NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Awal rasa cinta datang

...Enjoy!!...

Hari semakin gelap, pasangan itu memutuskan untuk kembali ke tempat tinggalnya. Dino menyetir motornya, menarik gas, membuat Dara berpegang erat pada pundak lelaki tersebut.

Lelaki itu menghentikan motornya di sebuah toko. "Mau ngapain?" tanya Dara.

Dino kemudian turun dari atas sana, melepaskan helmnya. "Beli bunga," jawab Dino. Lalu, Dara ikut turun dari motor.

Netra keduanya saling beradu. "Buat siapa?"

"Buat lo." Tanpa aba-aba, Dino menarik pergelangan tangan gadis itu, untuk dibawanya masuk ke toko bunga tersebut.

Jalan yang cukup padat, dipenuhi kendaraan beroda tiga dan dua. Mereka menunggu lampu merah menjadi hijau, membuat kepadatan di jalanan. Lampu mobil juga motor terlihat kelap-kelip.

Matahari telah pulang, ia terbenam di barat membuat langit menggelap. Angin dingin menerpa kulit Dara yang baru saja keluar dari toko, sambil membawa beberapa tangkai bunga di tangannya. "Dingin ya, No," celetuk Dara saat sudah di atas motor.

Dino menoleh ke belakang, mendapati istrinya yang ternyata hanya memakai kaos oblong lengan pendek dan celana legging hitam. Tanpa pikir panjang, Dino melepaskan jaket jeans dari tubuhnya, kemudian menyodorkan kepada Dara. "Pakai ini aja!" pintanya.

Hanya karena melepaskan jaket jeans itu dari tubuhnya, Dino tidak akan merasakan dingin, sebab dia memakai kaos lengan panjang.

Dara pun menerima jaket itu, daripada dirinya akan sakit lagi dan menyusahkan suaminya itu. "Gue males kalau ngurusin lo sakit," seloroh Dino. Dara takjub, merasa bisa mengetahui perasaan lelaki di depannya.

Dara sejenak mematung melihat ukiran di bagian belakang jaket itu. Seperti logo burung. Lalu, Dara tidak mau memikirkannya, dia pun memakainya.

Hangat. Ditambah ada aroma wangi Dino yang melekat, membuatnya seperti sedang dipeluk suaminya. Ah, tidak. Dara tidak suka. Gadis itu berpegang pada pundak Dino, sambil menahan panas di pipi.

Sesampainya di rumah, Dara langsung menempatkan bunga di sebuah vas, tidak lupa memberinya air agar tetap segar. Dia seakan sangat bahagia, hanya karena tiga tangkai bunga mawar dan dua bunga tulip. Lalu, Dara membawanya masuk ke kamarnya.

Dengan berhati-hati, vas tersebut diletakkan di tepi jendela karena akan membuatnya cepat terkena sinar matahari. Dara menarik kedua sudut bibirnya, mengelus pelan bunga-bunga mekar itu. Tepat saat dirinya berjongkok untuk melihat bunga, Dino membuka pintu kamar hingga Dara sedikit terkejut.

"Suka banget sama bunga," ujar Dino, sambil berjalan mendekati Dara.

Dara menganggukkan kepala. Dia mendongak untuk menatap Dino, terlihat ukiran berkharisma ciptaan Tuhan. "No, besok aku mulai kerja, ya?" Nada bicara seperti orang memohon, juga mata yang membesar.

"Emang udah enakan?"

Dara mengangguk cepat. "Jauh lebih enak dari sebelumnya!"

"Terserah lo," ucap Dino, kemudian melenggang mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana.

Dara menyusul suaminya, menarik selimut dari sana hingga menutupi tubuhnya hingga leher. Dia menoleh, bersamaan dengan Dino yang tengah menatapnya, membuat netra mereka beradu. Jantung Dara berdebar, segera memalingkan pandangannya ke arah lain.

Dara merasa sangat malu. Jantungnya berdetak kencang, seolah terasa sangat canggung berada di dekat lelaki itu. Dia pun memutuskan untuk tidur dengan tubuh miring, membelakangi Dino.

Begitu juga dengan lelaki itu, Dino memunggungi Dara yang masih membuka lebar matanya.

Malam itu terasa lebih hangat dari sebelumnya. Mungkin, hal tersebut disebabkan karena selimut tebal dan keberadaan pasangan di dekat, sehingga hati menjadi panas tidak karuan.

Sudah sangat lama, Dino menyimpan perasaan kepada perempuan yang kini telah menjadi istrinya. Seperti keajaiban. Namun, selama dua tahun ia menyimpan rasa, Dino sama sekali tak pernah menunjukkan bahwa dirinya menyukai seseorang, bahkan pemilik nama Dara itu tidak merasa sedang dicintai.

Dari rasa kagum karena kegigihan Dara, Dino jatuh hari akan senyuman tulus gadis itu. Dia berbeda dari perempuan lain di luar sana, Dino tertarik hingga muncul cinta dan peduli dalam hatinya.

Selama dua tahun itu, Dino diam-diam selalu mengamati Dara di supermarket yang menjadi tempat kerja pujaan hatinya. Dino pun bebas untuk keluar-masuk karena menjadi bagian penting di supermarket.

Dua tahun yang sangat lama, tepat saat pertama kali Dino melihat gadis itu dan mengetuk pintu hatinya.

Seorang lelaki tampan berpakaian santai, melangkah sambil mendorong troli. Celana pendek berbahan kain dan sweater tebal, membuatnya terlihat keren. Terdapat beberapa sayur dan buah di troli miliknya, dia pun mengambil beberapa buah apel.

Niatnya ke sini adalah untuk belanja atas perintah sang mama. Dia pun kembali berjalan menuju rak yang menyimpan beberapa tepung.

Dino tidak tahu harus mengambil yang mana. Ada seorang gadis berseragam pegawai membawa benda di tangan, berjalan ke arahnya. Dino pun berniat menghentikannya. "Permisi," ujar Dino hingga membuat pekerja itu berhenti. "Mau tanya. Tepung beras yang mana, ya?"

Dino sudah menyerah untuk membaca tulisan kecil di bungkus produk yang berisi tepung itu.

"Mau yang brand apa? Ini, kebetulan saya bawa tepung beras," kata pekerja itu.

"Gue ambil yang itu aja." Dino pun mengambil satu produk tepung itu, tidak peduli brand apa karena dia sendiri tidak tahu.

"Ada yang bisa dibantu lagi?" ucap gadis itu, tidak lain adalah Dara yang baru lulus SMA.

"Gak. Makasih."

Dara pun mengulas senyum tipis dan melenggang pergi meninggalkan Dino, yang masih memandanginya. Bahkan, hingga gadis itu menghilang dari pandangannya, Dino tak kunjung berkedip.

Pagi yang cerah, semalam tidak hujan membuat jalanan kering. Bunga cantik semalam masih mekar dengan segar, ia membuat Dara tersenyum kegirangan saat melihatnya. "No, mau sarapan apa?" tanya Dara, kepada lelaki yang tengah duduk di kasur dengan mata terpejam.

"Terserah," jawab Dino, dengan suara beratnya karena belum sepenuhnya sadar.

Kewajibannya sebagai seorang istri, meski sebelum menikah, Dara jarang membantu bunda untuk melakukan pekerjaan tersebut. "Aku masak telur dadar aja. Kata Dino juga terserah," gumam gadis itu.

Tanpa pikir panjang dan peduli, Dara memasak menu yang simpel saja. Tidak perlu buang banyak tenaga untuk lelaki itu, menurutnya.

Setelah selesai masak, Dara segera berganti pakaian untuk pergi bekerja dan menyiapkan seragamnya di tas, juga kebutuhan lainnya. Lalu, dia segera menyusul sang suami yang tengah sarapan.

"Gue anterin," kata Dino, ketika sudah menghabiskan nasi di piring miliknya.

Dara mengangguk singkat. Lagi pula, dia juga lelah jika harus naik sepeda terus, dan akan buang-buang uang bila pulang pergi dengan kendaraan umum.

.....

Suami yang menyebalkan, Dino memaksa untuk mengantarnya sampai dalam supermarket. Dara menyuruh laki-laki itu agar langsung pergi saja. Namun, dia Dino, keras kepala dan berbuat sesukanya sendiri.

"Di sini aja!" Dara menghentikan langkahnya, membuat Dino juga berhenti.

"Iya."

Dara pun segera melangkah cepat meninggalkan lelaki itu di bagian tengah supermarket. Sedangkan dirinya harus pergi ruang ganti.

Baru di depan pintu, Dara dihadang oleh seorang perempuan berambut panjang yang menatapnya tajam. "Enak banget yang abis malas-malasan dua hari," katanya.

Dara hanya diam, menunduk melihat sepasang kakinya. "Aku sakit, Kak," ucap Dara.

Dia adalah rekan kerja yang suka sekali merendahkan dirinya. Bukan tidak berani melawan, hanya saja Dara malas dan menghormati orang lebih tua itu.

"Hari ini, lo lembur gantiin gue!" seloroh gadis itu, penuh penekanan dan melotot pada Dara.

Dara tidak menjawab, hanya mengangguk paham. "Gak ada lagi yang namanya lembur buat Dara." Suara berat itu, membuat Dara semakin mematung.

Tangan laki-laki yang berdiri di sampingnya, diletakkan di pundaknya, memeluknya dari samping. "No?" Manik Dara membulat melihat suaminya di sini.

"Dino? P--Pak Dino?" Gadis tadi menjadi terlihat sangat takut melihat Dino.

Amora lestari, dia pernah menjadi teman sekelas Dino yang cupu. Namun, di usia dewasanya, Amora berubah drastis menjadi sosok tangguh dan sombong. Sikapnya bertolakbelakang dengan saat dirinya berada di bangku sekolah.

...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak...

...❤️...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!