Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Untuk Masa Depan
Kabar tentang konflik di Kenya dan tawaran dari keluarga Nara membuatnya harus berpikir sangat dalam tentang apa yang terbaik bagi dirinya dan bagi program Bumi Kreatif. Setelah berkumpul dengan timnya, mereka memutuskan bahwa Dito dan Rendra akan pergi ke Kenya untuk menangani situasi di sana, sementara Nara dan Reza akan menangani masalah di Indonesia dan mempertimbangkan tawaran dari keluarga.
"Seni bisa menjadi alat yang kuat untuk membawa perdamaian," ucap Dito saat sedang berangkat ke bandara. "Kita akan bekerja dengan komunitas di sana untuk menggunakan seni sebagai jembatan antara kelompok yang berseteru."
Rendra menambahkan, "Kita sudah memiliki pengalaman di Peru – membuktikan bahwa seni bisa menyatukan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Kita akan melakukan hal yang sama di Kenya."
DI KENYA
Setelah tiba di Nairobi, Dito dan Rendra langsung pergi ke pusat pendidikan kreatif yang mereka bangun di daerah terpencil dekat perbatasan Somalia. Kondisi di sana memang tidak aman, tapi mereka disambut dengan hangat oleh staf lokal dan anak-anak yang telah menjadi bagian dari program.
"Seni adalah satu-satunya hal yang membuat kita bisa tetap bahagia meskipun hidup dalam ketakutan," ucap Amina – seorang instruktur seni lokal yang telah bekerja dengan mereka selama setahun. "Anak-anak sering menggambar tentang dunia damai yang mereka impikan."
Mereka melihat karya seni anak-anak yang penuh dengan warna-warni cerah dan gambar-gambar orang dari berbagai suku bermain bersama. Meskipun hidup dalam kondisi sulit, anak-anak tersebut masih memiliki harapan yang besar untuk masa depan.
"Mari kita mengadakan festival seni perdamaian," ucap Dito setelah melihat karya anak-anak. "Kita akan mengundang anak-anak dari semua kelompok dan suku untuk membuat karya seni bersama – sebuah patung besar yang melambangkan perdamaian dan persatuan."
Mereka segera mulai merencanakan festival tersebut. Meskipun ada tantangan besar karena kondisi keamanan yang tidak stabil, mereka berhasil mendapatkan dukungan dari komunitas lokal dan bahkan dari beberapa pemimpin suku yang ingin melihat perdamaian datang ke daerah mereka.
Pada hari festival, ribuan orang berkumpul di lapangan besar yang telah mereka siapkan. Anak-anak dari berbagai suku bekerja bersama-sama untuk membuat patung besar dari tanah liat lokal, kayu, dan bahan alam lainnya. Mereka menggambar wajah-wajah teman dari suku yang berbeda, menunjukkan bahwa mereka bisa hidup bersama dalam damai.
Salah satu anak laki-laki bernama Kofi yang berasal dari suku yang sedang berseteru dengan suku tetangga berkata, "Saat saya bekerja bersama anak-anak dari suku lain, saya menyadari bahwa kita tidak berbeda jauh. Kita sama-sama suka menggambar, bernyanyi, dan bermain."
Festival berjalan dengan sukses dan bahkan menarik perhatian media internasional. Beberapa pemimpin suku yang melihat acara tersebut akhirnya sepakat untuk melakukan pembicaraan perdamaian – awalnya dimulai dari ruang pendidikan kreatif yang telah mereka bangun.
DI INDONESIA – TAWARAN DARI KELUARGA
Sementara itu, Nara bertemu dengan keluarga besarnya yang dia tidak lihat selama bertahun-tahun. Mereka bertemu di rumah keluarga yang besar di Jakarta, sebuah tempat yang sangat berbeda dengan lingkungan kampus Bumi Kreatif yang sudah biasa dia tempati.
"Kita tahu bahwa kamu telah melakukan hal yang luar biasa dengan programmu," ucap Pak Hartono – pamannya yang menjadi kepala keluarga. "Keluarga kita ingin mendukungmu sepenuhnya, tapi kita juga ingin kamu kembali dan membantu mengelola bisnis keluarga yang kini sudah sangat besar."
Dia menjelaskan bahwa bisnis keluarga yang awalnya hanya bergerak di bidang pertanian kini telah berkembang menjadi perusahaan besar yang juga bergerak di bidang properti, energi terbarukan, dan pendidikan. "Kita ingin membangun sekolah-sekolah kreatif yang bisa menjangkau lebih banyak anak-anak di seluruh Indonesia. Dengan pengalamanmu dan dukungan finansial dari keluarga, kita bisa melakukan hal yang lebih besar."
Nara mendengarkan dengan cermat. Dia tahu bahwa dukungan finansial dari keluarga akan sangat membantu program Bumi Kreatif untuk berkembang lebih cepat. Namun dia juga khawatir bahwa bisnis keluarga bisa mengubah visi dan nilai-nilai yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
"Saya sangat menghargai tawaran ini," ucap Nara dengan suara yang tenang. "Tapi saya perlu waktu untuk mempertimbangkannya dan juga berbicara dengan tim saya yang telah bekerja sama dengan saya selama ini."
Reza yang menemani Nara memberikan dukungan penuh. "Kita bisa menemukan cara untuk menggabungkan dukungan keluarga dengan visi kita. Misalnya, kita bisa membuat yayasan independen yang dibiayai oleh bisnis keluarga tapi tetap dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip Bumi Kreatif."
MEMBUAT PILIHAN AKHIR
Setelah beberapa minggu mempertimbangkan dan berkonsultasi dengan berbagai pihak, Nara membuat keputusannya. Dia mengundang seluruh keluarga besarnya dan tim Bumi Kreatif untuk berkumpul di kampus utama untuk mengumumkannya.
"Saya telah mempertimbangkan tawaran dari keluarga saya dengan sangat cermat," ucap Nara di depan semua orang yang berkumpul. "Dan saya telah membuat keputusan – saya akan menerima dukungan dari keluarga saya, tapi dengan kondisi tertentu."
Dia mengumumkan beberapa kesepakatan yang telah dia buat dengan keluarga:
1. Pendirian Yayasan Bumi Kreatif Global yang akan dibiayai oleh bisnis keluarga namun dijalankan secara independen dengan dewan pengawas yang terdiri dari orang-orang yang memiliki komitmen terhadap pendidikan kreatif
2. Pembangunan 100 pusat pendidikan kreatif baru di seluruh Indonesia dalam waktu lima tahun, dengan fokus pada daerah terpencil dan komunitas kurang mampu
3. Penciptaan program beasiswa global yang akan memberikan kesempatan bagi anak-anak berbakat dari seluruh dunia untuk belajar dan mengembangkan bakat mereka
4. Pengembangan pusat riset pendidikan kreatif yang akan melakukan penelitian tentang cara terbaik untuk mengintegrasikan seni ke dalam kurikulum pendidikan dan membantu anak-anak berkembang secara holistik
5. Jaminan bahwa visi dan nilai-nilai Bumi Kreatif akan tetap terjaga – tidak ada campur tangan dalam pengelolaan program dan semua keputusan harus berdasarkan kepentingan anak-anak dan komunitas
Keluarga Nara menyetujui semua syarat tersebut. "Kita melihat betapa pentingnya pekerjaan yang kamu lakukan," ucap Pak Hartono dengan suara yang penuh rasa hormat. "Kita hanya ingin membantu kamu menjangkau lebih banyak orang dan membuat dampak yang lebih besar."
KEBAHAGIAAN DAN PERSATUAN
Pada malam hari, seluruh tim Bumi Kreatif berkumpul lagi di Kafe Kreatif – kali ini dengan tambahan anggota keluarga Nara dan beberapa mitra baru. Mereka merayakan kesepakatan baru dan kabar sukses dari Kenya.
Dito dan Rendra baru saja kembali dari Kenya dan membawa kabar baik – pembicaraan perdamaian telah berjalan dengan baik dan mereka akan membangun lima pusat pendidikan kreatif baru di daerah yang terkena konflik untuk membantu anak-anak pulih dan membangun masa depan yang lebih baik.
"Anak-anak di Kenya sudah mulai membuat karya seni bersama lagi," ucap Dito dengan senyum lebar. "Mereka bahkan telah membuat pertukaran dengan anak-anak di Peru dan Indonesia – mereka akan mengirimkan karya mereka untuk dipamerkan bersama."
Rendra menunjukkan foto dari festival seni perdamaian di Kenya. "Lihat betapa bahagianya mereka saat bekerja bersama. Itulah bukti bahwa seni benar-benar bisa mengubah dunia."
Reza yang telah bekerja sama dengan universitas untuk mengembangkan kurikulum pendidikan kreatif baru menambahkan, "Kita sudah mulai mengembangkan materi pembelajaran yang bisa digunakan di seluruh dunia. Semua akan dibuat tersedia secara gratis agar siapa saja bisa mengaksesnya."
Nara melihat ke sekeliling pada orang-orang tersayangnya – timnya yang telah menjadi keluarga, keluarganya yang kini mendukungnya sepenuhnya, dan anak-anak yang telah mendapatkan harapan baru melalui program mereka. Hatinya penuh dengan rasa syukur yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Saya tidak bisa melakukan semua ini sendirian," ucap Nara dengan suara yang penuh emosi. "Setiap dari kalian telah memberikan kontribusi yang berharga untuk membuat semua ini menjadi mungkin. Cinta dan dukungan kalian adalah kekuatan yang membuat kita bisa terus maju dan mengatasi setiap tantangan yang datang."
Dito, Reza, dan Rendra mendekat dan masing-masing memberikan pelukan pada Nara. Mereka tahu bahwa meskipun pekerjaan mereka akan membuat mereka sering berada di tempat yang berbeda, mereka akan selalu saling mendukung dan cinta mereka satu sama lain akan tetap kuat.
EPILOG – 5 TAHUN KEMUDIAN
Lima tahun telah berlalu sejak keputusan penting tersebut dibuat. Bumi Kreatif Global telah berkembang menjadi organisasi yang dikenal di seluruh dunia, dengan lebih dari 500 pusat pendidikan kreatif di 60 negara dan telah membantu lebih dari 10 juta anak-anak.
Di kampus utama di Indonesia, sebuah patung besar berdiri di tengah lapangan – hasil kolaborasi anak-anak seniman dari seluruh dunia. Patung tersebut menggambarkan berbagai orang dari berbagai ras dan budaya yang bergandengan tangan, dengan satu tangan di atas hati dan satu tangan di atas sebuah kanvas kosong yang siap diisi dengan impian mereka.
Nara berdiri di depan patung tersebut, bersama dengan Dito, Reza, dan Rendra. Mereka sedang menunggu kedatangan delegasi dari berbagai negara yang akan menghadiri Festival Kreativitas Global yang akan diadakan di Indonesia.
"Lihat apa yang telah kita bangun," ucap Rendra dengan suara yang penuh kagum. "Semua dimulai dari impian kecil untuk membantu beberapa anak-anak di taman kota."
Reza mengangguk. "Dan sekarang kita telah membuktikan bahwa impian kecil bisa tumbuh menjadi sesuatu yang mengubah dunia."
Dito tersenyum. "Tidak hanya mengubah dunia, tapi juga membawa orang-orang lebih dekat bersama dan menunjukkan bahwa cinta dan kreativitas adalah kekuatan yang lebih kuat dari segala sesuatu."
Nara melihat ke arah anak-anak yang sedang datang dengan membawa karya seni terbaik mereka. Di antara mereka adalah Sari dari Indonesia, Sofia dari Peru, Kofi dari Kenya, dan banyak anak-anak lain yang telah menemukan jalan baru melalui pendidikan kreatif.
"Cinta yang dulu terjebak di dalam jerat kesulitan dan keraguan," ucap Nara dengan lembut. "Kini telah menjadi jembatan yang menghubungkan dunia dan membawa harapan bagi jutaan anak-anak di mana saja."
Mereka berjalan bersama menuju tempat acara, dengan langkah yang mantap dan hati yang penuh dengan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Mereka tahu bahwa masih banyak tantangan yang akan datang, tapi dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin dilakukan.