NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diplomasi Lipstik dan Hantu Masa Lalu sang Auditor

Arga Wiratama mungkin bisa menghitung aset triliunan rupiah tanpa meleset satu desimal pun, tapi ia tidak pernah bisa memprediksi kapan "masa lalu" akan datang mengetuk pintu kantornya dalam wujud seorang manajer keuangan yang ambisius.

Pagi itu, Nara datang ke kantor Arga dengan misi suci yang terinspirasi dari kekesalannya pada Raka di apartemen kemarin. Ia merasa perlu menegaskan wilayah kekuasaannya. Meskipun pernikahan ini berawal dari perjanjian paksa antara kedua orang tua mereka, sebuah kontrak perjodohan kuno demi penggabungan relasi bisnis dan janji masa lalu tapi Nara merasa "aset" yang sudah terlanjur ia tempeli ini tidak boleh diganggu oleh pihak luar.

Sambil melangkah mantap di koridor kantor yang dingin, Nara bergumam pelan dalam hatinya, semacam pidato kenegaraan untuk dirinya sendiri.

"Oke, Nara. Fokus. Ingat misi kita: Operasi Amankan Kulkas Dua Pintu. Walaupun si Arga itu didapat dari jalur 'pemaksaan struktural' orang tua, tapi ibarat barang dapet flash sale, sekali sudah di-check out dan sampai di rumah, hak milik sudah absolut! Nggak boleh ada tetangga sebelah atau pelakor kantor yang mau coba-coba retur apalagi minta refund. Si Clarissa itu harus tahu, meskipun Arga kaku kayak kanebo kering, cuma aku yang punya lisensi buat ngebashin dia pakai air stroberi!"

Nara membetulkan letak bando dan kotak makan siangnya yang bergambar bebek.

Dengan dagu terangkat, Nara mempercepat langkahnya. Siap menyerang siapa pun yang berani mengganggu "kontrak" hidupnya yang penuh warna itu.

Nara melangkah masuk ke area eksekutif dengan membawa kotak makan siang berisi nasi kuning yang bentuknya sudah tidak karuan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu ruangan Arga. Di sana, Clarissa sedang berdiri sangat dekat dengan Arga, memegang sebuah foto lama yang tampak sengaja ia keluarkan dari arsip pribadi.

"Arga, kamu pikir aku nggak tahu?" suara Clarissa terdengar tajam.

"Tentang alasan sebenarnya kamu setuju-setuju saja saat orang tuamu memaksa kamu menikah dengan Nara. Kamu cuma ingin lari dari bayang-bayang dia, kan? Wanita yang dulu meninggalkanmu demi karier di London."

Clarissa tersenyum licik.

"Kalau Nara tahu dia cuma dijadikan pelarian agar kamu bisa memenuhi janji paksa orang tuamu, apa dia masih mau bertingkah konyol di depanmu?"

Nara yang menguping di balik pintu merasa dadanya sesak sesaat.

Pelarian? Jadi aku ini cuma obat penawar mantan London lewat jalur nikah paksa?

Tapi sedetik kemudian, jiwa ubur-uburnya bangkit. Ia tidak akan membiarkan Clarissa menang.

BRAK!

"MAS ARGA! Istri kamu yang paling estetik sedunia datang membawa upeti!" teriak Nara sambil mendobrak pintu.

Clarissa tersentak dan buru-buru menaruh foto itu di meja. Arga mendongak, wajahnya yang tadi pucat pasi seketika berubah kaku saat melihat Nara masuk dengan gaya heroik yang berlebihan.

"Nara, kamu sedang apa?" tanya Arga, suaranya sedikit bergetar.

"Lagi inspeksi mendadak, Mas! Takutnya ada hama kantor yang mau ngerusak sistem manajemen rumah tangga kita," sindir Nara sambil melirik Clarissa tajam.

Clarissa tertawa sinis.

"Nara, kamu nggak dengar ya? Pernikahan kalian itu cuma hasil tanda tangan orang tua. Arga terpaksa melakukannya karena dia adalah anak berbakti. Dia punya standar tinggi di London dulu, dan kamu... yah, jauh dari itu."

Nara berjalan mendekat, lalu dengan nekat ia duduk di pinggir meja kerja Arga, tepat di atas dokumen yang sedang dikerjakan suaminya.

"Mbak Clarissa yang terhormat. Mau nikah paksa, nikah kontrak, atau nikah karena kepentok, faktanya sekarang buku nikah kami asli, lho. Bukan fotocopy apalagi hasil editan Photoshop."

Nara menatap Arga, lalu menarik dasi pria itu agar wajah mereka berdekatan.

"Mas, bener kata Mbak ini kalau aku bukan 'standar' London? Aku mah emang standar lokal, Mas. Standar yang bikin kamu gagal fokus tiap malem karena aku berisik, kan?"

Arga menatap mata Nara, mencari tanda-tanda kemarahan atau kesedihan, tapi ia hanya menemukan keberanian konyol. Arga perlahan memegang tangan Nara yang ada di dasinya.

"Clarissa, sejarah saya dengan Dinda di London adalah data lama yang sudah di-write-off. Tidak memiliki nilai ekonomi maupun emosional lagi bagi saya. Pernikahan saya dengan Nara mungkin dimulai karena perjanjian orang tua, tapi bagi saya, Nara adalah investasi terbaik yang pernah saya jalani."

Clarissa keluar dari ruangan dengan wajah merah padam setelah Arga memintanya pergi secara tegas. Namun, suasana di dalam ruangan mendadak canggung.

"Jadi... siapa si London itu?" tanya Nara, suaranya mengecil.

Ia mulai memindahkan nasi kuningnya ke piring Arga.

Arga menghela napas panjang.

"Namanya Dinda, dia auditor yang sempurna dalam segala hal. Kami dijodohkan dulu, tapi dia pergi karena menurutnya saya membosankan. Saat orang tua kita mengajukan nama kamu untuk memenuhi janji lama mereka, saya setuju karena saya pikir hidup saya memang harus diatur oleh orang lain."

Arga meraih tangan Nara, menghentikan aktivitas gadis itu yang sedang menata telur dadar.

"Tapi saya salah, menikah denganmu karena paksaan adalah satu-satunya kesalahan paling menguntungkan dalam hidup saya. Dinda itu perfeksionis, tapi dia membuat saya merasa seperti mesin. Kamu... kamu membuat saya merasa seperti manusia yang bisa cemburu gara-gara pria bernama Raka."

Nara terdiam, lalu sebuah ide konyol muncul di kepalanya untuk mencairkan suasana.

"Jadi, karena aku udah nyelametin kamu dari ancaman Clarissa soal mantan, aku dapet dividen apa nih?"

Arga menarik kursi kerjanya lebih dekat ke arah Nara yang masih duduk di meja. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nara, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di kantor dengan dinding kaca.

"Dividennya adalah..." Arga menggantung kalimatnya.

Ia menarik kepala Nara pelan, lalu mengecup keningnya dengan sangat lama.

"Akses tanpa batas ke hati saya, tanpa perlu audit tahunan. Dan malam ini, kita akan makan malam di luar. Tidak ada nasi kuning yang telur dadarnya penyet."

Nara tertawa lepas, memeluk leher Arga erat-erat.

"Tadi aku denger Clarissa bilang kamu kaku banget pas sama mantan kamu. Berarti aku hebat dong bisa bikin robot kayak kamu jadi begini?"

"Kamu bukan hebat, Nara. Kamu itu anomali yang merusak seluruh sistem logika saya," bisik Arga sebelum mencium bibir Nara dengan lembut, sebuah ciuman yang membuktikan bahwa meskipun mereka menikah karena paksaan orang tua, perasaan yang tumbuh di antara mereka adalah murni hasil transaksi hati yang jujur.

Nara tersenyum di sela ciuman mereka.

"Dendanya tetep jalan ya, Pak Audit!"

"Denda apa lagi?"

"Denda karena udah punya mantan yang bikin aku hampir galau tadi!"

"Diterima... Pembayaran akan dilakukan malam ini dengan pelukan tanpa batas waktu."

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!