NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Dicintai

Istri Yang Tak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.

Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.

Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Rumah Sakit

Gelap. Dingin. Sakit.

Nayara membuka mata perlahan. Cahaya putih menyilaukan menusuk matanya. Dia kedip-kedip beberapa kali, mencoba fokus.

Plafon putih. Lampu neon. Bau antiseptik menyengat.

Rumah sakit.

Nayara mencoba menggerakkan tubuhnya. Sakit. Seluruh tubuhnya sakit. Kepala berdenyut keras di bagian pelipis. Tangan kanannya terasa berat, ada selang infus menempel.

"Alhamdulillah, Ibu sudah sadar."

Suara perempuan. Lembut. Nayara menoleh pelan. Seorang suster muda berdiri di samping tempat tidur, tersenyum ramah.

"Saya, saya di mana?" Suara Nayara serak, tenggorokan kering.

"Di rumah sakit Permata Bunda, Bu. Ibu dibawa tetangga sekitar jam sepuluh malam kemarin. Ibu pingsan di rumah." Suster itu menulis sesuatu di papan catatan.

Tetangga? Nayara mencoba mengingat. Setelah Gilang pergi, dia pingsan. Terus siapa yang nemuin dia?

"Tetangga yang mana?" tanya Nayara pelan.

"Bu Sari. Beliau bilang dengar suara berantem keras dari rumah Ibu, terus setelah beberapa jam tidak ada suara, beliau khawatir. Beliau coba bel rumah berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Akhirnya beliau hubungi satpam komplek, buka pintu rumah Ibu pakai kunci cadangan, dan menemukan Ibu pingsan di lantai ruang tamu. Berdarah." Suster itu menjelaskan sambil mengecek monitor tekanan darah Nayara.

Berdarah. Iya. Kepala Nayara terbentur meja waktu ditampar Gilang.

Nayara mengangkat tangan, menyentuh pelipisnya. Ada perban di sana.

"Lukanya tidak terlalu dalam, Bu. Tapi cukup banyak mengeluarkan darah. Kami sudah bersihkan dan jahit tiga jahitan." Suster itu tersenyum menenangkan.

Tiga jahitan. Nayara menatap langit-langit kosong. Gilang menamparnya sampai kepalanya terbentur, berdarah, butuh dijahit. Tapi Gilang tidak peduli. Dia pergi begitu saja.

"Baby saya, baby saya baik-baik saja?" Nayara langsung ingat yang paling penting. Tangannya refleks mengelus perutnya.

Ekspresi suster itu berubah. Senyumnya memudar sedikit. "Sebentar ya, Bu. Saya panggilkan dokter kandungan Ibu."

Suster itu keluar cepat. Nayara menatap pintu dengan jantung berdebar kencang. Kenapa suster tidak langsung jawab? Kenapa harus panggil dokter dulu?

Jangan-jangan bayinya kenapa-kenapa?

Nayara mengelus perutnya lebih erat. "Kumohon, kumohon jangan kenapa-kenapa. Kamu harus sehat. Mama mohon."

Lima menit kemudian, Dokter Ratna masuk. Wajahnya serius tapi masih ramah.

"Bu Nayara, syukurlah sudah sadar." Dokter Ratna duduk di kursi samping tempat tidur.

"Dok, baby saya baik-baik saja kan?" Nayara langsung tanya, suaranya bergetar.

Dokter Ratna menghela napas pelan. "Bayi Ibu masih ada. Detak jantungnya masih terdengar. Tapi kondisinya lemah."

Lemah. Bayinya lemah.

"Lemah gimana maksudnya, Dok?" Air mata Nayara mulai menggenang.

"Ibu masuk dengan tekanan darah sangat tinggi, detak jantung tidak stabil, dan ada tanda-tanda stres berat. Kondisi ini sangat berbahaya untuk kehamilan muda. Bayi Ibu hampir keguguran, Bu." Dokter Ratna menjelaskan dengan suara lembut tapi tegas.

Hampir keguguran.

Nayara menutup mulut dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh.

"Tapi syukurnya kami bisa stabilkan kondisi Ibu dan bayi. Sekarang bayinya aman. Tapi, Ibu harus bedrest total." Dokter Ratna melanjutkan.

"Bedrest? Berapa lama, Dok?"

"Minimal dua minggu. Ibu tidak boleh banyak bergerak. Tidak boleh stres. Harus istirahat penuh. Kalau tidak, risiko keguguran masih sangat tinggi." Dokter Ratna menatap Nayara serius. "Bu Nayara, boleh saya tanya sesuatu?"

Nayara mengangguk pelan.

"Apa yang terjadi di rumah kemarin? Ibu masuk dengan luka di kepala, memar di lengan, dan tanda-tanda kekerasan fisik. Apa, apa ada yang menyakiti Ibu?" Dokter Ratna bertanya hati-hati.

Nayara terdiam. Bibir bergetar. Dia mau bilang apa? Mau bilang suaminya yang mukul? Mau bilang suaminya yang menyakiti dia sampai hampir keguguran?

"Saya, saya jatuh, Dok. Tidak sengaja." Nayara berbohong. Suaranya tidak meyakinkan.

Dokter Ratna menatap Nayara lama. Dia tahu Nayara bohong. Tapi dia tidak memaksa. "Baik. Kalau Ibu butuh bantuan, apapun, jangan ragu untuk bilang ke kami ya, Bu. Kami di sini untuk membantu."

Nayara hanya mengangguk. Tidak sanggup bicara lagi.

Dokter Ratna berdiri. "Saya izin dulu ya, Bu. Nanti akan ada perawat yang cek kondisi Ibu secara berkala. Istirahat yang cukup. Jangan mikirin hal-hal berat dulu."

Jangan mikirin hal-hal berat. Gimana caranya tidak mikirin kalau hidup Nayara penuh hal berat semua?

Dokter Ratna keluar. Nayara sendirian lagi di ruang rawat inap yang dingin dan sepi.

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Nayara melirik meja samping. Ponselnya ada di sana. Nayara ambil dengan tangan gemetar.

Puluhan pesan dari Bu Sari, tetangganya. Nanyain kabar, bilang dia yang bawa Nayara ke rumah sakit, minta Nayara kabarin kalau sudah sadar.

Tidak ada pesan dari Gilang.

Tidak ada telepon dari Gilang.

Bahkan tidak ada notifikasi apapun dari Gilang.

Nayara buka kontak Gilang, menelepon.

Nada tunggu. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

Tidak diangkat.

Nayara telepon lagi.

Kali ini langsung masuk voicemail.

Gilang matikan ponselnya.

Atau mungkin memang sengaja tidak mau angkat telepon dari Nayara.

Nayara menatap layar ponsel dengan mata kosong. Suaminya bahkan tidak peduli apakah dia hidup atau mati.

Jam sepuluh pagi, pintu ruang rawat terbuka. Nayara menoleh dengan harapan yang bodoh. Berharap itu Gilang.

Tapi yang masuk Bu Sari, tetangga sebelah rumahnya. Perempuan setengah baya dengan wajah ramah, bawa tas plastik berisi buah-buahan.

"Nayara, sayang. Alhamdulillah kamu sudah sadar." Bu Sari menghampiri, menaruh buah-buahan di meja. "Gimana keadaanmu? Masih sakit?"

"Baikan, Bu. Terima kasih sudah bawa saya ke sini." Nayara tersenyum lemah.

"Sama-sama, nak. Ibu dengar suara berantem keras dari rumahmu kemarin. Ibu khawatir. Ternyata benar kamu pingsan. Syukurlah sekarang sudah sadar." Bu Sari duduk di kursi pengunjung. "Suamimu mana? Kok tidak ada?"

Pertanyaan yang Nayara tidak mau jawab.

"Dia, dia kerja, Bu. Sibuk." Nayara berbohong lagi.

"Sibuk? Istrinya di rumah sakit masa dia tidak datang?" Bu Sari terlihat tidak percaya. "Ibu sudah telepon dia semalam, kasih tahu kamu di rumah sakit. Katanya dia akan datang. Tapi sampai sekarang tidak kelihatan."

Gilang tahu Nayara di rumah sakit. Tapi dia tidak datang.

Nayara menggigit bibir bawah kuat-kuat, menahan tangis.

"Mungkin emang lagi sibuk banget, Bu." Nayara masih membela Gilang dengan bodohnya.

Bu Sari menggeleng. "Sibuk apapun, istri di rumah sakit harus didatengin. Apalagi kamu lagi hamil. Ini tidak bisa ditolerir."

Nayara hanya mengangguk. Tidak mau berdebat. Tidak ada gunanya.

Bu Sari duduk menemani Nayara sampai jam dua belas siang. Ngobrol tentang hal-hal ringan, cerita tentang anak-anaknya, nyoba bikin Nayara sedikit terhibur.

"Ibu pulang dulu ya, nak. Nanti sore Ibu datang lagi bawain makanan. Jangan sedih. Semua akan baik-baik saja." Bu Sari mengelus rambut Nayara sebelum pergi.

Begitu Bu Sari keluar, Nayara menangis. Menangis karena orang asing seperti Bu Sari lebih peduli daripada suami sendiri.

Jam tiga sore, pintu terbuka lagi.

Kali ini Gilang.

Nayara langsung menghapus air matanya, duduk tegak walau tubuhnya sakit.

Gilang masuk dengan wajah datar. Tidak ada ekspresi khawatir, tidak ada ekspresi takut, tidak ada apa-apa. Hanya wajah kesal, seolah dia terpaksa datang.

"Mas," panggil Nayara pelan.

Gilang berdiri di kaki tempat tidur, tidak mendekat. Tangan di saku celana, wajah dingin. "Kamu kenapa?"

"Aku, aku pingsan kemarin. Tekanan darah tinggi. Baby kita hampir keguguran." Nayara menjelaskan dengan suara bergetar.

Gilang tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar. "Terus?"

Terus? Cuma terus?

"Mas, baby kita hampir keguguran. Dokter bilang aku harus bedrest dua minggu. Aku butuh Mas di rumah." Nayara mencoba meminta.

Gilang tertawa pendek. "Bedrest? Lo pikir gua bisa di rumah dua minggu? Gua ada kerjaan."

"Tapi, Mas, aku tidak bisa sendirian. Aku butuh yang jagain." Nayara air matanya mulai jatuh lagi.

"YA SEWA SUSTER! JANGAN MANJA!" Gilang membentak.

Suster di luar pasti dengar. Nayara malu. Tapi dia tidak peduli lagi. Dia cuma peduli sama Gilang.

"Mas, kumohon. Ini baby kita. Kamu harus tanggung jawab." Nayara memohon.

"TANGGUNG JAWAB? GUA UDAH TANGGUNG JAWAB DENGAN BAYAR RUMAH SAKIT INI! ITU BUKAN CUKUP?" Gilang menunjuk sekeliling ruangan.

"Bukan cuma soal uang, Mas! Aku butuh kamu ada! Butuh kamu perhatian!" Nayara menangis keras.

"PERHATIAN LAGI! PERHATIAN LAGI! LO SELALU MINTA PERHATIAN! GUA CAPEK, NAYARA!" Gilang mengusap wajahnya kasar.

"Aku istrimu! Wajar kan kalau aku minta perhatian?" Nayara berteriak dengan isakan.

Gilang menatap Nayara dengan tatapan muak. "Lo tahu tidak kenapa gua males datang ke sini? Karena gua tahu lo pasti nangis, pasti minta ini itu, pasti bikin drama!"

Drama. Gilang bilang Nayara bikin drama.

"Ini bukan drama! Ini kenyataan! Baby kita hampir mati!" Nayara berteriak putus asa.

"BABY LO! BUKAN BABY GUA! GUA UDAH BILANG KAN?" Gilang balik berteriak.

Nayara terdiam. Dadanya sakit. Seperti ditusuk berkali-kali.

Gilang mengeluarkan dompet dari saku, melempar beberapa lembar uang ke meja. "Itu buat bayar suster atau apapun yang lo butuhin. Jangan ganggu gua lagi."

"Mas, jangan pergi. Kumohon." Nayara mencoba turun dari tempat tidur tapi Gilang mengangkat tangan, memberi isyarat stop.

"Jangan bikin drama, Nayara. Aku sibuk." Gilang berbalik, berjalan ke pintu.

"GILANG!" Nayara berteriak memanggil.

Gilang berhenti sebentar di pintu, tidak berbalik. "Cepet sembuh. Jangan lama-lama di sini. Buang duit." Dan dia keluar, menutup pintu pelan.

Nayara menatap pintu yang tertutup itu. Tangan gemetar, napas terengah-engah, dada naik turun cepat.

Dia meraih bantal, memeluknya erat, lalu menangis sekeras yang dia bisa. Menangis sampai tidak ada air mata lagi. Menangis sampai tenggorokan sakit. Menangis sampai tubuhnya lemas total.

Monitor detak jantung berbunyi cepat. Suster masuk dengan wajah khawatir.

"Bu Nayara, tenanglah. Ibu harus tenang. Ini tidak baik untuk bayi." Suster itu mencoba menenangkan sambil mengecek monitor.

Tapi Nayara tidak bisa tenang. Gimana caranya tenang kalau suaminya sendiri bilang dia bikin drama? Bilang dia buang-buang duit? Tidak peduli sama bayinya?

"Suster, tolong, tolong selamatin baby aku. Jangan sampai kenapa-kenapa." Nayara memohon dengan suara serak.

"Bayi Ibu akan baik-baik saja kalau Ibu tenang. Kumohon, Bu. Tarik napas pelan-pelan." Suster itu membimbing Nayara bernapas.

Nayara mencoba. Tarik napas. Buang napas. Tarik napas. Buang napas.

Perlahan detak jantungnya mulai stabil.

Tapi hatinya tidak akan pernah stabil lagi.

Karena dia sudah tahu.

Suaminya tidak mencintainya.

Suaminya tidak peduli sama dia.

Suaminya tidak menginginkan bayinya.

Dan Nayara terjebak dalam pernikahan yang sudah mati sejak awal.

1
checangel_
Pindah ke luar negeri aja gimana Nay 🤧, suasana di sana sepertinya tak sepenuhnya mendung (mendukung)/Facepalm/
checangel_
Astaghfirullah Pak Hasan, ucapanmu loh terlalu menusuk 🤧/Facepalm/
checangel_
Sudah dimaafkan kok, tapi mohon maaf pintu hatinya Nayara sudah terlalu terkunci rapat, karena terlalu banyak luka di sana, tunggu saja sampai masa iddahnya selesai, gimana ke putusannya (Authornya)/Facepalm/
checangel_: Plongnya sampai ke ubun² ya 😇, be happy Kak🤝/Smile/
total 2 replies
Suanti
naraya jgn mau rujuk sm gilang
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭
Leoruna: betul sekali kak, selingkuh itu gk ada obatnya, dan gk akan sembuh. kecuali bner2 dapet hidayah🤭🤣
total 1 replies
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, Author pertahankan alurmu 🤧👍🙏
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
checangel_
Penyesalan memang seperti itu, Ibu. Jika di awal sudah bukan penyesalan lagi tetapi penerimaan yang belum sepenuhnya tertera jelas, maka dari itu ada istilah bibit, bebet, bobot dalam Jawa🤧
checangel_
Tidak semudah itu kau rangkai lagi kertas yang sudah kau robek² Mas Gilang, ingat masa Iddah sedang berlangsung 🤝
checangel_
Pernikahan toxic memang sampai segitunya, jaga diri baik-baik teruntuk yang sedang berada di ruang itu 🤗, kamu hebat, kamu kuat, dan kamu pantas mendapatkan yang lebih bermartabat 🤝
checangel_: Peluk jauh untuk yang sedang berada di sana 🤧
total 2 replies
checangel_
Rain ... go away, rain ... on the way 🎶
checangel_
Apalagi ni? Ibu Mertua datang tanpa aba 🤧 Mohon maaf Ibu, sidang sedang berlangsung .... sebaiknya masalah pribadi dibicarakan dalam tempat privasi ... Ibu Ratna! Jelek atau tidaknya istri itu alamiyah, karena bawaan dari kandungan itu sendiri selama mengandung, jikalau ingin menantumu itu tetap cantik, jangan jadikan dia menantu, tetapi pajangan 🤧 Bisa-bisanya bicara seperti itu, Ibu Ratna /Sob/, itu semua kan karena faktor alam, walaupun perawatan solusinya ... tapi kan .... tahulah perawatan itu gimana? dan habis berapa biaya?🤧
checangel_
Dua pilihan terbuka lebar, .... bertahan untuk Allah atau pergi mengikuti emosi 🤝 dan dua konsekuensi ... jika bertahan tetap menerima luka dan menyaksikan luka, jika pergi luka itu berlalu dan larut ... tapi semua keputusan ada pada genggamanmu, Nay .... pasrahkan saja pada Langit, jika Langit sudah berbicara tak ada yang bisa mengelak🤧
checangel_
Ternyata sejak tadi, baru pemanasan konflik 🤣, dan hanyalah pertengkaran biasa, padahal Readernya sudah meluap-luap 🤭
checangel_: Yup, hanya dia (reader terpilih) yang bisa menemukan berlian itu dalam kotak tulisan tak bersuara /Smile/
total 8 replies
checangel_
Jangan sampai menuju ke istilah 'baby blues' ini, yuk Nay kendalikan emosimu 🤝🤧
checangel_
Iya, di dunia ini hanya segelintir orang yang peduli akan kata Adil itu🤧
checangel_
Jika dirimu mengatakan 'istri yang menyebalkan', lantas kenapa Reynaldi hadir?🤧, itukan bukti cintamu pada Nayara, Mas Gilang!!!!!!!!!/Grimace/
checangel_
Seberharganya waktu, seorang anak juga butuh waktu dari Ayahnya /Drowsy/
checangel_
Uang tak bisa menggantikan kasih sayang seorang Ayah kepada buah hatinya, ingat itu Mas Gilang!/Smile/
checangel_
No no!! Mengurus anak itu kewajiban kedua belah pihak, baik istri maupun suami, tidak ada salah satunya /Grimace/🤝
checangel_
Yuk, maaf-maafan, sudah tiga hari itu loh kalian berdua bertengkar ... ingat 'tak baik berselisih, bahkan berdebat hingga lebih dari tiga hari' /Chuckle/
checangel_
Hello Mas Gilang!!! Sepertinya dirimu harus mengikuti bimbingan kelas online tentang bagaimana menjadi suami yang baik dan bagaimana perjuangan seorang istri saat mengandung, agar pintu nuranimu terbuka lebar, selebar-lebarnya dan SADAR 🤝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!