirannya.