Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Masker
Saat malam semakin larut, ternyata Nia masih juga belum bisa tidur.
Sepanjang malam gadis itu terjaga tanpa rasa kantuk sedikitpun.
Perutaya mulai terasa pedih dan keroncongan, tapi ia tak punya selera untuk makan. Kondisi tubuhuya juga perlahan semakin melemah.
Ada banyak sekali hal yang mengganggu pikirannya, tentang bagaimana caranya ia bisa keluar dari tempat itu dan kembali pulang bertemu dengan bibi Maya dan kekasihnya.
Sejak tadi Nia juga terus berpikir tentang apa yang sebenarnya teriadi. Kenapa para mafia itu tiba-tiba membawanya..??
Apakah benar yang dikatakan oleh bos mafia itu kalau Alex sengaja menyerahkannya sebagai tawanan…??
Tapi lagi-lagi Nia segera menepis pikiran buruknya.
Alex tidak mungkin tega berbuat seperti itu padanya, sedangkan Nia sendiri tahu bagaimana sikap Alex yang begitu baik selama ini.
Dia yakin para mafia itu adalah pelaku utamanya. Entah apa hubungannya dengan Alex, namun yang jelas mereka semua adalah orang-orang jahat yang tidak punya perasaan.
Di sisi lain dia juga memikirkan tentang kuliahnya yang hampir selesai, bagaimanakah Nasib Nia selanjutnya..?? Hanya Tuhan yang tahu.
Dia pikir semua penderitaannya selama ini akan berakhir ketika menikah dengan Alex. Namun ternyata pernikahan itu sendiri yang berakhir tepat sebelum mereka mengikrarkan janji.
Tidak ada buku nikah dan tıdak ada cincin yang tersemat di jari manisnya, satu-satunya yang tersisa hanyalah gaun pengantin lusuh yang masih melekat di tubuhnya.
Rasanya kini penderitaannya benat-benar lengkap. Nia kehilangan semuanya dan harus berakhir di tempat yang begitu asing baginya.
Perlahan suara isak tangis mulai terdengar, sekuat-kuatuya Nia mencoba untuk bertahan, namun tetap saja dia adalah seorang gadis yang hatinya rapuh.
Hingga terdengar suara langkah seseorang datang ke tempat itu. Nia yang menyadarinya segera bangkit dan menghapus air matanya.
"Kau lagi...!! Mau apa kau datang kesini...??" ucapnya ketus ketika mengetahui siapa yang datang.
"Seluruh bangunan ini adalah wilayah kekuasaanku jadi aku berhak datang dan pergi kapanpun aku mau...!!" sahutnya yang seketika membuat Jenia kalah telak.
Kemudian lelaki itu membuka kerangkeng besi dan masuk sambil mendekat ke arah Nia, membuat yang didekati reflek menghindar.
“Eh apa-apaan ini ?? Mau apa kau?? lepaskan aku...!!” pekiknya saat Veron mulai berjongkok dan mencoba menyentuh kakinya.
"Jangan bergerak...!! Atau aku akan mematahkan kakimu...!!" ucapnya mengancam sambil mencengkram erat pergelangan kaki Jenia.
Mendengar kalimat itu Nia pun hanya bisa diam dan pasrah. Sejujurnya dia juga sudah tidak punya tenaga untuk melawan.
Sekujur tubuhnya terasa lemas dan sakit akibat terjatuh saat ia mencoba melarkan diri.
Nia mengepalkan tangannya ketika melihat Veron mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Dia pikir lelaki itu akan melukainya, namun ternyata itu hanyalah sebuah salep luka.
Perlahan Veron mulai mengoleskan salep di tiap-tiap bagian luka di kaki Nia dengan lembut dan hati-hati.
Tangan Nia yang tadinya mengepal serta tubuhnya yang gemetar karena ketakutan, kini menjadi sedikit lebih rileks.
Dengan jarak sedekat itu Nia bisa melihat betapa tajamnya sorot mata sang mafia.
Sesekali Nia nampak gelagapan saat pandangan mereka bertemu.
Dalam diamnya ada rasa perasaan yang selalu mengusik hatinya. Sejak awal Nia sangat penasaran tentang bagaimana sosok dibalik masker tersebut.
Tapi meskipun jarak mereka begitu dekat. Nia tidak punya keberanian sedikitpun untuk menyibak penutup wajah itu.
Apakah wajahnya dipenuhi dengan bekas sayatan seperti yang ia bayangkan...?? atau sebenarnya dia adalah lelaki tua yang sudah lanjut usia..??
Tapi dari suara dan penampilannya sepertinya dia masiih sangat muda.
Kemudian hal yang tak terduga pun terjadi, dengan sengaja pimpinan mafia itu tiba-tiba melepaskan maskernya.
Sontak momen tersebut membuat Nia kaget dan tercengang.
Entah kenapa rasanya waktu di ruangan itu berhenti sejenak ketika Veron menampakkan waiahnya.
"(Apa-apaan ini..?? Kenpa tampan sekali.?? Ternyata tebakanku salah..!!)” Jenia terus membatin melawan pikirannya sendiri.
“(Sial…!!! Kenapa jantungku berdebar…??)” batinnya sambil memegang dadanya yang masih berdegup kencang.
Bahkan saat melihat Alex saja Nia belum pernah merasakan hal itu.
Benar-benar diluar ekspektasi, wajah tampan sang mafia seolah menjadi jawaban mutlak atas segala praduga Nia yang tak berdasar.
Pelan-pelan Veron meniup luka-luka Nia yang baru saja diberinya salep supaya lekas kering dan meresap.
Secara tidak sadar Jenia terus memperhatikannya tanpa berkedip.
Hidungnya yang mancung serta kulitnya yang mulus tanpa noda sedikitpun membuat pesonanya semakin terpancar.
Reaksi Nia adalah reaksi semua orang ketika pertama kali melihat wajah Veron secara langsung.
Bahkan hingga kini siapapun yang bertemu dengannya tanpa masker pasti tetap terpesona dengan paras tampannya.
Seakan terhipnotis oleh ketampanannya, gadis itu sampai lupa kalau Veron adalah penjahat yang sudah menghancurkan pesta pernikahannya dengan Alex.
Seketika Jenia menggelengkan kepala berusaha menyadarkan diri agar jangan mudah terlena dengan apapun.
"(Sadarlah Nia, sadarlah...!! Apa yang kau pikirkan...?? Bukankah seharusnya ini kesempatanmu untuk menampar dan menjambak rambutnya..??)"
"(Ingatlah Nia...!! Dia adalah iblis yang telah menyeretmu masuk ke dalam neraka...!!)”
"Sebaiknya cepat habiskan makananmu atau aku yang akan menghabisimu..!!" ucap Veron membuat Nia tersentak dari lamunannya.
Gadis itu melirik kesal saat mendengar ucapan sang mafia.
Percuma saia punya wajah tampan kalau tidak punya hati, bahkan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya hanyalah sebuah ancaman, ucap Nia membatin.
"Tidak akan...!! Aku tidak akan makan sebelum aku bertemu dengan Alex...!!" sahutnya masih bersikeras.
"Kenapa kau sangat ingin bertemu dengan Alex...??" Tanya Veron penasaran.
"Tentu saja karena dia kekasihku dan aku ingin memastikan kalau dia masih hidup...!!"
“Baiklah, kalau kau sangat ingin bertemu dengan Alex besok aku akan mengabulkannya..."
"Benarkah.…..??" Nia tersenyum senang dengan mata yang berbinar.
"Hmm... benar, tapi ada syaratnya..." ucap Veron tersenyum licik, membuat ekspresi Nia yang tadinya tersenyum berubah seketika.
Dia sudah menduga ini akan terjadi, tidak mungkin iblis berwajah tampan di hadapannya itu mendadak baik tanpa sebab.
"Kalau begitu apa syaratnya...??"
"Syaratnya gampang, mulai sekarang dan seterusnya kau harus jadi penurut dan bersikap baik padaku..." tukas lelaki itu tersenyum sambil menatap Jenia dengan jarak yang sangat dekat, membuat Nia gelagapan mundur beberapa senti.
"Cih, kenapa aku harus bersikap baik pada orang yang sudah menghancurkan pernikahanku....!!" Sahutuya dengan nada ketus.
"Baiklal kalau begitu tidak usah bertemu Alex..."
"Eeeehhhh tunggu dulu....!!" ucapnya mencengkram tangan Veron yang baru ingin beranjak pergi.
"Apa lagi....??"
"Ehem, tadi aku hanya bercanda... mulai sekarang aku akan bersikap baik padamu..."
ucap Nia dengan senyum yang tertekan.
Mendengar itu Veron pun manggut-manggut dan tersenyum puas.
"Kalau begitu sebaiknya sekarang kau babiskan makananmu dan jangan lupa ganti juga pakaianmu, karena besok aku akan membawamu pada Alex..." bisiknya sambil meletakkan salep luka di telapak tangan Jenia.
Tanpa pikir panjang, gadis itu mengangguk paham. Akhirnya malam itu Nia mau menghabiskan makanannya.
Saking senangnya dia bahkan tidak bisa tidur karena akan bertemu dengan kekasihnya.
Karena ada banyak sekali hal yang ingin dia bicarakan berdua. Tentang kenapa dirinya bisa Nia bisa ada disitu dan apa sebenarnya hubungan Alex dengan orang-orang itu.
Nia juga berharap agar Alex segera membantunya supaya terbebas dari para mafia tersebut.
Bagaimanapun juga Nia ingin kehidupannya kembali normal seperti sedia kala.
"Tapi kenapa perasaanku jadi tidak enak ya..??"
"Dia tidak sedang membohongiku kan...??" gumamnya mulai ragu.
Namun gadis itu sempat tersenyum saat menatap luka-lukanya yang baru saja di obati oleh sang mafia.
“Ada apa denganmu Nia…??!!” ucapnya sembari menampar pelan pipinya sendiri.
Senyum karena terlalu senang akan bertemu Alex, atau senyum karena hal yang lain…?? Entahlah, bahkan Nia sendiri tidak memahami isi hatinya.
Sementara Veron yang baru saja keluar dari tempat itu juga tersenyum menahan tawa.
"(Selamat datang di permainanku Nia, sesungguhnya ini baru permulaan...)"
…………………………………………………………………………………
Ilustrasi Veron sang mafia