Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani Menyinggung
Saat kata-kata itu meluncur dari bibirnya, lelaki itu mengangkat sebelah kaki dengan sikap pongah. Ia meludah ringan ke sepatu kulit hitam mengilap yang dikenakannya, lalu menggosokkannya perlahan ke lantai marmer seakan sedang memamerkan sebuah artefak berharga. Dengan suara penuh kesombongan ia berkata,
“Ini sepatu buatan tangan dari penjahit terkenal Italia. Harganya lebih dari dua puluh juta Rupiah. Hati-hati, kalau sampai tergores, hidupmu pun tak akan cukup untuk menggantinya.”
Walau sepanjang hidupnya ia tenggelam dalam pesta, kemewahan, dan wanita yang tak terhitung jumlahnya, kenyataan bahwa pemuda di hadapannya adalah mantan kekasih perempuannya membuat dadanya dipenuhi rasa tidak senang yang mendalam. Dalam hatinya, ia tak pernah sekalipun benar-benar memandang rendah pemuda miskin ini—justru sebaliknya, ia ingin menginjak-injaknya hingga remuk, memperlihatkan dengan jelas jurang perbedaan status di antara mereka.
Wajah Fauzan Arfariza seketika membeku. Tatapannya yang tenang berubah menjadi dingin menusuk, seperti bilah Pedang yang baru saja terhunus.
“Pergi,” ucapnya singkat, tegas, tanpa emosi.
“Apa katamu?” teriak Natasya Dermawan dengan nada penuh pembenaran diri. “Apa salahnya menyuruhmu mengelap sepatu? Kau itu pelayan di sini! Ir. Herlambang Ahda adalah tamu terhormat. Bukankah sudah seharusnya kau melayani tamu terhormat?”
Ir. Herlambang Ahda mendengus bangga. “Sepertinya kau bahkan belum mendapat seragam pelayan. Masih baru, ya? Aku kenal baik pemilik tempat ini, Tianda Baskara. Asal kau memuaskan tuan muda, satu kata dariku cukup untuk membuatmu resmi bekerja di sini. Bahkan jadi supervisor pun bukan masalah.”
Natasya segera menyambar, seolah kata-kata itu adalah pedang untuk menusuk mantan kekasihnya.
“Dengar itu baik-baik. Inilah perbedaan manusia. Tahu diri sedikit. Kau cuma pecundang miskin yang bahkan harus masa percobaan untuk jadi pelayan. Sementara Tuan Muda Supriadi bisa menentukan nasibmu kapan saja.”
Melihat wajah wanita itu, sesuatu yang menjijikkan mengalir dalam dada Fauzan. Selama ini, betapa dalam topeng yang dikenakannya—ia tak pernah menyangka Natasya adalah sosok seperti ini. Pada saat yang sama, sebuah rasa lega muncul di relung hatinya. Syukurlah, hubungan itu telah berakhir sebelum racunnya menggerogoti lebih jauh.
Ia mengibaskan tangan dengan acuh.
“Sudah cukup. Kalian pergi saja. Aku tidak ingin membuang waktu.”
“Tidak ingin membuang waktu?”
Ir. Herlambang Ahda tertawa terbahak, seolah baru mendengar lelucon terjenaka di dunia. Tiba-tiba tawanya terhenti, wajahnya mengeras. Ia menunjuk Fauzan dengan penuh ancaman.
“Tuan Muda berubah pikiran. Sekarang, jilat sepatuku sampai bersih. Kalau tidak, aku panggil manajer. Kau akan dipecat bahkan sebelum resmi jadi pelayan magang.”
Natasya menambahkan dengan suara manis yang menusuk,
“Gaji pelayan di sini minimal tiga sampai lima juta Rupiah sebulan. Cukup untuk biaya kuliahmu semester depan. Cepat lakukan apa kata Tuan Muda Herlambang, atau kau akan menyesal.”
Amarah Fauzan akhirnya meledak. Dalam sekejap, ia mencengkeram kerah Ir. Herlambang Ahda dan melemparkannya keluar dari ruang VIP itu seperti membuang karung sampah. Tubuh sang tuan muda terhempas ke lantai dengan suara berat. Fauzan lalu menoleh ke Natasya, menunjuk ke arah pintu.
“Aku tidak memukul perempuan. Keluar sendiri.”
“Fauzan Arfariza! Kau sudah berani sekarang, ya? Beraninya kau menyentuh Tuan Muda Supriadi!”
Natasya bergegas keluar, membantu Ir. Herlambang Ahda berdiri. Wajahnya merah padam oleh amarah dan malu.
“Anak sialan! Berani-beraninya kau memukulku!”
Ia ingin menerjang kembali, tetapi keberanian itu tak sebanding dengan gengsi yang telah tercoreng. Setelah ragu sejenak, ia berteriak sekeras-kerasnya,
“Manajer! Di mana manajernya? Bagaimana pengelolaan restoran ini? Pelayan berani memukul tamu!”
Natasya ikut berteriak histeris,
“Tolong! Ada pelayan memukul orang!”
Mendengar keributan itu, manajer restoran, Irman Drajat, bergegas datang dengan wajah penuh senyum menjilat.
“Tuan Muda Herlambang, sejak kapan Anda tiba?”
Ir. Herlambang Ahda adalah sosok yang terkenal di dunia gemerlap Pasar Baru. Irman Drajat yang telah belasan tahun berkecimpung di dunia kuliner tentu mengenalnya—putra keluarga kaya raya, seorang keluarga Besar Ahda sejati.
Melihat wajah yang dikenalnya, kesombongan Ir. Herlambang Ahda semakin membuncah. Ia menunjuk Fauzan dan berteriak,
“Manajer Irman, apa kau masih ingin menjalankan restoran ini? Seorang pelayan berani memukul tamu!”
Rahmat menoleh mengikuti arah telunjuk itu, lalu berkata dengan tergesa,
“Tuan Muda Herlambang, Anda salah paham. Dia bukan pelayan kami.”
“Tidak mungkin!” bentak Ir. Herlambang Ahda. “Aku melihatnya mengelap meja. Kalau dia bukan pelayan, lalu apa?”
Natasya menimpali sinis,
“Benar! Kalau bukan pelayan, masa dia tamu? Dia miskin, kantongnya lebih kosong dari wajahnya. Mana mungkin mampu makan di sini?”
Fauzan tetap diam. Restoran ini sejatinya telah menjadi miliknya. Ia ingin melihat bagaimana sang manajer menangani masalah ini—apakah layak dipertahankan atau tidak.
Irman tersenyum kaku.
“Tuan Muda Ahda, semua pelayan kami berseragam. Ini pertama kalinya saya melihat pemuda ini.”
“Kalau bukan pelayan,” Ir. Herlambang Ahda menyipitkan mata, “bagaimana dia bisa masuk ke ruang VIP ini? Ini ruang pribadi kami! Cepat panggil keamanan dan usir dia!”
“Tunggu sebentar, Tuan Muda. Saya akan urus sekarang.”
Irman berbalik, menatap Fauzan dari ujung kepala hingga kaki. Pakaian murah tak sampai seratus ribu Rupiah. Jelas bukan tipe tamu ruang VIP Nomor Satu yang minimal belanja sepuluh juta Rupiah.
“Siapa kau? Apa urusanmu di hotel ini?” tanya Irman dingin.
“Aku datang untuk makan,” jawab Fauzan tenang. “Ini ruang yang kami pesan.”
Natasya tertawa mengejek.
“Sejak kapan kau pandai berlagak? Manajer, jangan dengarkan dia. Dia pecundang miskin!”
Fauzan menatapnya dengan kecewa mendalam.
“Kau benar-benar buta. Apa kau tak pernah dengar pepatah: jangan meremehkan pemuda hanya karena miskin?”
“Kau?” Natasya menunjuknya. “Sepatu itu kita beli di kaki lima, dua puluh lima ribu Rupiah sepasang. Celana tiga puluh ribu, kaus sepuluh ribu. Selama setahun lebih bersamamu, uang terbanyak di sakumu tak pernah lebih dari seratus ribu. Dan kau berani bilang makan di VIP Nomor Satu?”
Ir. Herlambang Ahda menoleh pada Irman.
“Kau dengar? Dia menyelinap masuk. Usir dia!”
Tanpa ragu, Irman memilih percaya pada tuan muda kaya.
“Tempat ini kelas atas. Pergi sekarang juga.”
“Aku ulangi sekali lagi,” suara Fauzan mengeras, “ini ruang yang kupesan. Cek saja catatan pemesanan.”
“Tidak perlu,” potong Irman. “Tuan Muda Ahda bilang ini ruangnya. Keluar sekarang, atau aku panggil keamanan.”
Dengan pengalaman bertahun-tahun, Irman yakin penilaiannya benar. Mana mungkin pemuda seperti ini tamu VIP?
“Beginikah caramu memperlakukan tamu?” tanya Fauzan tajam.
“Kau bukan tamu,” ejek Ir. Herlambang Ahda. “Hanya pecundang miskin.”
Ia lalu berkata kepada Irman,
“Kalau orang sepertinya bisa jadi tamu di restoran Pasar Baru, aku tak akan datang lagi. Makan bersama orang sepertinya menurunkan derajatku. Sepertinya aku harus bicara dengan Tianda Baskara. Manajemenmu bermasalah.”
Irman panik. Ia segera mengangkat HT.
“Keamanan, ke VIP Nomor Satu. Ada pengacau.”
Empat petugas keamanan bertubuh besar berlari masuk. Irman menunjuk Fauzan.
“Seret dia keluar.”
Saat mereka hendak bergerak, tiba-tiba sebuah suara menggelegar dari belakang, penuh amarah dan wibawa:
“Aku ingin melihat siapa yang berani menyentuh. Semua berhenti!”
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT