Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Sandra Amelia
Pagi itu Nayara bangun lebih awal dari biasanya. Jam lima sudah berdiri di dapur, menyiapkan sarapan untuk Gilang. Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi, sosis, kerupuk, ditambah sambal terasi buatannya sendiri. Dia masukkan semuanya ke dalam kotak bekal bertingkat yang kemarin dia beli online.
Ide ini muncul tiba-tiba semalam. Mungkin Gilang sibuk dan lelah makanya jadi pendiam dan cuek. Mungkin dia butuh perhatian lebih dari Nayara. Kalau Nayara datang ke kantor, kasih bekal, tunjukkan kalau Nayara peduli, mungkin Gilang bisa luluh lagi. Mungkin mereka bisa balik seperti dulu waktu masih bulan madu.
Struk restoran kemarin? Nayara coba lupakan. Mungkin Gilang emang rapat sama klien cewek. Wajar kan? Bisnis tidak kenal gender. Dan lipstik di kerah? Mungkin emang tinta yang kebetulan bentuknya mirip lipstik.
Nayara harus berpikir positif. Harus percaya sama Gilang. Suami sendiri kok.
Jam tujuh pagi, Nayara sudah rapi. Dress hamil berwarna krem, cardigan putih, hijab pashmina cokelat muda. Dia poles bibir pakai lipstik pink muda, bedak sedikit supaya wajah tidak terlalu pucat. Cermin di depannya memantulkan wajah yang lebih segar dari biasanya.
Gilang sudah berangkat sejak jam enam setengah. Terburu-buru katanya, ada meeting penting pagi ini. Nayara sengaja tidak bilang mau ke kantor. Biar surprise. Biar Gilang kaget senang.
Nayara naik taksi online, membawa kotak bekal di pangkuan. Perjalanan ke kantor Gilang sekitar empat puluh menit dari rumah. Gedung pencakar langit dua puluh lima lantai di kawasan bisnis Jakarta Selatan.
Begitu turun dari taksi, Nayara menatap gedung tinggi itu dengan perasaan gugup campur excited. Ini pertama kalinya dia datang ke kantor Gilang. Selama ini Gilang tidak pernah ajak Nayara ke kantornya, bilang tidak ada keperluan.
Nayara masuk ke lobby yang megah. Marmer putih mengkilap, lampu kristal besar menggantung, pegawai hilir mudik dengan jas rapi dan sepatu pantofel mengkilat. Nayara merasa kecil di antara mereka semua.
Dia berjalan ke meja resepsionis. Seorang cewek muda dengan seragam blazer hitam tersenyum ramah. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya, saya mau ketemu Pak Gilang Mahesa. Saya istrinya." Nayara tersenyum meski gugup.
Resepsionis itu menatap Nayara dari atas sampai bawah. Sekilas. Cepat. Tapi cukup buat bikin Nayara merasa dinilai.
"Oh, Ibu Nayara ya? Sebentar saya hubungi dulu." Resepsionis itu mengangkat telepon, menekan beberapa tombol. "Halo, Pak Gilang? Ada Ibu Nayara di lobby mau ketemu Bapak."
Nayara mendengar suara Gilang dari seberang telepon, samar tapi terdengar kaget. "Apa? Nayara? Dia ngapain ke sini?"
Resepsionis itu melirik Nayara sebentar. "Ada keperluan, Bu?"
"Aku bawain bekal untuk suami." Nayara mengangkat kotak bekal sedikit.
"Beliau bawa bekal, Pak."
Hening sebentar. Lalu suara Gilang lagi, kali ini terdengar kesal. "Suruh dia tunggu di lobby. Saya turun sebentar."
"Baik, Pak." Resepsionis menutup telepon, tersenyum pada Nayara. "Pak Gilang akan turun sebentar, Bu. Silakan tunggu di sana." Dia menunjuk sofa panjang di sudut lobby.
Nayara mengangguk, berjalan ke sofa dengan langkah pelan. Duduk di ujung, menaruh kotak bekal di pangkuan. Tangannya meremas-remas ujung cardigan. Kenapa dia gugup begini sih?
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas menit.
Gilang belum turun juga.
Nayara melirik jam tangannya. Sudah hampir setengah jam dia tunggu. Apa Gilang lupa? Atau emang lagi sibuk banget?
Tiba-tiba lift di ujung lobby terbuka. Gilang keluar. Tapi bukan sendirian.
Di sampingnya ada seorang cewek.
Cewek tinggi langsing dengan rok pensil hitam selutut, kemeja putih ketat, blazer abu-abu yang pas sekali di tubuhnya. Rambut panjang terurai bergelombang, wajah cantik dengan makeup natural tapi sempurna. Sepatu hak tinggi hitam mengkilat bikin langkahnya anggun.
Mereka berdua jalan berdampingan. Ngobrol. Ketawa-ketawa. Cewek itu pegang tablet, sesekali nunjukin layar ke Gilang sambil bilang sesuatu yang bikin Gilang senyum.
Senyum.
Gilang senyum.
Nayara sudah lama tidak lihat Gilang senyum seperti itu. Senyum lebar, mata berbinar, seperti lagi senang banget.
Dada Nayara langsung sesak. Tangannya mencengkeram kotak bekal erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Gilang akhirnya lihat Nayara. Senyumnya langsung hilang. Wajahnya berubah datar, dingin. Dia berjalan mendekat dengan cewek itu masih di sampingnya.
"Nayara. Kamu ngapain ke sini?" Suara Gilang dingin. Tidak ada kehangatan sama sekali.
Nayara berdiri cepat, hampir tersandung kakinya sendiri. "Aku, aku bawain bekal buat Mas. Tadi pagi Mas berangkat belum sarapan kan, jadi aku masakin." Nayara mengangkat kotak bekal, tersenyum meski hatinya sakit melihat Gilang yang berdiri begitu dekat dengan cewek cantik itu.
Gilang melirik kotak bekal sekilas, lalu menatap Nayara lagi. "Lo tidak usah repot-repot. Saya bisa beli makanan sendiri."
Saya. Bukan aku. Gilang pakai kata saya lagi. Formal. Dingin. Jauh.
"Tapi, tapi aku mau Mas makan masakan aku. Aku masak dari pagi, Mas." Nayara masih tersenyum, berusaha keras supaya air matanya tidak jatuh.
Cewek di samping Gilang tiba-tiba tertawa kecil. Suaranya lembut, merdu. "Wah, romantis sekali, Pak. Istri sampai rela datang jauh-jauh bawain bekal."
Gilang tidak menanggapi. Matanya masih menatap Nayara dengan tatapan tidak suka.
Nayara melirik cewek itu. Cantik. Sangat cantik. Kulit putih mulus, mata besar dengan bulu mata lentik, hidung mancung, bibir merah merona. Tubuhnya langsing tinggi sempurna. Seperti model di majalah.
Nayara tiba-tiba sadar penampilannya. Dress hamil yang mulai sesak di bagian perut, cardigan lusuh, wajah pucat tanpa makeup yang proper, perut yang mulai membuncit.
Jelek. Dia jelek dibanding cewek ini.
"Ini siapa, Mas?" tanya Nayara pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Gilang menghela napas, seperti terpaksa harus jawab. "Ini Sandra. Sekretaris saya."
Sandra.
Jadi ini Sandra.
Cewek yang namanya sering disebut Gilang waktu dia telepon di rumah. "Sandra, tolong siapkan dokumen itu." "Sandra, reschedule meeting sore ini." "Sandra, pesan makan siang buat saya."
Sandra mengulurkan tangan pada Nayara, senyumnya lebar tapi matanya dingin. "Sandra Amelia. Senang bertemu dengan Anda, Bu Nayara."
Nayara bersalaman, tangannya gemetar. Tangan Sandra lembut, halus, kuku-kukunya dicat merah menyala. Beda banget sama tangan Nayara yang kasar karena sering cuci piring sama nyuci baju.
"Senang bertemu juga," gumam Nayara pelan.
Sandra melepas jabatan tangannya, lalu melirik Gilang. "Pak, meeting dengan klien dari Singapura jam sepuluh. Dokumennya sudah saya siapkan di ruangan."
"Oke. Saya naik sebentar lagi." Gilang mengangguk.
Sandra tersenyum, lalu menatap Nayara lagi. Kali ini tatapannya berbeda. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang bikin Nayara tidak nyaman. Seperti orang yang meremehkan. Mengejek. Menghina tanpa kata-kata.
"Jadi ini istrinya, Pak?" Sandra bertanya pada Gilang, tapi matanya tetap menatap Nayara dari atas sampai bawah. Perlahan. Menilai setiap detail.
Dress hamil yang kedodoran. Perut yang membuncit. Wajah pucat tanpa riasan. Sepatu flat lusuh.
Nayara bisa merasakan penilaian itu. Bisa merasakan Sandra membandingkan dirinya dengan Nayara. Dan Sandra menang. Telak.
Gilang hanya mengangguk singkat. "Iya."
Iya.
Cuma iya.
Tidak ada "Iya, ini istri saya yang cantik." Tidak ada "Iya, ini istri saya yang sedang hamil anak saya." Tidak ada bangga sama sekali di suaranya.
Cuma iya. Datar. Dingin. Seperti ditanya "ini pulpen lo?" lalu jawab "iya."
Sandra tersenyum lagi. Senyum tipis yang bikin Nayara pengen menghilang dari situ. "Pantas saja Pak Gilang sering pulang malam. Pasti tidak betah di rumah ya, Pak?"
Apa? Apa maksudnya?
Nayara menatap Sandra dengan mata membulat. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.
Gilang tertawa kecil. Tertawa! "Sandra, jangan gitu. Nanti istri saya tersinggung."
Istri saya. Bukan Nayara. Bukan sayang. Cuma istri saya. Label. Bukan orang yang dicintai.
Sandra menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura merasa bersalah. Tapi matanya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Malah berbinar senang. "Maaf, Bu Nayara. Saya cuma bercanda."
Bercanda.
Bercanda yang menyakitkan.
Nayara menelan ludah susah payah. Tenggorokannya terasa tersumbat. Dadanya sesak. Tangannya gemetar hebat sampai kotak bekal hampir jatuh.
"Mas, aku tunggu Mas makan dulu ya? Biar aku lihat Mas suka atau enggak." Nayara mencoba mengalihkan pembicaraan, berusaha keras supaya suaranya tidak bergetar.
Gilang menggeleng cepat. "Tidak usah. Saya ada meeting. Lo pulang aja. Naik taksi, nanti saya transfer uang."
"Tapi, Mas..."
"Nayara." Gilang menatap Nayara tajam. "Pulang. Sekarang. Jangan ganggu saya kerja."
Setiap kata seperti pisau yang menusuk dada Nayara. Ganggu. Dia bilang Nayara ganggu dia kerja. Padahal Nayara cuma mau bawain bekal, cuma mau perhatian, cuma mau jadi istri yang baik.
Tapi di mata Gilang, semua itu cuma gangguan.
Air mata Nayara mulai menggenang di pelupuk mata. Dia kedip-kedip cepat, berusaha menahannya supaya tidak jatuh. Tidak boleh nangis di sini. Tidak boleh kasih malu Gilang di depan Sandra.
"Baik, Mas. Aku pulang." Suara Nayara pelan, hampir seperti bisikan.
Nayara menatap kotak bekal di tangannya. Bekal yang dia masak dari jam lima pagi. Bekal yang dia siapkan dengan penuh harapan dan cinta.
Tapi Gilang tidak mau.
Gilang tidak mau makan masakan istrinya sendiri.
"Ini, ini bekalnya Mas bawa aja. Nanti kalau sempat dimakan ya, Mas." Nayara menyodorkan kotak bekal dengan tangan gemetar.
Gilang menatap kotak itu dengan tatapan malas. Tapi akhirnya dia ambil juga, mungkin supaya Nayara cepat pergi. "Iya. Sekarang pulang sana."
Sandra masih berdiri di samping Gilang. Senyumnya tidak pernah hilang. Senyum yang bikin Nayara pengen berteriak, pengen nangis, pengen lari dari situ secepat mungkin.
"Permisi ya, Bu. Saya harus ke ruangan dulu. Pak Gilang, dokumennya sudah di meja." Sandra sedikit mengangguk pada Nayara, lalu berjalan ke arah lift dengan langkah anggun.
Gilang menatap Sandra pergi. Matanya mengikuti punggung Sandra sampai dia masuk lift. Ada sesuatu di tatapan itu. Sesuatu yang tidak pernah Nayara lihat waktu Gilang menatap Nayara.
Kagum.
Gilang menatap Sandra dengan tatapan kagum.
"Mas." Nayara memanggil pelan.
Gilang berbalik, tatapannya berubah datar lagi. "Apa?"
"Tidak ada apa-apa. Hati-hati kerja ya, Mas." Nayara tersenyum, meski senyumnya terasa berat seperti timbunan batu.
Gilang hanya mengangguk, lalu berbalik mau ke lift.
Nayara berdiri di sana. Menatap punggung Gilang yang menjauh. Menatap suaminya yang sekarang terasa seperti orang asing.
Dan di sudut matanya, air mata akhirnya jatuh. Pelan. Satu per satu. Membasahi pipinya yang pucat.
Ini bukan surprise yang Nayara harapkan.
Ini mimpi buruk.
Mimpi buruk yang nyata.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭