Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Pagi Yang Terlambat
Cahaya matahari menembus celah tirai suite mewah itu.
Arka terbangun dengan kepala berat dan tenggorokan kering. Ia mengerjap pelan, mencoba mengingat kenapa tubuhnya terasa lelah seperti baru saja melewati pertarungan panjang.
Lalu ia sadar.
Ia telanjang.
Arka langsung duduk. Nafasnya memburu saat ingatan semalam menyerbu perlahan—minuman, rasa panas yang tidak wajar, kemarahan, dan… seorang perempuan.
Ia menoleh ke samping.
Kosong.
Ranjang berantakan. Seprai kusut. Dan di atas kain putih mahal itu, ada noda kecil berwarna gelap yang membuat dadanya seperti dihantam sesuatu yang keras.
Arka membeku.
“Sial…”
Tangannya mengepal. Ia mengacak rambutnya kasar. Ia mengingat tarikan paksa di depan pintu. Ingat wajah ketakutan perempuan itu. Ingat bagaimana ia hampir kehilangan kendali sepenuhnya.
Ia turun dari ranjang, berjalan tanpa suara ke kamar mandi, lalu menatap bayangannya sendiri di cermin.
“Apa yang sudah kamu lakukan…” gumamnya pelan.
Ia bukan pria yang kehilangan kontrol. Tidak pernah. Dalam bisnis, dalam hidup, ia selalu memegang kendali. Tapi semalam…
Ia memukul wastafel pelan, menahan amarah pada dirinya sendiri.
Ia tidak tahu nama perempuan itu.
Tidak tahu siapa dia.
Yang ia tahu hanya satu—dia bukan bagian dari jebakan yang disiapkan untuknya.
Arka keluar dari kamar mandi dan melihat sesuatu di dekat meja kerja. Sebuah kartu kecil terjatuh di lantai.
Kartu staf hotel.
Ia mengambilnya.
Tulisan kecil di sudut bawah membuat dadanya terasa sesak.
Aluna.
Nama itu sederhana. Tapi terasa berat di lidahnya saat ia membacanya pelan.
“Aluna…”
Ia menutup mata sejenak.
Ia ingat suaranya yang gemetar tapi tegas.
“Satu sentuhan lagi tanpa izin, saya pergi.”
Ia ingat tatapan marah bercampur takut.
Dan ia ingat kalimat terakhir mereka sebelum semuanya melebur dalam kesalahan.
Ini salah.
Iya. Tapi kita sudah terlalu jauh.
Arka menghembuskan napas panjang.
Ia tidak tahu apakah perempuan itu pergi karena takut. Atau karena menyesal. Atau karena membencinya.
Yang jelas, ia sudah melewati batas yang tidak pernah ingin ia lewati.
Ponselnya berdering tiba-tiba. Nama asistennya muncul di layar.
“Pak Arka, Anda baik-baik saja? Kami sudah mengamankan CCTV. Ada bukti seseorang masuk ke minibar Anda sebelum Anda kembali ke kamar.”
Arka memejamkan mata.
“Tangani,” jawabnya dingin. “Dan cari tahu siapa yang bertanggung jawab.”
“Baik, Pak.”
Telepon ditutup.
Arka kembali melihat kartu kecil di tangannya.
Aluna.
Ia tidak tahu kenapa namanya terus terngiang.
Mungkin karena noda di seprai itu bukan hanya tanda fisik.
Itu tanda bahwa semalam bukan sekadar kesalahan bisnis.
Itu kesalahan pribadi.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Arka tidak yakin ia bisa menghapusnya dengan uang, kekuasaan, atau kekuatan.
Ia berdiri di tengah kamar yang kini terasa terlalu sunyi.
---
Arka masih berdiri di tengah kamar itu lebih lama dari yang ia sadari.
Biasanya, setelah bangun di hotel, ia langsung bergerak cepat. Mandi. Pakai jas. Rapat. Semua terstruktur. Semua terkontrol.
Tapi pagi ini berbeda.
Seprai kusut itu seperti menahannya di tempat.
Ia berjalan kembali ke ranjang, menatap noda kecil yang tak bisa ia abaikan. Tangannya terulur, hampir menyentuh kain itu, tapi ia menghentikan diri. Entah kenapa, ada rasa tak pantas.
Ia mengingat detail kecil yang semalam nyaris tak ia perhatikan—perempuan itu gemetar, tapi bukan pasrah. Ada perlawanan di caranya menahan napas. Ada harga diri dalam caranya menatapnya meski takut.
Bukan perempuan yang datang dengan niat menggoda.
Bukan jebakan murahan.
Arka menghembuskan napas kasar.
Ia duduk di tepi ranjang, wajahnya tertunduk. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa seperti pria yang kehilangan arah.
Bukan karena skandal. Bukan karena bisnis.
Karena seseorang yang bahkan tak ia kenal.
Ia memutar ulang percakapan semalam dalam pikirannya.
“Ini salah,” suara Aluna masih terdengar jelas.
Dan ia menjawab, jujur, tanpa pembelaan. “Iya.”
Arka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia bisa saja menganggap ini sekadar kecelakaan. Kesalahan satu malam. Banyak pria seusianya akan melakukannya. Melupakan. Menghapus. Menganggapnya tidak berarti.
Tapi entah kenapa, ia tidak bisa.
Ada sesuatu dalam cara Aluna menatapnya sebelum pergi. Bukan kebencian. Bukan juga ketergantungan.
Tapi kekecewaan.
Dan itu jauh lebih sulit ditanggung.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan masuk dari asistennya, Dimas.
“Pak, kami menemukan bukti ada campuran zat di minuman Anda. Dugaan sabotase dari pihak pesaing.”
Arka membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Jadi memang bukan hanya alkohol.
Ia sudah curiga. Tubuhnya semalam terasa panas tidak wajar. Emosinya melonjak cepat. Ia seperti kehilangan setengah kendali.
Tapi itu bukan alasan.
Ia tetap bertanggung jawab.
Arka berdiri, berjalan ke meja kerja. Ia membuka laptop dan mengakses sistem internal hotel melalui koneksi pribadinya. Data tamu dan staf malam itu muncul.
Tangannya berhenti di satu nama.
Aluna Pradipta.
Status: staf pengganti. Shift dadakan.
Ia mengernyit.
Pengganti?
Artinya… dia bahkan tidak seharusnya berada di sana.
Arka bersandar di kursinya, menatap layar dengan rahang mengeras.
Perempuan itu tidak masuk dalam rencana siapa pun.
Ia hanya salah tempat di waktu yang salah.
Dan ia—Arka Mahendra—yang membuat semuanya menjadi jauh lebih buruk.
Ia menutup laptop pelan.
Untuk pertama kalinya, rasa ingin tahunya bukan tentang strategi atau keuntungan.
Ia ingin tahu apakah perempuan itu baik-baik saja.
Apakah ia menangis setelah pergi.
Apakah ia membencinya.
Atau lebih parah… apakah ia merasa dirinya kotor karena kejadian itu.
Pikiran terakhir itu membuat dadanya terasa sesak.
Arka bangkit dan mulai berpakaian. Gerakannya lebih lambat dari biasanya. Setiap kancing jas yang ia pasang terasa seperti pengingat bahwa ia adalah pria dengan kuasa—dan semalam, kuasa itu hampir menghancurkan seseorang.
Ia mengambil kartu staf yang tadi ditemukannya dan memasukkannya ke dalam dompet.
Bukan sebagai trofi.
Sebagai pengingat.
Ia menekan nomor asistennya.
“Dimas.”
“Ya, Pak.”
“Cari alamat lengkap Aluna Pradipta. Jangan buat masalah. Jangan beri tekanan.”
“Baik, Pak. Untuk apa?”
Arka terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Aku ingin memastikan dia baik-baik saja.”
Di seberang sana, Dimas jelas terkejut, tapi ia tidak bertanya lebih jauh.
Telepon ditutup.
Arka menatap kembali kamar itu untuk terakhir kali sebelum keluar.
Pagi itu, ia meninggalkan suite mewah dengan satu kesadaran baru—
Kesalahan semalam bukan hanya tentang tubuh.
Tapi tentang hati yang mungkin tanpa sadar sudah mulai terikat pada seseorang yang bahkan belum sempat ia kenal dengan benar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Arka takut bukan pada musuh bisnis.
Tapi pada kemungkinan bahwa perempuan bernama Aluna itu tidak akan pernah mau menatapnya lagi.