Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Keenam
Seminggu setelah mendengarkan penjelasan dari Laras pertama kali bertemu dengan Dio. Pada hari itu juga Karin dan Johan menyuruh beberapa orang suruhan mencari tahu mengenai Dio dan keluarganya.
Setelah mendapatkan semua informasi tentang Dio dan keluarganya, kedua orang tuanya lantas menemui mereka.
"Kami datang ingin melamar Dio buat Laras!" ucap Johan tanpa basa-basi.
Dio, kedua orang tuanya dan Diana saling melemparkan pandangan ketika mendengar ucapan ayahnya Laras.
"Kami akan bantu membayar utang-utang kalian!" sahut Karin.
"Kami juga menjamin pendidikannya Diana!" Johan menimpali.
"Tawarannya menggiurkan!" bisik Maya ditelinga suaminya.
"Kami juga akan mempekerjakan Dio di perusahaan milik keluarga kami!" tambah Johan.
"Tapi, Maaf, Om, Tante. Saya tidak bisa menikahi Laras. Karena saya tidak menyukainya," ucap Dio dengan jujur.
"Kalian baru beberapa kali bertemu. Perasaan dapat tumbuh seiring waktu berjalan, apalagi kalian akan sering bertemu," kata Karin menjelaskan agar Dio bersedia menerima tawarannya.
"Sepertinya saya tetap pada pendirian, tidak akan menerima tawaran ini!" Dio menegaskan ucapannya.
"Untuk sementara kami dapat memakluminya, mungkin kamu masih perlu berpikir lagi," kata Karin tersenyum tipis.
"Saya tidak akan berpikir, Tante. Keputusan saya sudah bulat!" tegas Dio.
"Bagaimana kalau kami bicarakan ini dulu sebelum mengambil keputusan?" kata Derry. "Apalagi menikah bukan hal yang main-main," lanjutnya.
"Baiklah, kami tunggu kabar dari kalian satu minggu lagi. Jika Dio setuju menikah dengan putri kami, silahkan hubungi kami!" Johan meletakkan kartu nama asistennya di meja.
Orang tuanya Laras pun pamit.
Setelah tamunya berlalu, Maya yang sedari tadi tergiur dengan iming-iming yang ditawarkan orang tuanya Laras memaksa Dio agar mau menerima.
"Bu, jangan paksa aku!" tegas Dio.
"Kakak tidak perlu lagi menyisihkan uang gaji buat biaya kuliah aku!" kata Diana merayu.
"Benar, Dio. Seluruh utang kita juga bakal dilunasi, jadi Ibu tidak terus mengalami pusing setiap akhir bulan," timpal Maya.
"Tapi, tunggu dari mana mereka tahu kalau kita punya utang?" Derry tiba-tiba bertanya.
Maya dan putrinya saling pandang.
"Benar juga, Yah!" jawab Diana.
"Mereka sangat kaya raya, apa 'sih yang tidak mudah bagi mereka!" sahut Dio.
"Kamu mau, ya, menikah dengannya?" mohon Maya membujuk putranya.
"Aku tidak mau, Bu. Aku tak mau keluarganya yang lain menghina kita karena dari kalangan bawah," Dio memberikan alasan lainnya biar Maya mengurungkan niatnya.
"Benar yang dikatakan Dio. Kita ini orang susah, jika mereka menikah pasti kita juga yang minder," sahut Derry menimpali ucapan putranya.
"Tapi, tawaran mereka sangat menggoda, Yah!" kata Maya memanyunkan wajahnya.
"Semua kita serahkan kepada Dio!" ucap Derry.
"Keputusan aku tidak dapat diganggu gugat. Aku tidak mau menikah dengannya, meskipun seluruh hartanya diberikan kepada kita!" Dio berkata tegas.
-
Ditengah rasa kebimbangannya, Dio menjemput Sindy di tempat kerjanya sebagai karyawan salon.
"Kamu mau mengajak aku makan di mana?" tanya Sindy begitu semangat karena setiap Dio menjemputnya pasti pria itu akan mengajaknya makan atau membeli makanan.
"Makan mie ayam aja, ya!" jawab Dio.
"Aku mau makan di restoran steak yang baru buka itu," rengek Sindy manja.
"Aku gajian masih lama," kata Dio.
"Masa 'sih kamu tidak punya uang lagi. Di sana 'kan lagi promo!" ucap Sindy.
"Jika kita makan di sana, lalu biaya bensin motor aku selama seminggu ke depan bagaimana?" tanya Dio lembut.
"Kamu bisa pinjam uang orang tuamu atau temanmu," jawab Sindy.
"Mereka sudah susah mikirin utang dan biaya hari-hari. Aku tidak mau merepotkan mereka," ucap Dio. "Teman-teman aku juga punya kehidupan dan masalah, jadi aku tak mau membebani mereka juga," lanjutnya.
"Jadi, kapan kamu mau mengajak aku ke sana?" tanya Sindy.
"Bulan depan, ya. Aku janji!" jawab Dio.
"Ya sudahlah," ucap Sindy terpaksa.
Mereka pun pergi ke warung mie ayam, di sana Dio memesan 1 porsi mie ayam komplit buat kekasihnya dan segelas jus jeruk. Buat dirinya seporsi mie ayam polos dengan segelas air putih.
Sindy menyantap makanannya dengan lahap, ia begitu senang memiliki kekasih seperti Dio yang tidak pelit mentraktirnya. Gajinya sebulan bisa dipakainya buat senang-senang dan dikirimkannya kepada kedua orang tuanya.
"Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu!" kata Dio.
"Aku dilamar!"
"Hah? Apa?" Sindy sekilas terkejut lalu kemudian tertawa.
"Tadi pagi mereka datang ke rumah dan menawarkan sejumlah uang banyak kepada keluargaku," kata Dio.
"Lalu kamu terima?" tanya Sindy.
Dio menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak diterima?" tanya Sindy lagi.
"Aku tidak mau meninggalkanmu demi menikah dengannya," jawab Dio.
"Oh, sayang, kamu begitu cintanya denganku!" Sindy memegang wajah kekasihnya dan tersenyum senang.
"Makanya, aku menolak permintaan mereka," kata Dio.
"Seharusnya kamu terima saja!" ucap Sindy.
"Jika aku menikah dengannya, lalu bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Dio.
"Kita bisa menjalin hubungan dibelakangnya," jawab Sindy.
"Kita berselingkuh?" tanya Dio lagi.
"Iya," jawab Sindy. "Kamu menikah dengannya dan pastinya uangmu bakal banyak darinya. Lalu kita gunakan uang itu untuk bersenang-senang!" lanjutnya memberikan saran.
Dio geleng-geleng kepala, "Tidak. Itu salah!"
"Ayolah, Dio. Kapan lagi kamu punya uang banyak?" rayu Sindy.
"Itu sama saja aku menyakiti perasaannya," kata Dio menolak saran kekasihnya.
"Kamu menyukainya?" tanya Sindy.
"Aku tidak menyukainya tapi aku tak mau melukai hatinya," jawab Dio.
"Mereka juga telah melukai hatiku dengan memintamu menikahinya," kata Sindy.
"Aku 'kan sudah menolaknya," ucap Dio.
"Selain uang apa saja yang mereka tawarkan?" Sindy penasaran.
"Biaya kuliah Diana, utang orang tuaku lunas dan aku bekerja di perusahaan mereka."
"Nah, apa lagi yang kamu cari? Daripada kamu bekerja di pabrik makanan kecil itu, lebih baik bekerja di kantoran," Sindy terus membujuk kekasihnya.
Dio tampak berpikir.
"Kamu kumpulkan uang yang banyak darinya. Lalu tinggalkan dia!" Sindy memberikan ide licik.
"Aku tidak dapat menerima ide kamu itu!" Dio tetap menolak karena tak ingin menyakiti Laras dan orang tuanya.
"Ayolah, Dio. Kamu butuh uang banyak buat menikahiku, 'kan?"
"Aku memang ingin menikahimu tapi tidak dengan cara sehina ini!" tegas Dio.
"Mereka juga hina membeli kamu!" Sindy tak suka disalahkan.
"Sudahlah, jangan bahas pernikahan itu!" Dio mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kalau kamu berubah pikiran, aku siap menjadi selingkuhanmu!" Sindy tersenyum seringai.
"Tak ada pernikahan dan tak ada perselingkuhan!" tegas Dio lagi.
-
Dio pulang ke rumah setelah mengantarkan kekasihnya ke tempat kos-kosan. Bukannya mendapatkan dukungan, malah dirinya dijerumuskan ke hal-hal tak baik.
"Baru menjemputnya?" singgung Maya ketika Dio memarkirkan motornya di teras.
"Iya, Bu."
"Kamu pasti menceritakan kedatangan orang tuanya Laras ke sini 'kan?" tebak Maya.
Dio mengangguk mengiyakan.
"Lalu apa tanggapannya?" tanya Maya penasaran.
"Dia menginginkan aku menikahi Laras lalu kami berselingkuh dibelakangnya," jawab Dio jujur.
"Memang gila dia, ya!" umpat Maya.