NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

"Sama-sama, Sayang," bisikku pelan, nyaris tenggelam dalam bidang dadanya yang kokoh. Aku mendongak, menatap matanya yang kini memancarkan kelembutan yang hanya diperuntukkan bagiku. Di dunia ini, dia bukan lagi panglima perang atau pangeran yang memikul beban kerajaan, dia hanyalah Kaelen—pria yang mencintaiku dengan seluruh jiwanya.

​Kaelen berhenti tertawa. Ia menatapku dengan intensitas yang membuat dunia di sekitar kami seolah berhenti berputar. Deburan ombak yang tadinya bising kini terdengar seperti melodi latar yang jauh. Tangannya yang besar berpindah dari pinggangku, satu naik mengusap pipiku sementara yang lain mendekap tengkukku dengan posesif namun sangat lembut.

​"Kazumi..." gumamnya, suaranya kini serak dan penuh damba. "Boleh aku melakukannya?"

​Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya sedikit berjinjit, memberikan izin yang ia butuhkan melalui tatapanku.

​Kaelen perlahan menundukkan kepalanya. Ruang di antara kami terkikis sampai aku bisa merasakan napasnya yang hangat dan aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya. Dan di sana, di bawah langit senja yang hampir habis dan disaksikan butiran ombak yang menyapu kaki, bibirnya bertemu dengan bibirku.

​Awalnya hanya sebuah sentuhan lembut, seolah ia takut aku akan menghilang jika ia terlalu kasar. Namun, rasa rindu yang tertahan selama ratusan tahun meluap begitu saja.

Ciuman itu menjadi lebih dalam, penuh dengan janji setia dan rasa syukur karena takdir akhirnya mempertemukan kami di dunia yang damai ini. Jantungku berdebar tak keruan, tanganku meremas kemeja putihnya, berusaha mencari tumpuan agar tidak lemas.

​Beberapa saat kemudian, ia menjauhkan wajahnya hanya beberapa inci, dahi kami masih bersentuhan. Napas kami saling memburu.

​"Aku tidak pernah membayangkan kebahagiaan bisa terasa seberat ini sampai sesak napas," bisik Kaelen sambil tersenyum tipis, ibu jarinya mengusap bibirku yang sedikit basah. "Dulu aku bersumpah untuk melindungimu dengan pedangku. Sekarang, aku bersumpah untuk membahagiakanmu dengan seluruh hidupku sebagai manusia biasa."

​Aku terkekeh kecil dengan mata berkaca-kaca. "Hidup sebagai manusia biasa bersamamu... itu terdengar seperti sihir yang paling indah bagiku, Kael."

​"Kita akan membangun rumah itu, Kazumi," ucapnya lagi, suaranya kini lebih tenang namun penuh kepastian. "Rumah dengan taman bunga Han yang banyak di halamannya. Dan setiap pagi, aku akan memastikan kaulah orang pertama yang kulihat saat aku membuka mata."

​Aku memeluk lehernya lagi, menyembunyikan wajahku yang merona hebat. "Janji ya?"

​"Janji. Sampai napas terakhirku di dunia ini," jawabnya mantap sambil mengecup puncak kepalaku.

Malam semakin larut, dan langit yang tadinya jingga kini telah berganti menjadi hamparan beludru hitam bertabur bintang. Udara pantai pun mulai terasa menusuk tulang, membuatku sedikit menggigil di balik kemeja tipis yang kukenakan.

Kaelen yang menyadari perubahan suhu itu langsung melepaskan pelukannya sejenak. Ia melihat ke arah jam tangannya, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sangat protektif.

"Sudah malam, Sayang. Udara laut tidak baik untukmu kalau terlalu lama, apalagi kamu tadi sempat lemas," ucapnya lembut.

Sebelum aku sempat melangkah, Kaelen tiba-tiba membungkuk dan dengan satu gerakan sigap, ia kembali menggendongku ala bridal style. Aku terpekik pelan, refleks mengalungkan lenganku di lehernya agar tidak jatuh.

"Kael! Aku bisa jalan sendiri, kakiku sudah tidak lemas kok," protesku malu-malu, meskipun sebenarnya aku sangat menikmati berada di dalam dekapannya.

"Tidak ada bantahan untuk asisten pribadi sekaligus calon istri," balasnya dengan nada jenaka namun mutlak. Ia mulai melangkah menyusuri pasir pantai yang dingin menuju mobil yang terparkir di kejauhan.

"Pasirnya tidak rata, aku tidak mau kamu tersandung dalam gelap. Biarkan aku yang jadi tumpuanmu malam ini."

Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang tenang namun kuat. Rasanya begitu damai. Suara langkah kakinya di atas pasir dan deru ombak menjadi musik pengiring perjalanan singkat kami kembali ke kendaraan.

Begitu sampai di mobil, ia tidak langsung menurunkanku. Ia menatapku sejenak di bawah temaram lampu jalan yang kuning, matanya berkilat penuh kasih sayang.

"Kita pulang sekarang ya? Aku harus memastikan kamu masuk ke asrama sebelum jam malam, atau aku akan dicap sebagai asisten dosen yang membawa lari mahasiswinya," godanya sambil mengecup ujung hidungku sebelum mendudukkanku di kursi penumpang dengan sangat hati-hati.

"Kamu bisa saja bicaranya, Kael," balasku sambil tertawa kecil, membiarkan dia memasangkan sabuk pengaman untukku dengan sangat telaten.

​Begitu mobil mulai membelah jalanan malam yang sunyi, Kaelen tidak membiarkan tanganku menganggur. Tangan kirinya tetap kokoh memegang kemudi, sementara tangan kanannya menggenggam jemariku erat di atas konsol tengah. Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, enggan melepaskannya bahkan saat ia harus berpindah gigi mobil. Suasana di dalam kabin terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan angin malam yang menderu di luar.

​"Kenapa diam saja, Sayang? Masih kepikiran kejadian di lab tadi?" tanyanya lembut tanpa melepas pandangan dari jalan.

​"Tidak, aku hanya masih tidak percaya semua ini nyata," jawabku sambil menatap cincin dengan permata biru yang kini melingkar manis di jariku.

​Sesampainya di depan gerbang asrama, ternyata kekhawatiran Kaelen terbukti. Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Salsa yang sedang duduk di bangku taman depan gerbang. Wajahnya tampak cemas, matanya terus-menerus melirik jam tangan, namun begitu lampu mobil Kaelen menyorot ke arahnya, dia langsung berdiri tegak dengan mata membelalak.

​"Tuh, kan. Sahabatmu sudah seperti detektif yang menunggu buronannya pulang," goda Kaelen sambil mematikan mesin mobil.

​Sebelum aku turun, Kaelen meraih jaket bomber hitamnya dari kursi belakang. Ia menyampirkannya ke bahuku, membungkus tubuhku agar tidak terkena angin malam yang tajam. Saat ia merapikan kerah jaket itu, ia menyelipkan sesuatu ke dalam saku jaketnya—sebuah kunci perak kecil dengan gantungan berbentuk bunga Han.

​"Itu kunci apartemenku," bisiknya di dekat telingaku. "Jika suatu saat asrama terasa terlalu ramai atau kamu butuh tempat untuk merasa aman, pulanglah ke sana. Aku akan selalu menunggumu."

​Aku tertegun, menatapnya dengan penuh haru. Belum sempat aku menjawab, Salsa sudah berlari mendekat ke arah kaca mobil.

​"KAZUMI! KAK KAEL! Kalian dari mana saja?! Aku hampir saja lapor satpam kalau kalian tidak muncul dalam lima menit!" teriak Salsa heboh. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat matanya menangkap kilauan di jariku yang sedang merapikan jaket. "Tunggu... itu... itu CINCIN?!"

​Salsa menjerit histeris, membuat Kaelen hanya bisa menghela napas panjang sambil tersenyum pasrah. "Sepertinya malammu tidak akan berakhir tenang di dalam asrama nanti, Sayang."

Aku hanya bisa membalas senyuman Kaelen dengan wajah yang merona hebat, mencoba menyembunyikan rasa gugup sekaligus bahagia yang membuncah. Aku menatapnya sekilas sebelum keluar dari mobil, seolah ingin merekam wajah tenangnya itu sebagai pengantar tidurku nanti.

"Masuklah, sebelum Salsa meledak karena rasa penasarannya," ucap Kaelen lembut. Ia sempat mengacak rambutku pelan sebelum aku benar-benar melangkah keluar.

Begitu kakiku menapak di tanah, Salsa langsung menyergapku. Ia menarik tanganku, mengangkat jemariku ke depan matanya, lalu berteriak tanpa suara—tipe teriakan histeris yang tertahan karena takut ditegur ibu asrama.

"Kazumi! Ini beneran? Kak Kaelen melamarmu? Di hari pertama kuliah? Gila! Ini sejarah paling ekstrem di kampus kita!" Salsa mengguncang-guncangkan bahuku sementara aku hanya bisa tertawa kecil sambil berusaha menutupi cincin itu agar tidak terlalu mencolok.

Kaelen menurunkan kaca mobilnya sebentar, menatap Salsa dengan ekspresi asisten dosennya yang berwibawa namun ada binar jenaka di matanya. "Salsa, tolong jaga dia baik-baik malam ini. Jangan sampai dia kurang tidur karena harus menjawab pertanyaanmu yang ribuan itu."

"Siap, Kakak Ipar! Eh—maksud saya, Pak Asdos!" jawab Salsa sambil memberi hormat yang kocak.

Kaelen kembali menatapku, memberikan sebuah kedipan tipis yang hanya bisa kulihat, lalu mobilnya perlahan menjauh meninggalkan area asrama. Aku berdiri di sana, mendekap jaket bombernya yang masih menyisakan aroma parfumnya yang maskulin dan hangat.

"Ayo masuk, Zu! Kamu harus cerita semuanya! Dari A sampai Z! Kenapa bisa ada cincin, kenapa matamu sembab, dan kenapa Kak Kaelen kelihatan kayak orang habis menang lotre?!" Salsa menarikku masuk ke dalam gedung asrama dengan semangat berapi-api.

Di dalam kamar, suasana benar-benar gaduh dalam sunyi. Salsa duduk bersila di atas kasur, menatapku seolah aku adalah narasumber berita eksklusif paling dicari tahun ini. Aku duduk di tepi kasur, mengusap permukaan kunci apartemen di saku jaket dan melirik cincin biru di jariku.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang kusimpan dengan nama "Kaelen ❤️".

“Sudah di kamar? Jangan terlalu banyak melamun. Istirahatlah, Sayang. Sampai bertemu di mimpi, dan sampai bertemu besok pagi di depan gerbang. Aku akan menjemputmu tepat jam tujuh.”

Aku memeluk ponselku ke dada, tersenyum lebar seperti orang bodoh. Ternyata hidup di dunia tanpa sihir ini bisa jauh lebih ajaib daripada yang pernah kubayangkan, karena keajaiban itu adalah dia.

Aku mengetik balasan dengan jari yang masih sedikit gemetar karena sisa euforia tadi.

"Sudah, Kael. Kamu juga jangan terlalu lama begadang ya, Pak Asdos. Terima kasih untuk hari ini... untuk semuanya. Sampai bertemu besok pagi."

Begitu tombol send ditekan, aku langsung merebahkan diri di kasur, masih mendekap jaket hitam besar miliknya. Wangi sandalwood yang bercampur sedikit aroma laut dari jaket itu seolah menyelimutiku, memberikan rasa aman yang luar biasa.

"Ehem!" Salsa berdehem keras, membuyarkan lamunanku. Dia sudah duduk di sampingku dengan wajah yang menuntut penjelasan.

"Senyum-senyumnya disimpan buat besok, Nyonya Kaelen. Sekarang, jelaskan! Itu cincin... beneran lamaran atau cuma 'tanda pengenal' biar nggak ada yang berani jambak kamu lagi?"

Aku tertawa, lalu duduk bersandar di bantal. Aku menunjukkan cincin itu di bawah lampu kamar. Cahaya birunya berkilauan cantik. "Dia melamarku di pantai tadi, Sa. Di antara ombak. Dia bilang dia ingin jadi tempatku pulang selamanya."

Salsa menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. "Gila, romantis banget! Kak Kaelen yang sedingin es itu ternyata bisa jadi pangeran berkuda putih kalau sama kamu. Aku iri, tapi aku ikut senang banget, Zu!"

Malam itu, butuh waktu lama bagiku untuk benar-benar terlelap. Pertanyaan demi pertanyaan dari Salsa akhirnya berhenti saat dia tertidur karena kelelahan, sementara aku masih terjaga, sesekali meraba kunci apartemen di saku jaket dan memandangi cincin di jariku. Aku merasa sangat dicintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!