NovelToon NovelToon
Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Aku Pergi Membawa Benih Yang Kau Benci

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Obsesi / Menikah dengan Kerabat Mantan / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Dalam diamnya luka, Alina memilih pergi.

Saat menikah satu tahun lalu, ia dicintai atau ia pikir begitu. Namun cinta Rama berubah dingin saat sebuah dua garis merah muncul di test pack-nya. Alih-alih bahagia, pria yang dulu mengucap janji setia malah memintanya menggugurkan bayi itu.

"Gugurkan! Aku belum siap jadi Ayah." Tatapan Rama dipenuhi kebencian saat melihat dua garis merah di test pack.

Hancur, Alina pun pergi membawa benih yang dibenci suaminya. Tanpa jejak, tanpa pamit. Ia melahirkan seorang anak lelaki di kota asing, membesarkannya dengan air mata dan harapan agar suatu hari anak itu tahu jika ia lahir dari cinta, bukan dari kebencian.

Namun takdir tak pernah benar-benar membiarkan masa lalu terkubur. Lima tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan.

Saat mata Rama bertemu dengan mata kecil yang begitu mirip dengan nya, akhirnya Rama meyakini jika anak itu adalah anaknya. Rahasia masa lalu pun mulai terungkap...

Tapi, akankah Alina mampu memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter - Tiga.

Tujuh Bulan Kemudian...

Hujan malam itu turun deras.

Udara kota Jogja begitu dingin sampai menembus ke sumsum tulang. Di balik jendela kontrakan kecil ukuran 4x5 meter, seorang perempuan duduk memeluk bayi merahnya yang baru seminggu lahir.

Wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan. Tangannya sedikit gemetar karena kelelahan dan kurang tidur. Tapi matanya… justru bersinar.

Dia adalah Alina.

Seorang perempuan yang lari dari rumah saat tengah mengandung dua bulan, demi menyelamatkan anak dalam kandungan nya. Dengan bantuan temannya, menyewa pengacara perceraian. Dengan surat kuasa pada pengacara, kini Alina sudah resmi menyandang status single Mom atau berstatus Janda setelah beberapa kali persidangan. Alina sendiri tak pernah menghadiri sidang perceraian yang akhirnya dimenangkan oleh Alina.

Meski Ia tidak tahu bagaimana cara menjadi seorang ibu, banyak parenting di berbagai media sosial yang bisa ia ikuti. Di zaman modern seperti sekarang, ia tidak terlalu kesulitan seperti ibu-ibu terdahulu. Bagaimana cara menenangkan bayi yang menangis empat jam tanpa sebab, atau bagaimana mencuci popok sambil menahan tangis karena payudaaranya luka berdarah karena menyussui.

Bahkan, Alina sempat bertanya dalam hati. “Apa aku akan cukup kuat membesarkan kamu sendirian, anakku?”

Namun setiap kali Alina ingin menyerah, suara kecil anaknya. Tangisan, cegukan, tawa dalam tidur, mengingatkannya bahwa dirinya harus berjuang. Ia adalah seorang ibu, ia seorang pelindung.

Alina bekerja serabutan dari rumah kontrakan nya. Ia mengetik naskah jadi penulis lepas, bahkan pernah jadi editor skripsi mahasiswa S1 demi mendapat uang tambahan.

Malam-malamnya akan diisi tangisan bayi dan kopi sachet yang terlalu manis karena bergadang. Siang harinya di isi jemuran popok-popok bayi dan menulis naskah sambil menggendong bayi.

Tapi Alina tidak pernah benar-benar sendiri.

Ada Daffa, putra kecilnya.

Makhluk mungil dengan tangan sekecil kacang panjang yang selalu mencengkeram jarinya saat tertidur. Yang menangis setiap kali ia pergi ke kamar mandi, yang tersenyum seperti matahari saat mendengar suara ibunya meski dunia terus mengecilkan harga dirinya sebagai janda.

Tahun pertama itu, Alina sering menangis hampir setiap malam tapi tidak sekali pun ia menyesal. Ia hanya menyesal karena sempat meragukan, bahwa cinta yang lahir dari luka... bisa jadi sekuat itu.

Kadang, luka masa lalu memang tidak bisa dihapus. Tapi Ia tak perlu hidup dalam bayang-bayang siapa pun lagi, putranya adalah bukti bahwa cinta bisa tumbuh dari kehancuran.

Dan ia… tetap utuh.

Meski dunia pernah mencoba mematahkannya.

.

.

Empat Tahun Kemudian...

Alina menghela napas pelan saat ingatan nya berputar ke masa lalu.

Langit begitu cerah pagi itu, matahari belum terlalu tinggi tapi riuh suara klakson dan teriakan pedagang keliling sudah bersahut-sahutan. Di sebuah rumah mungil, seorang anak laki-laki dengan rambut acak-acakan dan seragam TK setengah rapi berlari-lari keliling ruang tamu.

“Bundaaa! Dino biru aku di mana?! Dino biru! Yang bisa gigit kepala orang jahat itu!”

Alina menghela napas, sambil memindahkan tumisan brokoli dari wajan ke piring kecil.

“Coba lihat di bawah bantal, terakhir Daffa ajak Dino biru tidur, kan?”

“Nggak adaaa!”

“Kalau gitu Dino biru kamu mungkin kabur karena bau nafas Daffa waktu tidur..." balas Alina sambil terkikik kecil.

“Bunda! Dino aku tuh suka sama bau nafas aku! Katanya kayak keju!” balas si kecil dengan mimik polos penuh pembelaan.

Alina meletakkan spatula, lalu mendekat dan berjongkok di depan putra imutnya. Anak yang hampir dilenyapkan oleh Ayah kandungnya sendiri.

“Sayangnya Bunda... kamu itu nafasnya bau kayak keju basi. Jadinya, Dino birunya kabur deh cari teman yang nafasnya wangi kayak permen mint.” Alina sekuat tenaga mencoba menahan tawanya.

Anak itu cemberut. “Bundaaa jahat! Daffa nggak mau sekolah, Dino hilang. Daffa nggak bisa lawan monster sendirian.”

Alina mengangkat kedua alis, menatap putranya dengan gaya dramatis.

“Kalau Dino-nya hilang, berarti Daffa harus jadi pahlawan utama dong! Dino cuma side-kick. Ingat nggak kata Daffa minggu lalu? Daffa mau jadi Superhero kayak Batman!’”

Daffa menatap sang Bunda dengan kerutan di kening. Lalu, perlahan wajahnya kembali cerah.

“Oh iya ya! Aku kan Batman! Dino tuh Robin!”

“Nah, itu baru Daffa yang hebat!” Alina mencium kening anaknya lalu menggandeng tangannya. “Ayo, Pahlawan Kecil. Kita lawan kemacetan demi sampai di TK.”

Alina gegas mengantar putra kesayangannya ke sekolah menggunakan motor, anak yang ia tukar dengan perceraian. Sambil berdiri di gerbang, ia melambai pada anaknya yang sibuk menyombongkan bekal brokoli ke teman-temannya seolah itu nugget emas.

“Aku bawa brokoli! Kata Bunda bikin pinter! Tapi aku rasa bikin perut kembung juga sih.” Teriak Daffa.

Alina terkikik sendiri.

Anak itu, kombinasi sempurna antara cinta dan harapan yang ia bawa sejak lima tahun lalu. Luka lama? Masih ada... tapi tidak mengatur hidupnya lagi.

Kini, Alina menjalani hari-hari sebagai penulis lepas dan kadang menjadi narasumber seminar parenting.

Setelah anaknya masuk kelas, ia menyempatkan diri mampir ke kafe langganan. Meja favoritnya di pojok dekat jendela kebetulan kosong.

Ia menyalakan laptop, membuka dokumen tulisan dan menyesap cappuccino. Sejenak dunia terasa sunyi.

Sampai...

Dug!

Bahunya sedikit terdorong, seorang pria berdiri di sebelahnya dengan ekspresi datar, mengenakan kemeja biru rapi, celana bahan hitam dan jam tangan minimalis yang mengintimidasi. Kopi di tangan pria itu tumpah... sedikit mengenai laptop Alina.

Alina nyaris berdiri, panik. “Aduh, maaf banget! S-saya nggak lihat ada orang lewat...”

Pria itu menatap laptop milik Alina, lalu kemejanya sendiri, kemudian melihat ke arah tumpahan kopi di meja. Ia tidak banyak bicara, hanya mengambil saputangan dari saku jasnya dan menyeka kemejanya pelan. Gerakannya elegan, presisi dan... terlalu pelan untuk orang normal.

“Saya... bersihin ya." Tawar Alina lagi, merasa bersalah.

Pria itu akhirnya bicara, suara baritonnya rendah dan agak kaku. “Tidak perlu... saya bisa tangani. Itu cuma 4,7 ml cairan.”

Alina terdiam. “Kok tahu pas 4,7 ml?”

Pria itu menaikkan alis, lalu membuka tas kerja hitamnya dan mengeluarkan...

Tisu antiseptik?

“Estimasi berdasarkan luas tumpahan dan tekanan cairan dari gelas. Saya adalah seorang insinyur.” Jawab pria itu kaku dan lugas.

Alina menutup mulut, menahan tawa. “Oh... baiklah, Tuan Presisi.”

Pria itu menatapnya.

Lalu dengan ekspresi sama datarnya, ia menambahkan. “Dan... saya belum menikah.”

“Eh?” Mata Alina mengerjap tak mengerti.

Pria itu tertegun, sepertinya ia tak sadar dengan ucapannya sendiri. “Saya baru sadar terlalu banyak data yang tidak relevan, Maaf. Ucapan tadi itu... refleks. Saya tidak sedang mempromosikan diri.“

Alina tak tahan lagi, ia pun tertawa. “Kamu selalu mengenalkan diri seperti itu?”

Pria itu memalingkan wajahnya ke arah jendela, seperti sedang mempertimbangkan reputasinya dan... menahan malu.

“Biasanya tidak! Tapi... kamu menjatuhkan kopi saya. Jadi mungkin saya agak... kehilangan kendali diri.”

Alina mengulurkan tangan sambil tersenyum geli. “Alina Pramitha, maaf atas kopinya.”

Pria itu menerima uluran tangan Alina setelah tiga detik hening, lalu menggenggam dengan sangat formal seperti orang wawancara kerja.

“Davin Mahesa. Biasa dipanggil... ya, Davin saja.”

“Ada yang manggil kamu dengan nama lain?”

Davin menatap Alina sepersekian detik, lalu menjawab sangat serius. “Anak-anak TK tetangga saya terkadang memanggil saya ‘Om Petakilan’... karena saya pernah panik dikejar kucing.”

Alina kembali tak bisa menahan gelak tawanya... kali ini tawanya begitu lepas.

Davin terlihat menyesal sudah membocorkan fakta memalukan itu, Ia merapikan ujung lengan bajunya yang padahal sudah rapi. Namun melihat wanita yang sering ia perhatikan diam-diam jika ia sedang datang ke cafe kini sedang tertawa lepas, ia merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya.

“Anggap saja saya tidak bilang yang terakhir tadi.“ Ujar Davin pelan.

“Oh, terlalu terlambat. Saya bahkan mau jadikan itu judul cerita dalam naskah saya..." jahil Alina.

Beberapa menit kemudian, mereka berdua duduk di meja yang sama. Alina membuka laptopnya dan mulai mengetik, sementara Davin membaca dokumen di tabletnya. Tak banyak obrolan, tapi sesekali Davin mencuri pandang ke arah layar Alina.

“‘Cinta yang Tak Direstui, Catatan Seorang Janda Kuat’?” gumam Davin tanpa sadar.

Alina menyipitkan mata. “Lho, siapa yang ngajarin kamu baca laptop orang lain?”

“Refleks insinyur. Mata saya... terprogram untuk memindai detail.”

“Dan kamu... nggak sopan,” goda Alina.

Davin terlihat ingin membalas, tapi hanya memutar cangkirnya dua kali. Alina merasa geli. Sikap pria itu kaku, tapi bukan menyebalkan. Lebih ke... jaim bin awkward charming.

Hari itu berakhir begitu saja. Tapi sejak hari itu, semesta seperti mulai mengatur kembali jalur yang sempat hancur.

Alina tak tahu siapa Davin sebenarnya, hanya tahu dia pria yang bisa membuatnya tertawa tanpa gombalan. Ia juga belum tahu bahwa takdir perlahan menyiapkan pertemuan lain yang lebih besar, lebih mengejutkan.

Karena ternyata...

Davin mempunyai hubungan tak terduga dengan masa lalu Alina.

Tapi untuk saat ini, cukup satu tawa dan secangkir cappuccino yang baru. Bukan untuk melupakan, tapi untuk memulai.

1
Si Topik
tobatlah Gitgit.. tidak ada hal yg baik dari menyimpan iri dengki

fakta nya kedua Abang dan sepupu mu menyayangi mu, tobatlah sebelum terlambat :"-v
Si Topik
kurang kurangin ngudud Bg Rak 😅😅
Si Topik
Raka : udah yapping nya Wak?
Si Topik
Raka yg dulu nya doyan main bola sampai bikin Daffa jatoh dari sepeda.. menjelma jadi lelaki berbahaya :"-v
Si Topik
ambil noh sampah nya Kamila.. lagian lelaki ga modal jugaa 😂
Si Topik
lahh nape si biawak kebakar cemburu? 😂
dia yg betingkah, sok sok an mendua.. dikira keren dapat menggaet dua wanita
mampus lu dicampakin sama perempuan yg tulus
Si Topik
awokwokwok... gimana rasa nya jadi yg terbawah? orang yg kalian rendahkan diatas kalian, lagian jadi orang tua/pasangan songong bin sombong sih
dikiranya kaleng2 keluarga Mahesa 😏
Si Topik
lagian songong amat dg harta tak seberapa
Si Topik
mungkin orang2 tua zaman dulu pasti ga hanya sekedar pantangan.. pasti ada alasannya, contoh seperti kejadian Denis 🥲
ada pingitan pasti nya untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan, terlepas mitos atau lain2 nya
Wallahu a'lam bishawab 🙏
Si Topik
mampus kau tua bangka.. segala sesuatu yg direbut dg cara tak bagus dg niat pengen kaya instan emang ga berkah
sukurin, semoga cepat membusuk wkwk
Si Topik
auto ngakak " kebetulan pelakor yg menganggu rumah tangga ku dulu, babak belur aku pukuli"
humor ya Tuhan 😭 😭😂😂😂
maap ya Ratnong, ku menertawakan nasib buruk mu wkwkwk
Si Topik
Huaaaaa.. mbak Vio emang kakak perempuan the best 😭😭🙌🙌
selalu siaga melindungi adik2 dan keluarga nya 🥲

semoga setelah ini Mbak Vio nyari Kirorong biar cepat diringkus 🥲🥲
Si Topik
tapi kalo kata aku, jangan deh Dewi tinggal nya bareng Rama-Gendis.. ada baiknya ngekost gitu, pilih kost an yg aman, terjamin, dan nyaman.. karena emang agak riskan klo adek perempuan tinggal bareng mbak/Kakak perempuan nya yg udh nikah.. begitu juga adek laki2 yg tinggal dg mas/saudara laki2 nya 🥲 bukan nya apa, ada baiknya menghindari fitnah

kecuali saudara laki2 yg tinggal dg saudara perempuan nya yg dah nikah.. begitu juga sebaliknya saudara perempuan yg tinggal dg saudara laki2 nya yg udah nikah
tapi kembali kek kakak author nya sih hehehe 🙏😁
Si Topik
bawa Glock 26 Mbak Vio 😂
kan enak tu sidang sambil todong tu senjata ke jidat si Hama wkwkwk 😂
Si Topik
itu hama meresahkan segera lah ditangkap secepatnya kak thor 🥲
jangan di buff Mulu dia, kesian Alina lagi ngandung.. takutnya nanti ada skenario yg tidak diinginkan 🤧
Si Topik
aku suka mbak vio mode bar bar wkwk
apa ga semakin bucin brutal itu si brondong ntar 😂
Si Topik
siapkan jantung mu bulek.. mertua gendis mantan besan situ
berdoa lah banyak2 agar Mbak Vio ga bawa serta Harimau peliharaan nya wkwk
Si Topik
seenggaknya masih terselamatkan di point' setia si Rama nya ... walau ada beberapa minus wkwkwk 😂
Si Topik
syukur Rama dah mulau berubah.. semoga semakin lebih baik lagi 😊
Si Topik
definisi menabrak hati mbak Vio secara ugal ugalan 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!