Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Labirin Rahasia
Ponsel di tangan Maya terasa seperti bongkahan es yang membekukan jemarinya. Pesan ancaman itu masih terpampang jelas di layar, setiap katanya seperti belati yang mengiris kembali luka lama yang belum sempat kering.
Aku tahu kenapa kamu pergi lima tahun lalu.
Maya mematikan layar ponselnya dengan kasar, lalu memasukkannya ke saku kulot. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Di sekelilingnya, para pekerja masih sibuk menghancurkan dinding, tapi bagi Maya, suara itu terdengar sangat jauh—seperti suara dari balik air yang dalam.
Ia kembali menatap foto photobox yang tadi ia temukan di saku jaket Arlan. Tulisan tangan Arlan di belakang foto itu terasa seperti ejekan. Jangan pernah jadi asing, ya? Kenyataannya, Arlan adalah orang pertama yang membangun tembok setinggi langit di antara mereka.
"May? Kamu oke? Muka kamu pucat banget."
Maya tersentak. Seorang mandor tua bernama Pak Jaka berdiri di depannya sambil memegang segulung kabel.
"Eh, iya Pak. Nggak apa-apa, cuma kurang tidur saja," dalih Maya sambil memaksakan sebuah senyum yang terasa kaku di wajahnya.
"Istirahat dulu, Mbak. Di dapur ada air hangat. Jangan dipaksa, rumah ini hawanya memang agak berat kalau buat orang baru," ujar Pak Jaka tulus.
Bukan hawanya yang berat, Pak. Tapi kenangannya, batin Maya.
Maya melangkah menuju dapur, namun langkahnya terhenti saat ia melewati lorong menuju ruang kerja Arlan yang berada di lantai satu. Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Rasa penasaran yang berbahaya tiba-tiba menyelimuti benaknya. Jika Arlan menyimpan foto lama mereka di sakunya, apa lagi yang pria itu simpan di ruangan pribadinya?
Dengan jantung yang berdegup kencang, Maya menoleh ke kanan dan kiri. Para pekerja sedang sibuk di area belakang. Dengan gerakan cepat, ia menyelinap masuk dan menutup pintu tanpa suara.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya tipis yang menembus celah ventilasi. Baunya sangat khas: kertas tua, aroma tembakau, dan parfum Arlan. Di tengah ruangan, sebuah meja jati besar berdiri kokoh. Di atasnya, tumpukan berkas tersusun rapi, namun perhatian Maya teralih pada sebuah kotak kayu kecil yang tergeletak di pojok meja—kotak yang sangat ia kenali.
Itu kotak perhiasan ibunya yang dulu terpaksa ia gadaikan untuk membayar utang rumah sakit.
"Nggak mungkin..." bisik Maya. Suaranya bergetar.
Ia menyentuh permukaan kotak itu. Dingin. Bagaimana bisa kotak ini ada di tangan Arlan? Bukankah ia menggadaikannya di rentenir yang berbeda kota dengan Arlan? Ini berarti... Arlan sudah mencari tahu tentang masalahnya sejak lama? Atau justru Arlan yang selama ini menebus beban keluarganya tanpa sepengetahuannya?
Tiba-tiba, gagang pintu bergerak.
Ceklek.
Maya membeku. Ia tidak punya waktu untuk bersembunyi. Pintu terbuka lebar, dan sosok tinggi Arlan berdiri di sana. Cahaya dari luar membuat bayangannya memanjang ke arah Maya, tampak seperti raksasa yang siap menelan apa pun di depannya.
Arlan terdiam di ambang pintu. Matanya menatap tajam ke arah tangan Maya yang masih menyentuh kotak kayu itu. Suasana mendadak menjadi sangat dingin, seolah AC di ruangan itu baru saja diturunkan suhunya hingga titik beku.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Maya?" tanya Arlan. Suaranya tenang, tapi ada kemarahan yang tertahan di setiap suku katanya.
Maya menarik tangannya seolah kotak itu baru saja menyetrumnya. "Aku... aku cuma mau mencari pulpenku yang tertinggal."
"Bohong," Arlan masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan dentuman keras. Ia berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya di lantai kayu terdengar seperti hitungan mundur ledakan. "Kamu nggak pernah bisa berbohong dengan benar, May. Matamu selalu bergerak liar kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu."
Arlan berhenti tepat di depan Maya. Dia menatap kotak kayu itu, lalu kembali menatap Maya. "Kamu kaget melihat itu di sini?"
"Dari mana kamu dapat itu, Lan? Itu milik ibuku."
"Aku membelinya dari tempat loak di pinggiran kota setahun setelah kamu pergi," Arlan tertawa pahit. "Aku menghabiskan waktu berbulan-bulan mencari tahu ke mana semua barang-barangmu pergi, hanya untuk menyadari bahwa kamu lebih memilih menjual seluruh hidupmu daripada meminta bantuan padaku."
"Aku nggak mau membebani kamu, Arlan! Saat itu karirmu baru dimulai!" teriak Maya, air mata mulai menggenang.
"Membebani?" Arlan mencengkeram bahu Maya, memaksanya untuk menatap matanya yang penuh luka. "Kamu pikir dengan pergi tanpa kata itu bukan beban buatku? Kamu membiarkan aku hidup dalam tanda tanya selama lima tahun, Maya! Aku merasa seperti sampah karena nggak tahu apa salahku sampai kamu lari dariku!"
Maya terisak. "Aku harus pergi, Arlan. Orang-orang yang menagih utang ayahku... mereka bukan orang baik. Kalau aku tetap di sisimu, mereka bakal menghancurkanmu juga. Aku cuma mau kamu aman!"
Arlan tertegun. Cengkeramannya di bahu Maya perlahan mengendur. Matanya yang tadinya penuh amarah kini meredup, digantikan oleh kebingungan yang mendalam. "Kenapa kamu nggak pernah bilang, May? Kenapa kamu selalu merasa harus memikul semuanya sendiri?"
"Karena aku mencintaimu!" kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Maya.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Maya segera menutup mulutnya dengan tangan, menyesali kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Lima tahun ia berusaha mengubur perasaan itu, dan sekarang, di dalam ruangan gelap ini, ia justru menelanjanginya di depan pria yang paling ia takuti sekaligus ia rindukan.
Arlan terdiam. Nafasnya memburu. Ia menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci, rindu, dan rasa haus yang tak tertahankan.
Perlahan, Arlan mengulurkan tangannya. Kali ini tidak ada amarah dalam gerakannya. Ia membelai pipi Maya dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang jatuh. Sentuhan itu terasa sangat hangat, sangat akrab, hingga membuat seluruh pertahanan Maya runtuh.
"Kamu terlambat, Maya," bisik Arlan. Suaranya pecah. "Kata-kata itu seharusnya kamu ucapkan lima tahun lalu. Sekarang... semuanya sudah berantakan."
Arlan mendekatkan wajahnya. Maya bisa merasakan hembusan napas Arlan yang berbau kopi. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mati saat itu juga. Saat bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba ponsel Arlan berbunyi nyaring.
Arlan tersentak dan menjauh. Ia merogoh saku celananya dan melihat layar ponselnya. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi, lalu kembali mengeras seperti batu.
"Ada apa?" tanya Maya khawatir.
Arlan tidak menjawab. Dia menatap Maya dengan tatapan yang mendadak menjadi sangat asing—lebih asing daripada saat mereka pertama kali bertemu kembali di kantor.
"Pergilah dari sini, Maya," kata Arlan dingin.
"Lan, ada apa?"
"SAYA BILANG PERGI!" bentak Arlan.
Maya tersentak mundur. Ia melihat layar ponsel Arlan yang tidak sengaja menghadap ke arahnya sebelum Arlan mematikannya. Di sana, ada sebuah foto. Foto Maya yang sedang menyelinap masuk ke ruang kerja Arlan tadi, diambil dari sudut ventilasi.
Dan ada pesan di bawahnya: “Lihat betapa lincahnya dia mencuri rahasiamu, Arlan. Apa kamu masih mau melindunginya?”
Maya menyadari satu hal yang mengerikan. Seseorang tidak hanya sedang menerornya, tapi juga sedang memanipulasi Arlan untuk semakin membencinya. Dan orang itu ada di dalam rumah ini, sekarang juga.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Maya berlari keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur. Ia berlari melewati para pekerja, melewati gerbang, dan terus berlari hingga kakinya lemas.
Di bawah langit Bandung yang mulai beranjak sore, Maya menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar orang asing bagi Arlan. Ia telah menjadi sasaran dalam sebuah permainan yang ia sendiri tidak tahu cara memenangkannya.
Dan yang paling menyakitkan adalah, di dalam ruangan tadi, ia baru saja menyadari bahwa Arlan masih mencintainya—dan justru itulah yang akan menghancurkan mereka berdua untuk kedua kalinya.