NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Konflik etika
Popularitas:427.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Gita terdiam. Bibirnya bergetar. Jelas sekali kesedihan di matanya yang berkaca-kaca.

“Gita akan ikut sama Mama,” jawabnya cepat, tanpa ragu. “Aku enggak mau jauh dari Mama.”

Jawaban itu seharusnya menguatkan Kirana. Namun, bagi wanita itu terasa seperti pisau bermata dua. Ia sadar, apa pun keputusan ke depan, Gita akan menjadi pihak yang paling terluka.

Kirana memeluk putrinya kembali, lebih erat dari sebelumnya. “Maafkan Mama,” bisiknya. “Kalau suatu hari Mama harus membuat pilihan yang berat.”

Gita mengangguk kecil, meski belum sepenuhnya mengerti. Di usia sekecil itu, hatinya sudah belajar tentang kehilangan.

Kirana tahu, mulai hari ini, ia tidak hanya harus kuat sebagai perempuan. Ia juga harus menjadi benteng terakhir bagi hati anaknya yang mulai retak.

“Assalamu’alaikum,” ucap Rafka pelan.

Pria itu pulang lebih cepat karena tidak mampir ke kost-an atau berkencan dulu dengan Kinanti. Bahkan, Rafka tidak menjempul pulang selingkuhannya itu.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Gita sopan. Ia bangkit, menghampiri ayahnya, mencium tangan, lalu kembali duduk.

Hanya itu. Dada Rafka mengencang. Ia berdiri kaku beberapa detik, seolah menunggu sesuatu yang tidak datang.

Biasanya Gita akan memeluk. Biasanya ia akan berceloteh tentang sekolahnya. Biasanya ia akan minta dibelikan sesuatu, apa saja, hanya untuk mengulur waktu bersama ayahnya.

Rafka merasakan ada sesuatu yang hilang di rumahnya. Bukan benda. Bukan suara. Melainkan kehangatan yang dulu menyambutnya sejak kaki menginjak teras.

Biasanya jika dia pulang, pintu dibuka oleh Kirana atau Gita, lalu namanya dipanggil dengan suara ceria. Kini, rumah itu terasa seperti sebuah bangunan yang dingin.

Tadi Gita tidak berlari menyambutnya. Tidak ada teriakan kecil, “Papa pulang!” Tidak ada tangan mungil yang menarik bajunya, memintanya menggendong. Tidak ada kecupan di pipi yang datang tanpa diminta.

Rafka berdiri di ambang pintu ruang tamu, menatap putrinya yang duduk bersila di lantai. Gita sibuk mewarnai buku gambar. Wajahnya tenang terlalu tenang untuk anak seusianya.

Jarak di antara mereka terasa nyata. Seperti disengaja, karena dia sedang dihukum.

Rasa bersalah menekan dada Rafka semakin dalam. Sejak kejadian hari Minggu kemarin, dia berusaha menebus segalanya karena sudah mengingkari janji kepada Gita.

Rafka lebih banyak berdiam di rumah. Ia menolak ajakan Kinanti. Namun, kehadirannya seperti bayangan. Ada, tapi tidak dirasakan.

“Gita,” panggil Rafka, mencoba tersenyum. “Mau es krim, enggak?”

Gita tidak menoleh. Krayon di tangannya tetap bergerak.

“Tadi siang aku sudah makan es krim sama Mama, Pa.”

Nada suara Gita begitu datar. Bukan dingin atau marah. Justru itu yang membuat Rafka semakin tersiksa.

“Kalau begitu kita beli snack lainnya, yuk!” Rafka mencoba lagi. Suaranya terdengar terlalu dipaksakan bersemangat.

“Sedang tidak ingin jajan apa pun, Pa,” jawab Gita singkat.

Rafka menelan ludah. Ia ingin duduk, ingin memeluk, ingin meminta maaf kepada Gita, tetapi lidahnya kelu. Ada tembok tak terlihat di antara mereka.

Sementara itu, Kirana sedang berada di kamar. Dia tidak keluar. Setelah selesai mengantarkan semua pesanan pembeli, wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Bukan untuk tidur atau beristirahat, melainkan sedang mencari beberapa dokumen. Dia sedang mencari berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pengajuan perceraian.

Di dalam kamar, Kirana berlutut di depan lemari. Laci-laci terbuka. Tas besar berisi dokumen tergeletak di lantai. Beberapa kertas berserakan, sebagian terlipat, sebagian terjatuh tanpa urutan. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena keputusan yang sedang ia kejar.

“Buku nikah di taruh di mana?”

Kirana menarik napas dalam-dalam. Ia yakin betul buku nikah itu disimpan di tas ini bersama kartu keluarga, akta kelahiran Gita, ijazah, dan surat-surat penting lainnya.

Namun, setelah dibongkar beberapa kali, buku nikah itu tidak ada. Keringat Kirana dingin mengalir di pelipisnya.

“Apa Mas Rafka sudah menyembunyikan buku nikah, ya?” gumamnya lirih.

Kirana bangkit, membuka laci meja rias. Kosong.

Di laci lemari pakaian juga kosong. Rak paling atas hanya berisi selimut lama.

Dada Kirana terasa sesak. Bukan karena dokumen itu hilang, melainkan karena maknanya. Jika benar Rafka menyembunyikannya, berarti pria itu sadar dan mungkin sedang bersiap melawan keputusan yang akan ia ambil.

Kirana tidak mau menyerah. Ia membongkar lebih dalam. Lipatan pakaian berantakan. Lantai kamar kini dipenuhi jejak kegelisahannya.

“Sayang—”

Suara itu membuat jantung Kirana seakan berhenti berdetak.

Rafka berdiri di ambang pintu kamar. Matanya menyapu lantai yang berantakan, wajahnya jelas terkejut.

“Kamu sedang apa, Yang?” tanya Rafka sambil melangkah masuk.

Kirana menelan ludah. Matanya melirik tas di lantai. “E—aku sedang mencari—” Suaranya menggantung. Ia kehabisan kata.

“Mencari apa? Biar aku bantu,” kata Rafka. Ia duduk di lantai, mulai merapikan beberapa dokumen yang berserakan.

Setiap gerakan Rafka terasa seperti alarm bahaya di kepala Kirana. Jika pria itu menemukan niatnya, dia yakin semuanya akan berantakan.

“Tidak usah, Mas,” Kirana berkata cepat. “Aku bisa sendiri.”

Rafka menoleh. Ada kerutan di dahinya.

“Kamu kelihatan capek. Sejak kapan kamu suka beres-beres kayak begini?”

Kirana tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Cuma mau rapihin dokumen lama.”

Dalam keheningan yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar bunyi dering ponsel. Keduanya menoleh bersamaan.

“Ponsel kamu bunyi, Mas,” ucap Kirana, tatapannya tajam, penuh kecurigaan.

Rafka tersentak. “Ah, iya.” Ia mengambil ponselnya yang sedang di-charge.

Sekilas Kirana melihat nama di layar, tetapi tidak sempat terbaca jelas.

Rafka buru-buru melangkah keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, Kirana mengembuskan napas panjang. Lututnya terasa lemas. Ia buru-buru membereskan dokumen, memasukkannya kembali ke dalam tas, kecuali satu hal yang menarik perhatiannya.

Saat menutup laci tengah lemari pakaian, ada satu hal yang menarik perhatian Kirana. Matanya tertumbuk pada sebuah buku kecil berwarna biru tua.

Buku tabungan dari salah satu bank. Itu adalah Tabungan bersama. Di sanalah uang mereka disimpan, uang yang selama ini dikumpulkan untuk membeli mobil. Rafka ingin membeli mobil baru, tidak mau beli mobil bekas.

“Sekarang jumlah di tabungan berapa, ya?” batin Kirana.

Tangannya bergerak tanpa ragu. Buku itu dibuka.

Matanya menyusuri angka-angka. Napasnya tertahan.

1
Cindy
lanjutt
Asyatun 1
lanjut
Ita rahmawati
kalo bukan Vira terus siapa kan yg tau cuma Vira SM Gisella 🤔
Rinia 71
ayo Ra bilang aja,katakan sejujurnya jangan ada dusta diantara Kita eee kok jadi nyanyi,kamu tidak salah, hadapi apapun nanti akhirnya
Arieee
tuh kan sahabat nya sendiri🤧
Uba Muhammad Al-varo
ada misteri dibalik semua kejadian yang terjadi pada Gita dan Ara kamu kan nggak punya siapa2 selain Gita dan mama Kirana sekeluarga, inilah saatnya kejujuran mu dipertaruhkan
Naufal Affiq
lebih baik kamu jujur ara,kasihan gita,
Nar Sih
bnr arra ,lebih baik jujur ,biar gita juga tante mu bisa bantu mslh mu,
Sugiharti Rusli
ayolah Ara, kamu jangan terus bersembunyi dan diam saja saat sang sepupu kena fitnah tentang photo usg, karena toh suatu saat kehamilan kamu juga ga bisa disembunyikan lagi sih,,,
Sugiharti Rusli
dan si Vira juga kekeuh mengaku bukan dia, terus kenapa IP penyebar pertama dari no hp nya🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
meski sekarang Gita tahu dari Kaisar siapa pemilik akun yang menyebarkan fitnah terhadap dirinya, tapi dia juga belum habis pikir sih kalo itu sahabatnya sendiri
Sugiharti Rusli
dan pada akhirnya Gita malah curhat ke sepupunya yang sebenarnya pemilik photo usg itu,,,
Sugiharti Rusli
kan yang menemukannya di kost an Gita hanya mereka dan entah tujuan apa disebar kan hasil usg yang diklaim milik Gita,,,
Sugiharti Rusli
kalo dipikir memang yang patut dicurigai yang menyebarkan fitnah yah salah satu sahabat Gita sih,,,
martiana. tya
Gita kan calon dokter.... ayolah sedikit peka
martiana. tya
Gita kenapa ngga peka ya....
Noor hidayati
siapa yang nyebarin gosip itu ya,kalau vira kekeh ga ngerasa melakukan fitnah terhadap gita
Agunk Setyawan
dulu emaknya kinanti sekarang Ara anaknya bikin ulah Mulu meski pun Ara g sengaja tetep aja bikin riweh
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
harusnya kamu jujur Ara daripada Gita dan Kirana tahu dari orang lain,pasti mereka menyangka kamu yang memfitnah Gita dengan sengaja menjatuhkan foto USG dikontrakkannya🥹
Dew666
💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!