Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Tawaran yang Tak Bisa Ditolak
Kantin kampus siang itu sangat sesak dan bising. Aroma kuah bakso yang gurih menguar di udara, namun suasana hati Thea dan Dion tampak tak selaras dengan aroma lezat itu. Mereka duduk mengelilingi meja bulat dengan wajah yang kusut.
"Rin, asli, itu soal ujian atau mantra pemanggil arwah? Susah banget!" keluh Dion sambil mengaduk sambal baksonya dengan bertenaga.
Thea menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gue yakin Pak Jordan itu titisan malaikat maut. Maksud gue, oke, dia ganteng banget, tapi otaknya itu lho... nggak kasih ampun. Gue tadi hampir nangis lihat soal nomor lima."
Airin hanya diam menyimak, tangannya bergerak perlahan menyuap potongan kecil bakso ke mulutnya. Ia tidak berkomentar apa-apa tentang betapa mudahnya soal itu baginya. Ia juga menyimpan rapat-rapat kejadian di kelas tadi tentang bagaimana mata elang Jordan menguncinya dalam diam.
"Lo kok tenang banget sih, Rin? Jangan-jangan lo sudah paham semua ya?" selidik Kriss sambil menatap Airin curiga.
Airin tersenyum lembut, lesung pipinya mengintip malu-malu. "Aku hanya kebetulan sudah membaca bab itu semalam," jawabnya dengan suara halus yang menenangkan.
Setelah jam istirahat usai, mereka kembali ke kelas. Jordan sudah berdiri di sana, tampak maskulin dengan melipat tangan di depan dada. Tanpa basa-basi, ia langsung menjatuhkan "bom" kedua hari itu.
"Besok, saya ingin setiap dari kalian maju ke depan. Presentasikan materi yang sebelumnya sudah dibahas oleh Pak Jehan. Saya ingin melihat sejauh mana kalian memahami dasar-dasar manajemen sebelum saya masuk ke materi yang lebih berat," ucap Jordan mutlak.
Protes tertahan terdengar dari seisi kelas, namun tak ada satu pun yang berani bersuara di bawah tatapan dingin Jordan. Begitu kelas berakhir, Thea langsung menggandeng lengan Airin.
"Rin, tolongin kita! Kita belajar bareng ya sore ini? Lo yang jelasin, kalau Pak Jordan yang jelasin otak gue mendadak blank," pinta Thea dengan wajah memelas. Dion dan Kriss mengangguk cepat, mendukung permintaan itu.
Airin mengangguk pelan sambil tersenyum. "Iya, nanti aku bantu sebisa aku."
Ketulusan dan ketenangan Airin rupanya kembali menarik perhatian Jordan yang tengah merapikan berkas di meja dosen. Sebelum melangkah keluar pintu, Jordan sempat menoleh ke arah Airin. Secara tak terduga, pria itu mengedipkan satu matanya dengan gerakan nakal dan sangat cepat sebelum menghilang di balik pintu koridor.
Airin terpaku. Jantungnya serasa melompat. Apakah itu tadi sebuah godaan?
Sore harinya, setelah teman-temannya pulang lebih dulu, Airin berdiri di depan gerbang kampus yang mulai sepi. Ia mengenakan kardigan tipis untuk menutupi dress bunganya karena angin sore mulai terasa dingin. Ia sedang menunggu taksi daring untuk mengantarnya ke apartemen.
Airin sengaja menyewa apartemen kelas menengah yang jauh dari keramaian agar identitasnya sebagai putri Rodriguez tetap aman. Ia tidak ingin ada yang tahu bahwa ia sebenarnya tinggal di sebuah mansion mewah dengan belasan pelayan.
Sudah lima belas menit berlalu, namun taksi yang ia pesan tak kunjung datang. Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Kaca mobil perlahan turun, menampakkan wajah Jordan Abraham yang terlihat semakin tampan di bawah cahaya temaram sore.
"Masuk. Saya antar," ucap Jordan tanpa basa-basi.
Airin sedikit tersentak, ia meremas tali tasnya. "Terima kasih banyak, Pak. Tapi saya sudah pesan taksi. Sebentar lagi sampai."
Jordan mematikan mesin mobilnya, menunjukkan bahwa ia tidak akan pergi dalam waktu dekat. Ia menatap Airin dengan tatapan mengintimidasi yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Airin, ini sudah sore. Kampus sudah sepi, dan saya tidak menerima penolakan dari mahasiswi saya yang keras kepala. Masuk sekarang atau saya anggap kamu tidak menghormati dosenmu," suara Jordan merendah, memberi penekanan pada setiap kata seolah itu adalah perintah mutlak dari seorang atasan.
Airin menggigit bibir bawahnya. Kekuatan dominasi Jordan membuatnya tak berkutik. Dengan langkah ragu, ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang samping kemudi. Aroma parfum maskulin yang mahal langsung menyeruak, memenuhi indra penciumannya.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa canggung. Jordan melirik navigasi di ponsel Airin saat gadis itu memberikan alamatnya.
"Distrik Merpati?" Jordan mengerutkan kening. "Itu butuh waktu empat puluh menit dari sini. Kenapa kamu cari apartemen sejauh itu? Di dekat kampus banyak gedung yang lebih bagus."
Airin menoleh sedikit, menatap profil samping wajah Jordan yang tegas. "Saya lebih suka ketenangan, Pak. Di sana tidak terlalu bising dengan aktivitas mahasiswa," jawabnya dengan suara lembut yang terdengar tulus.
Jordan menghela napas panjang. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan gadis ini. Selama empat puluh menit perjalanan, Jordan beberapa kali menghela napas, mencoba menahan diri agar tidak terus-menerus menatap wajah cantik di sampingnya yang tampak begitu damai meski sedang berada di dalam mobil orang asing.
"Ketenangan ya?" gumam Jordan pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Atau kamu hanya sedang bersembunyi dari sesuatu, Airin Rodriguez?"
Airin hanya diam, menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala, bertanya-tanya dalam hati mengapa dosennya ini seolah begitu peduli pada urusan pribadinya.