Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Wisuda
Kosan Ferdy, Pukul 15.00, Seminggu Sebelum Wisuda
Kamar yang biasanya dipenuhi oleh tumpukan cetakan foto dan kabel, kini juga dipenuhi oleh bungkus-bungkus kardus kecil dan plastik.
Di atas tempat tidur, toga dan jubah hitam dengan garis kuning keemasan tergantung rapi di pembungkus plastik transparan. Di meja, ada beberapa map berisi dokumen administrasi wisuda yang telah difotokopi dan distapler.
Ferdy sedang duduk di lantai, memeriksa kelengkapan dokumen untuk kesekian kalinya, ketika ponselnya berdering.
Kirana: "Ferdy, untuk foto wisuda nanti, kamu udah kontak fotografer resmi kampus atau mau pakai jasa eksternal? Aku ada rekomendasi yang bagus, temannya teman, harganya reasonable."
Ferdy menghela napas. Ini sudah pesan kelima Kirana hari ini tentang hal-hal detail wisuda. Sebelumnya sudah tentang sewa almamater, penataan rambut, bahkan sampai rekomendasi sepatu yang nyaman untuk dipakai seharian.
Dia mengetik balasan: "Udah pakai yang resmi kampus aja, Kir. Lebih gampang. Makasih ya."
Hampir langsung, balasan masuk: "Oke. Tapi untuk foto keluarga dan dengan teman-teman, kita bisa pakai jasa eksternal itu. Biar lebih natural dan gak terburu-buru. Aku yang urus?"
Ferdy menatap layar ponselnya. Ini terlalu jauh. "Kita"? "Aku yang urus"? Ini sudah di luar batas kewajaran.
Dia menelepon Kirana. Begitu tersambung, suara Kirana yang ceria terdengar. "Halo Fer! Ada apa?"
"Kir, gue mau ngomong serius. Lo bener-bener nggak perlu repot-repot kayak gini. Wisuda gue ini hal sederhana. Lo udah bantuin banyak banget. Tapi urusan fotografer, sepatu, bahkan tadi pagi lo tawarin bantu reservasi makan buat keluarga gue… itu udah terlalu. Gue nggak enak."
Di seberang telepon, Kirana terdiam sebentar. Suaranya kemudian terdengar lebih kecil.
"Aku… cuma mau membantu, Ferdy. Aku tahu kamu pasti sibuk dengan project-project terakhir sebelum libur. Dan… ini hal penting. Aku cuma ingin memastikan hari spesialmu berjalan sempurna."
"Tapi itu bukan tanggung jawab lo, Kir. Itu tanggung jawab gue dan keluarga gue."
"Tapi aku ingin menjadi bagian darinya," jawab Kirana, polos. "Meskipun hanya sebagai… teman yang membantu."
Ferdy menutup mata, merasa bersalah namun juga sedikit frustrasi. "Gue ngerti maksud lo baik. Tapi tolong… berhenti. Biarin gue dan keluarga gue yang urus. Lo udah lebih dari cukup dengan bantu urus project dan… segalanya."
Suara Kirana terdengar sedikit gemetar. "Oke. Maaf kalau aku… over. Aku cuma…" dia berhenti, lalu melanjutkan dengan suara lebih tegas, "Baik. Aku berhenti. Tapi izinkan aku datang di hari-H, ya? Untuk memberikan ucapan selamat secara langsung."
"Tentu saja. Lo selalu dipersilakan," jawab Ferdy, lega.
Mereka mengakhiri telepon. Ferdy melemparkan ponselnya ke bantal, mengusap wajahnya. "Waduh."
Dari sudut kamar, di mana cahaya sore menyorot debu yang menari, Dasima mengamati. Dia bisa merasakan kelelahan dan kebingungan Ferdy. Dia sangat gigih, pikir Dasima tentang Kirana. Dan sangat… manusiawi. Dalam caranya yang sendiri, dia juga sedang berkorban.
---
Kafe di Plaza Senayan, Pukul 19.30, Malam yang Sama
Kirana duduk sendirian di meja kecil dekat jendela, menatap gelas wine-nya yang belum tersentuh. Dia masih memakai setelan kerja: blazer putih, celana trousers hitam, rambut diikat rapi. Tapi ekspresinya lelah dan sedih.
Teleponnya berdering. "Ayah." Dia menyambut dengan suara datar.
"Kirana, di mana kau? Katanya mau makan malam dengan Pak Djoko dan keluarganya?" suara ayahnya, Pak Hendrawan, terdengar tegas dan sedikit kesal.
"Ayah, aku minta maaf. Aku… tidak enak badan. Aku pulang saja," jawab Kirana, berbohong.
Diam sejenak. "Ini sudah ketiga kalinya kau membatalkan janji dalam dua minggu ini, Kirana. Apa yang terjadi denganmu? Pekerjaan di galeri? Atau… ada hal lain?"
"Bukan apa-apa, Ayah. Hanya capek."
"Kurasa tidak. Ibu bilang kau sibuk sekali belakangan ini, mengurusi… apa itu. Persiapan wisuda seseorang? Seorang mahasiswa fotografi?"
Kirana membeku. Jadi ayahnya sudah tahu.
"Siapa yang bilang?"
"Aku punya mata di mana-mana, Nak. Terutama untuk anak satu-satunya ku. Siapa dia? Mengapa kau begitu repot untuknya?"
Kirana menarik napas dalam-dalam. "Dia temanku, Ayah. Dan dia… spesial. Aku hanya ingin membantunya."
"Tolong jangan bodohi ayahmu, Kirana. Kau tidak pernah 'hanya membantu' sampai level mengabaikan janji keluarga dan urusan bisnis. Apa yang kau harapkan dari anak muda ini? Dia bukan dari dunia kita."
"Itu yang membuatnya berbeda, Ayah!" bantah Kirana, suaranya meninggi tanpa sengaja. Beberapa pengunjung kafe melirik. Dia menurunkan suaranya.
"Dia jujur, berbakat, dan tidak peduli siapa aku atau dari keluarga mana aku berasal. Dia melihatku… sebagai Kirana. Bukan sebagai Putri Hendrawan."
"Dan kau berpikir itu cukup? Cinta butuh lebih dari kejujuran dan bakat, Nak. Butuh keselarasan, visi yang sama, latar belakang yang kompatibel. Apa yang bisa dia tawarkan untuk masa depanmu?"
"Kebahagiaan, Ayah. Itu yang dia tawarkan. Dan dukungan untuk mimpiku, bukan hanya untuk melanjutkan bisnis keluarga." Kirana matanya berkaca-kaca. "
Ayah selalu mengajarkanku untuk berjuang untuk apa yang kuinginkan. Nah, aku sedang berjuang untuknya."
Di seberang telepon, Pak Hendrawan terdiam lama. Suaranya akhirnya terdengar, lebih lembut namun penuh kekhawatiran.
"Kirana… kau tahu betapa mudahnya kau disakiti. Dunia kita keras. Dan dunia dia… sangat berbeda. Ayah hanya tidak ingin kau terluka."
"Aku sudah siap terluka, Ayah. Lebih baik terluka karena berjuang untuk sesuatu yang nyata, daripada aman namun kosong di dalam." Jawab Kirana dengan keyakinan yang membuat ayahnya terhenyak.
"Baiklah," ucap Pak Hendrawan akhirnya. "Ayah tidak akan melarangmu. Tapi tolong, jangan lupakan tanggung jawabmu. Dan… izinkan ayah untuk bertemu dengannya suatu saat nanti. Untuk melihat sendiri pria yang bisa membuat putri satu-satunya ayah bersikap seperti ini."
Kirana terkejut. Ini lebih dari yang ia harapkan.
"Benarkah, Ayah? Kau tidak marah?"
"Marah? Sedikit kecewa kau membatalkan janji. Tapi bangga melihatmu punya keyakinan seperti ini. Hati-hati, Nak. Dan… jangan lupa malam Minggu depan, makan malam dengan keluarga. Jangan batal lagi."
"Tidak akan, Ayah! Janji! Terima kasih!" Kirana hampir menangis lega.
Setelah telepon berakhir, dia meneguk
wine-nya, perasaan campur aduk. Lega karena ayahnya tidak marah. Bahagia karena diizinkan untuk terus berjuang. Tapi juga sedih, karena perjuangannya itu ditujukan pada seseorang yang hatinya sudah memiliki penghuni lain.
---
Gazebo Kampus, Pukul 12.15, Dua Hari Kemudian
Ferdy sedang makan siang dengan Reza, Siska, dan Bowo. Mereka membahas detail acara setelah wisuda: di mana foto bersama, siapa yang bawa kamera, rencana keliling kampus.
"Gue liat Kirana kemarin di bagian administrasi fakultas, lagi nanyain sesuatu ke staff," celetuk Siska.
"Kayaknya masih urusin sesuatu buat lo, Fer."
Ferdy mengeluh. "Gue udah bilang ke dia buat berhenti."
"Tapi menurut gue sih, itu manis banget," kata Reza. "Cewek secantik, sekaya, dan sibuk itu, rela ngelepas waktu buat ngurusin hal-hal receh kayak pastiin dokumen lo lengkap atau cari fotografer. Itu namanya dedication level dewa."
"Gue juga salut," timpal Bowo.
"Dia nggak pake gaya. Nggak pamer. Bener-bener turun tangan. Lo liat aja, dia bisa aja nyuruh asisten atau apa. Tapi dia lakukan sendiri."
Ferdy mendengarkan, merasa semakin berat. Dia tahu semua itu benar. Kirana tidak sedang bermain game atau mencoba membeli perasaannya dengan kekayaan. Dia tulus. Dan ketulusan itu justru yang membuat segalanya lebih sulit.
"Tapi loe tetep nggak goyah?" tanya Siska, penasaran.
Ferdy menatap nasi di piringnya. "Gue nggak bisa bohong, dia bikin gue… tersentuh. Dan bikin gue ngerasa bersalah. Tapi…" dia menatap teman-temannya, "tapi perasaan gw sudah terisi. Itu seperti… panggilan jiwa. Nggak bisa dilawan dengan logika atau rasa terima kasih."
Mereka mengangguk, mengerti, meski tak sepenuhnya bisa membayangkan.
"Ngomong-ngomong, gue denger dari temen FEB, ayah Kirana itu orangnya super ketat dan protective banget," kata Reza.
"Tapi kayaknya Kirana masih bisa jalanin ini semua, jadi mungkin ayahnya udah tau dan… nggak ngalangin?"
Itu informasi baru bagi Ferdy. Jika ayah Kirana sudah tahu dan membiarkan… artinya Kirana benar-benar serius, dan keluarganya (setidaknya untuk sementara) menghormati pilihannya. Tekanan itu bertambah.
"Apapun itu," kata Ferdy akhirnya, "gue cuma bisa bersikap jujur dan baik ke dia. Selebihnya… biar waktu yang menentukan."
---
Kantor Ayah Kirana, Gedung Thamrin Nine, Pukul 16.00
Di lantai paling atas gedung pencakar langit, di sebuah ruang kerja yang luas dengan pemandangan kota Jakarta 360 derajat, Pak Hendrawan duduk di belakang meja kerjanya yang besar dari kayu jati. Di depannya, di layar komputer, terbuka file profil sederhana yang dikumpulkan oleh asistennya.
FERDY WICAKSONO.
Lahir di Banyuwangi, 23 tahun. Anak petani. Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UI, jurusan Fotografi. IPK cumlaude. Freelance photographer. Baru saja lulus skripsi dengan nilai A-minus.
Terlibat dalam project seni yang dipamerkan di Galeri Nasional. Tidak ada catatan kriminal. Tidak punya hubungan dengan dunia bisnis atau politik. Hidup sederhana, tinggal di kosan di Lenteng Agung.
Tidak ada yang istimewa di atas kertas. Tapi Pak Hendrawan bukanlah orang yang hanya menilai dari kertas. Dia meminta asistennya untuk mencari foto-foto karya Ferdy.
Dan ketika ia melihat foto-foto "PAMOR" itu—gambar keris, guci retak, kain usang—sesuatu di dalam dirinya, sebagai seorang kolektor benda pusaka, tersentuh. Ada jiwa dalam foto-foto itu. Ada penghormatan pada sejarah dan keindahan yang tak kasatmata.
Lalu, ada foto Ferdy yang diambil diam-diam oleh asistennya saat Ferdy tidak sadar: sedang memegang kamera di lokasi shooting, wajahnya penuh konsentrasi dan passion. Matanya jernih. Tidak ada keserakahan atau kepalsuan di sana.
Pak Hendrawan memandangi foto itu lama. Ini adalah wajah yang sama yang membuat putrinya, yang biasanya sangat rasional dan terkendali, menjadi begitu… manusiawi.
Menjadi rela mengantri di kantor fakultas, berdebat dengan fotografer, dan bahkan membatalkan janji makan malam dengan keluarga konglomerat.
Dia menghela napas. Sebagai ayah, instingnya ingin melindungi. Tapi sebagai seseorang yang juga pernah muda dan jatuh cinta, dia memahami.
Kirana tidak sedang tertarik pada harta atau status. Dia tertarik pada cahaya yang dilihatnya dalam diri pria muda ini. Dan cahaya itu, menurut Pak Hendrawan yang diihat dari fotonya, memang ada.
Dia menutup file-nya. Dia tidak akan mengintervensi. Untuk sekarang. Tapi dia akan mengawasi. Dan seperti yang dia janjikan pada Kirana, dia ingin bertemu dengan Ferdy Wicaksono suatu hari nanti.
Bukan untuk menginterogasi, tetapi untuk melihat dengan mata kepala sendiri, untuk merasakan aura pria yang bisa membuat putrinya—sang Putri Hendrawan yang sempurna—menjadi rela berjuang dengan cara yang begitu sederhana dan tulus.
Persiapan wisuda Ferdy pun berjalan, diwarnai oleh perhatian diam-diam seorang wanita yang tak kenal lelah, dukungan teman-teman yang setia, pengawasan seorang ayah yang khawatir, dan kehadiran tak kasatmata seorang penunggu yang dengan sabar menunggu hari di mana semua rahasia mungkin akan mulai terungkap, dimulai dari sebuah pulau bernama Bali.