"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.
Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.
Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Melewati Batas
Satu tahun lalu.
“Alana!”
Langkah ringan Kayla terdengar mendekat di antara deretan meja. Alana sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, gerakannya rapi dan tenang seperti biasa.
Dia mendengar Kayla, tapi tidak menoleh. Ekspresinya tetap sama. Dingin, fokus, dan tidak tersentuh.
Sebuah pulpen tergelincir dari tangannya, jatuh ke lantai. Alana menatap pulpen itu dengan tatapan datar.
Kayla menunduk, buru-buru mengambil pulpen itu dan memberikannya pada Alana.
Alana menerimanya tanpa ekspresi.
Kayla mengamati barang-barang Alana di atas meja. “Botol minum lo baru, Na? Botol minum lama lo kemana?”
“Gue buang.”
Kayla mengerutkan kening. “Kenapa? Padahal lo suka banget sama botol itu.”
Gerakan Alana berhenti sebentar. Jemarinya yang ramping berhenti di atas pulpen, lalu melanjutkan memasukkannya ke dalam tempat pulpen dengan tenang. Alana menutup tempat pulpennya, memasukkannya ke dalam tas, baru kemudian menjawab dengan suara datar dan dingin, tanpa menatap Kayla.
“Ada sampah nempel di botol minum gue.”
Kayla mengangguk dan duduk di samping Alana. “Satu minggu lagi liburan. Lo mau liburan kemana?”
Alana mengedikkan bahu. “Belum kepikiran.”
Kayla menyangga dagunya dengan tangan. Matanya menatap ke atas, membayangkan dengan wajah berbinar. “Akhir tahun, di New York lagi winter. Kayaknya enak buat ice skating dan main salju.”
Alana yang sedang menarik resleting tasnya berhenti sejenak. Dia melirik Kayla. “Lo belum pernah lihat salju?”
Kayla menggeleng pelan.
Alana berdiri, menenteng tasnya di bahu dengan elegan. “Boleh.”
Kayla tersenyum.
Alana berjalan pelan menuju pintu kelas. Kayla buru-buru mengejar langkahnya.
“Oh iya,” lanjut Kayla sambil menahan napas karena mengejar. “Bukannya lo pernah bilang kalau bokap lo punya resort mewah di sana? Lo mau nginep di situ?”
Alana mengangguk kecil tanpa menoleh. “Oke. Gue kabarin kapan lo harus ke bandara.”
Kayla hampir melompat saking senangnya. “Oke, Alana!”
Alana tidak menjawab. Tapi satu sudut bibirnya naik sedikit membentuk senyum miring.
Suasana lorong depan kelas riuh oleh suara siswa-siswa yang berhamburan keluar dari kelas untuk pulang. Di antara keramaian itu, Dinar muncul bersama Manda, berjalan sambil tertawa kecil.
“Gue seneng banget!” seru Dinar yang berjalan di depan kelas Alana. “Kalau lo jadian sama Rayyan, lo harus traktir gue makan bakso Kang Ucup sampai gue puas!”
Manda menunduk, tersenyum malu-malu. “Apaan Din. Orang gue sama Rayyan cuma sahabatan aja.”
Dinar tersenyum, semakin gencar menggoda Manda. “Lihat tuh! Lihat tuh! Pipi lo merah kayak kepiting rebus!”
Manda sontak memegangi kedua pipinya yang kini terasa panas. “Udah, gue malu Din.”
“Lo suka kan sebenernya sama Rayyan?” Dinar semakin gencar meledek Manda sambil berjalan mundur. Dan itu membuatnya hampir menabrak Alana yang baru keluar dari kelas.
Alana berhenti. Tatapannya datar.
Manda langsung refleks menepi, terburu-buru menarik lengan Dinar ke samping supaya tidak menghalangi jalan Alana.
“Apaan sih, Na? Kenapa harus kita yang minggir?” celetuk Dinar kesal.
“Udah, Din.”
Manda tersenyum kaku, menunduk hormat kecil pada Alana.
Kayla sudah bersedekap, dagu sedikit terangkat.
Alana menatap Dinar sebentar dengan tatapan yang tenang tapi dingin.
“Eh elo!” Dinar menunjuk langsung ke arah Alana dengan jarinya.
“Lo kan yang udah laporin Rayyan bolos kelas sampai dia diskors?”
Manda langsung panik, buru-buru menarik lengan Dinar. “Nggak usah, Din.”
Siswa lain yang berada di sekitar mereka sontak diam. Hening tanpa suara. Semua mata kini mengarah kepada mereka.
Dinar tidak peduli. Rambut ikalnya bergoyang halus ketika dia maju setengah langkah, matanya melotot pada Alana.
Alana tidak tersinggung, tidak kaget, dan tidak mundur. Justru tersenyum. Senyum tenang yang justru terasa mengancam. “Gue cuma ngomong fakta sama guru BK.”
“Lo itu! Suka banget ya lihat orang lain susah!”
Alana mendekat satu langkah ke arah Dinar, membuat hawa dingin tiba-tiba datang menusuk.
Masih dengan senyumannya yang tenang, Alana berkata, “lebih baik lo bilangin ke temen lo kalau nggak niat sekolah, nggak sekolah. Merepotkan orang lain.”
Dinar maju setengah langkah, wajahnya benar-benar memerah sampai telinga. “Lo keterlaluan!”
“Kalau dia nggak bolos, dia nggak akan diskors,” jawab Alana tenang.
“Lo nggak punya hati ya?!”
Alana tersenyum kecil. “Setiap keputusan ada harganya. Dia berani bolos, dia juga harus terima diskors.”
Tatapannya lalu bergeser ke Manda. “Oh iya, bilang juga sama temen lo.”
Tatapannya tajam, penuh peringatan. “Jangan melewati batas.”
Alana tersenyum tipis.
Tanpa menunggu reaksi, dia kembali melangkah, melewati mereka dengan anggun dan dingin.
...***...
Alana duduk di ranjang rumah sakit, punggungnya sedikit bersandar pada bantal tinggi. Tangannya sudah kembali dipasang infus.
Dia meraih ponsel di atas nakas.
Seharian ini ia tidak menyentuh apapun—tidak pesan, tidak telepon, tidak notifikasi. Layar ponselnya dipenuhi ratusan notifikasi.
Alisnya berkerut.
Grup kelas ramai.
Grup angkatan lebih ramai.
Grup alumni—bahkan itu menggila dengan ratusan pesan baru.
Alana membuka grup angkatan. Di sana, di antara spam pesan dan stiker, ada sebuah video yang di-forward berkali-kali.
Alana membukanya.
Jantung Alana mencelos. Matanya membesar dan terbelalak, menatap layar tanpa kedip.
Seluruh tubuhnya membeku, seakan darahnya berhenti mengalir.
Itu adalah video yang sama seperti yang ditampilkan saat Student Awarding Night. Hanya saja, versi ini lebih panjang dan sama sekali tidak disensor.
Wajahnya Alana… terlihat sangat jelas.
Tangannya gemetar hebat.
Detik berikutnya, ponsel Alana terjatuh ke lantai, remuk.
Alana terlonjak. Napasnya tersengal. Pandangannya kabur. Lalu, Alana histeris. Suaranya melengking, putus, penuh ketakutan. Bahunya naik turun cepat, dada sesak, dan matanya kembali berlinang tanpa bisa dihentikan.
Alana memukul tubuhnya berkali-kali.
...***...
Seorang laki-laki usia akhir 20 tahunan berjalan masuk ke ruang kerja Dharma dengan sedikit terburu-buru. Wajahnya tegang.
Dharma berdiri di depan jendela besar menatap ke luar ruangan.
Ferdi, asisten pribadi Dharma berdiri satu langkah di belakang Dharma. Dia menyerahkan ponsel pada Dharma. “Maaf, Pak, ada yang harus Bapak lihat."
Dharma menerima itu. Video yang Dharma lihat di acara Student Awarding Night tersebar di grup-grup sekolah. Video itu terlihat di-forward berkali-kali.
Rahang Dharma mengeras. Tangannya terkepal kuat. Sorot matanya berubah tajam.
“Maaf, Pak, video putri Bapak sudah tersebar di sekolah dan kabar itu sudah sampai ke telinga para pemegang saham,” lanjut Ferdi, menelan ludah.
Ferdi diam sejenak menatap Dharma yang masih diam di tempatnya.
“Bapak harus segera ke kantor. Para pemegang saham sudah berkumpul. Mereka ingin mengadakan RUPS Luar Biasa. Saham perusahaan jatuh sangat drastis setelah peristiwa yang terjadi pada anak Bapak,” lanjut Ferdi lagi.
Dharma mengangguk pelan. Rahangnya masih keras. Kedua bahunya kaku.
Dia menatap keluar dengan tatapan tajam. “Kamu cari tahu apa yang sebenarnya menimpa anak saya.”
Mata Dharma gelap. “Cari tahu siapa yang menyebarkan video itu dan siapa laki-laki yang sudah menodai putri kesayangan saya.”
...----------------...