NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Berbulan-bulan sudah Naina menunggu kedatangan Ryan yang entah kapan akan pulang. Pagi dan sore Naina menunggu di depan gubuknya, tapi orang yang di tunggu tak jua datang.

Perut Naina semakin hari semakin membesar, sesungguhnya ia tak mampu memikul beban seorang diri. Naina butuh Ryan, ia butuh sosok suami yang selalu mendampingi dan membantunya dulu.

Tangis pedih meratapi nasib yang memilukan. Belum lagi cemoohan tetangga yang berkata bukan-bukan tentang Ryan dan Naina. Bagaimana Naina dapat bertahan hidup di tengah rindu yang membelenggunya. Tapi Naina pun tak bisa membiarkan bayi dalam kandungannya merasakan sakit seperti dirinya.

Katanya setelah badai pelangi akan datang. Benar, memang benar adanya. Badai dalam hidup Naina sempat sirna dan pelangi itu datang. Sejatinya pelangi hanya singgah sesaat kemudian pergi. Pergi entah kemana dan entah kapan akan kembali.

Menantikan pelangi sangat melelahkan, sama halnya dengan menanti kedatangan Ryan. Pelangi dan Ryan adalah dua hal yang sama, indah dan menyenangkan. Namun janjinya untuk kembali tak bisa kita percaya.

"Ibu akan usahakan cinta yang besar untukmu, Nak. Meski nantinya kamu hidup tanpa sosok Ayah." Lirih Naina pada bayi dalam perutnya.

...****************...

"Udah lama Lo gak mau jenguk dia?" Celetuk Dani selesai rapat tahunan di perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis.

"Lupakan saja,"

Dani menggeleng-gelengkan kepalanya, ada rasa kesal dan gemes pada sikap sahabatnya itu. Kenapa dengan mudahnya dia menarik gadis tak berdosa masuk dalam kehidupannya, dan kini malah di buang sesuka hatinya.

Andai Dani dapat membantunya, tapi Dani pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak tahu permasalahan awal mereka. Namun sayang sekali bila gadis secantik Naina di sia-siakan begitu saja.

"Lo bener-bener gak penasaran sama kabar Naina?" Tanya Dani lagi mencoba menyadarkan Ryan.

Ryan terdiam, ia duduk di kursi panjang yang ada di ruang kerjanya. Ia sandarkan kepalanya pada ujung sofa, menatap langit-langit yang polos. "Entahlah,"

"Lo bener-bener gila, Yan."

"Mau bagaimana lagi? Aku tak berniat sungguh-sungguh dengannya."

Dani menghela nafas kesal. Bolehkan ia memukul Ryan sekali ini saja? Tak sangka, sahabat baiknya itu ternyata memiliki sikap pecundang dan bajingan.

"Gue kecewa, Yan. Mudah banget Lo mempermainkan perasaan anak orang." Kali ini Ryan menatap Dani dengan tajam.

"Jika Lo emang kasihan pada gadis itu, ambil saja."

"Yan, Naina juga manusia. Lo bener-bener, ya, Yan. Bagaimana kalo Naina hamil? Setidaknya Lo pernah tidur dan melakukan hubungan dengannya, kan?" Ucapan Dani kini menyadarkan Ryan, ia tak berpikir panjang ke arah sana. Benar juga, bagaimana kalau Naina hamil anaknya?

Ryan terdiam, ia seolah berpikir. Tapi dasar hatinya batu, dan tak bisa melepaskan cinta pertamanya. Ryan tetap pada pendiriannya, yaitu menunggu kepulangan Maeta dan memperistri gadis pujaan hatinya.

"Aku akan bertanggungjawab atas anaknya. Aku akan menafkahi mereka. Itu pun jika memang terbukti Naina hamil anakku. Tapi untuk bersama aku tak bisa."

Dani kesal, ia tak bersuara lagi, dan langsung pergi meninggalkan Ryan begitu saja. Ini apa memang Dani yang terlalu ikut campur hubungan orang lain, atau memang karena rasa empatinya pada manusia?

Dani bertanya-tanya pada dirinya sendiri, haruskah ia tetap diam melihat kebodohan sahabatnya, atau mengambil tindakan untuk hubungan mereka.

...****************...

"Naina yang malang, hidupnya selalu di tinggal oleh orang-orang terdekatnya. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan pas dia usia 7 tahun, Neneknya juga meningal, tak lama Kakeknya menyusul. Apa jangan-jangan suaminya juga meninggal?" Celetuk tetangga yang lewat dan merasa iba dengan nasib Naina.

"Husst... Sembarangan. Jangan ngomong yang bukan-bukan."

"Tapi, kan, suaminya si Naina itu gak pernah datang dan gak ada kabar."

Sayup-sayup Naina mendengar ucapan kedua tetangga itu, tapi tak ia hiraukan. Semakin di rasa semakin sakit hati Naina. Bagaimana jika memang Ryan meninggal pada saat perjalanan ke kota? Karena tak ada informasi apa pun mengenai Ryan untuknya.

Hari demi hari, minggu berganti bulan, kini tiba di penghujung kelahiran anak pertama Naina. Dengan di iringi deras hujan, Naina berjalan tertatih di temani dukun beranak menuju rumah bidan.

Darah terus mengalir di selangkangannya, langkahnya semakin gemetar tak kuat. "Mbah, kayaknya kepala bayi udah keluar." Suara Naina tersengal menahan sakit.

"Tahan neng, bentar lagi nyampe."

Naina mencengkram kuat baju si Mbah dukun beranak itu. Ia terhenti tak dapat berjalan lagi. Rasanya ia ingin menarik nafas panjang dan berteriak. Namun tiba-tiba badannya terangkat, seseorang membopongnya menuju rumah Bu bidan.

Di luar hujan semakin deras, suara guntur semakin bersautan. Damar dan si Mbah menunggu di luar, sayup terdengar jeritan Naina yang berjuang melahirkan buah hatinya. Suara guntur dan teriakan Naina bersaut menjadi satu.

Damar memang bukan siapa-siapanya, tapi ia merasa cemas dan khawatir dengan Naina yang berjuang seorang diri. Bak seorang ayah yang menantikan buah hatinya lahir, Damar terus berdoa dan meminta kemudahan kepada sang Pencipta.

Satu jam telah berlalu namun suara tangis bayi belum juga muncul, bahkan teriakan Naina pun semakin melemah. Damar semakin cemas ia ingin menerobos masuk, memeriksa keadaan Naina secara langsung.

Tak lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar melengking. Satu beban dalam dada Damar lega, seutas senyum mengambang di bibirnya. Namun senyuman itu kembali lenyap saat sang Bidan keluar dan berkata kondisi Naina melemah akibat kekurangan darah.

Damar di tugaskan pergi ke PMI terdekat untuk mengecek stok darah. Dengan motor bebeknya Damar memacu kendaraannya dan membelah hujan deras. Dalam perjalanannya, Damar mengutuk Ryan jika ia masih hidup karena telah menelantarkan Naina. Namun jika Ryan telah tiada, Damar hanya bisa pasrah sebab begitu malangnya nasib gadis pujaannya.

Syukurlah, semesta masih memberikan kesempatan pada Naina untuk bersama putri kecilnya. Naina masih dapat tertolong berkat bantuan Damar dan si Mbah dukun beranak. Telah tiga hari Naina di rawat di klinik Bidan itu, dan kini ia di perbolehkan untuk pulang.

"Bayi cantik ini akan kamu beri nama siapa?" Tanya Damar yang masih asik menimang putri kecilnya Naina.

"Entahlah, apa Kang Damar punya nama bagus untuk anakku?"

Damar terdiam sesaat, ia bingung namun juga ada rasa senang.

"Nayla Chandrika?" Damar menatap Naina seolah bertanya apakah nama itu bagus?

"Nama yang cantik. Apa arti di balik nama itu?"

"Nayla yang berarti keberhasilan, dan Chandrika adalah cahaya bulan. Aku berharap putrimu dapat memberikan kebahagiaan dalam gelapnya duniamu. Meski tak dapat seterang matahari, tapi sejuknya dan indahnya bulan dapat menerangi hidupmu, Naina."

Naina terdiam, andaikan suaminya ada apakah ia akan memberikan nama secantik itu pada putrinya? Apakah Naina berdosa, meminta pria lain untuk memberikan nama untuk anaknya?

"Naina? Hey,,, kamu kenapa?" Damar bertanya karena ia panik melihat Naina menangis.

"Gak apa-apa, Kang."

Menjadi orang tua tunggal, tak memiliki harta, apakah Naina sanggup membesarkan anaknya seorang diri? Naina pun terpaksa menjual satu perhiasannya untuk persalinan. Jika nanti barangnya terjual habis apakah Ryan akan marah?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!