"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Pecat Dia
"Jadi benar kau bekerja satu perusahaan dengan suamiku, Liana!"
Liana refleks menoleh ke arah suara seorang wanita yang memanggilnya dari arah belakang. Bola matanya terbelalak kala melihat kakak perempuannya berada di kantor tempatnya bekerja. Ia tidak tahu apakah kakak perempuannya itu bagian dari karyawan perusahaan Pratama.
"Kak Karina? Kau juga ada di sini rupanya? Kau bekerja di perusahaan yang sama denganku? Sejak kapan kau mulai bekerja di sini? Kok aku nggak tahu?"
Karina mendekat dengan angkuh dan mendorong keras bahu Liana hingga membuatnya nyaris terjatuh. "Jangan menanggilku kakak, karena AKU BUKANLAH KAKAKMU!" Setiap kata yang keluar dari mulutnya begitu kasar. "Dari kecil aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudaraku. Kalau bukan karena ayah yang terlalu bodoh membawamu dari tempat sampah aku dan ibu tidak sudi menerimamu!"
Liana menarik nafas dan berusaha untuk bersikap tenang. "Yaudah, terserah kamu saja. Aku tidak akan memaksamu untuk mengakuiku sebagai keluarga. Aku cukup tahu diri kok, anak buangan seperti aku memang tak pantas mengaku-ngaku sebagai keluarga terpandang seperti kalian."
Karina berdecih. "Cih, sombong sekali kau! Bisa-bisanya perusahaan sebesar ini merekrut pegawai sepertimu! Memangnya kau memiliki kemampuan apa?" Karina menarik ujung bibirnya menatapnya begitu hina.
"Yang jelas aku bisa masuk ke perusahaan ini bukan karena melakukan hal-hal yang curang. Aku bisa diterima di sini karena aku memiliki pengalaman kerja sebelumnya," bantah Liana.
Karina melepas tawanya. Hahahaha.... "Kau mungkin bisa membodohi orang lain, Liana! Tapi tidak denganku! Kau bahkan tidak bisa meneruskan kuliahmu! Pengalamanmu yang aku tahu hanyalah menjual diri untuk mencukupi kebutuhanmu! Betul begitu, kan?"
"Cukup! Hentikan omong kosongmu!" Liana membentaknya cukup lantang. "Selama ini aku sudah banyak mengalah meskipun kau suka menindasku, tapi tidak untuk sekarang. Jangan mentang-mentang kau memiliki segalanya kau bisa semena-mena terhadap orang lain. Aku tidak pernah mengganggu hidupmu, jadi tolong jangan pernah mengganggu kehidupanku," tekan Liana. "Kau bilang diantara kita tidak memiliki hubungan, jadi berhentilah untuk menggangguku!"
Liana pikir setelah enam tahun pergi dari kehidupan keluarganya bakalan membuat mereka rindu dan menyesal karena sudah mengusirnya, namun siapa sangka, mereka masih saja tetap membencinya.
"Justru kau lah yang sudah menggangguku," bantah Karina.
Liana yang hendak melangkah berniat untuk meninggalkannya diurungkan dan kembali membalikkan badannya. "Apa kamu bilang? Aku yang mengganggumu? Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?"
"Kau sudah merebut suamiku! Aku tidak akan menerimanya!"
"Apa?!"
Liana terkejut. "Suami yang mana? Aku bahkan tidak pernah tahu kau sudah bersuami," bantahnya kesal. "Oh..., atau David suami yang kau maksudkan?" tanya Liana dengan satu alisnya terangkat.
Ia hampir lupa sempat bertemu dengan David di perusahaan itu. Tapi ia tak menyangka ternyata David benar-benar sudah menikahi Karina.
"Iya, David itu suamiku! Dia manager di perusahaan Pratama. Aku yakin sekali kehadiranmu di sini ingin mendekatinya. Ayo ngaku saja!"
Beberapa karyawan yang baru datang memutuskan untuk melihat perdebatan mereka di lobby. Mereka sama-sama tak bisa mengendalikan amarahnya dan saling serang.
Liana tersenyum miring menanggapinya. "Kau takut sekali akan kehilangan suamimu! Aku bahkan sudah tak sudi menjalin hubungan dengannya. Barang yang diambil dengan memaksa tidak akan bisa bertahan lama. Dulu waktu aku masih pacaran dengan David, kau begitu ngebet ingin mengambilnya dariku. Kau fitnah aku hingga membuat hubunganku dengan David hancur, aku masih diam, aku rela mengalah. Sekarang kau sudah berhasil menikah dengannya, tapi kenapa kau masih takut akan kehilangannya? Atau suamimu itu tidak setia?"
"Tutup mulutmu, Liana!"
Tangan Karina melayang ke udara hendak menamparnya, namun dengan cepat Liana menangkis serangannya.
"Jangan membuat masalah di sini, Karina! Ini kantor tempatku bekerja, bukan lapangan! Jangan menciptakan masalah untukku!" Dengan kesalnya Liana menghempaskan tangan Karina dengan cukup kasar.
Sumpah demi apapun ia sebenarnya tidak ingin meladeni omongan yang tidak ada manfaatnya, tapi ia juga tidak bisa terus-terusan direndahkan, bahkan difitnah. Karina sudah tidak mau mengakuinya sebagai keluarga, jadi ia tak perlu segan lagi untuk mengimbanginya.
"Kau itu yang menjadi biang masalah. Sejak kehadiranmu di rumah kami selalu saja ada masalah yang bermunculan. Kau itu memang manusia pembawa sial! Kau manusia yang tidak tahu diri!"
Saskia yang baru datang langsung melerainya. Dia tidak tahu permasalahan yang dialami oleh sahabatnya, tapi dia yakin, Liana tidak bersalah.
"Kau itu siapa? Datang ke kantor kok langsung nyerang pegawai di sini. Cepat pergi! Atau ku panggilkan petugas keamanan!"
Saskia mendorongnya menjauh dari Liana karena takut sahabatnya tiba-tiba diserang, namun apa yang terjadi, Karina malah marah-marah seolah-olah dirinya tengah ditindas oleh pegawai Pratama Grup.
"Hei! Berani sekali kau mendorongku! Kau pikir kau itu siapa huh? Kau itu hanya karyawan rendahan. Berani-beraninya kau menindas istrinya manager!"
Saskia menoleh pada Liana dan berbisik. "Apa iya dia istrinya manager perusahaan ini?"
Liana mengangkat bahunya. "Mungkin. Aku kan orang baru, nggak begitu paham," jawabnya.
"Aku yang cukup lama bekerja di sini juga nggak pernah lihat dia ada di sini. Sekarang malah ngaku-ngaku sebagai istrinya manager. Manager siapa maksudnya?"
Liana berbisik pelan. "Dia istrinya David."
Bola mata Saskia membulat terkejut. "Oh..., jadi dia ini istrinya pak David? Terus kenapa dia marah-marah sama kamu? Apa kamu sudah membuatnya kesal?" tanya Saskia. Wanita itu agak khawatir David yang tak lain manager perusahaan tempatnya bekerja bakalan marah saat tahu ia sudah menyinggung istrinya. Tapi sebenarnya ia tak salah, ia hanya berusaha untuk memisahkannya agar tidak terjadi kekacauan.
"Kalian berdua! Aku akan laporkan kalian pada suamiku! Lihat saja, detik ini juga kalian pasti akan dipecat," ancamnya.
"Atas dasar apa suamimu mau memecatku? Suamiku kedudukannya hanya sebagai manager, bukan direktur utama, jadi jangan terlalu kepedean. Kau pikir bekerja di perusahaan asal pecat karyawan? Tempat mainmu kurang jauh sampai kau tak memahami peraturan perusahaan," bantah Liana.
"Kurang ajar! Berani sekali kau menghina kedudukan suamiku! Kau sudah bosan hidup rupanya!"
Karina melangkahkan kakinya dan mendorong Liana dengan sangat kasar. Seketika suasana semakin memanas dan saling serang. Bertepatan dengan itu David datang. Pria itu terkejut saat mendapati istrinya tengah berkelahi dengan mantan kekasihnya.
"Karina! Kok dia ada di sini? Sedang apa dia?"
David melangkah begitu cepat untuk menemui mereka yang tengah bertengkar. Dia berteriak melerainya . "Hentikan!" Dengan suaranya yang melengking tinggi akhirnya berhasil membuat mereka yang ada di sana langsung diam.
Karina menoleh pada David dan langsung berlari ke arahnya. "Sayang! Untungnya kau datang tepat waktu. Dua wanita ini sudah menyinggungku. Bukan hanya aku saja, tapi Liana wanita murahan ini juga sudah menghinamu! Aku minta padamu, tolong pecat mereka sekarang juga. Buat mereka kehilangan pekerjaan. Jangan sampai ada perusahaan yang boleh merekrutnya!"