NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Duel Terakhir

Cahaya merah dari satelit orbital di langit malam berpendar semakin tajam, mengunci koordinat Aula Utama Kota Void dengan presisi yang mematikan. Di bawahnya, di tengah kawah yang membeku dan berasap, Li Wei mencoba bangkit. Setiap gerakannya memicu rasa sakit yang luar biasa; saraf-saraf di lengan kanannya terasa seperti dicelupkan ke dalam timah panas setelah melakukan Limit Break untuk memukul mundur Jenderal Han-Bing sebelumnya. Sensasi dingin sisa nol mutlak masih menusuk hingga ke sumsum tulangnya, menciptakan kontras yang menyiksa dengan suhu udara yang kini tiba-tiba memanas karena gesekan energi di atmosfer.

"Li Wei, jangan bergerak!" seru Chen Xi. Ia berlutut di samping Li Wei, tangannya yang gemetar mencoba menyuntikkan stimulan saraf ke leher pria itu melalui celah zirahnya yang retak. "Sistem sarafmu berada di ambang kolaps total. Jika kau memaksa melakukan Overclock lagi, kau akan mati sebelum satelit itu menembak!"

"Dia sudah di sini, Chen Xi," bisik Li Wei. Matanya tidak menatap ke langit, melainkan ke arah pintu gerbang yang perlahan hancur oleh tekanan udara yang sangat masif. "Hologram tadi hanyalah umpan untuk memastikan kita tidak lari. Dia sudah berada di dalam radius sensorikku."

Sesuai dugaan, sesosok bayangan muncul dari balik kabut uap yang membeku. Jenderal Zhao Kun melangkah masuk dengan tenang, jubah militer putihnya yang berhias sulaman emas tidak ternoda sedikit pun oleh kekacauan di sekelilingnya. Di tangannya, ia memegang tongkat komando yang berdenyut dengan pendar ungu—sebuah pusat resonansi energi yang mampu memanipulasi gravitasi lokal.

"Aku selalu bangga dengan ketajaman instingmu, Li Wei," suara Zhao Kun menggelegar, memantul di dinding aula yang retak. "Bahkan dengan saraf yang hangus dan tubuh yang membeku, kau masih bisa merasakan kehadiranku. Itulah mengapa kau adalah produk terbaik dari klan Li yang pernah kusentuh."

"Aku bukan mahakaryamu, Jenderal," geram Li Wei. Ia menggunakan pedang Bailong-Jian yang kini retak di beberapa bagian sebagai tumpuan untuk berdiri. Pedang itu mengeluarkan bunyi denging rendah, seolah-olah sedang merintih karena kelelahan struktural. "Aku adalah kegagalanmu. Aku adalah bukti bahwa kau tidak bisa mengubah manusia menjadi sekadar baterai tanpa perlawanan."

Zhao Kun tertawa pelan, sebuah suara dingin yang mengingatkan Li Wei pada bunyi pintu laboratorium bawah tanah tempat ia menemukan mayat-mayat keluarganya dalam tabung. "Kau pikir kau sedang melawan? Tidak, Li Wei. Setiap amarah yang kau lepaskan pada Han-Bing, setiap keputusasaanmu saat melihat sahabatmu tewas di pipa induk, itu semua adalah proses pengisian. Kau sedang mengisi inti energimu sendiri untukku."

"Kau gila!" teriak Li Wei. Ia menerjang maju, mengabaikan peringatan merah yang berkedip di pandangannya.

Benturan pertama terjadi begitu cepat hingga Xiao Hu hanya melihat kilatan cahaya putih dan ungu. Li Wei menghantamkan pedangnya, namun Zhao Kun hanya mengangkat satu tangan. Sebuah perisai energi transparan—Void-Link—menahan bilah Bailong-Jian dengan mudah. Tekanan gravitasi dari perisai itu membuat lantai di bawah kaki Li Wei retak sedalam sepuluh sentimeter.

"Level 4 melawan Level 7?" Zhao Kun menatap Li Wei dengan tatapan meremehkan. "Kau harus tahu tempatmu, Muridku. Martabatmu tidak akan bisa menembus hukum fisika yang aku kendalikan. Kau hanyalah serangga yang terjebak dalam jaring laba-laba yang kau sebut kehormatan."

Dengan sentakan kecil pada tongkatnya, Zhao Kun melepaskan gelombang gravitasi yang melempar Li Wei kembali ke pelukan reruntuhan. Li Wei memuntahkan darah segar yang kini berwarna merah pekat, tanda bahwa organ dalamnya mulai menyerah pada tekanan tekanan tinggi.

"Kak Li!" Xiao Hu menjerit, ia mencoba berlari mendekat namun Chen Xi menahannya sekuat tenaga.

"Tetap di belakang, Xiao Hu!" perintah Chen Xi. Ia segera mengaktifkan perangkat navigasi elektronik di pergelangan tangannya, mencoba meretas sinyal satelit orbital yang semakin dekat dengan titik tembak. "Li Wei! Aku butuh waktu untuk mengalihkan penguncian satelit! Tahan dia atau kita semua akan menjadi abu!"

"Aku akan memberimu lebih dari sekadar waktu, Chen Xi," bisik Li Wei sambil mengusap darah di bibirnya.

Zhao Kun melangkah mendekati Li Wei yang tergeletak. "Kau ingat apa yang kukatakan di parit Sektor 7 dulu? Bahwa martabat adalah kemewahan bagi mereka yang sudah mati. Sekarang, aku akan mengambil martabatmu, energimu, dan kemanusiaanmu untuk melengkapi proyek ini."

"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain debu," balas Li Wei. Ia merangkak perlahan, jemarinya mencengkeram kristal Void yang berserakan di lantai altar.

"Masih ingin mencoba solusi lain?" Zhao Kun mengejek. "Tidak ada jalan keluar. Langit sedang membidikmu, dan tanah ini akan menelanmu saat aku memicu reaksi berantai di pusat tenaga ini."

Li Wei menatap Chen Xi, sebuah kode tanpa kata yang telah mereka bangun sejak mereka terpaksa bekerja sama untuk melarikan diri dari tim pembersih di bunker. Chen Xi mengangguk kecil, jemarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi di atas layar virtualnya, mencoba mencari celah dalam protokol keamanan Kekaisaran yang ia kenal baik.

"Satu serangan terakhir, Jenderal," ucap Li Wei. Tiba-tiba, bilah Bailong-Jian yang patah mulai berpendar dengan cahaya hitam-ungu—energi Void yang tidak stabil yang ia serap langsung dari frekuensi altar.

"Apa yang kau lakukan?! Kau akan memicu ledakan inti sarafmu sendiri!" Zhao Kun terkejut, ia segera mundur selangkah dan memperkuat perisainya.

"Jika aku harus menjadi hantu agar mereka bisa selamat," Li Wei berdiri dengan sisa tenaga terakhirnya, aura hitam menyelimuti tubuhnya layaknya zirah kegelapan yang melahap cahaya di sekitarnya. "Maka aku akan menyeretmu ke dalam kehampaan bersamaku."

Penghancuran Altar

Ledakan energi dari pedang Li Wei menghantam perisai Zhao Kun, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sisa-sisa pilar aula. Suasana menjadi gelap, hanya diterangi oleh pendar merah dari langit yang semakin mendekat dan kilatan ungu dari senjata mereka yang beradu. Li Wei merasa kesadarannya mulai memudar, namun rasa tanggung jawab untuk melindungi Xiao Hu—satu-satunya jangkar kemanusiaannya—memaksanya tetap sadar.

"Kau pikir pengorbanan ini akan mengubah segalanya?" Zhao Kun menekan tongkatnya ke arah dada Li Wei. "Kekaisaran jauh lebih besar dari sekadar Kota Void ini!"

"Mungkin," Li Wei tersenyum getir, giginya merah oleh darah. "Tapi hari ini, kau akan kehilangan inang terbaikmu."

Di sudut ruangan, Chen Xi berteriak, "Sinyal satelit mulai goyah! Li Wei, sekarang! Picu resonansinya!"

Li Wei memejamkan mata, membiarkan sistem sarafnya terbakar sepenuhnya. Ia bisa merasakan detak jantungnya melambat, namun setiap denyutnya melepaskan gelombang energi yang mampu menggetarkan fondasi Altar Tengah.

"Berhenti! Kau akan menghancurkan seluruh fasilitas ini!" Zhao Kun mulai panik saat melihat retakan di lantai altar mengeluarkan cahaya putih menyilaukan.

"Itulah rencananya, Jenderal," bisik Li Wei tepat di depan wajah mentornya.

"Kau pikir kau bisa mengendalikan energi yang bahkan tidak dipahami oleh leluhurmu?" Zhao Kun berteriak di tengah deru angin kencang yang tercipta dari pusaran energi altar. "Kau sedang membakar jiwamu untuk sesuatu yang sia-sia, Li Wei!"

"Mungkin," jawab Li Wei, suaranya kini terdengar tenang meskipun zirah di pundaknya mulai meleleh. "Tapi aku tidak bertarung untuk masa lalu yang sudah kau hancurkan. Aku bertarung untuk mereka yang masih memiliki hari esok."

Li Wei menghentakkan pedangnya ke lantai altar. Resonansi hitam-ungu meledak, menembus perisai gravitasi Zhao Kun dan menghantam langsung ke arah tongkat komando sang Jenderal. Zhao Kun terlempar beberapa meter, jubah putihnya kini hangus di bagian tepi. Untuk pertama kalinya, wajah sang Jenderal menunjukkan gurat keterkejutan yang nyata.

"Chen Xi! Sekarang!" Li Wei memberikan aba-aba dengan sisa kesadarannya yang kian menipis.

Chen Xi tidak membuang waktu. Dengan satu entakan terakhir pada papan ketik virtualnya, ia mengirimkan paket data korup yang ia ambil dari dekripsi chip saraf Sersan Han ke arah frekuensi satelit orbital. Sinyal merah di langit berkedip liar, berganti warna menjadi jingga sebelum akhirnya kehilangan fokus penguncian sepenuhnya.

"Penguncian dialihkan!" teriak Chen Xi, air mata menetes di pipinya yang terkena debu ledakan. "Tapi satelit itu tetap akan menembak, Li Wei! Reaksi otomatisnya sudah tidak bisa dihentikan!"

"Itu sudah cukup," bisik Li Wei. Ia menatap ke arah Xiao Hu yang masih mematung. "Xiao Hu, ambil kotak musik itu. Lari ke arah pintu belakang lab yang menuju jalur pembuangan."

"Tapi Kak Li—"

"Lari!" perintah Li Wei dengan nada Komandan yang tak terbantahkan.

Zhao Kun bangkit dengan murka, matanya memancarkan cahaya ungu yang menandakan ia sedang melakukan sinkronisasi Multi-Link dengan sisa-sisa drone di sekitar mereka. "Kalian tidak akan pergi ke mana pun! Jika aku tidak bisa memanen energimu, maka tidak akan ada yang tersisa dari kota ini!"

Tepat saat Zhao Kun mengangkat tangannya untuk melepaskan serangan gravitasi skala besar, seberkas cahaya putih raksasa turun dari langit. Satelit orbital telah menembakkan meriam ionnya. Namun, karena sabotase Chen Xi, tembakan itu tidak menghantam altar secara tepat, melainkan menghantam tangki cadangan Qi-Battery di sisi timur aula.

Ledakan yang terjadi jauh lebih dahsyat dari apa pun yang pernah mereka saksikan. Seluruh Kota Void berguncang hebat. Lantai altar tempat mereka berdiri retak dan mulai runtuh ke arah kegelapan kawah di bawahnya.

"Semua berakhir di sini, Jenderal," ucap Li Wei sambil tersenyum getir di tengah keruntuhan.

"Tidak! Ini belum selesai!" Zhao Kun berteriak saat tubuhnya mulai terseret oleh arus energi yang tak terkendali dari tangki yang meledak. Ia mencoba mengaktifkan modul teleportasi daruratnya, namun interferensi energi Void dari pedang Li Wei membuat koordinatnya kacau.

Li Wei merasakan tubuhnya jatuh bebas. Dalam kegelapan dan debu yang menyesakkan, ia merasakan tangan Chen Xi meraih lengannya. Mereka berdua terlempar ke arah celah reruntuhan yang menuju ke jalur rahasia di dasar kawah.

"Tetap... hidup..." gumam Li Wei sebelum kegelapan benar-benar menelan pandangannya.

Di atas sana, Kota Void yang merupakan surga bawah tanah rahasia itu perlahan terkubur oleh jutaan ton tanah dan beton. Cahaya satelit orbital meninggalkan lubang kawah yang menganga, sementara kepulan asap hitam membubung tinggi ke langit malam, menutupi mata merah yang selama ini mengawasi mereka.

Dunia akan menganggap mereka telah musnah dalam ledakan itu. Di peta strategis Kekaisaran, koordinat Li Wei dan Chen Xi kini berubah menjadi tanda silang hitam—aset yang telah hancur. Namun, jauh di kedalaman hutan yang mengelilingi sisa-sisa reruntuhan, tiga sosok bayangan mulai merangkak keluar dari lubang pembuangan, meninggalkan identitas lama mereka di dalam kawah yang membara.

Li Wei membuka matanya sedikit, menatap langit malam yang kini benar-benar gelap tanpa kilatan lampu satelit. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai perwira, tidak juga sebagai algojo. Ia melihat sebuah jalan panjang di depannya—sebuah perjalanan sebagai hantu yang bebas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!