Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Gita terdiam. Bibirnya bergetar. Jelas sekali kesedihan di matanya yang berkaca-kaca.
“Gita akan ikut sama Mama,” jawabnya cepat, tanpa ragu. “Aku enggak mau jauh dari Mama.”
Jawaban itu seharusnya menguatkan Kirana. Namun, bagi wanita itu terasa seperti pisau bermata dua. Ia sadar, apa pun keputusan ke depan, Gita akan menjadi pihak yang paling terluka.
Kirana memeluk putrinya kembali, lebih erat dari sebelumnya. “Maafkan Mama,” bisiknya. “Kalau suatu hari Mama harus membuat pilihan yang berat.”
Gita mengangguk kecil, meski belum sepenuhnya mengerti. Di usia sekecil itu, hatinya sudah belajar tentang kehilangan.
Kirana tahu, mulai hari ini, ia tidak hanya harus kuat sebagai perempuan. Ia juga harus menjadi benteng terakhir bagi hati anaknya yang mulai retak.
“Assalamu’alaikum,” ucap Rafka pelan.
Pria itu pulang lebih cepat karena tidak mampir ke kost-an atau berkencan dulu dengan Kinanti. Bahkan, Rafka tidak menjempul pulang selingkuhannya itu.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Gita sopan. Ia bangkit, menghampiri ayahnya, mencium tangan, lalu kembali duduk.
Hanya itu. Dada Rafka mengencang. Ia berdiri kaku beberapa detik, seolah menunggu sesuatu yang tidak datang.
Biasanya Gita akan memeluk. Biasanya ia akan berceloteh tentang sekolahnya. Biasanya ia akan minta dibelikan sesuatu, apa saja, hanya untuk mengulur waktu bersama ayahnya.
Rafka merasakan ada sesuatu yang hilang di rumahnya. Bukan benda. Bukan suara. Melainkan kehangatan yang dulu menyambutnya sejak kaki menginjak teras.
Biasanya jika dia pulang, pintu dibuka oleh Kirana atau Gita, lalu namanya dipanggil dengan suara ceria. Kini, rumah itu terasa seperti sebuah bangunan yang dingin.
Tadi Gita tidak berlari menyambutnya. Tidak ada teriakan kecil, “Papa pulang!” Tidak ada tangan mungil yang menarik bajunya, memintanya menggendong. Tidak ada kecupan di pipi yang datang tanpa diminta.
Rafka berdiri di ambang pintu ruang tamu, menatap putrinya yang duduk bersila di lantai. Gita sibuk mewarnai buku gambar. Wajahnya tenang terlalu tenang untuk anak seusianya.
Jarak di antara mereka terasa nyata. Seperti disengaja, karena dia sedang dihukum.
Rasa bersalah menekan dada Rafka semakin dalam. Sejak kejadian hari Minggu kemarin, dia berusaha menebus segalanya karena sudah mengingkari janji kepada Gita.
Rafka lebih banyak berdiam di rumah. Ia menolak ajakan Kinanti. Namun, kehadirannya seperti bayangan. Ada, tapi tidak dirasakan.
“Gita,” panggil Rafka, mencoba tersenyum. “Mau es krim, enggak?”
Gita tidak menoleh. Krayon di tangannya tetap bergerak.
“Tadi siang aku sudah makan es krim sama Mama, Pa.”
Nada suara Gita begitu datar. Bukan dingin atau marah. Justru itu yang membuat Rafka semakin tersiksa.
“Kalau begitu kita beli snack lainnya, yuk!” Rafka mencoba lagi. Suaranya terdengar terlalu dipaksakan bersemangat.
“Sedang tidak ingin jajan apa pun, Pa,” jawab Gita singkat.
Rafka menelan ludah. Ia ingin duduk, ingin memeluk, ingin meminta maaf kepada Gita, tetapi lidahnya kelu. Ada tembok tak terlihat di antara mereka.
Sementara itu, Kirana sedang berada di kamar. Dia tidak keluar. Setelah selesai mengantarkan semua pesanan pembeli, wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Bukan untuk tidur atau beristirahat, melainkan sedang mencari beberapa dokumen. Dia sedang mencari berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pengajuan perceraian.
Di dalam kamar, Kirana berlutut di depan lemari. Laci-laci terbuka. Tas besar berisi dokumen tergeletak di lantai. Beberapa kertas berserakan, sebagian terlipat, sebagian terjatuh tanpa urutan. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena keputusan yang sedang ia kejar.
“Buku nikah di taruh di mana?”
Kirana menarik napas dalam-dalam. Ia yakin betul buku nikah itu disimpan di tas ini bersama kartu keluarga, akta kelahiran Gita, ijazah, dan surat-surat penting lainnya.
Namun, setelah dibongkar beberapa kali, buku nikah itu tidak ada. Keringat Kirana dingin mengalir di pelipisnya.
“Apa Mas Rafka sudah menyembunyikan buku nikah, ya?” gumamnya lirih.
Kirana bangkit, membuka laci meja rias. Kosong.
Di laci lemari pakaian juga kosong. Rak paling atas hanya berisi selimut lama.
Dada Kirana terasa sesak. Bukan karena dokumen itu hilang, melainkan karena maknanya. Jika benar Rafka menyembunyikannya, berarti pria itu sadar dan mungkin sedang bersiap melawan keputusan yang akan ia ambil.
Kirana tidak mau menyerah. Ia membongkar lebih dalam. Lipatan pakaian berantakan. Lantai kamar kini dipenuhi jejak kegelisahannya.
“Sayang—”
Suara itu membuat jantung Kirana seakan berhenti berdetak.
Rafka berdiri di ambang pintu kamar. Matanya menyapu lantai yang berantakan, wajahnya jelas terkejut.
“Kamu sedang apa, Yang?” tanya Rafka sambil melangkah masuk.
Kirana menelan ludah. Matanya melirik tas di lantai. “E—aku sedang mencari—” Suaranya menggantung. Ia kehabisan kata.
“Mencari apa? Biar aku bantu,” kata Rafka. Ia duduk di lantai, mulai merapikan beberapa dokumen yang berserakan.
Setiap gerakan Rafka terasa seperti alarm bahaya di kepala Kirana. Jika pria itu menemukan niatnya, dia yakin semuanya akan berantakan.
“Tidak usah, Mas,” Kirana berkata cepat. “Aku bisa sendiri.”
Rafka menoleh. Ada kerutan di dahinya.
“Kamu kelihatan capek. Sejak kapan kamu suka beres-beres kayak begini?”
Kirana tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Cuma mau rapihin dokumen lama.”
Dalam keheningan yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar bunyi dering ponsel. Keduanya menoleh bersamaan.
“Ponsel kamu bunyi, Mas,” ucap Kirana, tatapannya tajam, penuh kecurigaan.
Rafka tersentak. “Ah, iya.” Ia mengambil ponselnya yang sedang di-charge.
Sekilas Kirana melihat nama di layar, tetapi tidak sempat terbaca jelas.
Rafka buru-buru melangkah keluar kamar.
Begitu pintu tertutup, Kirana mengembuskan napas panjang. Lututnya terasa lemas. Ia buru-buru membereskan dokumen, memasukkannya kembali ke dalam tas, kecuali satu hal yang menarik perhatiannya.
Saat menutup laci tengah lemari pakaian, ada satu hal yang menarik perhatian Kirana. Matanya tertumbuk pada sebuah buku kecil berwarna biru tua.
Buku tabungan dari salah satu bank. Itu adalah Tabungan bersama. Di sanalah uang mereka disimpan, uang yang selama ini dikumpulkan untuk membeli mobil. Rafka ingin membeli mobil baru, tidak mau beli mobil bekas.
“Sekarang jumlah di tabungan berapa, ya?” batin Kirana.
Tangannya bergerak tanpa ragu. Buku itu dibuka.
Matanya menyusuri angka-angka. Napasnya tertahan.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏