Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa jahat Sekali
Ingin sekali ia tumpahkan keluh kesah. Dan kesakitannya. Tak ada saudara yang membantu,apalgi ibunya hanya anak tunggal.
Sebenarnya Diana masih mempunyai saudara sebelah dari pihak ayahnya, yang kaya raya hanya saja mereka tidak pernah mau peduli Diana dan verra, sebab pernikahan ayah dan ibunya tak mendapatkan restu keluarga.
\*\*\*\*\*\*\*\*
" ayah, ibu sakit" keluh Diana pada sang ayah yang saat ini tengah berdiri, di sebuah perusahaan besar.
Wajahnya tampak gagah, dengan setelan jas dan sepatu pantofel, yang berwarna hitam mengkilap.
" ibumu bukan tanggung jawab ayah lagi , Diana. Pergilah jangan merusak rumah tangga ayah dengan kehadiranmu di sini" usir indra, membuat tetes air mata Diana jatuh membasahi pipinya.
" lima ratus ribu saja ayah, apakah ayah tidak bisa menolongku?" mohon Diana yang seolah mengemis pada ayahnya sendiri.
" tidak ada.! Pergilah sekarang, ayah sedang sibuk!"
Indra berlalu begitu saja,masuk ke dalam mobil mewah istrinya.diana hanya bisa mengusap air matanya. Lalu ia beranjak pergi sambil membawa dagangannya.
berjalan menyusuri setapak demi setapak jalanan yang ramai di tambah panasnya Matahari, ini benar-benar membuat Diana merasakan lelah, letih dan rasa laparnya menjadi satu dalam hati terus berdoa agar kue-kue dagangannya habis terjual.
\*\*\*\*\*\*
Hingga ke esokan harinya,saat hari Senin tiba , seperti biasanya Diana pergi ke sekolah dengan sepeda bututnya, langkahnya lemah namun ia tetap semangat menuntut ilmu
Diana merasakan tidak nyaman melangkah di koridor sekolah, semua siswa yang ada menunjuk ke arahnya, lalu menertawakan dirinya. Perasaannya gelisah tak menentu, kali ini apalagi yang akan terjadi.
" Berapa. Harga kue busuknya, Diana?" tanya salah seorang siswi,lalu di iringi dengan gelak tawa siswa lain.
Diana hanya menghembuskan nafas panjang saat angkahnya berhenti tepat di Mading sekolah. Banyak foto Diana yang terpajang di Mading sekolah, foto-foto saat ia berjualan kue di pinggir jalan.
" puas hati kalian?" tanya Diana dengan mata berkaca-kaca, " aku hanya mencari uang dengan cara halal.lantas apa salahnya aku berjualan"
Tidak ada yang menjawab mereka semua mengacuhkan Diana. Gadis tak berdaya ini hanya bisa menangis, melawanpun tak kuasa sebab yang di lawan anak orang kaya semua.
Tiara melempar sapu tangan ke arah Diana sambil berlalu pergi. Tentu saja hal ini membuat Diana terkejut. Diana lalu menghapus air matanya lalu dengan hati yang lapang, ia mengambil semua fot dirinya kemudian menyimpannya di dalam tas. Setelah itu pergi ke kelas.
" Takdir memang kejam buat si miskin, cukup aku saja yang merasakannya,jangan sampai adikku merasakan apa yang aku rasakan". Ucap Diana dalam hati.
Diana duduk terdiam sembari menunggu guru datang berbeda dengan teman-temannya yang asik memainkan ponsel, barang yang tidak bisa dimiliki oleh Diana.
\*\*\*\*\*\*
Jam istirahat tiba, seperti biasa Diana akan menjadi pesuruh teman-teman di kelas untuk pergi ke kantin, upah yang tidak seberapa menjadi harapan Diana . Namun sialnya ia bertemu dengan Rehan.
" berikan minuman itu padaku" pinta Rehan dengan cengengesan.
" jangan ini bukan milikku, kumohon jangan ganggu aku."ucap Diana menjadi takut.
" sebelum aku berbuat kasar padamu.cepat berikan minuman itu padaku" Bentak Rehan.
Diana memeluk sebuah botol minuman dingin.jangan sampai Rehan mengambilnya karena Diana tidak memiliki uang sebagai ganti rugi.
tapi, Rehan yang nakal merampas minuman tersebut Diana kembali merampasnya, keduanya saling berebut mempertahankan sebotol minuman.
"Rehan, minuman ini bukan milikku. kumohon jangan mengambilnya. "pinta Diana dengan wajah melasnya.
Rehan tidak perduli, senang sekali ia membully Diana. hingga pada akhirnya, puncak dari kesabaran Diana telah habis sampai ia berani menendang Rehan lalu mendorongnya hingga membuat Rehan jatuh terjungkal kepalanya mengalami luka.
darah segar mengalir deras, kantin sekolah dibuat heboh dengan kejadian ini. Diana pucat pasih ketakutan, gadis ini menangis dalam keramaian dan ia ketakutan.
" bawa dia ke ruang kepala sekolah. "kata seorang siswa.
Diana dipaksa, diseret ke ruang kepala sekolah dengan anak-anak manja yang hidupnya biasa menertawakan orang lain. Rehan dibawa ke ruang UKS, ia langsung mendapatkan penanganan dari dokter yang berjaga di sana. namanya juga sekolah mahal salah satu fasilitas yang ada adalah dokter.
"Diana, kau harus bertanggung jawab. kami pihak sekolah akan memanggil orang tuamu ke sekolah. "ucap kepala sekolah dengan wajah angkuhnya.
"pak, saya mohon tolong jangan panggil Ibu saya ke sekolah, biarlah saya yang menyelesaikan masalah ini sendiri "mohon Diana sambil menangkupkan tangannya memohon belas kasihan.
tak ada yang perduli pada Diana, semua orang menyalahkan dirinya. guru yang seharusnya menjadi penengah justru menghakiminya sebab Dia anak orang miskin.
"berikan surat panggilan ini kepada orang tuamu pihak sekolah akan menunggu besok. "
wajah sembab dengan bercucuran air mata, dengan tangan gemetar,
Diana menerima surat panggilan yang entah harus ia berikan kepada ibunya atau tidak. mengingat kondisi ibunya yang punya penyakit jantung.
" calon pembunuh " seru salah seorang siswa.
hinaan campur makian telah kental Diana rasakan.
" aku hanya mempertahankan, apa yang seharusnya aku pertahankan. tapi kenapa selalu aku yang disalahkan. "batin Diana menjerit pilu
tidak ada pelajaran hari ini sebab Diana dipulangkan, ia sendiri tahu bagaimana keadaan Rehan yang katanya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
saat ini masih belum jam pulang sekolah jika pulang, jika ia pulang apa yang akan ia katakan pada ibunya, pasti ibunya akan bertanya ini itu. Pada akhirnya Diana mengambil kue-kue, yang selalu ia titipkan di salah satu warung langganannya ia jual sambil berkeliling.
Matahari terasa panas menyengat kulit, dari pagi sampai sore hari. Dagangan Diana belum habis terjual, kue-kue tradisional buatan Bu Dian dan Diana.
Menjelang magrib, Diana belum pulang karena dagangannya belum habis. Diayunkan nya kakinya menuju keramaian kota namun sayang. Ia di hadang oleh Rehan dan teman-temannya.
" ini dia yang sudah membuat kepalaku bocor tadi pagi." ucap Rehan dengan seringai penuh dendam.
" aku minta maaf." ucap Diana yang mengalah,ia tidak ingin memperpanjang masalah.
" maafmu tidak aku terima,kepalaku mendapatkan jahitan,
kau harus mendapatkan balasannya." ucap Rehan lalu menendang dagangan milik Diana.
berhamburan lah kue-kue. Yang masih lumayan banyak jumlahnya. Gadis itu berusaha menghentikan perbuatan Rehan, menginjak kue-kuenya yang di bantu temannya kecuali Arjuna.
Diana menangis, dan memohon agar Rehan menghentikan perbuatannya.
" jangan, kumohon jangan Rehan, kue-kue ini harus terjual untuk membeli obat ibuku."ucap Diana dengan derai air mata.
Lalu lalang kendaraan namun tak satupun perduli, pusat keramaian kota masih berjarak 1 kilo meter.tapi dagangan Diana telah hancur di injak-injak Rehan.
" hahahah...."
" Rasakan, sampai kapanpun aku Tidka akan melepaskan mu ,Diana." ucap Rehan dengan gelak tawanya.
Di atas aspal Diana bersimpuh dengan Isak tangisnya meratapi dagangannya yang sudah hancur.
" kenapa kau jahat sekali, tidak kah kau tau kue-kue ini, aku menaruh harapan untuk mendapatkan uang, demi membeli obat untuk ibuku. Tolong sekali saja jangan ganggu aku." mohon Diana.
" Bodoh amat, kau pikir aku perduli? Seharusnya aku meminta pertanggung jawabanmu atas biaya rumah sakit, lihat kepalaku yang bocor ini." ucap Rehan dengan nada tinggi.
Rehan pun mengajak teman-temannya pergi dari sana. Meninggalkan Diana yang meratapi nasib dirinya, masalah di sekolah belum usai.kini ia harus masalah begini lagi..
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.