NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Akar yang Bicara

Suasana di puncak menara giok itu makin nggak masuk akal. Di satu sisi, Adrian ngelihat pemandangan horor sekaligus mengharukan dimana robot yang wajahnya mirip bokapnya lagi meluk bokapnya yang asli dengan kenceng banget, seolah-olah mau ngajak mati bareng dalam ledakan energi.

Di sisi lain, ada lubang hitam kecil di langit yang mulai narik apa pun di sekitarnya. Angin kenceng muter-muter, suara helikopter yang meledak di kejauhan jadi latar belakang yang bikin kuping pengang.

Tapi di tengah kekacauan itu, fokus Adrian malah keganggu sama satu benda kecil yang tadi dia liat di bawah singgasananya. Botol kaca kecil, kusam, isinya cuma tanah cokelat biasa. Tanah yang kelihatan kering dan nggak ada istimewanya sama sekali.

"Kar, lu liat itu?" bisik Adrian lewat jaringan pikiran.

Sekar, yang mukanya udah pucat banget dan keringetan dingin, ngikutin arah pandang Adrian. "Tanah? Kenapa ada tanah di tempat yang semuanya isinya kabel sama giok gini?"

"Gua nggak tahu, tapi suara tadi... suara dari bawah laut itu... nyuruh gua liat ke sana," jawab Adrian. Adrian nyoba gerakin tangannya. Rasanya berat banget karena kabel-kabel optik itu masih nempel di sarafnya, kayak ada ribuan jarum yang nahan dia buat tetep duduk di singgasana.

Tapi kemarahan dan rasa penasaran Adrian lebih gede. Dengan satu sentakan kuat yang bikin sarafnya kerasa kayak terbakar, Adrian berhasil ngelepasin satu tangannya. Dia merangkak turun, nyeret badannya yang kerasa kayak beban berton-ton, demi ngegapai botol tanah itu.

"Adrian! Jangan lepasin tangan gua!" teriak Sekar. Suaranya mulai ilang-ilangan karena sinkronisasi mereka keganggu. Begitu ujung jari Adrian nyentuh botol itu, sesuatu yang aneh terjadi. Gelombang energi perak yang tadinya liar di sekitar menara mendadak jadi tenang begitu nyentuh botol itu. Kayak ada peredam suara raksasa yang dipasang. Adrian narik botol itu, terus dia ngebuka tutup penyumbatnya.

Begitu tutupnya kebuka, bau tanah basah bau khas Malabar sehabis hujan langsung nyerebak. Bau itu bener-bener kontras sama bau logam dan bau kabel angus yang dari tadi menuhin udara.

Tiba-tiba, Adrian dapet penglihatan baru. Kali ini bukan barisan kode angka, tapi memori yang bukan miliknya. Dia ngelihat kakek buyutnya, pendiri Dirgantara Group yang pertama, lagi berdiri di tengah hutan Malabar yang masih asli, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kakek buyutnya nggak bawa laptop atau alat canggih. Dia cuma bawa cangkul dan sebotol tanah dari tempat asalnya.

“Teknologi itu cuma dahan, Adrian. Tapi tanah adalah akarnya. Tanpa tanah, dahan bakal patah pas kena badai,”suara kakek buyutnya bergema di kepala Adrian.

Adrian sadar sekarang. Selama ini, bokapnya salah besar. Bokapnya terlalu fokus bikin "otak" digital sampai lupa kalau sistem ini dibangun di atas fondasi biologis. Tanah di botol ini bukan cuma tanah biasa.

Ini adalah tanah yang mengandung mikroba dan nutrisi asli yang jadi "kunci kontak" buat seluruh ekosistem Malabar. Tanpa ini, sistem energi perak itu bakal terus-menerus nyerep energi manusia karena dia nggak punya sumber energi alami buat "makan".

"Kar! Kasih gua tangan lu!" teriak Adrian sambil naik lagi ke singgasana.

Adrian numpahin sedikit tanah itu ke telapak tangan Sekar, terus dia genggam kenceng-kenceng. Dia fokus, bukan ke arah satelit atau jaringan global, tapi dia arahin semua energi perak di badannya masuk ke dalem botol tanah itu.

WUUUUUUSSSHHHH!

Cahaya putih bening yang tadinya tajem dan nyakitin mata, berubah jadi cahaya hijau lembut yang anget. Akar-akar kabel optik yang tadi melilit mereka, tiba-tiba berubah bentuk. Kabel-kabel itu mulai ditumbuhi lumut dan daun teh kecil yang warnanya emas. Menara giok yang tadinya kerasa dingin dan kaku, sekarang mulai bergetar pelan, kayak detak jantung yang sehat.

"Adrian... gua bisa ngerasainnya," gumam Sekar. Matanya yang tadi sayu sekarang nyala lagi. "Gua nggak ngerasa sakit lagi. Rasanya... kayak lagi tidur di tengah kebun teh pas pagi hari."

Di depannya, pertarungan antara si robot sama bokap Adrian mendadak berhenti. Si robot ngelepasin pelukannya. Bokap Adrian jatuh tersungkur, napasnya tersengal-sengal. Dia ngelihat ke arah Adrian dengan muka nggak percaya.

"Kau... kau mengubah kodenya? Kau masukin unsur organik ke dalem sistem murni ini?!" teriak bokapnya, suaranya campur antara marah sama kagum. "Itu bakal ngerusak semua perhitungan matematis yang udah aku buat selama tiga puluh tahun!"

"Perhitungan lu nggak ada gunanya kalau bikin orang menderita, Pak," jawab Adrian tegas. "Dunia nggak butuh 'Otak Pusat'. Dunia cuma butuh keseimbangan."

Adrian ngerasa kekuatannya sekarang beda.

Dia nggak lagi ngerasa kayak mesin. Dia ngerasa kayak pohon raksasa yang akarnya nyebar ke seluruh bumi. Lewat jaringan itu, dia ngirim pesan balik ke semua orang yang terhubung: Kalian bebas. Energi ini sekarang milik kalian, bukan buat dikontrol, tapi buat dibagi.

Lubang hitam di langit pelan-pelan mengecil dan ilang, diganti sama pelangi melingkar yang cantik banget. Kapsul-kapsul manusia yang tadi muncul dari bawah laut mulai turun lagi, balik ke dasar samudera buat tidur dalam damai tanpa ada kabel yang nyerep esensi mereka.

Tapi, pas Adrian ngerasa semuanya udah mulai stabil, menara giok itu tiba-tiba miring. Guncangan hebat dateng dari bawah laut, jauh lebih gede dari sebelumnya.

"Ada apa lagi?!" teriak Sekar sambil pegangan kenceng ke kursi.

Adrian nyoba ngakses kamera bawah laut. Di sana, dia ngelihat sesuatu yang bikin jantungnya mau copot. Aris ternyata belum nyerah. Dia nggak pake helikopter lagi. Di kedalaman laut, Aris lagi pake sebuah robot ekskavator raksasa buat ngehancurin fondasi menara giok itu. Aris mau ngeruntuhin seluruh menara ini supaya sistemnya hancur berantakan, dan dia bisa ngambil sisa-sisa datanya buat kepentingan pribadinya.

"Kalau tempat ini runtuh, kita semua bakal tenggelam, Adrian!" Sekar panik.

Adrian ngelihat ke arah bokapnya. Bokapnya cuma diem, mukanya kelihatan kalah total. Tapi robot yang wajahnya mirip bokapnya itu tiba-tiba gerak. Dia jalan ke pinggir platform, terus nengok ke arah Adrian.

"Tugas terakhir... melindungi masa depan," ucap si robot. Suaranya nggak lagi pecah-pecah, tapi jernih banget. Si robot langsung terjun bebas ke dalem laut, menuju ke arah Aris. Ledakan besar terjadi di bawah air, bikin gelombang tsunami kecil yang ngehantem menara. Adrian nyoba nahan menara itu pake kekuatan barunya, tapi guncangannya terlalu kuat.

"Kar, kita harus pergi dari sini!" Adrian ngelepas semua kabel yang nempel di badannya. Kali ini kabel-kabel itu ngelepasin mereka dengan lembut, kayak pelukan perpisahan.

Tapi pas mereka mau lari ke arah kapal selam yang masih ngambang di kejauhan, pintu rahasia di bawah singgasana kebuka. Dari sana keluar sosok yang bikin Adrian mematung.

Seorang wanita, pake baju putih sederhana, wajahnya teduh banget. Dia bukan hologram, bukan rekaman video, dan bukan AI. Dia bener-bener nyata, ada napasnya, dan ada hangat tubuhnya.

"Ibu?" bisik Adrian, suaranya gemeteran. Wanita itu senyum, air mata netes di pipinya. "Adrian... anakku. Akhirnya kau nemuin tanah itu."

Adrian mau lari meluk ibunya, tapi langkahnya terhenti pas dia liat ada sesuatu yang aneh. Di belakang ibunya, ada bayangan yang terus ngikutin, bayangan hitam yang bentuknya kayak asap pekat. Dan bayangan itu mulai nyelimutin kaki ibunya.

"Jangan deket-deket, Adrian!" teriak ibunya. "Ibu cuma punya waktu sebentar. Ibu adalah bagian dari sistem ini yang sebenernya harusnya ikut kehapus. Tapi tanah itu... tanah itu ngasih Ibu wujud fisik buat terakhir kalinya."

"Gua bakal bawa Ibu keluar dari sini! Kita balik ke Malabar!" Adrian nekat maju.

Tapi menara giok itu makin miring. Suara retakan kristal raksasa kedengaran dari mana-mana. Aris di bawah sana kayaknya udah berhasil ngerusak pilar utamanya.

"Dengerin Ibu, Adrian," ibunya megang muka Adrian. Tangannya kerasa nyata banget. "Malabar yang asli bukan di gunung. Malabar yang asli ada di dalem botol itu. Bawa botol itu ke mana pun kau pergi. Itu adalah kunci buat ngebangun dunia baru tanpa perlu menara ini."

Tiba-tiba, dari arah laut, muncul kapal selam besar yang beda lagi. Kapal selam itu punya logo yang belum pernah Adrian liat sebelumnya: sebuah gambar akar yang melingkar membentuk simbol tak terhingga.

"Itu bantuan dari kelompok 'Akar' yang lain!" teriak Sekar. "Kita harus lompat sekarang!" Adrian bimbang. Di satu sisi ada ibunya yang baru aja dia temuin, di sisi lain ada Sekar dan keselamatan dunia.

"Pergilah, Adrian. Jaga Sekar. Jaga tanah itu," ibunya dorong Adrian menjauh. Bayangan hitam itu sekarang udah nutupin separuh badan ibunya. Adrian ditarik sama Sekar buat lompat ke arah laut, tepat saat menara giok itu bener-bener patah dan mulai tenggelam ke dalem samudera yang gelap. Pas Adrian ada di dalem air, dia sempet ngelihat ke atas buat terakhir kalinya.

Dia ngelihat ibunya berdiri di puncak menara yang tenggelam, dan di samping ibunya, bokapnya yang asli juga berdiri di sana. Mereka berdua pegangan tangan, tersenyum ke arah Adrian, sebelum akhirnya semuanya ketutup sama buih air laut yang putih.

Adrian dan Sekar berhasil ditarik masuk ke dalem kapal selam kelompok 'Akar'. Di dalem sana, suasananya tenang banget. Ada banyak orang yang pake seragam hijau tua, mereka semua nunduk hormat pas Adrian masuk.

Adrian duduk di kursi, tangannya masih meluk botol tanah itu kenceng-kenceng. Dia ngerasa kosong, sedih, tapi sekaligus ada rasa damai yang aneh. "Kita selamat, Adrian," bisik Sekar sambil nyelimutin bahu Adrian pake handuk anget.

Adrian cuma ngangguk. Dia ngelihat ke arah jendela kapal selam, ngelihat reruntuhan menara giok yang makin menjauh di kedalaman laut. Tapi, pas dia lagi ngelihat ke kegelapan laut itu, dia liat ada satu titik cahaya perak yang ngikutin kapal selam mereka. Titik cahaya itu kecil, tapi gerakannya lincah banget, kayak lagi ngasih kode.

Adrian fokus, dia nyoba ngaktifin indra keenamnya lagi.

"Ini belum selesai, Adrian..."suara itu bukan suara ibunya, bukan suara bokapnya, dan bukan suara Aris. Suara itu berat, dingin, dan kedengarannya datang dari tempat yang jauh lebih dalem dari dasar samudera.

"Tanah itu... kau pikir itu buat nyelametin dunia? Tanah itu adalah penjara buat 'Dia' yang selama ini kami kurung di bawah Malabar. Dan sekarang, kau udah ngebuka tutup botolnya."

Adrian nunduk, ngelihat ke botol tanah di pangkuannya. Di dalem botol yang tadinya cuma berisi tanah cokelat biasa, sekarang muncul bintik-bintik item yang gerak-gerak kayak cacing kecil, dan bintik itu mulai ngerambat keluar dari botol, nuju ke arah tangan Adrian.

Siapa sebenarnya sosok misterius yang suaranya terdengar dari kedalaman laut tersebut? Apa atau "Siapa" yang sebenarnya terkurung di dalam botol tanah Malabar selama puluhan tahun?

Saat Adrian mengira dia telah membawa kunci keselamatan, apakah dia justru baru saja melepaskan ancaman yang jauh lebih purba dan berbahaya ke atas kapal selam kelompok 'Akar'? Dan yang paling penting, apakah bintik hitam yang merambat ke tangannya itu akan mengubah Adrian menjadi sesuatu yang lebih mengerikan daripada mesin?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!