Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Yang Bahagia
Pagi di London menyambut dengan semburat emas yang menembus celah gorden kamar 402. Dunia di luar sana mungkin sedang kacau balau, bursa saham Italia terguncang, Interpol sibuk melakukan konferensi pers, dan jutaan pasang mata di seluruh dunia masih terpaku pada layar ponsel mereka, menatap unggahan dari akun Atlas Theodore. Namun, di dalam ruangan ini, waktu seakan melambat, memberikan ruang bagi sisa-sisa aroma cinta yang semalam meledak tanpa ampun.
Atlas terbangun lebih dulu. Ia tidak segera bangkit, melainkan hanya berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memandangi dua harta karunnya yang tertidur lelap.
Kaylee, istrinya, meringkuk di bawah dekapan lengannya dengan napas yang teratur, wajahnya tampak begitu damai seolah beban seberat gunung telah diangkat dari bahunya.
Di sisi lain, Niel, putra kecilnya, tidur dengan posisi menungging yang lucu, sebuah kebiasaan yang baru Atlas ketahui pagi ini.
"Kamu nyata," bisik Atlas pelan, suaranya parau namun penuh pemujaan. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Kaylee dengan ibu jarinya. "Aku bukan lagi tawanan, dan kamu bukan lagi penanti yang kesepian."
Kaylee mengerang kecil, perlahan membuka matanya. Begitu iris matanya bertemu dengan tatapan tajam namun hangat milik Atlas, senyum tulus langsung merekah di bibirnya. Ia meraba dada bidang Atlas, merasakan detak jantung pria itu yang kuat di bawah telapak tangannya.
"Ini bukan mimpi, kan, At?" tanya Kaylee, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur.
"Bukan, Ay. Ini akhir dari semua akting memuakkan itu," jawab Atlas. Ia menarik Kaylee ke dalam pelukan yang lebih erat, menciumi keningnya lama sekali. "Hari ini kita pulang. Ke Helsinki. Ke rumah kita yang sebenarnya."
Perjalanan menuju bandara dilakukan dengan pengawalan ketat yang disiapkan oleh otoritas Inggris untuk menjamin keselamatan saksi kunci runtuhnya Valerius.
Niel duduk di pangkuan Atlas di dalam mobil, menatap gedung-gedung London yang berlalu cepat. Anak itu tampak sangat bahagia; meski baru mengenal ayahnya secara fisik dalam beberapa jam, ikatan darah tak bisa berbohong. Niel terus memegang jari kelingking Atlas seolah takut ayahnya akan menghilang lagi.
Sesampainya di bandara jet pribadi, pemandangan mengejutkan menyambut mereka. Meski Atlas mencoba merahasiakan kepulangannya, ribuan wartawan sudah berkumpul di balik pagar pembatas.
Namun, Atlas tidak menghindar. Ia justru menggandeng tangan Kaylee dengan sangat erat di tangan kanan, dan menggendong Niel di tangan kiri.
Saat mereka menaiki tangga jet, Atlas berhenti sejenak. Ia berbalik ke arah kerumunan kamera, memberikan satu senyuman kemenangan, senyuman yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia berikan pada Bianca. Ia mencium pipi Kaylee di depan ribuan kilatan lampu flash, seolah menyatakan kepada dunia bahwa inilah ratunya yang sah.
Di dalam pesawat, suasana jauh lebih tenang. Niel tertidur karena kelelahan setelah bermain di lounge bandara. Kaylee duduk bersandar pada bahu Atlas, memandangi awan dari jendela kecil pesawat.
"At, bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Kaylee tiba-tiba.
"Mereka sudah menunggu di bandara Helsinki bersama orang tuamu, Ay," ucap Atlas sambil mengelus tangan Kaylee.
"Papa bilang dia sudah menyiapkan pesta penyambutan, tapi aku menolaknya. Aku hanya ingin makan malam sederhana di rumah bersama kalian. Hanya kita."
Kaylee mengangguk, merasa lega. "Dan... bagaimana dengan Bianca?"
Mendengar nama itu, rahang Atlas sedikit mengeras, namun ia segera merilekskan dirinya. "Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi, Kay. Semua bukti yang aku kumpulkan selama tiga tahun, pembunuhan, pencucian uang, hingga perdagangan manusia, sudah lebih dari cukup untuk memastikan dia tidak akan pernah menyentuh kita lagi. Dia mengira dia bisa memilikiku dengan paksaan, tapi dia lupa bahwa aku adalah seorang arsitek, aku tahu cara membangun fondasi yang kuat untuk kita, dan aku tahu cara meruntuhkan benteng musuhku dari dalam."
Helsinki menyambut mereka dengan salju pertama yang turun perlahan. Saat pintu pesawat terbuka, udara dingin menusuk kulit, namun kehangatan yang luar biasa menyambut mereka di bawah tangga. Orang tua Atlas dan orang tua Kaylee berdiri di sana dengan air mata yang bercucuran.
Begitu kaki Atlas menginjak landasan, Ibunya langsung menghambur memeluknya. "Anakku... maafkan Mama, maafkan kami yang membiarkanmu menderita sendirian," tangis Ibunya pecah.
Atlas membalas pelukan ibunya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya tetap menggenggam Kaylee. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ma. Semua ini kulakukan agar kita semua tetap hidup. Dan lihat, aku membawa cucu pertama kalian."
Niel, yang digendong oleh kakeknya, tertawa saat salju kecil mendarat di hidungnya. Pertemuan keluarga itu begitu emosional, sebuah penutup dari bab gelap yang berlangsung selama 1.095 hari.
Seminggu setelah kepulangan mereka, kehidupan mulai kembali normal, namun dengan warna yang jauh lebih cerah. Atlas memutuskan untuk mengambil cuti panjang dari dunia arsitektur internasional untuk fokus pada keluarganya.
Pagi itu, ia terlihat sedang berada di dapur, hanya mengenakan celana pendek, mencoba menggoreng telur untuk sarapan, sebuah pemandangan yang sangat jauh dari kesan pria mafia Italia.
Kaylee berjalan mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Atlas dari belakang. "Sudah selesai, Chef?" candanya.
Atlas membalikkan badan, memeluk Kaylee dan mengangkatnya hingga duduk di atas meja dapur. "Hampir. Tapi sepertinya Chef-nya butuh asupan energi dulu," gumamnya sebelum mencium bibir Kaylee dengan lembut dan lama.
"At, nanti ada pertemuan dengan teman-teman kantorku, termasuk Steve. Kamu benar-benar mau ikut?" tanya Kaylee saat tautan mereka terlepas.
Atlas tersenyum miring, sebuah seringai posesif yang sangat Kaylee kenali. "Tentu saja aku ikut. Aku harus memastikan teman kantormu itu melihat tanda di lehermu yang belum hilang ini, dan melihat betapa bahagianya Niel saat berada di gendongan ayahnya yang asli. Aku tidak akan membiarkan siapa pun berimajinasi tentang istriku lagi."
Kaylee tertawa pelan, memukul dada Atlas dengan gemas. "Kamu sangat kekanak-kanakan kalau sedang cemburu."
"Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku, Kaylee Theodore," bisik Atlas tepat di depan bibirnya.
Kehidupan mereka berlanjut seperti sebuah simfoni yang sempat terhenti namun kini dimainkan dengan lebih indah.
Luka-luka di punggung Atlas perlahan memudar, namun cintanya pada Kaylee justru semakin mengakar kuat. Mereka belajar bahwa cinta bukan hanya tentang janji di atas altar, tapi tentang pengorbanan di dalam kegelapan dan keberanian untuk kembali pulang.
Malam itu, mereka duduk di balkon rumah mereka di Helsinki, menatap bintang-bintang yang sama yang dulu mereka tatap dengan rasa rindu yang menyiksa. Atlas memeluk Kaylee dari belakang, sementara Niel tertidur di kamar sebelah dengan mainan baru pemberian papanya.
"Terima kasih sudah menunggu, Ay," gumam Atlas di sela napasnya yang mengenai tengkuk Kaylee.
"Terima kasih sudah berjuang untuk pulang, At," jawab Kaylee sambil menggenggam tangan Atlas yang melingkar di perutnya.
Dunia mungkin mengenal Atlas Theodore sebagai pria yang meruntuhkan kekaisaran mafia terbesar di Italia, namun bagi Kaylee, Atlas hanyalah pria yang selalu menjadi tempatnya pulang.
Dan bagi Atlas, Kaylee adalah satu-satunya koordinat yang ia tuju dalam setiap langkah hidupnya. Badai telah berlalu, luka telah mengering, dan kini yang tersisa hanyalah selamanya yang mereka bangun bersama.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear ❤