NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Dalam Igauan

Malam kedua seharusnya menjadi masa pemulihan, namun bagi Arash, kegelapan yang menyelimuti kamar utama malam ini terasa lebih pekat dan mencekam. Jam digital di nakas menunjukkan pukul dua pagi ketika heningnya malam robek oleh suara napas Raisa yang pendek-pendek dan berat. Arash, yang hanya tertidur ayam di sisi ranjang yang sama, tersentak bangun saat merasakan guncangan hebat dari tubuh di sampingnya.

Ia menyalakan lampu redup dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. Raisa sedang berjuang dalam tidurnya. Wajahnya yang semula sudah mulai merona kini kembali sepucat pualam, namun bibirnya membiru. Tubuhnya meringkuk sangat erat, bergetar hebat bukan lagi karena kedinginan, melainkan karena kejang demam yang tampaknya mencapai titik puncak.

"Raisa? Raisa, bangun!" Arash menyentuh pipi Raisa dan hampir menarik tangannya kembali karena terkejut. Kulit wanita itu terasa seperti logam panas yang baru saja keluar dari tungku api.

Arash panik. Sang CEO yang biasanya mampu memetakan strategi akuisisi dalam hitungan detik kini mendadak lumpuh oleh rasa takut yang murni. Ia menyambar termometer digital; angkanya melompat ke 40,5 derajat Celsius. "Sial! Sialan!" umpatnya dengan suara pecah.

Ia segera mengambil kain basah, namun tangannya gemetar hebat hingga air dari baskom tumpah membasahi sprei sutranya. Ia mencoba menyeka leher dan dahi Raisa, namun wanita itu mulai meronta dalam igauannya. Air mata mengalir deras dari sudut matanya yang masih terpejam rapat, membasahi bantal yang kini menjadi saksi rapuhnya benteng pertahanan Raisa.

"Jangan ... jangan marahi aku lagi ..." bisik Raisa, suaranya parau, penuh dengan luka yang terpendam. "Arash ... maaf ... aku tidak sengaja ...."

Arash membeku. Tangannya yang sedang memegang handuk kecil berhenti di udara.

"Aku takut ..." Raisa terus mengigau, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. "Setiap hari ... aku harus berpura-pura kuat ... tapi dia sangat menakutkan. Dia menatapku seolah aku hanya sampah ... Arash, tolong jangan tatap aku seperti itu ...."

Kata-kata itu menghujam dada Arash lebih dalam daripada belati mana pun. Selama ini ia tahu ia bersikap kasar, namun ia tidak pernah menyadari bahwa setiap tatapan dingin dan kata-kata sarkasnya telah menjadi mimpi buruk yang menghantui bawah sadar Raisa. Ia merasa seperti monster yang sedang menyaksikan korbannya memohon ampun.

"Aku tidak bermaksud ...." Arash berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan. "Raisa, aku tidak membencimu. Bangunlah."

Namun Raisa justru semakin tenggelam dalam ilusinya. Tangannya meraba-raba udara dengan liar, seolah sedang mencari pegangan di tengah badai yang melanda pikirannya.

"Ayah ... jangan biarkan mereka mengambilku. Aku ingin pulang ... aku ingin seseorang menjagaku ... sekali saja ... aku lelah sendirian ...."

Melihat Raisa yang begitu hancur di depan matanya, Arash membuang semua logika dan jarak yang selama ini ia agungkan. Ia merangkak mendekat, menarik tubuh Raisa yang panas ke dalam dekapannya. Ia membiarkan kepala Raisa bersandar di dadanya, membiarkan panas tubuh wanita itu berpindah ke kulitnya sendiri.

"Kau tidak sendirian," gumam Arash, tangannya mengusap punggung Raisa dengan ritme yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski di dalamnya ia sendiri sedang hancur. "Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, termasuk diriku sendiri."

Tiba-tiba, tangan Raisa yang gemetar berhasil menemukan tangan kiri Arash. Ia mencengkeram jemari Arash dengan kekuatan yang mengejutkan untuk orang sesakit dia. Raisa menggenggamnya begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar.

"Jangan pergi ..." isak Raisa dalam tidurnya. "Kumohon ... jangan tinggalkan aku di tempat dingin ini ...."

Arash menunduk, menatap jemarinya yang bertaut dengan jemari kecil Raisa yang membara. Di titik ini, ia tidak lagi peduli pada kontrak, tidak peduli pada Kakek, dan tidak peduli pada citra CEO-nya yang tak tersentuh. Hatinya yang selama ini ia kunci rapat di dalam kotak es seolah meleleh secara instan. Rasa bersalah karena telah menekan wanita ini hingga ambruk berubah menjadi dorongan protektif yang primitif.

Ia membiarkan Raisa menggenggam tangannya. Ia tidak bergerak sedikit pun, meskipun posisi duduknya di tepi ranjang mulai membuat punggungnya sakit. Arash menggunakan tangan kanannya untuk terus membasahi kain dan menyeka panas di tubuh Raisa, sementara tangan kirinya tetap menjadi jangkar bagi wanita itu.

"Aku tidak akan pergi," bisik Arash berkali-kali di dekat telinga Raisa, seperti sebuah mantra yang ia harapkan bisa menembus alam bawah sadar wanita itu. "Aku akan menjagamu semalaman. Tidurlah."

Perlahan, seiring berjalannya waktu, napas Raisa yang semula tersengal-sengal mulai melambat. Menggigilnya berkurang, dan igauan pedih itu berganti menjadi desahan napas yang lebih tenang. Namun, genggamannya pada tangan Arash tidak mengendur sedikit pun. Raisa memeluk lengan Arash seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra luas.

Arash memperhatikan wajah lelap Raisa di bawah cahaya remang. Dalam kondisi tanpa pertahanan seperti ini, Raisa terlihat begitu cantik namun menyedihkan. Arash menyadari satu hal yang selama ini ia sangkal: ia tidak hanya ingin memiliki Raisa dalam sebuah kontrak hitam di atas putih. Ia ingin menjadi pria yang Raisa cari dalam igauannya—pria yang memberinya perlindungan, bukan ketakutan.

Setiap menit terasa seperti satu jam. Arash tetap terjaga, memantau suhu tubuh Raisa setiap beberapa saat. Ia bahkan tidak berani berkedip, takut jika ia kehilangan fokus sedetik saja, Raisa akan kembali dalam penderitaannya.

Kedekatan fisik yang terjadi di atas ranjang mereka malam ini terasa begitu jujur, tanpa ada sandiwara untuk orang luar. Hanya ada dua jiwa yang selama ini saling melukai, kini

mencoba saling menyembuhkan di tengah kesunyian malam.

Menjelang subuh, suhu tubuh Raisa akhirnya turun ke angka normal. Keringat mulai membasahi dahinya, tanda bahwa krisis telah lewat. Arash mengembuskan napas lega yang begitu panjang, seolah ia baru saja lolos dari eksekusi mati. Ia mencium kening Raisa dengan lembut—sebuah ciuman yang tidak memiliki unsur nafsu, melainkan penuh dengan janji dan permohonan maaf.

Namun, tepat saat Arash mulai merasa tenang dan hendak memejamkan mata sejenak sambil tetap menggenggam tangan Raisa, sebuah getaran keras berasal dari bawah bantal Raisa.

Arash mengernyit. Ia perlahan menarik ponsel itu tanpa melepaskan tangan Raisa. Layarnya menyala, namun bukan pesan singkat biasa. Itu adalah sebuah panggilan dari seseorang yang sangat ia kenal. Seseorang yang akhir-akhir ini berusaha untuk mendekati Raisa di berbagai kesempatan yang ia bisa.

Bukan hanya sekali, puluhan kali orang itu sudah berusaha menghubungi Raisa. Rahang Arash mengeras, kesal karena ia sudah mengendurkan kewaspadaan terhadap orang ini.

"Sial! Orang ini lagi!" gerutu Arash kesal.

Arash menatap wajah tidur Raisa, lalu menatap layar ponsel yang terus berkedip itu. Firasat buruk kembali menghantamnya. Mengapa dia menghubungi di saat seperti ini?

Tangan Arash ragu antara mengangkat panggilan itu atau membiarkannya, sementara di dalam genggamannya, jemari Raisa tiba-tiba berkedut, seolah ia bisa merasakan ancaman yang datang melalui sinyal ponsel tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!