Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dana dan Dendam
Dua minggu setelah percakapan di parkiran, kehidupan berjalan dalam ritme yang pahit dan sopan. Amara dan Rafa berkomunikasi hanya melalui grup WhatsApp co-parenting, berisi jadwal jemput-antar, foto hasil lab Luna, dan pembagian biaya obat. Setiap kata terdengar seperti diketik di atas es.
Kecemburuan Rafa tidak benar-benar hilang; ia berubah bentuk, mengkristal menjadi ketakutan yang lebih dalam dan lebih rasional: hak asuh.
Pikiran itu menghantuinya di tengah malam, saat ia menatap plafon apartemennya yang sunyi. Bagaimana jika Amara dan Edo serius? Menikah? Edo pasti ingin punya anak sendiri.
Dan Amara? Dia bisa hamil lagi. Lalu perhatiannya terbagi. Atau, lebih buruk... mereka memutuskan pindah ke Yogyakarta, ke dunia seni Edo yang nyaman.
Mereka bisa membawa Luna. Aku bisa melawan di pengadilan, tetapi hakim akan melihat: Amara, sang ibu yang stabil, dengan pasangan baru yang suportif dan karir yang bermakna.
Sementara aku... Ia menatap ruangannya yang berantakan, ingat tuntutan rekening bank yang menipis. Ia adalah seorang ayah dengan masa lalu pengkhianatan dan ketidakstabilan finansial. Dalam pertarungan hak asuh, kekalahannya akan telak.
Kekhawatiran ini membuatnya semakin rajin dalam co-parenting. Ia menghadiri setiap konsultasi dokter dengan Luna, ia yang mengerjai jadwal diet lupus dengan teliti, bahkan mengambil kursus singkat nutrisi untuk anak dengan penyakit kronis. Semua itu demi membuktikan—terutama pada dirinya sendiri—bahwa ia tak tergantikan.
Di sisi lain, proyek #ArtForLuna telah menjadi fenomena yang tak terduga. Media sosial dibanjiri tagar tersebut. Kaos, tote bag, gantungan kunci, dan art print dengan motif fragmen-fragmen hati yang disinari cahaya—hasil adaptasi karya Amara untuk merchandise—terjual ribuan unit dalam hitungan hari.
Donasi mengalir deras ke rekening yayasan yang dikelola secara transparan. Mereka bahkan melampaui target, mengumpulkan dana yang tidak hanya cukup untuk biaya pengobatan Luna setahun ke depan, tapi juga bisa membantu beberapa anak lain di klinik yang sama.
Suatu sore di studio darurat Amara—sebuah ruang tamu yang disulapnya di apartemen—Sari datang dengan ekspresi muram. Ia membawa laptop dan secangkir kopi yang sudah dingin.
"Kau lihat ini?" Sari membalikkan layar laptopnya, menunjukkan postingan Instagram dari sebuah akun influencer seni. Foto seorang model terkenal sedang memakai kaos #ArtForLuna dengan pose glamor di depan mobil sport. Captionnya berbunyi: "So much more than just fashion. It's a statement. It's compassion. Get yours before it's sold out! #ArtForLuna #FashionWithHeart"
"Sudah aku lihat," jawab Amara dengan suara datar. Ia sedang menyelesaikan sketsa untuk proyek "The Unseen Battle", tetapi tangannya malas bergerak.
"Ini menjadi monster, Amara. Tujuannya mulia, tapi lihatlah! Kaosmu dipakai sebagai aksesori untuk pamer gaya hidup. Pesanmu tentang perjuangan diam, tentang fragmen yang disatukan oleh cinta... itu semua tenggelam dalam hiruk-pikuk 'shop for a cause'." Sari menatapnya tajam. "Kau tidak merasa ada yang salah?"
"Tentu aku merasa!" Amara menoleh, matanya berkaca-kaca. "Setiap kali melihat orang memakai kaos itu tanpa tahu apa itu SLE, tanpa peduli tentang Luna, aku merasa seperti... penjual asongan yang memanfaatkan penderitaan anak sendiri. Tapi apa alternatifnya, Sari? Uangnya nyata.
Dana itu membuat Luna bisa mendapatkan obat biologis terbaru yang harganya selangit. Itu membuat anak-anak lain di rumah sakit bisa dapat terapi seni gratis. Haruskah aku menolaknya demi kemurnian artistik?"
"Ada perbedaan antara menerima dana dan memperdagangkan jiwa," desis Sari. "Kau menjual hak cipta seluruh seri 'Fragments & Wholeness'-mu ke NOVAE dengan murah!"
"Karya-karyamu yang paling personal, yang lahir dari darah dan air matamu setelah perceraian, sekarang dicetak massal di atas bantal dan case handphone! Itu bukan amal, Amara. Itu pelepasan."
Percakapan mereka berakhir dengan dingin. Sari pergi dengan kekecewaan yang membeku di udara.
Kekhawatiran Rafa dan kegelisahan Amara bertemu dalam sebuah titik bernama Val.
Val, dengan jaringan bisnisnya yang luas, ternyata menjadi salah satu kontributor terbesar proyek #ArtForLuna.
Dia tidak hanya membeli dalam jumlah besar untuk dibagikan pada karyawannya, tetapi juga menghubungkan Amara dengan sebuah luxury brand yang ingin berkolaborasi membuat edisi khusus scarf dengan motif yang sama, dengan janji royalty yang besar untuk yayasan.
Rafa mengetahui hal ini saat Val meneleponnya, suaranya bersemangat.
"Rafa, kau harus bangga pada Amara. Brand yang aku kenal, L'Éclat, mau kolaborasi. Ini akan mendongkrak dana luar biasa. Mereka bahkan mau gelar charity gala. Aku usulkan kau jadi salah satu pembicara, mewakili sisi orang tua yang berjuang.
Bagus untuk citramu juga, di tengah... segala rumor yang tidak enak."
Nada Val ramah, terlalu ramah. Rafa bisa merasakan kalkulasi di baliknya.
"Val, aku... aku tidak nyaman," jawab Rafa hati-hati. "Ini proyek Amara. Aku tidak ingin terlihat memanfaatkannya."
"Nonsense! Ini untuk Luna. Dan untukmu. Orang perlu melihat sisi lain dirimu, Rafa. Ayah yang bertanggung jawab." Kata-katanya halus namun menusuk. "Pikirkanlah. Aku kirimkan proposalnya."
Proposal itu datang, lengkap dengan rencana media yang menyoroti "Keluarga yang Berjuang Bersama Melawan Penyakit". Ada konsep foto keluarga—Amara, Luna, dan dirinya—untuk kampanye. Dada Rafa sesak.
Di satu sisi, ini mimpi buruk. Memperdagangkan penderitaan Luna di panggung publik. Di sisi lain, sebuah suara kecil yang penuh ketakutan berbisik: Jika kau menolak, jika kau tidak kooperatif, Amara akan semakin jauh.
Dia akan melihatmu sebagai penghalang. Edo tidak akan ragu. Edo akan mendukung penuh acara glamor ini demi Luna. Kau akan kehilangan tempatmu.
---
Ketegangan memuncak pada sebuah pertemuan di kafe yang sunyi, tiga hari kemudian. Amara meminta bertemu Sari untuk berdamai, tetapi yang hadir justru Sari dengan beban kemarahan yang telah mendidih.
Sari memakai kemeja putih lengan panjang dan celana jeans sobek di lutut, rambutnya diikat keras ke belakang. Ekspresinya seperti baja. Amara hadir dengan dress katun longgar berwarna tanah, wajahnya lelah tanpa riasan.
"Aku minta maaf jika ucapan ku kasar waktu itu," mulai Amara, meremas-remas serbet di pangkuannya.
"Maafmu tidak mengubah fakta, Amara," potong Sari. Suaranya keras, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.
"Aku sudah diam lama. Melihatmu perlahan-lahan memodifikasi setiap kesedihanmu. Dulu, senimu jujur. Kasar, berdarah-darah, tapi jujur. Sekarang? Lihat ini."
Ia mengeluarkan ponsel dan membuka akun Instagram Amara. "Postingan tentang #ArtForLuna, diikuti hashtag brand kolaborasi, tag galeri, tag rumah sakit. Di mana Amara yang dulu? Yang bilang seni bukan untuk 'likes'?"
"Keadaan berubah, Sari! Aku punya anak yang butuh hidup!"
"Dan dengan menjual jiwa senimu, kau mengajari Luna apa? Bahwa uang adalah segalanya? Bahwa prinsip bisa ditukar?"
"JANGAN BICARA TENTANG MENGAJARI LUNA!" Amara membentak, air mata akhirnya meledak.
"Kau tahu apa yang kualami setiap hari? Melihat anakku menahan sakit, takut akan masa depannya! Aku akan jual jiwa, jual tubuh, jual apapun untuk memastikan dia punya hari esok!"
Pertengkaran mereka panas, penuh dengan luka lama dan kekecewaan yang tertahan.
Sari akhirnya berdiri, suaranya getir.
"Kita dulu bersahabat karena kita punya nyali yang sama, Amara. Karena kita percaya seni bisa mengubah dunia, bukan dengan menjadi hiasan di dinding orang kaya, tapi dengan mengusik pikiran, dengan menyuarakan yang bisu. Sekarang, kau hanya menyuarakan hashtag." Ia mengambil tasnya.
"Aku tidak bisa mendukung ini. Aku keluar dari proyek 'The Unseen Battle'. Dan aku akan mengatakan yang sebenarnya di media sosialku. Bukan untuk menjatuhkanmu, tapi karena ada batasan yang kau langgar, dan sebagai sahabat, dulu, itu adalah tugasku untuk mengingatkanmu."
"Sari, jangan..."
Tapi Sari sudah pergi, meninggalkan Amara yang gemetar di tengah kafe, dikelilingi tatapan penuh rasa ingin tahu dan cibiran.
Malam itu, Sari menepati janjinya. Di akun Instagram pribadinya yang diikuti oleh ribuan pegiat seni lokal, ia memposting tulisan panjang tanpa gambar.
"Tentang Seni, Amal, dan Kehilangan Jiwa"
"...Ada sebuah garis tipis antara menggunakan seni untuk kebaikan dan menjadikan seni sebagai pelacur yang berdandan dengan pita amal. Saat motif asli—yang mentah, yang personal, yang transformatif—digerus oleh mesin produksi massal dan kampanye media yang dirancang apik, yang tersisa hanyalah cangkang kosong."
"Kita bertepuk tangan untuk 'penggalangan dana yang sukses', tapi lupa bertanya: seniman mana yang harus meninggalkan karya terbaiknya di altar komodifikasi, dan atas nama apa?"
"...Aku melihat seorang seniman hebat, seorang teman, perlahan-lahan menyerahkan kendali atas narasi hidupnya sendiri. Setiap retakan, setiap luka, setiap fragmen hati yang pernah ia tuangkan di kanvas dengan ketakutan dan harapan, kini dikemas rapi, diberi harga, dan dijual dengan label 'inspirasi'. Apakah ini yang kita sebut kemenangan?"
"Kepada siapapun yang membaca: belilah kaosnya, donasikan uangmu, tapi tanyakan juga: apakah kita sedang menyembuhkan, atau hanya menenangkan hati nurani kita sendiri dengan membeli tanda kepedulian? Dan untuk senimannya: ingatlah suara aslimu. Sebelum ia hilang, ditenggelamkan oleh gemuruh applause dan dering kasir..."
Postingan itu viral dalam hitungan jam. Komentar berdatangan. Ada yang mendukung Sari, menyebut Amara "sell-out".
Ada yang membela Amara, menyebut Sari "sok suci" dan "iri". Perdebatan sengit terjadi di kolom komentar, memecah komunitas seni yang sebelumnya solid mendukung #ArtForLuna.
Amara membaca setiap kata di layar ponselnya, di kamar tidurnya yang gelap.
Tubuhnya terasa hampa, seperti cangkang yang dibersihkan isinya. Rasanya seperti dikhianati dua kali: pertama oleh kebutuhan, kini oleh prinsip sahabatnya. Luna tertidur pulas di sebelahnya, tidak menyadari badai yang melanda dunia ibunya.
Di apartemennya, Rafa juga membaca postingan Sari. Rasa paniknya melonjak. Skandal publik. Perpecahan di tim Amara. Ini akan dilihat oleh pengacara mana pun jika nanti terjadi persidangan hak asuh: lingkungan ibunya tidak stabil, penuh konflik.
Jari gemetarannya membuka aplikasi pesan. Ia mengetik ke Amara.
[Rafa]: Aku lihat postingan Sari. Kau baik-baik saja?
Tidak ada balasan.
[Rafa]: Ini bisa jadi buruk, Amara. Untuk proyek, untuk citra. Untuk... kita.
Masih diam.
[Rafa]: Kita perlu bicara. Serius. Bukan tentang kita, tapi tentang Luna. Tentang bagaimana kita menghadapi ini bersama. Aku takut ini akan digunakan melawan kita.
Kurang dari semenit kemudian, balasan datang.
[Amara]: Apa yang kau maksud 'digunakan melawan kita'?
Rafa menatap pertanyaan itu. Apakah harus jujur? Apakah harus mengungkapkan ketakutannya yang paling dalam? Akhirnya, kecemasannya menang.
[Rafa]: Jika situasi kita terlihat buruk di publik, jika ada drama, citra kita sebagai orang tua rusak. Itu bisa mempengaruhi... hak kita.
Terutama jika ada pihak ketiga yang ingin terlibat lebih dalam dalam kehidupan Luna.
Pesan "Amara sedang mengetik..." muncul, lalu hilang, lalu muncul lagi, untuk waktu yang lama. Akhirnya, pesan singkat masuk.
[Amara]: Jadi itu yang kau khawatirkan? Hak asuh? Bukan tentang perasaanku yang hancur, bukan tentang persahabatanku yang rusak? Hanya tentang posisimu sebagai ayah?
Rafa memicingkan mata, merasakan serangan itu.
[Rafa]: Tentu aku peduli perasaanmu! Tapi aku juga harus realistis. Aku adalah ayah dengan catatan buruk. Kau adalah ibu yang sedang jadi pusat kontroversi. Kita lemah, Amara. Dan dunia luar tidak ramah.
Kali ini, balasannya cepat.
[Amara]: Dunia luar yang kau maksud adalah Edo?
Rafa tidak bisa bernapas. Ia menatap kata-kata itu. Jari-jarinya membeku.
[Amara]: Kita akan bicara besok. Aku terlalu lelah malam ini. Tapi ketahuilah, Rafa.
Ketakutanmu kehilangan Luna adalah sama seperti ketakutanku kehilangan diriku sendiri dalam semua ini. Kita berdua tenggelam, hanya di kapal yang berbeda. Selamat malam.
Layar pun gelap. Rafa melemparkan
ponselnya ke sofa. Ia berdiri, berjalan ke jendela, memandang lampu-lampu kota. Ia melihat bayangannya sendiri yang samar di kaca—seorang pria yang dikepung oleh rasa bersalah masa lalu dan ketakutan akan masa depan.
Ia telah kehilangan Amara. Kini, hantu kehilangan yang lebih besar—Luna—menari-nari di depan matanya, dan ia merasa tidak punya senjata apa pun untuk melawannya, kecuali uang dari proyek amal yang justru sedang menggerus jiwa orang yang paling ia cintai. Ironi yang begitu pahit, membuatnya ingin tertawa, atau mungkin menangis.
karena kan jarak umur mereka jauh..
nanya aja koq 🫰
air mata aku ngalir nih...jadi bikin hidung mampet...😭😭....
cerita kamu bener2 bagus ka...
semangat nulisnya ya..semoga makin banyak yg baca karya kamu...
banyak sisi positif yg bisa diambil...
hncur ber keping"...
knapa sblm brtindak tak kaubfikirkn akibatnya rafa....
km org brpndidikn... punya karir cemerlang n tentunya bnyak dwit....
knapa km tak merangkul istrimu n mncari solusi yg trbaik n masuk akal....
eeeee mlah lbh milih lari ke pembantu...
yg bner aja rafa... msa iya km banting mental istrimu dgn brsaing sm pambantumu...🙄🙄
aku sampe ngga bisa berkata2
cerita kamu bener2 lhoo Kak.....
bikin hati aku mleyot2...
sedihnya dapat banget...
kadang.... keluarga tidak harus ada hubungan darah...😭😭
rafa.... km mnggali kuburanmu sndiri....
brmain api pasti akn trbakar...
selingkuh = khilangan istrimu....
dasar suami tak tau diri🙄🙄
Terimakasih author untuk rangkaian kisah Amara ini
beneran bagus lho ceritanya.. penggunaan kata2nya...😍😍...