Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Nafiza menarik napas dalam-dalam, aroma parfum oud di gamisnya seolah menenangkan. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah teduh Uminya. Wanita itu, dengan senyum yang selalu menghangatkan hatinya, telah membesarkannya dengan cinta tanpa syarat. Nafiza berjanji pada diri sendiri, ia akan melupakan masa lalunya yang pahit dengan Farhan dan fokus pada impiannya: membahagiakan Umi dan Abinya. Ia tidak ingin melihat kerut kekecewaan di wajah mereka, kerut yang akan membuatnya merasa gagal sebagai seorang anak.
Urusannya dengan Zayn, dengan tatapan intensnya yang membakar dan debaran aneh di dadanya setiap kali pria itu ada di dekatnya, ia harap, tidak akan berlanjut lebih jauh.
Tiba-tiba, getaran halus ponsel di saku gamisnya mengejutkannya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Nafiza meraih ponselnya, merasakan dinginnya metal casing di telapak tangannya yang sedikit berkeringat, dan melihat nama Umi Maryam tertera di layar. Senyum tipis merekah di bibirnya. Umi memang selalu mengkhawatirkannya.
"Assalamu'alaikum, Umi," sapa Nafiza, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik nada bicaranya yang ceria.
"Wa'alaikumsalam, Naf. Kamu di mana? Kok lama sekali? Apa ada masalah?" tanya Umi Maryam, nada suaranya lembut namun tersirat kekhawatiran yang membuat hati Nafiza mencelos. Nafiza bisa membayangkan wajah Uminya yang cemas, dengan kerutan halus di sekitar matanya yang selalu teduh.
"Tidak, Umi. Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Ini Nafiza sudah di jalan pulang kok," jawab Nafiza, berusaha agar suaranya terdengar senormal mungkin. Jantungnya berdebar tak karuan, takut Umi bisa merasakan kebohongannya.
"Ya sudah, hati-hati ya, Nak. Jangan ngebut. Umi tunggu di rumah," pesan Umi Maryam. Tiba-tiba, suara adzan ashar terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Nafiza tersentak. "Iya, Umi. Nafiza ingat, kok." Ia harus segera sampai rumah dan menunaikan shalat. Semoga dengan begitu, hatinya bisa sedikit tenang.
"Iya, Umi. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Setelah menutup telepon, Nafiza menghela napas panjang. Ia kembali fokus pada kemudi, merasakan tekstur kasar setir di bawah telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin. Lampu merah menyala di kejauhan, memaksa Nafiza menginjak pedal rem. Jantungnya berdegup lebih kencang saat bayangan tatapan intens Zayn kembali menghantuinya. Ia tidak ingin Umi tahu tentang pertemuannya dengan Zayn. Rahasia ini, untuk saat ini, harus ia simpan sendiri.
_________&_________
Di sisi lain, Zayn berjalan mondar-mandir di kamarnya, langkahnya berat dan gelisah seperti pendulum yang kehilangan arah. Cahaya matahari sore menembus jendela kamarnya yang besar, menciptakan garis-garis bayangan yang menari-nari di lantai parket. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan Nafiza dari benaknya. Suara lembutnya saat berbicara, mata teduhnya yang menyiratkan kesedihan mendalam, cadar yang menyembunyikan sebagian kecantikannya namun justru membuatnya semakin misterius, dan aroma kue vanila yang selalu melekat padanya, semuanya berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang macet di bagian refrain.
"Kenapa harus dia?" gumam Zayn, suaranya serak dan frustrasi. Ia mengacak rambutnya, merasakan sakit di kulit kepalanya, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang mengganggu. Aroma parfum Oud Wood mahalnya yang biasa memberikan rasa percaya diri dan kesan maskulin, kini terasa hambar dan tidak berarti. Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi pada design interior yang sedang dikerjakannya, pikirannya hanya tertuju pada sosok bercadar itu. Sosok yang berhasil membuatnya merasa tertarik sekaligus frustrasi.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka, engselnya berderit pelan, dan Maya masuk dengan senyum misterius yang membuat Zayn waspada. Ada aura manipulatif yang terpancar dari senyum itu, membuatnya merasa tidak nyaman.
"Kenapa kamu mondar-mandir seperti setrikaan begitu, Zayn?" tanya Maya, mendekati putranya. Ia bisa merasakan aura kegelisahan yang terpancar dari tubuh Zayn, seperti sengatan listrik halus yang membuatnya penasaran.
Zayn menghela napas. "Nggak apa-apa, Mom. Cuma lagi banyak pikiran," jawabnya, berusaha menutupi kegelisahannya. Ia bisa mencium aroma parfum lavender kesukaan ibunya, aroma yang biasanya menenangkan dan mengingatkannya pada masa kecil, namun kini justru membuatnya semakin jengkel. Ia tidak ingin ibunya ikut campur urusannya.
"Pikiran tentang gadis bercadar itu, ya?" goda Maya, suaranya lembut namun menusuk tepat sasaran. Zayn tersentak, merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Bagaimana ibunya bisa tahu?
"Mom jangan sok tahu deh!" Zayn menatap ibunya dengan heran, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia bisa melihat binar mata ibunya yang menyimpan sejuta teka-teki dan rencana yang entah apa.
Maya tertawa kecil, suaranya renyah seperti gemericik air. "Tentu saja Mommy tahu. Kamu lupa siapa Mommymu ini? Mommy ingatkan ya, Mommy ini seorang dokter psikiater terbaik di kota ini! Jadi, Mommy tahu betul bagaimana cara membaca pikiran seseorang," jelas Maya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Zayn hanya bisa mendengus kesal. "Jadi jangan coba-coba berbohong. Mommy selalu tahu apa yang terjadi dalam hidupmu," jawabnya, mengusap pipi Zayn dengan lembut. Sentuhan tangan ibunya terasa hangat, namun Zayn merasa seperti sedang diinterogasi, bukan ditenangkan.
"Terus, Mommy mau apa?" tanya Zayn, mulai curiga. Ia tahu, ibunya tidak mungkin datang hanya untuk menanyakan kabarnya. Pasti ada udang di balik batu.
"Mom cuma mau bilang, kalau kamu memang tertarik sama gadis itu, maka perjuangkan!" jawab Maya, suaranya tegas dan penuh keyakinan. Zayn terdiam, merasakan harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Ia merasa, ibunya ada di pihaknya, meskipun ia tidak tahu apa motif di balik dukungan itu.
"Tapi, Mom ... dia kan masih istri orang," ujar Zayn, suaranya lirih dan penuh keraguan. Dan sekaligus merasa heran dengan sikap Mommy yang malah mendukungnya.
"Itu urusan nanti. Yang penting, kamu tahu apa yang kamu mau," balas Maya, dengan nada penuh keyakinan. Ia seperti menyiramkan bensin ke dalam api yang berusaha dipadamkan Zayn.
"Tenang Zayn jangan merasa bersalah, Mommy sudah dapat informasi tentang gadis itu, ia baru saja di talak suaminya. Dan fakta lainnya ia putri dari Umi Maryam yang punya toko kue langganan Mommy, dan kamu tahu ternyata beliau sahabat Mommy waktu SMA dulu. Mommy yakin dia akan merestui hubunganmu dengan Nafiza," lanjutnya dengan mata berbinar penuh harapan.
"Apa?" Zayn terkejut mendengar perkataan Mommy-nya. Ia bisa merasakan darahnya berdesir hebat. Kebetulan macam apa ini?
"Mommy dapat informasi dari mana?" lanjut Zayn menyelidik.
Maya tersenyum misterius, senyum seorang psikiater yang tahu segalanya. "Itu bukan urusanmu. Yang penting, kamu tahu kebenaran yang sebenarnya," jawabnya, lalu berbalik dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Zayn dengan sejuta pertanyaan di benaknya dan perasaan campur aduk antara harapan dan kebingungan. Ia merasa, takdir sedang mempermainkannya, atau mungkin, Mommy-nya yang sedang merencanakan sesuatu.
Bersambung ....