NovelToon NovelToon
Wanita Kesayangan Pilot Angkuh

Wanita Kesayangan Pilot Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elzaluza2549

Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.

Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan

Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.

Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbawa Suasana

Wangi aroma maskulin tercium pada saat kedua kaki Aluza mulai menginjak lantai apartemen Milik Bara.“Kamu bisa tinggal di apartemen ku sesuka hati secara gratis tidak perlu membayar"Ucap Bara seraya menyalahkan lampu di penjuru ruang apartemennya.

Aluza mengangkat pandangannya dari lantai marmer yang mengkilap, matanya berkeliling menyaksikan setiap sudut ruangan yang dihiasi dengan furnitur bergaya modern minimalis bernuansa hangat. "Tapi aku rasa ini terlihat berlebihan dan aku tidak bisa begitu saja menerima bantuan semacam ini," ujarnya dengan nada ragu, meskipun hati sudah terpukau dengan pemandangan di depannya.

Bara menghela napas perlahan, tangannya masih berada di sakelar lampu yang baru saja dia nyalakan lebih terang. "Kamu pernah menolong aku Aluza dan Sekarang giliran aku yang membantu kamu," jawabnya dengan tatapan yang tegas penuh perhatian. Dia kemudian berjalan menuju lemari es yang berdiri gagah di sudut dapur terbuka, "Mau Minum apa? Aku punya jus jeruk, lemon atau teh hangat kalau kamu mau."

Aluza masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi. Kontrakannya memang kecil, sumpek, dan mudah di jangkau oleh banjir. Tapi menerima tempat tinggal mewah secara cuma-cuma rasanya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. "Kalau kamu mau aku bisa membantu merawat apartemen ini atau melakukan pekerjaan rumah tangga sebagai balasannya," Kata Aluza sambil menatap Bara yang sedang menuangkan jus ke dalam gelas.

Bara menoleh dan memberikan gelas jus jeruk padanya dengan senyuman tipis. "Ini minum dulu"

Aluza terfokus pada gelas jus oranye yang cerah di tangan Bara, namun ekspresinya menunjukkan keraguan yang jelas.

“Apa kamu pikir aku meletakkan sesuatu di minuman ini?"tanya Bara sambil mengangkat satu alisnya.“Tenang aku tidak sejahat itu melakukan kesempatan dalam kesempitan.Bara meletakkan kembali jus jeruk yang hendak ia berikan tadi kepada Aluza keatas meja.“Kalau kamu ingin di dalam kulkas itu masih banyak minuman yang masih bersegel jadi kamu tidak perlu khawatir.

Aluza hanya mengangguk ia merasa tak enak hati pada Bara."Kamu bilang kan ini apartemen kamu, terus kenapa kamu menyuruh ku untuk tinggal di sini."

“Kamu tidak perlu khawatir, sebenarnya aku punya 4 apartemen dan ini salah satunya."Ucap Bara terus melangkah mendekati sebuah pintu yang di perkirakan itu adalah sebuah kamar.

Aluza mengikuti langkah Bara dengan langkah kecil, matanya kembali mengamati setiap sudut apartemen yang semakin membuatnya terpesona.

Bara membuka pintu kamar dan menoleh dengan senyuman ringan. "Ini kamar, dekorasi di dalamnya memang sangat cocok untuk seorang wanita jadi kamu bisa tinggal di sini sepuasnya"

Aluza melangkah masuk perlahan, jemarinya secara tidak sengaja menyentuh kain tirai yang lembut di sisi jendela. Matanya berkeliling menyaksikan setiap detail kamar dari bantal-bantal yang tersusun rapi hingga lukisan yang menghiasi dinding, semuanya benar-benar sesuai dengan selera seorang wanita.

"Wah bahkan warna cat dindingnya saja sudah membuat hati jadi tenang," ucapnya dengan suara penuh kagum, kemudian duduk perlahan di ujung ranjang yang terasa sangat empuk.

"Aku tidak menyangka kamu bisa menyusun kamar dengan begitu rinci, Bara," lanjutnya sambil melihat ke arah pria itu yang masih berdiri di pintu. "Aku tahu kamu bilang tidak perlu apa-apa sebagai balasan, tapi rasanya aku tidak bisa tinggal di sini dengan begitu saja. Bolehkah aku setidaknya membantu membersihkan apartemen ini secara berkala?"

Bara hanya mengangguk dengan senyuman yang semakin lebar ia duduk tepat di samping Aluza. "Jika itu membuatmu merasa lebih nyaman, ya silakan saja.Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri ya."

Aluza terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada wajah Bara yang sedang tersenyum lembut. Ada kesamaan yang tidak bisa dia sangka,cara Bara duduk dengan tenang hingga nada suaranya yang penuh perhatian, semuanya begitu mengingatkannya pada mendiang Ivan.

"Ivan juga selalu bilang seperti itu padaku," ujarnya pelan, melalui suara hati Dia perlahan menjauhkan pandangannya, menatap lantai kayu yang halus di bawah kakinya. "Dia juga selalu peduli dan tidak pernah mau aku terlalu memaksakan diri."

Seketika Bara menghentikan senyumannya, ia kembali menatap Aluza yang mulai berkaca-kaca.“kamu nangis?"Tanya Bara dengan nada lembut.

“Ah tidak, aku tidak menangis Bar, hanya saja aku tersentuh dengan kamu yang tiba-tiba baik dan itu mengingatkan aku dengan...

“Mengingatkan kamu dengan mendiang Ivan yang wajahnya sangat mirip dengan aku itu yah.."

Seketika air mata Aluza menetes dengan sendirinya.“Maaf aku tidak bermaksud menyamai dirimu dengan Ivan.."Kata Aluza secara tak langsung membuang wajahnya ke arah lain.

Bara menghela napas lembut, lalu perlahan menjulurkan tangannya untuk menyeka air mata di pipi Aluza dengan lembut. "Tidak perlu maaf, Aluza," ucapnya dengan nada hangat. "Aku paham sepenuhnya kamu tidak sengaja membandingkan kita. Kesamaan itu memang ada, dan itu bukan hal yang salah jadi aku minta maaf yah jika pada waktu itu aku menyakiti hati mu"

Aluza dengan mata yang masih berkaca memandangi Wajah Bara yang terlihat begitu dekat dekatnya.Bagitu dengan Bara yang saat ini terpaku pada wajah cantik alami yang di miliki oleh Aluza.

Aluza mengangguk perlahan, jemarinya secara tidak sengaja menyentuh tangan Bara yang ada di sisi wajah nya. Rasa hangat dari kulitnya membuat hatinya berdebar kencang. "Kamu benar-benar sangat mirip dengannya, tapi juga berbeda," katanya dengan nada yang lembut. "Ada sesuatu di dirimu yang membuatku merasa aman, tapi bukan karena kamu adalah Ivan."

Kedua orang itu terdiam dalam keheningan yang panjang, hanya suara napas mereka yang terdengar jelas di kamar yang tenang. Jarak antara mereka semakin menyempit tanpa mereka sadari, pandangan mata tak bisa terpisahkan.

Tanpa sadar, Bara menggerakkan wajahnya semakin dekat ke arah Aluza. Jeda waktu seolah berhenti saat bibir mereka hampir bersentuhan, dengan napas saling berpadu .Aluza tidak menjauh, malahan menutup mata perlahan, tangan yang terpegang semakin erat menggenggam jari Bara.

Bibir mereka bertemu saling bertautan dengan lembut, kemudian perlahan menjadi lebih dalam dan menuntut.Cahaya lampu yang redup menerangi ruangan dengan kehangatan yang membuat waktu seolah berhenti.

1
merry
knp Kelakuan diva blm kebongkr yg suka tdr dgn om om buat dptin uang hrs mm bara harus tau Kelakuan diva
Siti Naimah
aluza...baru pertama masuk kerja sudah terlambat.jangan jadikan jalanan macet jadi alasan ya...makanya untuk antisipasi berangkat nya lebih awal..
anggita
mampir ng👍like sana iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Elzaluza2549: terima kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!