NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pesta Boneka di Atas Retakan

Gaun itu berwarna merah muda pucat, dengan aksen renda di bagian dada yang berlebihan. Di depan cermin setinggi badan di kamarnya, Alana mematut diri. Bayangan yang memantul bukanlah seorang wanita muda berusia dua puluh dua tahun yang baru lulus sarjana arsitektur dengan predikat cum laude, melainkan seorang remaja canggung yang dipaksa tampil manis demi kepuasan orang tuanya. Bahan satin murahan itu terasa gatal di kulit, kontras sekali dengan gaun sutra elegan yang biasa dipilihkan ibunya dulu.

Siska yang memilihkan gaun ini. Tentu saja.

"Sempurna," suara itu muncul dari ambang pintu tanpa didahului ketukan.

Alana menatap pantulan Siska di cermin. Mantan sahabatnya itu mengenakan gaun malam *backless* berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan agresif. Anting berlian—yang jauh lebih mahal dari anting plastik yang Alana temukan di mobil—menggantung di telinganya, berkilau ditimpa lampu kamar. Siska terlihat seperti nyonya rumah, sementara Alana terlihat seperti tamu yang salah kostum.

Siska melangkah masuk, aroma parfum *Chanel* yang pekat menguar, menenggelamkan aroma lembut *vanilla* yang biasa dipakai Alana. Tangan Siska terulur, merapikan kerah gaun Alana dengan gerakan yang lebih mirip mencekik daripada menyayang.

"Jangan cemberut begitu, Al," kata Siska dengan senyum yang tidak mencapai mata. "Malam ini banyak kolega Mas Hendra... maksudku, Papamu. Kamu harus terlihat seperti anak baik-baik. Penurut. Polos. Mereka suka citra keluarga yang harmonis."

"Mas Hendra?" Alana mengulang panggilan itu dengan nada datar, menatap tajam mata Siska melalui cermin.

Siska tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting gelas kristal yang retak. "Lidahku terpeleset. Jangan terlalu sensitif. Ayo turun, tamu-tamu 'penting' sudah mulai datang. Jangan bikin Papamu malu."

Siska berbalik dan berjalan keluar dengan langkah penuh percaya diri, tumit *stiletto*-nya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menuntut perhatian. Alana menarik napas panjang, menekan rasa mual yang bergolak di perutnya. Di dalam tas tangan kecilnya, ponsel pintar miliknya sudah dalam mode *silent*, siap merekam. Malam ini bukan tentang perayaan kelahirannya. Malam ini adalah panggung sandiwara, dan Alana sudah menghafal naskahnya.

***

Lantai bawah *penthouse* telah berubah total. Lukisan pemandangan desa di Italia kesukaan ibunya di ruang tengah telah hilang, digantikan oleh lukisan abstrak geometris yang dingin dan tidak berjiwa—pilihan Siska. Meja-meja *cocktail* tersebar di ruangan, dikelilingi oleh pria-pria paruh baya berjas mahal yang tertawa terlalu keras dan wanita-wanita muda yang tersenyum terlalu lebar.

Musik jazz mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas dan dengung percakapan tentang saham, properti, dan politik. Tidak ada balon, tidak ada kue ulang tahun dengan lilin warna-warni. Ini adalah lobi hotel bintang lima, bukan rumah.

Hendra berdiri di dekat jendela besar yang menampakkan cakrawala Jakarta di malam hari, memegang gelas *wine* di satu tangan dan cerutu di tangan lain. Saat melihat Alana turun tangga, ia tidak tersenyum bangga. Ia hanya mengangguk singkat, seolah menyetujui barang dagangan yang baru saja dipoles.

"Nah, ini dia putri saya," Hendra berseru, menarik perhatian lingkaran kecil pengusaha di sekitarnya. Ia merangkul bahu Alana dengan berat, jari-jarinya mencengkeram lengan Alana sedikit terlalu kencang. "Alana, sapa Om Burhan dan Om Wijaya."

"Selamat malam, Om," sapa Alana sopan, memaksakan senyum kaku.

"Wah, sudah besar ya," komentar Om Wijaya, matanya menyapu penampilan Alana dengan tatapan menilai yang membuat Alana ingin mandi air panas. "Gaunnya manis sekali. Masih seperti anak SMA."

"Alana memang anak rumahan," potong Hendra cepat, tertawa renyah. "Tidak neko-neko. Beda dengan anak muda zaman sekarang yang liar."

Alana merasakan empedu naik ke tenggorokannya. Ayahnya sedang menjual citra 'ayah yang berhasil mendidik anak', padahal ia baru saja memotong akses keuangan anaknya sendiri demi membiayai gaya hidup selingkuhannya.

Di sudut ruangan, Alana melihat Siska sedang memberi instruksi pada pelayan katering. Gestur tubuhnya otoriter. Ia menunjuk gelas yang kosong, menegur pelayan yang lambat, lalu beralih menyapa tamu lain dengan tawa manja dan sentuhan ringan di lengan mereka. Siska bergerak seolah ia pemilik tempat ini. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada satu pun tamu yang mempertanyakan kehadirannya.

Alana memisahkan diri dari ayahnya saat Hendra mulai membicarakan proyek reklamasi di teluk Jakarta. Ia berjalan menuju meja minuman, mengambil segelas air mineral. Ia butuh kepala yang dingin.

"...itu yang pakai baju merah, kan?"

Suara bisik-bisik di belakangnya membuat telinga Alana tegak. Ia berdiri membelakangi dua wanita paruh baya yang sedang memegang gelas *champagne*.

"Iya, asisten pribadinya Pak Hendra. Tapi gayanya sudah seperti nyonya besar," jawab wanita kedua. "Kabarnya dia yang pegang kendali renovasi rumah ini. Istrinya Pak Hendra kan sudah meninggal tiga tahun lalu."

"Jahat ya. Lihat anaknya itu, yang pakai baju pink. Kelihatan sekali tidak dianggap. Kasihan. Pak Hendra itu memang pintar cari uang, tapi soal moral... yah, kita tahu sama tahu sajalah."

Alana mencengkeram gelasnya erat-erat. Jari-jarinya memutih. Ternyata, perselingkuhan ayahnya dan Siska bukan rahasia. Itu adalah lelucon umum di kalangan elit ini. Mereka semua tahu. Mereka semua menonton. Dan mereka semua diam, menikmati tontonan kehancuran keluarga Alana sambil meminum anggur mahal milik ayahnya.

Rasa malu itu bukan lagi kesedihan; itu telah bermetamorfosis menjadi amarah yang dingin dan tajam. Alana meletakkan gelasnya. Ia tidak akan menjadi korban yang patut dikasihani.

Mata Alana menyisir ruangan, mencari keberadaan dua tokoh utama dalam drama ini. Hendra sudah tidak ada di dekat jendela. Siska juga menghilang dari posisinya di dekat meja prasmanan.

Jantung Alana berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia tahu pola ini. Ia pernah melihatnya di lobi apartemen, di mobil, di kantor.

Alana bergerak perlahan, menyelinap di antara tamu-tamu yang sibuk tertawa. Ia menuju lorong yang mengarah ke ruang kerja ayahnya—satu-satunya ruangan yang pintunya tertutup rapat malam ini.

Lorong itu sepi. Suara musik jazz terdengar sayup-sayup, teredam oleh tebalnya dinding dan karpet mahal. Alana melangkah tanpa suara, berkat sepatu hak datar yang ia kenakan—satu-satunya bentuk pemberontakan kecil terhadap gaun pilihan Siska.

Saat ia mendekati pintu kayu jati berukir itu, ia tidak mendengar suara percakapan bisnis. Tidak ada diskusi tentang saham atau sengketa tanah. Yang ia dengar adalah tawa tertahan Siska. Tawa yang intim, rendah, dan menjijikkan.

"Mas... nanti kedengaran Alana..."

"Biarkan saja. Anak bodoh itu tidak akan berani ke sini. Dia sedang sibuk jadi pajangan di depan."

Suara Hendra. Berat, serak, dan penuh nafsu.

Tangan Alana gemetar saat menyentuh gagang pintu. Bukan karena keraguan, tapi karena kebencian yang meluap. Ayahnya menyebutnya 'anak bodoh' di hari ulang tahunnya, di rumah mendiang ibunya, saat sedang bercumbu dengan sahabat anaknya sendiri.

Ini adalah batasnya.

Alana tidak mengetuk. Ia tidak memberi peringatan. Dengan satu gerakan sentak yang kuat, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka lebar.

Pemandangan di depannya adalah klise yang memuakkan, namun tetap terasa seperti tamparan fisik.

Di atas meja kerja mahoni—meja yang sama tempat Hendra menandatangani akta kelahiran Alana dua puluh dua tahun lalu—Siska duduk dengan rok gaun merahnya tersingkap hingga paha. Hendra berdiri di antara kaki Siska, jasnya sudah tergeletak di kursi, kemejanya berantakan. Tangan Siska sedang melingkar di leher Hendra, sementara tangan Hendra...

Waktu seolah berhenti.

Musik dari luar tiba-tiba terasa lenyap, digantikan oleh denging sunyi yang memekakkan telinga.

Hendra dan Siska menoleh serentak. Wajah Siska yang tadinya penuh gairah berubah menjadi kaget, lalu dengan cepat bertransformasi menjadi ekspresi menantang. Tidak ada rasa malu di wajah wanita itu. Hanya tatapan dingin yang seolah berkata: *'Akhirnya kau lihat juga.'*

Hendra, di sisi lain, tampak terganggu. Bukan merasa bersalah, tapi terganggu seperti seseorang yang kegiatannya diganggu oleh pelayan yang tidak sopan. Ia perlahan melepaskan diri dari Siska, menarik napas panjang, dan membetulkan kancing kemejanya dengan tenang. Terlalu tenang.

"Alana," suara Hendra rendah, namun mengandung ancaman yang nyata. "Siapa yang mengizinkan kamu masuk tanpa mengetuk?"

Alana berdiri mematung di ambang pintu. Tangannya masih mencengkeram gagang pintu, buku-bukunya memutih. Matanya beralih dari kancing kemeja ayahnya yang terbuka ke wajah Siska yang kini tersenyum miring, merapikan rambutnya dengan santai.

"Aku mencari Papa untuk potong kue," kata Alana. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—datar, tanpa emosi, dan sangat dingin. "Tapi sepertinya Papa sedang sibuk memakan kue yang lain."

Keheningan di ruangan itu pecah. Udaranya kini terasa berat, sarat dengan bubuk mesiu yang siap meledak. Alana tidak mundur. Ia mengangkat dagunya, menatap ayahnya tepat di mata. Malam ini, pesta boneka itu berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!