NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - negosiasi di meja makan

Wajah Rahez berubah pucat pasi. Ia tidak boleh membiarkan William melihat kekacauan ini. "Sialan!! Cepat! Seret dan sembunyikan dia ke samping! Jangan sampai ada suara! Jangan smape william melihatnya!!"

Para pengawal menyeret Zeiran dengan paksa ke area gelap di samping kediaman, membungkam mulutnya saat iring-iringan mobil hitam mewah Marculles mulai meluncur pelan memasuki halaman.

Rahez dengan cepat merapikan jasnya, mengatur napasnya yang masih memburu, dan memasang topeng keramahan yang palsu saat pintu mobil Rolls Royce milik William terbuka.

Mobil itu berhenti tepat di depan tangga utama kediaman Alvarezh. Rahez, dengan senyum formal yang dipaksakan untuk menutupi sisa amarahnya.

Pintu mobil terbuka. William turun dengan aura dominasi. Tak lama, Jihan menyusul turun dari sisi lain. Jihan melangkah pelan dan berdiri tepat di samping William, tangannya meremas ujung tas kecilnya untuk menahan kegelisahan.

"Selamat datang, William. Sebuah kehormatan bisa menyambutmu kembali di sini," sapa Rahez dengan nada ramah yang dibuat buat, sambil mengulurkan tangan.

William menjabat tangan Rahez singkat, tanpa ekspresi hangat sedikit pun. "Terima kasih, Rahez. Aku harap malam ini tidak membuang waktuku."

"Tentu saja tidak. Semuanya sudah menunggumu di dalam untuk merayakan perayaan ini," balas Rahez basa-basi.

Sebelum melangkah masuk, William menoleh ke arah Jihan. Ia memberikan tatapan sinis penuh tekanan, sebuah pesan tanpa kata. Ingat, sekarang kau adalah seorang Marculles, bukan lagi Alvarezh. Ikuti aturan sebelumnya .

Setelah memberikan peringatan, William melangkah masuk terlebih dahulu dengan angkuh, membiarkan Jihan tertinggal satu langkah di belakang.

Kini giliran Rahez yang menatap adiknya. Tatapannya tak kalah tajam, penuh peringatan matanya berkata, Jangan berani-berani mencari masalah didepan suamimu terutama mengenai pria lain. Rahez memberikan isyarat kepala yang kasar agar Jihan segera masuk mengikuti suaminya.

Jihan menarik napas panjang yang terasa sesak, lalu melangkah masuk ke dalam yang dulu menjadi tempat perlindungannya, namun kini dipenuhi rasa tekanan yang besar.

Begitu Jihan dan William menghilang di balik pintu besar, ekspresi Rahez langsung berubah menjadi bengis. Ia berbalik dan menghampiri salah satu kepala pengawalnya yang berdiri tak jauh dari sana.

"Pastikan Zeiran pergi dari tempat ini tanpa keributan sekarang juga!" desis Rahez dengan suara rendah yang mematikan. "Gunakan cara apa pun, seret dia ingat Jangan sampai dia terlihat atau terdengar oleh siapa pun. "

“Baik tuan” ucap kepala pengawal

Ia menatap ke sekeliling halaman dengan mata yang menyipit penuh kewaspadaan. "Setelah itu, kerahkan seluruh tim keamanan. Jaga setiap pintu, sudut, dan gerbang dengan sangat ketat!"

Pengawal itu menunduk hormat dengan perasaan ngeri. "Siap, Tuan. Segera dilaksanakan."

Rahez merapikan kembali jasnya yang sedikit kusut akibat perkelahian tadi, lalu masuk ke dalam untuk melanjutkan peran sandiwaranya dalam aliansi yang penuh ambisi dan dendam tersebut.

Di balik bayangan bangunan samping, Zeiran berlutut dengan paksa di atas tanah. Tubuhnya ditekan oleh empat pengawal bertubuh kekar, sementara tangannya dikunci ke belakang dan kain tebal membungkam mulutnya.

Mmphhh!! Mmmpphh!!" Zeiran memberontak hebat. Ia menggerakkan seluruh tenaganya, mencoba melepaskan diri dari pengawal Rahez yang mengepungnya.

Otot-otot lehernya menegang, urat-urat di lengannya menonjol saat ia berusaha berdiri hanya untuk meneriakkan nama Jihan sekali saja.

Jihan adalah wanitaku dan akan selalu menjadi milikku. Demi Tuhan, aku tidak akan membiarkan jihan hidup dalam tekanan. aku akan membawamu kembali, Jihan. Kau bukan pion dalam permainan kotor mereka. Batin zeiran

Zeiran menatap punggung Jihan yang menghilang di balik pintu besar kediaman Alvarezh

Ruang makan megah kediaman Alvarezh dipenuhi oleh aroma hidangan makan mewah. Jihan duduk di samping William, sementara Rahez telah kembali ke kursinya dengan wajah yang sudah kembali tenang, seolah keributan di halaman tadi tidak pernah terjadi.

Di seberang meja, Mahreya menyenggol lengan Adreena, matanya melirik sinis ke arah Jihan.

"Kau lihat wajah malangnya itu?" bisik Mahreya dengan nada menghina, cukup keras untuk didengar oleh Adreena namun tersamar oleh denting alat makan. "Sepertinya menjadi istri Marculles tidak seindah yang dia bayangkan. Lihat, dia bahkan tidak berani menatap kita."

Adreena mendesis, bibirnya membentuk lengkungan sinis. "Jika dia terus bersikap menyedihkan seperti itu, William akan segera bosan dengannya dan akan membuang nya ."

Keduanya tertawa kecil, sebuah tawa merendahkan yang membuat bahu Jihan semakin merosot.

"Setidaknya, biarkan dia bertahan sampai aliansi ini memberikan keuntungan besar bagi kita semua," tambah Adreena sambil melirik William yang sedang fokus berbicara dengan Rahez. "Setelah itu, terserah dia mau dibuang atau tidak."

Mahreya kembali tertawa, "Benar. Dia hanyalah tumbal yang sangat menguntungkan, bukan?"

Helena, yang duduk tak jauh dari mereka, memberikan teguran tajam melalui tatapan mata. "Adreena, Mahreya... jaga mulut kalian. Ini bukan tempat untuk bergosip," tegur Helena dengan suara rendah tapi tegas.

Jihan menunduk, matanya menatap kosong ke arah piring di depannya. Meski ia tidak mendengar setiap kata dengan jelas, tawa sinis itu sudah cukup untuk memberitahunya bahwa ia sedang menjadi bahan cemoohan.

Tempat ini... keluarga ini... tidak ada satu pun tempat bagiku untuk bersandar, batin Jihan bergemuruh. Mereka tertawa di atas penderitaanku.

Di sisi lain, William, Rahez, dan Daniel seolah berada di dunia yang berbeda. Mereka tenggelam dalam pembicaraan serius mengenai aliansi besar yang baru saja terbentuk.

"Aku sudah meninjau dokumen aliansi antara Alvarezh dan Marculles," ucap William dengan suara baritonnya yang tenang namun mendominasi. "Investasi global ini akan memberikan kalian akses ke jalur distribusi yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Tapi ingat, Rahez... kesepakatan ini bergantung pada stabilitas dan hasil yang kalian berikan."

Rahez mengangguk mantap, "Kami mengerti, William. Aliansi ini akan menjadi kekuatan yang tidak tertandingi di Aestrasia."

Rahez melirik Daniel, memberikan kode halus melalui gerakan mata agar pamannya itu segera masuk ke inti pembicaraan. Mereka berdua tahu benar bahwa posisi Daniel sebagai calon kepala negara Aestrasia masih belum sepenuhnya aman. Ada faksi lawan yang cukup kuat, namun semua itu bisa berubah dalam sekejap jika ada satu nama yang berdiri di belakang mereka, William Marculles.

Daniel berdeham, memperbaiki posisi duduknya agar terlihat lebih berwibawa sebelum membuka suara.

"William," ucap Daniel sang panglima nada bicara yang sangat terukur. "Aliansi ekonomi kita memang luar biasa. Namun, stabilitas ekonomi Marculles Group di wilayah ini akan jauh lebih terjamin jika pemerintahan Aestrasia berada di tangan orang yang tepat orang yang mengerti visi globalmu."

William tidak menyahut, ia hanya menyesap wine merahnya dengan gerakan elegan yang sangat lambat.

Daniel melanjutkan, "Jika kau bersedia mengumumkan dukungan resmimu kepada pencalonanku sebagai Pemimpin negara Aestrasia secara publik, aku yakin faksi lawan akan langsung mundur. Pengaruhmu bukan sekadar modal, William. Di dunia ini, tidak ada yang berani berseberangan dengan pria yang didukung oleh Marculles."

Rahez menimpali dengan nada yang seolah-olah memberikan penawaran yang adil. "Bayangkan kemudahan yang akan kau dapatkan, William. Hukum, kebijakan pajak, hingga keamanan jalur distribusi ilegal maksudku, jalur distribusi khusus milikmu semuanya akan berada di bawah kendali kita sepenuhnya. Kau bukan hanya berbisnis di sini, kau akan menjadi pemilik bayangan dari negara ini."

Mendengar permintaan yang begitu vulgar akan kekuasaan politik tersebut, William menghentikan gerakan gelasnya. Ia sedikit memiringkan kepalanya, lalu mengerutkan dahinya dalam-dalam.

"Pemimpin negara?" ulang William dengan suara bariton yang sangat rendah, hampir menyerupai desisan. “Kalian memintaku untuk mencampuri urusan kedaulatan sebuah negara secara terbuka? Kalian pikir namaku bisa dibeli hanya dengan janji kemudahan birokrasi?"

William mengepalkan tanganya dengan kuat ia paling benci jika merasa sedang dimanfaatkan secara terang-terangan, meskipun ia sendiri adalah seorang manipulator.

"Kalian terlalu percaya diri, Rahez," ucap William dingin, membuat Rahez sedikit tersentak di kursinya. "Aku datang ke sini untuk membicarakan aliansi bisnis, bukan untuk menjadi tim sukses dalam politik."

Suasana semakin memanas, dipenuhi dengan transaksi ego dan ambisi yang disamarkan sebagai obrolan keluarga.

"William, kita sekarang adalah keluarga," ucap Rahez dengan nada yang dibuat sehangat mungkin, mencoba mencairkan ketegangan. "Segala dukungan yang kau berikan pada paman Daniel, pada akhirnya akan kembali menjadi keuntungan besar bagi aliansi kita juga."

William hanya menyeringai tipis, namun di dalam benaknya, kata-kata itu terdengar seperti penghinaan. Cih, keluarga? batin William sinis. Berkeluarga dengan pria yang sudah mati itu pria yang paling kubenci? Seperti inikah keluarganya? Bahkan aku belum mendapatkan pewaris darinya, dan kalian sudah begitu lancang menuntut dukunganku.

William sedikit memajukan tubuhnya, menatap Rahez dengan mata yang menyipit berbahaya. Dengan nada rendah yang mendesis, ia berbisik namun cukup tajam untuk membuat suasana membeku.

"Kau tahu tujuanku dalam aliansi ini, bukan? Aku belum mendapatkan hasil dari perjanjian itu," ucap William sambil melirik sekilas ke arah Jihan. "Tapi kau... berani meminta dukungan politik dariku ."

Rahez sempat melirik Jihan yang masih tertunduk, lalu kembali menatap William dengan sorot mata meyakinkan. "Kau pasti mendapatkannya, William. Jihan adalah wanita yang sehat. Dia akan memberikan apa yang kau inginkan. Dan dukungan yang kau berikan pada paman Daniel menguntungkan mu ."

“Atau keuntunganmu sendiri, Rahez?” Potong William sinis. Kau pasti memiliki rencana lain di balik pencalonan pamanmu ini.”

1
Eva Rosita
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!