Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pelarian Sang Inang
Maya meringkuk di pojok ruangan yang gelap. Napasnya pendek-pendek, sementara tangannya gemetar menatap benda kecil yang keluar dari dagingnya sendiri. Kartu memori itu berdenyut, ritmenya selaras dengan detak jantungnya. Ini bukan lagi soal aplikasi di ponsel; @anatomi_maut telah berevolusi menjadi parasit biologis.
Bab 30: Pelarian Sang Inang
Suara sirine polisi meraung-raung di bawah gedung apartemen. Lampu sorot dari helikopter kepolisian menyapu jendela kamar Maya, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding. Melalui pengeras suara, sebuah perintah tegas terdengar:
"Maya Dirgantara! Keluar dengan tangan di atas! Anda ditahan atas tuduhan terorisme siber dan penghasutan massal yang menyebabkan kematian warga sipil!"
Maya tertawa getir. Teroris siber? Mereka tidak tahu bahwa dia hanyalah sebuah disket berjalan bagi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Ia menyambar jaket hoodie hitam untuk menutupi luka di tangannya yang masih mengeluarkan rembesan darah kebiruan—darah yang tercampur dengan residu data digital. Ia harus pergi. Jika polisi menangkapnya dan menghubungkannya ke sistem mereka, @anatomi_maut akan melahap database kepolisian dalam hitungan detik.
Maya keluar lewat pintu belakang, menuruni tangga darurat yang gelap. Namun, saat ia sampai di lantai 5, ia berhenti. Ponsel di saku semua penghuni apartemen yang ia lewati tiba-tiba menyala secara bersamaan.
Ting! Ting! Ting!
Ribuan notifikasi pecah di udara. Maya mengintip melalui celah pintu tangga darurat. Orang-orang yang tadi ketakutan, kini berdiri di koridor dengan tatapan kosong. Layar ponsel mereka menyorot ke arah tangga darurat, menampilkan koordinat GPS yang sangat presisi.
@anatomi_maut: (Melalui ribuan HP penonton) Hadiah 1 Miliar bagi siapa saja yang bisa menangkap Maya hidup-hidup. Jangan biarkan Inang-ku pergi.
"Sial!" umpat Maya.
Pintu tangga darurat di depannya didobrak. Dua orang pria bertubuh besar—mungkin satpam apartemen—menatapnya dengan mata yang haus akan uang. Mereka tidak lagi terlihat seperti manusia, melainkan seperti zombie yang dikendalikan oleh algoritma keserakahan.
"Maya, jangan lari! Lo itu duit buat kami!" teriak salah satunya sambil mengayunkan tongkat besi.
Maya menghindar, ia menendang tumpukan sampah di dekatnya dan berlari naik kembali ke lantai atas. Ia tahu jalan keluar utama sudah terkunci. Satu-satunya cara adalah melompat ke gedung sebelah yang jaraknya hanya tiga meter dari balkon lantai 7.
Saat ia berlari, kartu memori di telapak tangannya memanas. Rasa panas itu menjalar ke saraf optiknya. Tiba-tiba, pandangan Maya berubah. Ia bisa melihat dunia dalam bentuk barisan kode hexadecimal. Ia bisa melihat transmisi sinyal Wi-Fi di udara seperti benang-benang bercahaya.
Aku bisa merasakannya... pikir Maya ngeri. Aku bisa memutus sinyal mereka.
Maya memusatkan pikirannya pada HP yang dibawa oleh kedua pengejarnya. Ia membayangkan aliran datanya tersumbat.
Bzzzzt!
Kedua ponsel satpam itu mendadak meledak di tangan mereka. Jeritan kesakitan bergema di lorong. Maya tidak berhenti. Ia sampai di balkon lantai 7, memanjat pagar, dan tanpa berpikir panjang, ia melompat.
Bruakk!
Ia mendarat di atap gedung parkir yang lebih rendah. Rasa sakit menusuk pergelangan kakinya, tapi ia terus merangkak dan berdiri. Di bawah sana, Jakarta sudah seperti medan perang. Orang-orang saling rampas ponsel, saling serang demi mengikuti instruksi @anatomi_maut.
Maya berhasil mencapai mobil jurnalis lamanya yang terparkir di gang sempit. Ia masuk, menghidupkan mesin, dan menginjak gas sedalam-dalamnya.
Di dashboard mobilnya, layar radio digital mendadak menyala. Tidak ada musik, hanya visualisasi gelombang suara yang membentuk wajah Rara—korban pertama yang sudah hancur itu.
"Maya..." suara Rara terdengar statis, "Dingin di sini... di dalam server... Kamu harus segera Live, Maya. Penonton sudah lapar. Jam 12 nanti, kita akan bedah kota ini bersama-sama."
Maya memukul layar radio itu hingga retak. "Nggak akan. Gue bakal cari cara buat hapus lo, meskipun gue harus hapus diri gue sendiri."
Maya melaju menuju pinggiran kota, menuju sebuah gudang tua milik seorang kawan lama—seorang ahli perangkat keras yang hidup terasing dari internet. Ia berharap, di tempat tanpa sinyal itu, ia bisa membedah tangan hatinya dan mengeluarkan parasit itu sebelum jam dua belas malam tiba.
Namun, Maya tidak menyadari, di setiap CCTV jalanan yang ia lewati, lensa kamera itu berputar mengikutinya. @anatomi_maut sedang menonton pelariannya, seperti seorang penonton yang sedang menikmati drama thriller terbaik di ponselnya.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan