PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Pernikahan
sudah berhari hari lamanya seorang pria muda. adik kembaran Jihan yaitu Jinan berjuang antara sadar dan koma, dan hari ini tubuhnya mulai melemah.
“Naikkan oksigennya!”
“Tekanan darah... masih menurun, Dok!”
Detik-detik berjalan lambat, Waktu seolah berhenti di ruangan yang hanya diisi bunyi mesin.
Zeiran berdiri mematung dalam balutan seragam militernya dari jarak jauh dibalik kaca. Di belakangnya, beberapa pengawal pribadi bersiaga.
Pikirannya pecah, kematian Alvaren, Jihan yang tidak bisa di hubungi lalu melakukan pencariannya ke wilayah utara, tempat yang sebelumnya disiapkan Alvaren, untuk menemukan Jihan berakhir nihil, sementara krisis jaringan militer yang belum usai terus menuntut fokusnya. Kini, nyawa Jinan yang berada di ujung tanduk menambah beban di pundaknya. Sehingga tidak tau kabar pernikahan Jihan.
Beberapa meter darinya, para penjaga suruhan Rahez berdiri seperti anjing pelacak, menatap Zeiran dengan tangan yang siap pada senjata di balik jas mereka. Mereka diperintahkan untuk memastikan Zeiran tidak membawa Jinan pergi.
Zeiran menyandarkan tubuh kekarnya ke tembok rumah sakit yang dingin. Ia mengusap wajah dan mengacak rambutnya dengan kasar.
Zeiran menoleh, menatap tajam pengawal Rahez yang sejak tadi mengawasinya. “Rahez..." desis Zeiran dengan suara rendah yang berbahaya. "Kekacauan ini pasti ada hubungannya dengan tangan kotormu." Zeiran menghela napas berat, mencoba menekan amarah yang nyaris meledak.
Tepat saat itu, pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah yang tertutup masker medis.
Zeiran segera menegakkan tubuhnya, melangkah maju "Bagaimana kondisinya? Katakan padaku dia baik-baik saja."
Dokter itu melepas maskernya, menarik napas panjang sebelum menggeleng lemah. "Kondisinya masih sama. Sangat buruk. Tubuhnya mulai menolak pengobatan. Kami baru saja melakukan resusitasi jantung karena detaknya sempat menghilang."
Mendengar itu, Zeiran mundur perlahan, kembali menyandar ke tembok, seolah kekuatannya baru saja dicabut paksa. Ia memejamkan mata sesaat.
"Dokter," Zeiran berucap dengan suara berat yang bergetar namun penuh penekanan. "Lakukan apa pun. Gunakan alat apa pun yang ada di dunia ini. Aku tidak peduli berapa biayanya, aku yang akan menanggung semuanya. Selamatkan dia."
Dokter itu menatap Zeiran dengan rasa simpati. "Kami sudah memberikan fasilitas terbaik yang tersedia di Aestrasia. Jika ada alat atau obat khusus yang dibutuhkan dari luar negeri, kami pasti akan segera memberitahu Anda. Kami sedang berjuang sekuat tenaga."
Dokter itu membungkuk hormat. "Saya permisi dulu, masih ada beberapa prosedur yang harus dipantau."
Setelah dokter pergi, koridor itu kembali sunyi, menyisakan Zeiran yang berdiri sendirian di tengah kepungan orang-orang Rahez.
"Jinan... kau harus berjuang. Jangan menyerah sekarang," gumam Zeiran dengan suara yang pecah dan parau. "Hanya kau yang tersisa... kau harus bangun."
Zeiran merosot, membiarkan punggungnya bergesekan dengan tembok rumah sakit yang kasar hingga ia terduduk di lantai.
"Dan Jihan... kau di mana?" bisik Zeiran pelan, Untuk pertama kalinya, setetes air mata jatuh membasahi seragam militernya sesuatu yang sangat jarang terjadi seperti dirinya. firasat buruk justru semakin menguat, mencengkeram batinnya.
"Aku memiliki firasat yang sangat tidak enak tentangmu, Jihan. tetaplah bertahan di mana pun kau berada..."
—-
The Grand Pavilion of Alvarezh
Tempat upacara pernikahan yang megah. di mana pilar-pilar marmer putih setinggi dua belas meter berdiri kokoh menyangga langit-langit yang dihiasi lukisan tangan berlapis emas.
Lampu kristal raksasa yang menggantung di tengah ruangan memancarkan cahaya pada lantai marmer. Di bagian depan, altar dihiasi dengan ukiran emas dan bunga-bunga langka.
Para tamu VIP, yang terdiri dari tokoh politik tertinggi Aestrasia, perwakilan diplomatik, diplomat, elit bisnis global, para konglomerat, politisi, pengusaha, ceo Perusahaan besar, jenderal, hingga tokoh-tokoh negara, mereka semua berpakaian formal, menantikan momen bersejarah ini. Bisikan-bisikan kekaguman mulai memenuhi ruangan.
“Sungguh aliansi yang tak terbayangkan,” ujar salah satu tamu dengan nada rendah. “Kekuatan finansial Marculles Group dan dominasi keluarga Alvarezh... Pernikahan ini akan mengguncang geopolitik dunia.”
“Lihatlah dekorasinya!” sahut yang lain sembari memandang sekeliling. “Rahez Alvarezh benar-benar tahu cara menunjukkan kekuasaannya. Pengantin wanita itu sungguh beruntung.”
“Aku tidak sabar melihatnya. Dia pasti sangat cantik,” timpal seorang sosialita dengan antusias.
William Marculles memasuki ruangan didampingi keluarganya. William mengenakan tuksedo yang dirancang sangat mewah dan semourna, tampak sangat dominan dan dingin. Wajahnya tampan, tetapi matanya menunjukkan ketajaman analitis yang tak kenal ampun, seperti seorang CEO yang menghadiri merger, bukan pernikahan.
Di sisinya, berdiri Eleanor Marculles dan Alex Marculles. Eleanor Wajahnya berseri-seri di balik ketenangan khas bangsawan mereka. Eleanor dan Alex saling tatap dengan pandangan penuh arti bahwa ambisi dan pernikahan putra mereka, telah terpenuhi.
Setelah semua ritual pembuka, orkestra beralih memainkan Musik Mars Pernikahan yang megah. pintu besar aula pernikahan terbuka, Semua tamu serentak berdiri, menoleh ke arah pengantin wanita yang akan memasuki ruangan.
Di luar pintu, Jihan dengan gaun putih yang megah hiasan emas dan bertabur permata, Mahkota berkilauan di kepalanya membuatnya tampak bak putri kerajaan. Disampingnya rahez penuh wibawa, Ia Senyum tipis mengembang di wajahnya, bukan senyum seorang wali yang bangga, melainkan senyum seorang penguasa yang baru saja memenangkan permainan.
Barisan pengawal pribadi Rahez berbaris rapat di sisi kiri dan kanan, menjaga ketat agar tak seorang pun bisa mendekati Jihan tanpa izin, Tatapan mereka tajam, memberi peringatan keras pada siapa pun yang mencoba menghalangi terutama dari masa lalunya.
Rahez berbisik di telinga Jihan,“ Ingat perjanjian dan jinan. lakukan ini dengan sempurna, jangan membuat drama atau masalah kembali.” nadanya mengancam .
Jihan hanya mengangguk kecil. Ia mengambil napas dalam-dalam. Dengan melamgkah perlahan berjalan di karpet merah, menuju altar tempat william marculles berada. Wajah Jihan memasang ekspresi dingin dan anggun yang penuh wibawa.
Para tamu berbisik kagum akan kecantikan Jihan, Helena yang duduk di deretan depan menunduk pelan, menahan perasaan iba yang kian menggunung, Marisa di sisinya hanya menarik napas panjang, menyembunyikan keresahan di balik wajah dingin.
Di altar, berdiri William pria tinggi Wajahnya tampan, penuh wibawa, dan matanya menatap Jihan dengan rasa puas, Baginya, ini bukan sekadar pernikahan, tapi transaksi besar yang akan memastikan kekuasaan dan keturunannya.
Saat keduanya tiba di depan altar, Rahez melepaskan lengan Jihan. “William,” ucap Rahez dengan senyum ramah yang tidak sampai ke matanya. “Aku menyerahkan Jihan, adik perempuanku, padamu. Aku harap kau akan menjaganya dengan baik.”
“Aku akan menjaganya sesuai dengan yang kuperlukan, Rahez,” jawab William dengan suara dalam yang dingin. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Rahez, melainkan menatap langsung ke dalam mata Jihan, seolah sedang meneliti barang berharga yang baru saja ia beli.
Batin Jihan bergejolak, Ia ingin menolak, berteriak, lari… tapi semua mata tertuju padanya.
Rahez mundur, membiarkan Jihan berdiri di samping William.
Upacara pun berlanjut. “ Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyaksikan pernikahan antara Tuan William Marculles dan Nona Lakshana Hurijihan Alvarezh, Semoga pernikahan ini membawa keberkahan, keturunan, dan kejayaan bagi kedua keluarga.” Ucap Pejabat perwakilan hukum negara dengan lantang.
Pejabat hukum membuka prosesi, Narator.
“William Marculles, apakah engkau menerima Lakshana Hurijihan Alvarezh sebagai istrimu yang sah, untuk mendampingi dalam suka dan duka, dalam segala keadaan, hingga maut memisahkan?”
“Aku menerima.” William dengan suara lantang.
Para tamu bertepuk tangan kecil, beberapa tersenyum puas.
Sekarang semua mata beralih ke Jihan.
“Lakshana Hurijihan Alvarezh, apakah engkau menerima William Marculles sebagai suamimu yang sah, untuk mendampingi dalam suka dan duka, dalam segala keadaan, hingga maut memisahkan?”
Sunyi.
Jihan terdiam, bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang keluar, Tangan Rahez yang berada di sampingnya mengetuk kursinya pelan, memberi isyarat halus tapi penuh ancaman.
“ Aku Menerimanya” bisik Jihan akhirnya dengan suara parau.
Rahez tersenyum kecil di barisan depan, sementara Adreena menghela napas lega. Upacara berjalan sesuai rencana.
Lalu tiba sesi penandatanganan. Sebuah meja kecil dengan pena emas disiapkan di hadapan mereka. William Marculles maju lebih dulu menandatangani dokumen pernikahan dengan gerakan cepat seolah menandatangani kontrak bisnis.
Kemudian giliran Jihan.
jihan berjalan ke meja. Tangannya yang memegang pena emas, melihat namanya, Hurijihan Alvarezh, akan segera digantikan oleh Hurijihan Marculles. Perasaan mual dan kehancuran menguasainya.
Ini bukan mendatangani surat pernikahan tapi surat kematian untuk diriku sendiri. Batin Jihan.
Jihan menuliskan tandatangannya dengan tulisan yang rapi namun sedikit kaku. Saat pena itu ditarik, ia merasa seolah ia baru saja menjual jiwanya untuk selamanya.
Lalu, seorang pembawa cincin maju, membuka kotak kecil berisi sepasang cincin emas putih berhiaskan berlian.
William meraih tangan Jihan. Sentuhan pertama mereka. Jihan merasakan tangan William, kuat dan dingin. William memasangkan cincin itu di jari manis Jihan.
Saat tiba giliran Jihan, tangannya bergetar, mengambil cincin William, dan memasangkannya di jari William. Dengan sangat cepat, Jihan segera menarik tangannya.
Pejabat hukum itu kembali berseru, “Dengan kuasa yang diberikan kepadaku, saya menyatakan kalian sah sebagai suami istri! Anda dipersilakan mencium pengantin wanita!”
Fotografer utama dengan antusias, berbicara ke mikrofon kecil “Baik, Tuan dan Nyonya Marculles! Sedikit lebih dekat! Tunjukkan cinta Anda untuk kamera! Tuan William! Sekarang, ciuman pengantin! The grand kiss!”
Jantung Jihan berdebar kencang. Ia memejamkan mata sesaat. Merasakan sensasi jijik dan penghinaan jika William menciumnya di bibir, di hadapan semua orang.
Tiba-tiba, William menggerakkan tangannya ke wajah Jihan.
Batin Jihan, Tidak! Jangan sentuh aku! Jangan lakukan itu!
William memegang dagu Jihan dengan ibu jari dan jari telunjuknya sebuah sentuhan yang sangat dingin. mendekat, mencium dahi Jihan.
kecupan yang singkat, dingin, bukan ciuman cinta.
Terima kasih Tuhan. Dia tidak tertarik. Ini lebih mudah daripada yang aku bayangkan. Batin Jihan.
Di sesi foto William dan Jihan berdiri berdampingan di altar. Senyum Jihan adalah topeng yang terbuat dari es dan riasan.
Senyum William hanyalah sedikit lekukan di bibirnya, ekspresi kemenangan yang terkontrol. William segera menarik diri, kembali ke posisinya semula. “Cukup. Kita sudah membuang banyak waktu. Sesi foto selesai.”ujarnya tegas kepada fotografer.
Fotografer, terkejut dengan nada tegas itu, segera mengangguk. “ baik tuan.”
Alex dan Eleanor duduk di meja kehormatan, yang dipenuhi para pengusaha dan pejabat tinggi dunia. Mereka mengamati William dan Jihan, Meskipun William terlihat dingin dan tapi Jihan terlihat cantik, bagi mereka semua berjalan sempurna.
“Alex, lihatlah. Bukankah ini luar biasa? “bisik Eleanor sambil menyesap champagne. “Aula yang sempurna, tamu-tamu yang sempurna. Ini adalah pernikahan yang megah dan mewah di abad ini.”
Eleanor menatap Jihan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mengakui
sangat kuat. “ Dan Jihan! Gaunnya, perhiasannya! Haute Couture yang sangat elegan. Dan wajahnya… dia sangat photogenic, foto-foto ini akan menghasilkan yang luar biasa untuk majalah Forbes edisi khusus.”
“Semua sesuai rencana, Eleanor,” sahut Alex dingin. “Dia memiliki aura kebangsawanan yang kita butuhkan. William berhasil mewujudkan kesepakatan itu. Dan yang paling penting... dia menikah lalu memilki keturunan.”
Eleanor menoleh ke arah suaminya dengan semangat meluap. “Aku sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucuku.!”
Alex menyesap minumannya, lalu menoleh sedikit ke arah Eleanor. teringat ancamannya kepada William beberapa waktu lalu. ancaman wasiat itu berhasil.
“ William tidak akan pernah membiarkan Sean mendekati kekuasaannya.” ujar Alex dengan suara rendah, penuh penekanan “ Dia akan melakukan apa pun untuk menjaga Marculles Group.”
Rahez Alvarezh, yang sedang berbicara dengan tamu, mendekati meja kehormatan dengan senyum bisnis yang elegan. “ Lord Alexandor, Lady Eleanor. Saya harap Anda puas dengan perayaan ini.”
“Sangat puas, Tuan Rahez,” jawab Alex sembari menjabat tangan Rahez. “Pernikahan ini, dan penyatuan bisnis kita, akan menjadi tonggak sejarah. Aku harus memuji Anda. Jihan adalah wanita yang sangat berharga.”
“Tentu saja. Jihan adalah wanita terbaik dan berharga di Alvarezh . Dia akan menjadi pasangan yang cocok bagi William.” Rahez Membanggakan diri
Eleanor memandang Rahez dengan binar geli yang tertahan di matanya. "Tentu saja, Tuan Rahez," sahutnya anggun. "Dia sangat cantik, dan Aku harus akui, ketenangannya sangat mengagumkan. Ayo kita samperin pengantinya.”
Segera, Alexander Marculles dan Eleanor Marculles mendekati pasangan itu, didampingi Rahez dan Adreena.
“Jihan Marculles. Selamat datang di keluarga kami,” ucap Alexander formal.
Eleanor memeluk Jihan singkat, matanya menilai setiap detail perhiasan yang dikenakan menantunya. “Oh, kau sangat cantik. Kami sangat senang.” Lalu ia beralih pada William. “William, kau akhirnya melakukan hal yang benar. Aliansi ini akan membawa kita ke puncak yang baru.”
“Tentu saja.” Alexander menyela, sambil menatap William dan Jihan “ Dan sekarang, kita tidak perlu membuang waktu. Soal pewaris marculles.”
“Dan aku… aku sudah tidak sabar untuk menggendong cucu.” Sahut eleanor, matanya berbinar penuh harapan “Kami butuh keturunan, Seseorang yang akan meneruskan darah Marculles.”
keturunan? ini bukan hanya tentang pernikahan, tapi juga melahirkan keturunan yang akan meneruskan kekejaman mereka. Batin Jihan
Jihan merasakan tubuhnya dingin. hanya bisa memaksakan senyum tipis sebagai respons, karena ia tidak punya kata-kata untuk membalas tuntutan itu.
Rahez menyela dengan tawa penuh kemenangan, mengambil alih pembicaraan untuk mengamankan kemitraan itu. “ Jangan khawatir, Tuan Alexander, Nyonya Eleanor. Jihan adalah wanita yang sangat berdedikasi pada keluarga. Saya berharap dalam waktu dekat, Anda akan memiliki cucu yang Anda inginkan.”
Adreena menambahkan dengan nada manis yang palsu. “Tentu saja! William dan Jihan adalah pasangan yang sempurna. Cepat atau lambat, keturunan Marculles Alvarezh akan segera lahir.”
William hanya berdiri diam, tidak membantah orang tuanya, juga tidak memberikan hal romantis kepada Jihan. Ia menerima tuntutan keturunan itu sebagai bagian logis dari pernikahan ini.
Di sudut lain, Mahreya duduk di meja kehormatan, matanya tak lepas dari Jihan. Ia melihat gaun mewah, mahkota berlian, dan William Marculles di samping Jihan. Yang tidak melihat cinta.
Jihan yang merasakan tatapan Mahreya, menatap balik. Sekilas, mata mereka bertemu, dan Jihan menatapnya tanpa emosi.
Mahreya mengangkat gelasnya ke arah Jihan dari kejauhan. Kau adalah kesedihan yang indah, Jihan. Kau adalah kekalahan terakhir Sereena. kekuasaan Alvarezh ada sepenuhnya di tangan putraku. Kau tidak lebih dari alat yang berguna untuk mendapatkan pengaruh aliansi dunia. Terima kasih atas pengorbananmu yang menyedihkan. Batin Mahreya
Di sudut aula, seorang pria muda berdiri mematung. Pria seumuran Jihan hanya bisa menatap dari kejauhan dengan tatapan yang hancur. menyaksikan wanita itu bersanding dengan pria lain di atas altar.
Pria itu adalah Alkhan, ia tak sanggup lagi. Pemandangan itu seperti menyayat dadanya. Ia segera berbalik, melangkah cepat menembus kerumunan tamu yang sibuk tertawa dan berbincang.
Begitu keluar dari gedung megah itu, Alkhan seolah baru saja mendapatkan oksigen kembali. mengusap wajah dan mengacak rambutnya dengan kasar. Sesak yang luar biasa menyerang dadanya.
Alkhan menyandarkan punggungnya ke tembok dingin bangunan, lalu memukul dadanya sendiri berkali-kali, “Aku tidak percaya... kau secepat ini menikah," bisiknya dengan suara bergetar. "Aku sudah berusaha sekeras mungkin, untuk lebih dekat denganmu, meskipun aku tahu... kau hanya menganggapku teman."
Alkhan mendongak, menatap langit sembari menahan air mata yang mendesak keluar. Ia tidak ingin terlihat lemah, namun pertahanannya runtuh.
"Aku tidak sanggup melihatmu bersanding dengan pria itu," rintihnya pelan, suaranya tenggelam oleh angin malam. "Sakit... rasanya sangat sakit."